
tiga hari berlalu.
"van, lo udah sadar? " seru tristan yang baru saja masuk ke ruang rawat.
kemarin, setelah elvanno mampu melewati masa kritis, dokter memindahkan elvanno dari ruang ICU. keadaannya sudah makin membaik, dan tinggal pemulihan.
elvanno menatap tristan, lalu menatap ke sekeliling. menyadari jika dirinya ada di rumah sakit.
"aarggh.. " lirihnya, menggeram tertahan dengan tangan yang memegangi kepala.
kepalanya masih dibalut perban, karena luka jahit di kedua pelipis belum kering, ditambah ada banyak luka pukul yang membuat kepalanya mengalami luka dalam.
"arrggh... " kini meraba kedua bahu yang sama diperban juga.
merem dalam, membuang nafas panjang untuk mereda rasa sakit di sekujur tubuh. tristan berjalan memdekat, menekan tombol darurat diatas pesakitan.
"keyra mana, kak? " tanya nya saat tristan mendudukkan pantat di kursi samping nya.
"ada, diruangannya" jawab tristan singkat.
"arrggh... " berusaha untuk bangun, tapi ia tak mampu. kedua bahu nya terasa sakit yang luar biasa, membuat nya kembali tertidur seperti semula.
cepat tristan memegangi kedua bahu elvanno.
"lo mau ngapain sih?! " tanya tristan dengan kesal.
elvanno meringis, menahan sakitnya.
"gue mau liat keadaan keyra" kembali mencoba untuk bangun, tapi kedua bahunya ditekan oleh tristan.
"enggak untuk sekarang! lo baru aja melek! " larang tristan dengan suara meninggi.
"bentar"
"enggak! "
"gue khawatir"
"keyra baik baik aja"
"gue pengen liat kondisinya"
__ADS_1
"enggak sekarang! "
"please... " mohonnya dengan wajah mengiba.
"keyra baik baik aja" kembali mengulangi lagi ucapannya.
"dia udah melek dari kemarin"
mendengar jika istrinya sudah membuka mata, elvanno melemaskan tubuh. kembali berbaring dan tak lagi memaksa untuk bangun.
"tapi gue pengen liat sendiri" masih aja dia kekeh.
tristan mengusap wajah kasar, kesal sama ngeyel nya elvanno.
"dengerin gue! " ucapnya agak keras, membuat elvanno menatap serius padanya.
"kalo keadaan lo udah lebih baik, lo akan dipindah dalam satu ruangan sama keyra. dan sekarang, lo diem, nurut aja sama pengobatannya. jangan banyak gerak, apalagi mau bepergian. luka lo bisa merembes dan lama sembuh"
elvanno membuang nafas panjang, akhirnya memilih nurut. merem, pikirannya tertuju ke keyra. mengingat luka tembak di bahu, lalu tubuh mungil itu. semua sangat membuatnya khawatir.
"kak"
"keyra nggak diapa apain sama mereka kan? "
tristan melipat kedua tangan di depan dadaa, menyilakan kaki ke kaki yang satu.
"sans. dia masih virginn"
lega banget dengar kabar ini, setidaknya keyra nggak terluka.
"lalu, video yg mereka buat? "
kedua alis tristan bertaut.
"aman"
mendengar jawaban tristan, kedua mata elvanno membulat. menatap tristan tajam meminta penjelasan.
"ma--"
"di bakar, anjiiiing!! lo kira gue simpan? " jelasnya dengan kesal.
__ADS_1
lagi lagi elvanno menghela nafas penuh kelegaan.
"syukurlah"
ceklekk!
pintu ruangan terbuka, tristan dan elvanno menatap kearah pintu. dokter wulan diikuti seorang suster masuk. mengulas senyum menatap pasiennya yang sudah membuka mata.
"syukurlah, mas nya udah bangun. saya periksa dulu ya, mas" ijinnya. dan itu hanya mendapatkan anggukan kecil dari elvanno.
dokter membuka selimut biru yang membungkus tubuh elvanno. memeriksa luka di kedua bahu, tangan serta kaki. menit berlalu, dokter tersenyum kecil, menatap wajah datar elvanno yang terlihat sangat pucat.
"tadi udah dipakai gerak ya? " tanya dokter, kembali menutup selimut.
"dikit" jawab nya cuek.
kembali dokter tersenyum kecil.
"jangan banyak gerak dulu, ini kedua bahu kamu bolong lho. lukanya merembes lagi"
tak menjawab, elvanno bahkan tak menatap dokter wulan sedikitpun. tatapannya lurus ke depan dan terlihat sangat malas meladeni setiap omongan dokter. melihat wajah cuek adiknya, tristan mengulas senyum. ya, memang kek gini sifat aslinya elvanno sama orang yang enggak dia kenal. kek awal ketemu keyra di puncak dulu, dia kan juga cuek banget. bisa dan mau ngomong karena liat tangis keyra yang nyentuh hati.
"tadi maksa bangun, pengen nengokin pacar nya dok" tutur tristan yang langsung dapat pelototan dari elvanno.
"bacodd! "
tristan dan dokter wulan terkekeh mendengar kekesalan elvanno.
"nanti malam saya periksa lagi. kalo keadaan kamu udah lebih baik, kamu bisa jenguk pacar kamu" tutur dokter wulan.
elvanno diam, tetap nggak nanggapi. wajah kesal nya terlihat sangat lucu dan menggemaskan. berkali kali dokter wulan dan suster tertawa kecil melihat ekspresi wajah imut itu. suster menaruh tiga kapsul diatas meja.
"ini saya kasih obat, nanti diminum setelah satu jam dari sekarang. jangan lupa makan dulu. nanti, sebentar lagi akan ada yang nganterin makanan kesini" dokter menunjukkan obat yang ada diatas meja.
"ingat ya, jangan banyak gerak kalo pengen cepet jengukin adek pacar" mengingatkannya lagi dengan senyum menggoda.
tapi yang digoda tetap diam tanpa ekspresi apapun. senyum atau natap pun enggak. tapi itu yang membuat dokter makin tertawa. dokter menatap tristan yang ikut menertawakan adiknya. tanpa mereka tau, mata elvanno udah natap jam dinding sejak tadi, menghitung satu jam dari sekarang.
-**Happy Readingš-
Jangan lupa like and voteš¤**
__ADS_1