
di dalam sebuah mobil berwarna hitam yang tentu ia sewa, tristan mengintai rumah bercat orange di depan sana. menyesap rokok yang terselip di jari, detik kemudian, kepulan asap menguar, keluar melalui kaca yang ia buka sedikit. tangannya mulai bergerak meraih ponsel yang ia taruh di kursi samping kemudi.
"na, siap lo. itu mereka udah pergi" serunya pada marina, seorang wanita, lebih tepatnya sahabatnya sejak tinggal di LN dulu.
"iya, gue udah atur"
"yaudah, hati hati. begitu lo masuk, gue langsung jalanin mobil kesitu"
telpon berakhir, tristan kembali meletakkan ponsel. menyesap rokok untuk terakhir kali. lalu membuang puntungnya masuk ke selokan yang ada air limbah. dilihatnya, marina berjalan menuju rumah yang beberapa bulan ditempati devi. mengetuk pintu, mengucapkan salam, tapi tak ada tanggapan. hingga tangan itu bergerak lagi untuk kembali mengetuk pintu.
menit berlalu, pintu terbuka, menampilkan sosok gadis cantik berumur sembilan belas tahun dengan balutan dress warna putih motif daun berwarna biru. perut bulatnya terlihat sudah membesar, mungkin kehamilannya sudah memasuki trimestri terakhir.
marina berbincang sebentar, cepat tangannya membekap mulut devi. mendorong gadis itu masuk ke dalam rumah. tentu tak akan membiarkan tetangga mengetahui kejadian ini.
segera tristan memutar kunci, menyalakan mesin, lalu menjalankannya masuk ke halaman rumah itu. tristan keluar, cepat ia membuka pintu belakang, celingukan menatap ke sekitar, pukul sepuluh pagi menjelang siang. warga kampung kediri tak terlalu ramai. karena kesehariannya berdagang, jadi jam siang ini mereka sibuk dilapaknya.
memastikan jika aman, tristan segera melangkah masuk ke dalam rumah yang pintunya tidak ditutup. tatapannya tertuju ke arah marina yang memangku devi. wanita bunting itu sudah dalam kondisi tak sadarkan diri.
"angkat! berat, anjiing! " seru marina.
tristan menyunggingkan senyum, mendekat, lalu mengangkat devi. menggendongnya keluar rumah, memasukkan ke dalam mobil. menutup pintunya, dia sendiri segera masuk, duduk di kursi kemudi. kembali menyalakan mesin, berputar, keluar dari halaman rumah. cepat tristan membawa devi menjauh dari kampung itu.
perjalanan yang cukup memakan waktu, karena dari kediri ke jakarta, sangatlah jauh. tristan menatap kearah belakang, dimana devi yang sudah sadar, tapi kedua tangannya diikat dengan mulut diperban. berusaha memberontak, tapi tak bisa apa apa.
hampir tengah malam, mobil yang tristan bawa memasuki basemen apartement milik keluarga darel. apartement yang sudah diberikan papa padanya. dengan bantuan anak buah marina, devi diseret masuk ke dalam gedung.
tali ditangan serta lakban di mulut dibuka setelah gadis itu aman berada di dalam kamar.
"brengseekk! " umpat devi dengan tatapan tajam.
__ADS_1
tristan hanya menyunggingkan senyum, menatap devi sangat tak suka.
"welcome back jakarta, lacuur! " menekan kata terakhir dengan tatapan nyalang.
tak ada rasa takut sama sekali, devi membuang muka, dadanya terlihat naik turun sesuai detak jantung yang cepat. dia menahan emosinya.
"mau apa lo bawa gue kesini ha?! urusan kita udah selesai. keyra udah bebas, om andra juga udah masuk ke penjara. buat apa lo culik gue dan... dan nyiksa gue lagi, ha?! buat apa?! " teriak devi tak terima.
tristan berjalan mendekat, membuat devi memundurkan langkah. berhenti saat punggungnya nempel di dinding. bukannya berhenti, tristan makin mendekat, sampai tubuhnya mepet ke perutnya yang buncit.
kedua tangan tristan bertumpu pada dinding, mengungkung devi disana. sedikit menunduk, sampai wajahnya benar benar ada di depan wajah devi. sapuan hangat nafas tristan menyapa wajah yang memang cantik itu. membuat devi melengos, membuang nafas kasar untuk menahan rasa takut yang tiba tiba datang.
tristan mencekal kedua pipi devi, memaksa gadis itu untuk menatapnya. tak peduli dengan ringis kesakitan devi, tristan malah makin kencang menjapit pipit devi.
"aaggh, sakit kak" rengek devi, kedua tangannya mencekal tangan tristan, memohon untuk melepaskannya.
"lo udah rusak adek ipar gue. dan gue nggak akan biarin lo bisa berkeliaran dengan tenang. nggak akan" ucap tristan lirih, tapi sangat jelas terdengar di telinga devi.
"please, jaga dia yang bener. gue nggak mau kejadian serupa kembali terulang" pintanya.
"siap boss! " seru mereka berdua.
berjalan keluar dari ruang tengah, tersenyum saat melihat marina duduk diruang tamu dengan rokok ditangannya. tristan merebut rokok yang hampir masuk ke mulut, membuat marina terlonjak kaget.
"bangsaad lo! asal comot aja! " omelnya.
tristan hanya menyunggingkan senyum, menyesap rokok itu, lalu menjatuhkan bokongg disamping marina. dengan tanpa canggung, tristan merebahkan kepala dipangkuan marina.
"capek banget" keluhnya.
__ADS_1
marina meneguk minuman kaleng yang ada diatas meja, menatap tristan yang kembali menyesap rokok.
"salah sendiri, mau diganti nyetir nggak mau"
tristan malah terkekeh, memasukkan rokok yang masih sedikit panjang itu ke dalam asbak.
"ya kali, gue biarin lo nyetir dengan kondisi berdarah"
marina melotot, mendorong kepala tristan sampai hampir jatuh.
"pergi sono! ****** emang! gue wanita normal, makanya berdarah! kamvret, bacot lo emang sampahh! "
kembali tristan terkekeh, menjawil dagu marina yang kini ngambek karena sering dia goda.
"diih, jagoan neon gue, ngambek"
geram, marina mentonyor kepala tristan.
"lama lama gue gundul! "
"haha... lo cantik kalo lagi ngamuk kek gini"
udah sangat hafal sama kelakuan tristan yang emang selalu menggodanya saat dia ngambek. memilih berdiri, berjalan masuk meninggalkan cowok itu sendiri.
ddrrt... ddrrt...
ponsel disaku celana tristan berdering cukup nyaring. ada telfon masuk dari nomor baru.
-Happy Readingš-
__ADS_1
Jangan lupa like and voteš¤