
keyra memeluk abram erat, menandakan jika ia benar benar menyayangi papa mertuanya.
"papa hati hati disana ya, tetangga baik semua kok" pesannya, setelah pelukan mereka terlepas.
tersenyum, mengelus kepala keyra.
"iya, sayang. makasih ya, udah mau balik lagi sama elvanno. papa sayang sama kamu, sama seperti papa sayang sama anak anak papa"
keyra menunduk, mengusap mata yang mengembun, mendongak saat embun itu hilang.
"papa sama ayah itu sama. sama sama baik dan sama sama aku sayangi"
ada yang terasa hangat dihati abram, kembali ia menarik tubuh keyra, memeluknya lagi.
"iya, key. papa sayang sama kamu, kamu adalah bagian dari keluarga darel"
keyra makin mengeratkan pelukan.
"iya, aku sayang papa"
tristan dan elvanno tersenyum bahagia melihat kedekatan papa dan keyra. tak begitu lama informasi keberangkatan kereta telah diumumkan. membuat papa melepaskan pelukan keyra. mengacak rambut anak itu dengan gemas. lalu beralih menatap kedua anak lelakinya.
"papa pergi ya. papa serahkan perusahaan dan semuanya sama kalian" menatap keyra yang berdiri disamping elvanno.
"dan... jaga keyra juga"
elvanno berhambur memeluk papa, merem menyalurkan rasa di dadaa yang terasa nyeri. rasanya tak mau jika papanya pergi, tapi... dia tau, papa butuh tenang. melepaskan pelukan, menatap papa dengan mata basah.
"aku memang belum bisa untuk berfikir tentang pekerjaan pa. tapi aku akan berusaha. "
papa mencium kening elvanno, mengusap bahu anak gantengnya dengan senyum yakin.
"kamu pasti bisa" menepuk bahu itu, meyakinkan anaknya jika pasti mampu.
melihat senyum yang disertai air mata, elvanno ikutan nangis. menekan kedua mata yang mulai mengembun. nggak mampu jawab, cukup ngangguk dengan senyum paksaan.
papa beralih menatap tristan, menepuk lengan anak sulungnya.
"jaga adik adikmu ya. akan lebih baik kalo kamu tinggal dirumah. biar bisa kumpul sama adikmu juga"
tristan memeluk papa, tak secengeng elvanno, walau memang dia juga sama sedihnya.
__ADS_1
"iya pa. aku besok nggak lagi tinggal di apartement"
abram melepaskan pelukan, menatap tristan lama, lalu tersenyum.
"papa restui hubungan kamu dengan marina"
tristan sedikit terbelalak, dia bahkan belum ngomong apa apa.
"pa"
papa tersenyum, kembali menepuk lengan tristan.
"papa udah tau. cepat dihalalin ya"
tristan mengulas senyum, akhirnya ia tak bisa menahan. matanya mengembun juga.
"makasih pa"
"papa pergi dulu ya" pamitnya untuk yang terakhir, sambil menatap ketiga anaknya.
menyeret koper, berjalan menjauh. menoleh sebelum memasuki pintu. tersenyum sambil melambaikan tangan menatap ketiga anaknya yang terlihat sangat sedih karena kepergiannya.
terdiam sejenak, kembali membuang nafas. lalu mulai melangkah menjauh.
"permisi" sapa abram sebelum duduk.
seorang wanita seumuran rika, menoleh. tersenyum dengan ramah.
"iya, silahkan pak"
lama mereka duduk, hingga abram memulai obrolan.
"mau permen? " mengulurkan sebuah permen mint kearah wanita disampingnya.
si wanita kembali tersenyum, menerima uluran permen abram.
"terima kasih pak" membuka bungkus permen dan memasukkannya ke mulut.
"bapak tinggal di bogor? "
"enggak, saya baru mau tinggal di bogor mulai sekarang" jawab abram jujur.
__ADS_1
" anda sendiri? tinggal di bogor? "
"enggak juga. tapi saya sering ke bogor. sebulan sekali, karena ada bisnis di bogor"
"waah, hebat. ternyata wanita bisnis. kalau boleh tau, bisnis apa? "
"bisnis tambak udang. peninggalan almarhum suami saya"
abram sedikit terbelalak. jadi, wanita cantik ini seorang janda?
"maaf, saya nggak tau" menelakupkan kedua tangan dengan wajah penuh sesal.
wanita ini tersenyum.
"tak apa pak. dia sudah lama perginya. saya sudah mengikhlaskan"
abram tersenyum canggung, menatap lurus kedepan. hingga beberapa menit berlalu, keduanya diam. tak ada obrolan apa apa.
"bapak sendiri kenapa pindah ke bogor? " tanya si wanita setelah mereka lama diam.
abram sedikit tersenyum.
"hanya ingin suasana baru. istri saya meninggal, belum lama"
"innalillahi... maaf juga pak. saya juga nggak bermaksud" si wanita menutup mulut dengan aatu tangan.
abram tersenyum ramah.
"tak apa"
mengulurkan tangan.
"saya abram"
si wanita menerima uluran tangan abram.
"rayyana. biasa dipanggil yana"
obrolan mereka berlanjut, hingga kereta sampai di stasiun bogor.
-Happy Readingš„°-
__ADS_1
jangan lupa like and voteš¤