
"jangan sentuh! " teriak rika yang sama sekali tak digubris.
wati menyunggingkan senyum, menatap penuh kebencian ke rika.
"nggak nyadar ya? bahkan sejak sekolah, kamu sudah merebut kebahagiaanku. aku sudah ikhlasin mas abram jadi milikmu. tapi kali ini, aku nggak ikhlas saat keluargamu mulai mengusik kebahagiaanku"
rika membuang muka.
"aku nggak pernah mengusik kehidupanmu, wat! "
"hahah... " vita tertawa kecil, lalu menutup mulutnya.
"masih aja kamu nggak nyadar ya rik. heran deh"
kini rika menoleh, menatap vita, sahabat baiknya sejak sekolah dulu.
"vit, kamu kenapa? aku salah apa sama kamu? "
vita menatap rika tajam.
"beraninya anakmu membuat video mesumm gadungan dan menyebarkannya ke sosial media"
"dan kamu tau rik, garry dan devi adalah pemeran di video mesumm itu! " sahut wati yang juga nggak terima. ya, walaupun sebenarnya dia tau, jika video itu bukanlah rekayasa, tapi setidaknya jangan disebarkan. karena itu sangat membuatnya malu.
"well, keluargamu ini memang punya banyak masalah sama orang rik" kembali vita mengeluarkan suara.
vita dan wati saling berpandangan, sama sama tersenyum. senyum yang mengerikan, bahkan mereka berbicara melalui senyum itu.
rika yang mulai merasa ada sesuatu yang akan terjadi, memencet bel yang terletak diatas ranjangnya. membuat kedua wanita dihadapannya ini melotot, hampir meninggalkan kelopaknya.
"sialan kamu rik! " geram wati.
segera vita meraih sesuatu dari dalam tasnya. membekap mulut rika menggunakan sapu tangan. berusaha menepisnya, tapi itu sangatlah sia sia. rika hanya mempunyai satu tangan aktif, tangan kirinya benar benar lumpuh karena racun beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
"eemm.. eemmm... " erang mama.
"cepat, masukan obatnya" perintah vita.
wati mengambil suntik dari dalam tasnya. memegangi tangan rika dan memasukkan obat melalui suntik ditangan rika.
ceklekk!
seorang dokter dan dua suster masuk keruangan. segera, wati menyembunyikan suntik. vita pun melakukan hal yang sama.
rika menatap dokter yang memperhatikannya.
"dokter, tolong saya. mer--" tak bisa meneruskan kata katanya lagi. tubuhnya kejang, bahkan ada busa yabg kini keluar dari mulutnya.
"tolong dok. cepat" teriak vita pura pura panik.
"kalian apakan pasien saya!? " tuduk pak dokter.
wati dan vita sama sama terkejut mendengar tuduhan dokter. namun segera mampu menguasai keadaan.
"keluar kalian. biar saya tangani dulu pasiennya"
wati menarik tangan vita untuk keluar ruangan.
"tolong lakukan yang terbaik buat sahabat baik saya ya dok. " teriak vita dengan sok peduli dan akting mewek.
keduanya tos dengan senyum penuh kemenangan saat berada diluar ruangan. ngambil kacamata hitam dari dalam tas dan keluar rumah sakit berbarengan.
##
meraih jaket yang tercantel dibelakang pintu. segera memakai sepatu, lalu meraih kunci mobilnya. keluar dari kamar dan berjalan terburu buru menuruni tangga. membuka pintu teras belakang untuk memanggil adiknya.
"setaan! " umpatnya.
__ADS_1
mengurungkan niat mengajak adiknya. memilih pergi sendiri dari pada harus menganggu momen adu bibir sepasang suami istri digazebo belakang rumah.
segera menjalankan mobil setelah mesin mobil menyala. menyempatkan mencari kontak marina dan menelfon partner nya. selanjutnya, tristan memuluskan sesi ugal ugalan dijalan.
sepuluh menit lebih beberapa detik, mobil sport keluaran terbaru itu bertengger diparkiran rumah sakit. menghentikan langkah saat sebuah mobil warna merah baru melaju disampingnya. tersenyum penuh kemenangan pada tristan.
"bajingaan! " umpatnya dengan berteriak.
berlari lagi ke mobil.
brakk!
sebuah kaki menekan pintu mobil yang hampir terbuka.
"anji--" tak meneruskan kata kata karena ternyata marina yang sudah menghentikan aksinya.
"nyokap butuh elo. biar gue urus kedua musang itu. " marina menatapnya serius.
tristan ngangguk, menepuk lengan marina.
"gue percayain semua ke elo"
tanpa menjawab, marina hanya ngangguk, kembali menaiki motor klx nya. segera membawa motor itu keluar dari halaman rumah sakit, mengejar beberapa anak buahnya yang lebih dulu mengejar mobil wati.
dengan nafas ngos ngosan, tristan berlari menyusuri karidor ruang rawat mamanya. berdiri di depan pintu, menatap suasana di dalam sana.
tiiiiittt....
suara mesin lengkap dengan layar yang menunjukkan garis lurus itu terlihat sangat jelas. dokter kembali melakukan pompa jantung untuk yang kedua.
ada yang terasa perih, dan itu membuat tristan berhenti bernafas untuk sementara.
-Happy Readingš-
__ADS_1
Jangan lupa like and voteš¤