
cowok tamvan berambut sedikit pirang itu berlari menyusuri karidor rumah sakit. tatapan mya tertuju pada seorang gadis mungil yang bentuk tubuh nya mirip dengan keyra. bahkan ada tas milik keyra yang tergeletak di kursi samping gadis yang tak lain adalah dara. dara duduk sendirian di depan ruang UGD. kedua tangan saling bertaut erat, menandakan jika dia sedang khawatir.
"bryan dimana? " tanya nya tak sabar setelah berada di depan dara.
gadis cupu dengan rambut yang dikepang dua itu berdiri dengan sedikit terlonjak. menelan ludah dengan susah, membenarkan tas salempang nya yang hampir jatuh.
"ad--ada did--di dalam" jawab nya gagu.
elvanno menyentak nafas kasar,
"keyra dimana? "
dara menunduk, lalu geleng kepala.
"lo kenapa bisa dapat hp sama tas nya keyra? "
elvanno meraih tas milik keyra, lalu tas bryan yang sedikit terkena darah.
"ak--akku nem--nemuin it--ittu dij--dijal--lan. bry--bryan ud--udah nggak sad--dar"
elvanno kembali menyentak nafas kasar. segera merogoh ponsel, mencari nomor viko. memyuruh teman nya untuk segera menyusul ke rumah sakit.
usai menutup telpon, ia menatap dara yang udah duduk lagi di kursi besi. tentu dengan kepala yang nunduk, liat lantai yang dipijak. elvanno memasukkan kedua tangan ke dalam saku jaket, kembali meneliti ponsel keyra, ponselnya sedikit retak.
"makasih udah bawa bryan kesini. lo bisa pulang" ucap nya datar.
dara beranjak, sedikit membungkuk. tak mengatakan apa pun, langsung berlalu dari hadapan elvanno. sementara elvanno mulai gelisah, bingung mikirin keberadaan keyra yang entah dimana. ia memutuskan untuk menghubungi tristan. karena kalo langsung bicara ke papa, udah pasti akan makin runyam.
"hallo kak. gue butuh bantuan lo" ucap nya begitu telpon terhubung.
"cckk, gila. baru diangkat. bahkan ni mulut belom ngucap apa pun. lo udah ngebacot aja" kekehan kecil terdengar diseberang sana.
"ini serius, marsudi! " kesal elvanno, karena disaat dirinya se khawatir ini, tristan malah menertawakan nya.
"serius kenapa sih? lo udah ditahap nikah, artinya emang udah serius, adek imut"
elvanno membuang nafas kasar,
"kakak menjijikkan! " kembali terdengar kekehan disana.
"keyra ilang"
hening, kekehan tristan tak lagi terdengar.
__ADS_1
"coba ulangi"
"adek ipar lo ilang" terang elvanno dengan ucapan yang sedikit ditekan.
"lo dimana? "
"rumah sakit Y"
"oke, gue otewe"
telpon terputus, membuat elvanno menyandarkan tubuh di kursi belakang. merem, menempelkan ponsel nya ke kening. otak nya yang emang minimalis tak mampu mengira dimana keberadaan keyra saat ini.
ceklekk!
beberapa menit berlalu, pintu kaca ruang UGD terbuka. seorang dokter lelaki keluar. melepas sarung tangan, tatapan nya tertuju ke elvanno yang kini beranjak, berjalan mendekatinya.
"anda siapa nya pasien? " tanya dokter itu dengan menuding.
dava dan viko berlari tergesa. langsung menepuk pundak elvanno, dan tentu ikut menatap dokter yang belum menjelaskan apa pun.
"kita ini teman teman nya dok. bryan, pasien yang di dalam enggak punya saudara. dia anak tunggal, kedua orang tua nya ada di filipin" sahut dava menjelaskan.
"nah iya" elvanno ikut menimpali.
dokter ngangguk, menatap serius ke tiga bocah di depan nya.
"saudara bryan belum sadar. luka tusuk dibagian perut sudah kami tangani. tangan kanan dan kirinya retak. dan ada beberapa luka juga dibagian bahu dan dadaa. semua sudah kami tangani. untuk luka yang lain, tidak terlalu serius, jadi akan mudah untuk sembuh"
ketiga bocah itu melongo dengan penuh keterkejutan mendengar penuturan dokter. bahkan sangat tak menyangka jika bryan sampai terkena luka tusuk.
"kemungkinan, pasien akan sadar dalam waktu yang lama" lanjut dokter itu menerangkan.
ketiga nya saling berpandangan. ini semua diluar dugaan, sama sekali tak membayangkan luka bryan akan separah ini. lalu bagaimana dengan... keyra-nya?
"jika begitu, silahkan kalian urus untuk administrasi, sekalian biaya perpindahan pasien ke ruang rawat"
"iya dok" jawab dava nurut.
dokter itu kembali masuk ke dalam ruang UGD. sedangkan elvanno terduduk lemas di kursi besi. kekuatan nya tiba tiba hilang begitu mendengar keadaan bryan yang sangat parah. apa yang terjadi dengan keyra-nya?
"Ya Tuhan, mohon lindungi istri ku" pinta nya dalam hati.
"van"
__ADS_1
panggilan dari jarak yang masih beberapa meter itu membangunkan lamunan elvanno. tristan berjalan mendekat, menepuk bahu adiknya yang tak terlihat semangat untuk kembali hidup.
"lo kenapa? " tanya tristan, kini duduk di kursi samping elvanno.
"kak, bryan parah, dan dia koma" tutur viko menjelaskan.
"eh iya, ini kita disuruh ngurus perpindahan ruang rawat buat bryan. kalian ada duit dulu nggak? karena kalo gue, udah bisa kalian tebak" dava nyengir, karena dia emang selalu dikasih uang pas pasan sama orang tuanya.
tristan merogoh dompet, mengeluarkan kartu debit.
"pakai ini, pin nya 99xxxx"
viko menerima uluran kartu debit berwarna biru itu. menatap dava, lalu keduanya berlalu menuju tempat administrasi. menyisakan tristan yang menatap iba kearah adik nya.
"van, lo kenapa? keyra ilang gimana? coba lo jelasin" menepuk kaki elvanno pelan.
elvanno geleng kepala, kedua mata nya memerah. dia bingung, menjambak rambutnya dengan kedua tangan, menunjukkan seberapa frustasinya dia memikirkan keyra
"gue nggak becus jagain keyra kak" ucap nya tertahan oleh tangis.
tristan menarik tangan yang terus menjambak rambut.
"hey, lo cowok! nggak gantle banget lo nangis kek gini"
elvanno geleng kepala, bayangan tentang keyra yang mungkin telah dilukai oleh beberapa pria itu terlintas di otak.
"gue nggak siap liat keyra sakit"
"kita cari keberadaan keyra. lo jangan cengeng kek gini, anjiing! " geram, tristan meninju bahu adik nya cukup kencang.
"lo anak nya abram rabia darel. papa punya segalanya buat kerahin orang nyari keyra. bahkan jika keyra disembunyiin di dalam lubang semut sekalipun, kita pasti akan temukan dia"
elvanno mengelap ingus,
"gue khawatir kak. kakak nggak pernah liat kek gimana wajah ketakutan keyra. pasti dia nangis, sendirian, nggak ada yang datang buat nolongin. hiks... gue nggak tega"
"astaga.... " tristan kesal melihat adiknya cukup cengeng seperti ini.
"dimana kejadiannya? kita pantau cctv yang ada di jalan " seru tristan, dan itu cukup membuat elvanno berhenti menangis.
_**Happy Readingš_
Jangan lupa tinggalkan like and voteš¤**
__ADS_1