
18 November
Rika irawan, wanita ini meninggal tepat diumurnya yang ke 45 tahun. meninggalkan dua anak lelaki dan seorang suami yang begitu menyayanginya. selama hidupnya, ia telah menjadi seorang ibu dan istri yang cukup sempurna dimata keluarga. dan massa berlakunya telah habis didetik ini.
gundukan tanah berwarna hitam sedikit merah itu dikerumuni oleh beberapa orang. beberapa menit yang lalu, jenazah rika dimasukkan di dalam sana. meninggalkan semua orang yang begitu menyayanginya.
pak abram jongkok, mengelus patokan kayu bertuliskan nama wanita yang begitu ia sayangi. kembali ia mengusap kedua mata dengan sapu tangan. merem dalam, mencoba mengikhlaskan, walau kenyataannya, malah air mata kembali keluar.
keyra menabur sisa bunga yang masih ada di keranjang. kedua mata sembab, membengkak, sampai terlihat sipit saking bengkaknya. sama halnya dengan elvanno dan tristan. mata keduanya juga memerah. wajah kesedihan jelas tergambar disana.
membuat para sahabatnya tak bisa mengatakan apapun. karena mereka juga merasakan kesedihan yang sama.
marina mendekat, mengelus pundak tristan. membuat cowok yang rambutnya dikuncir itu menoleh, menatap sahabatnya.
"yang sabar. gue tau, ini nggak mudah"
tristan memaksa untuk tersenyum, berhambur memeluk marina. kembali ia menumpahkan tangis dibahu sahabatnya itu.
"belum lama gue balik, na. belum lama gue bisa dengar omelan mama. kenapa cepat banget dia pergi... hiks... "
tak bisa untuk tak menangis, marina menepuk punggung lelaki yang kini memeluknya begitu erat.
"iya, gue tau tan. lo harus kuat, ikhlasin ya. ini yang terbaik buat tante. "
"hiks... gue nggak becus jagain mama. gue bodoh, gue nggak bisa jadi anak yang baik"
"pliiss, jangan ngomong gitu. ini udah takdir, pasti tante rika bahagia kok disana"
tak memperdulikan yang lain, elvanno hanya diam, jongkok menatap tanah di depannya. masih terbayang seperti apa saat terakhir dia menyuapi mama makan. belajar diruang rawat mama sambil menemani mamanya bobok.
__ADS_1
kepala itu menggeleng pelan, menekan kembali ujung mata. gagal, bulir bening tetap menetes, jatuh ke tanah begitu saja.
"mama yang tenang ya. aku janji, aku akan jadi lelaki yang bertanggung jawab. aku akan jadi lebih baik dan bahagiain keyra. aku juga akan jagain papa"
mendengar suara lirih elvanno, pak abram menoleh. menepuk bahu elvanno, lalu tersenyum dengan derai air mata di pipi.
##
hari hari berlalu.
elvanno mengurung diri dikamar keyra. memeluk figura sang mama yang beberapa hari ini menemaninya. kesedihannya belum berhenti. ini adalah kali kedua ia merasakan kehilangan orang yang begitu penting di dalam hidupnya. tapi kali ini, semua terasa lebih menyakitkan. karena mama tak akan pernah bisa ia lihat lagi.
ia membuang nafas panjang melalui mulut, kembali mengusap mata yang mengabur karena ada embun disana. mengurai pelukan pada figura, menatap lekat wajah cantik mamanya yang tersenyum lebar dengan memamerkan hasil tangkapan ikan saat mancing di pulau kala itu.
"ma, aku kangen... " ucapnya, mengelus wajah rika di dalam figura.
pintu terbuka, memperlihatkan keyra yang masuk, membawa nampan berisi gelas dan piring. membuang nafas panjang saat melihat elvanno kembali menangis. sedih? tentu keyra juga sedih. tapi ia sudah pernah terpuruk yang lebih menyakitkan dari ini. kali ini hatinya sudah lebih kuat. memang nggak mudah, tapi... dia juga nggak mungkin akan terus bersedih.
menaruh nampan diatas meja, duduk ditepi tempat tidur, menatap suami yang dua hari ini nggak mandi, cuma ganti baju aja. elvanno benar benar telah kehilangan semangat hidup. membuat keyra merasa sangat iba padanya.
mengelus pundak yang bergetar itu.
"izroil, makan dulu ya"
kepala itu menggeleng.
"aku nggak lapar"
"iya aku tau. tapi kamu butuh makan. kalo tiap jam kamu nangis tanpa makan, lama lama kamu bisa pingsan karena kehabisan tenaga" tuturnya lembut.
__ADS_1
elvanno menoleh, sedikit mengulas senyum dengan bibir yang kering. melepaskan figura mamanya, lalu memeluk gadisnya. kembali ia menumpahkan tangis dipelukan keyra.
"makasih sayang. makasih karena kamu ada disini nemenin aku"
keyra balas memeluk elvanno, mengelus punggung suaminya itu.
"aku akan selalu temenin kamu izroil. kita akan hadapi semua ini sama sama. apapun yang terjadi. jadi... kamu harus kuat, semua ini cobaan, buat menguji seberapa kuatnya kamu"
ngangguk dalam pelukan.
"iya key. jangan pernah tinggalin aku lagi. aku butuh kamu"
keyra mengurai pelukan, membingkai wajah suami. mengelus sisa air mata diwajah tampan itu.
"aku bahkan pernah lebih terpuruk dari ini. jadi, kamu harus kuat izroil. kamu itu suamiku, kamu yang akan jadi panutanku. udah, jangan nangis lagi ya"
elvanno tersenyum, kembali bulir itu menetes. menggenggam tangan keyra yang ada diwajah.
"iya, aku akan kuat buat kamu"
keyra ikut tersenyum, memperlihatkan kedua lesung pipinya.
"yaudah, sekarang kamu makan ya"
mengambil gelas air, menyuruh suaminya untuk minum lebih dulu. setelahnya, menyodorkan sendok di depan mulut elvanno.
-Happy Readingš„°-
Jangan lupa like and voteš¤
__ADS_1