
keyra memantaskan diri di depan cermin kamarnya. tersenyum menatap pantulan tubuhnya yang sedikit berisi. seragam baru, putih abu abu yang tentu masih sama seperti dulu. mulutnya manyun, mendudukkan pantat di tepi tempat tidur.
"munafik banget ya aku ini" bermonolog sendiri.
"pengen nggak ada hubungan lagi sama keluarga izroil. sampai aku balik ke bogor karna pengen menjauh. sampai disini, semua fasilitas, makan, bahkan sampai pindah sekolah pun, yang ngurus juga papa" keyra tambah cemberut, menjatuhkan tubuh ke kasur dengan menerawang jauh.
"yah, andai ayah tau kehidupanku setelah ayah dan ibu nggak ada... huft.. aku kasihan banget lho yah" matanya mengembun, air asin menetes dari ujung mata.
kling!
ada chat masuk di ponselnya. segera ia bangun, mengambil ponsel yang ada diatas nakas.
{nanti aku hampiri}
keyra kembali menghela nafas setelah membaca pesan dari killa. teman sekelasnya dulu, dan sekarang mereka akan kembali menjadi teman satu kelas. memasukkan ponsel ke dalam tas, menyampirkan tas ke bahu, kembali ia menatap pantulan tubuhnya di cermin.
rasanya masih belum siap bertatap muka dengan orang orang. ia masih sangat malu, menatap pantulannya sendiri pun sangat malu. meraba tubuhnya yang terbalut kemeja putih, ada kaos putih yang membungkus tubuh sebelum kemeja putih itu. ya, sampai seperti ini dia menutupi tubuhnya.
pak abram menutup semua berita yang sempat beredar tentang penyekapan keyra dan pembuatan video itu. dan semua itu dilakukan demi mental keyra. ya, sesayang itu mereka sama keyra. karna nyawa itu nggak bisa dibeli dengan banyaknya uang yang udah dikeluarkan.
"non, sarapan dulu. biar nanti belajarnya lancar. " seru bik sari yang nyiapin sarapan diatas meja.
keyra menaruh tas nya disofa ruang tv. lalu menarik kursi di meja makan.
__ADS_1
"pak adi mana bik? "
"baru keluar, bibik suruh beli minyak goreng sebentar"
keyra nggangguk, mendudukkan pantat di kursi. membalikkan piring, dengan cekatan bik sari mengambilkan nasi dan lauknya.
"nanti biar aku berangkat sekolah bareng killa aja bik"
bik sari menatap keyra sebentar.
"boncengan motor, non? "
keyra ngangguk, mulai memasukkan sesendok nasi ke mulut.
bibik ikut duduk di kursi depan keyra, mengamati majikannya yang menikmati masakannya.
"non keyra udah baik baik aja kan? " tanya bik sari pelan.
keyra menghentikan kunyahan, mengulas sedikit senyum.
"nggak selamanya juga aku akan ngumpet bik. udah hampir dua bulan aku nggak pernah keluar dari rumah. pasti juga tetangga udah pada ngomongin aku"
bibik menghela nafas sedikit lega.
__ADS_1
"saya ikut seneng kalo non keyra udah merasa lebih baik. pokoknya, harus bisa ngelawan rasa yang timbul dari diri sendiri non. ya, seperti yang sudah diinfokan. kabar tentang kejadian itu nggak pernah menyebar. udah ditutup rapat sama tuan. jadi... nggak ada yang tau soal masalah non keyra dulu"
keyra meraih gelas yang sudah berisi air putih, lalu meneguknya,
"aku berdosa banget ya bik. udah sok sok an nggak mau ada hubungan sama keluarga papa. nggak taunya... aku seperti nggak bisa hidup tanpa papa"
bik sari mengelus lengan keyra dengan senyuman.
"dari dulu tuan abram memang baik, non. makanya saya sama suami betah kerja sama tuan. semua orang akan mengerti keadaan non keyra kok. terlebih nyonya dan tuan. mereka itu sayang banget sama non keyra. "
keyra mengusap embun yang hampir menetes.
"iya, aku juga tau bik. tapi... " kembali membuang nafas kasar dengan gelengan pelan.
"aku... aku takut bik"
bibik masih setia dengan senyumannya.
"iya, bibik paham kok. semua butuh proses, non. non yang kuat. pasti bisa melewati ini semua"
-**Happy Readingš-
Jangan lupa like and voteš¤**
__ADS_1