
#####
mama dan papa masuk ke dalam rumah bersamaan. sangat terkejut menatap wanita yang memang cantik karena rajin perawatan itu.
menyadari ada yang datang, wati beranjak dari duduknya. mengulas senyum dengan bungkukan pelan,
"maaf bu rika, pak abram. saya bertamu nggak tepat waktu. bahkan mengganggu waktu kalian dirumah sakit"
rika membuang nafas dalam, mereka memang teman, tapi tak terlalu dekat. karena wati ini mantan pacar abram.
"silahkan duduk, wat" masih dengan sopan, rika menyuruh tamunya untuk kembali duduk.
dia sendiri mendudukan pantat di sofa tepat di depan wati, begitu juga abram, ia duduk tepat disebelah rika.
"ada apa kamu nyari suamiku? " tanya rika tak seramah biasanya.
wati tersenyum sebentar, meraih cangkir teh di depan nya. lalu meneguknya sedikit.
"bukankah kita udah lama berteman? perusahaan suamiku dan suami mu juga udah lama menjalin kerja sama kan? "
abram sedikit beringsut,
"langsung saja, wati. intinya, kamu datang kesini untuk ngomongin apa? "
"cckk, ternyata kalian ini memang nggak sabar ya. ok, kedatangan aku kesini untuk meminta kalian tak memenjarakan suamiku. dia memang salah, tapi mas andra nggak sepenuhnya salah. dia hanya terkena hasutan mr. revan yang sekarang menjadi buronan"
rika menghela nafas kasar, menoleh, menatap abram yang juga melakukan hal yang sama.
"aku rasa.... kamu tau jawabannya, wat" tutur rika.
wati menegakkan duduknya,
"kalian punya anak. dan kamu rika, pasti kamu tau kan, seperti apa beratnya bertumpu pada suami. terlebih anak ku garry, baru akan masuk ke universitas tahun ini. biaya nya nggak sedikit. dan mas andre adalah tulang punggung keluarga. bisa kamu bayangin betapa susah nya hidup ku tanpa ada dia. kamu jangan egois, rika"
__ADS_1
rika menatap tajam wati,
"ini bukan tentang keegoisan wat. kamu sudah tau kan, seperti apa kejahatan suami mu itu? "
"halah." wati terlihat meremehkan, masih sempat tertawa kecil.
"elvanno dan keponakan mu itu masih bisa diselamatkan, kan? kamu jangan lebay seperti ini, rika"
abram beranjak, dia tak habis pikir dengan otak wati.
"aku nggak akan pernah mencabut tuntutan. biarkan pihak yang berwajib memberikan hukuman yang setimpal. jadi... jika kamu menanti jawaban, jawabannya... enggak akan pernah aku tarik tuntutan itu"
wati menatap abram dan rika bergantian.
"dasar kalian itu sama saja! manusia egois! beruntung aku tak berjodoh dengan mu mas! " kesal wati.
####
"key.... "
"van, " panggilnya lembut.
"key.... "
satu tangan tristan terulur, menekan tombol yang ada diatas ranjang pesakitan. kembali menatap wajah elvanno yang terdapat beberapa luka kering disana.
"cepat sadar van. biar lo bisa terus jagain keyra" bisik nya.
"key... " lagi, ia mengigau tak terlalu jelas.
tak begitu lama, seorang dokter dan satu suster masuk ke ruang ICU. berdiri dengan menatap keadaan elvanno yang masih belum sadar.
"apa yang terjadi, mas? " tanya nya, menatap tristan yang masih menggenggam tangan adik nya.
__ADS_1
"tadi dia----"
"key... "
tristan, dokter serta suster menatap elvanno yang kembali mengigau.
berdesis pelan, mulai beranjak, melepaskan tangan dari genggaman nya.
"dari tadi dia ngigau gitu"
dokter mengeluarkan stetoskop, mulai memeriksa keadaan elvanno.
"perkembangan yang bagus sih" menoleh, menatap tristan yang bersedekap tak jauh darinya.
"enggak coba panggilkan yang dipanggil pasien, mas? siapa tau kalo dia kesini, akan membuat perkembangan nya jadi lebih baik lagi"
tristan tersenyum miring,
"yang dipanggil aja, juga masih koma dok"
dokter mengerutkan kening,
"yang dipanggil dia...gadis yang diruang mawar itu?"
tristan ngangguk,
"ya... mereka masih belum sadar"
dokter ngangguk,
"ikatan perasaan mungkin ya"
_**Happy Readingš_
__ADS_1
jangan lupa like and voteš¤**