Takdir Cinta Keyra

Takdir Cinta Keyra
Part 61


__ADS_3

"kenapa kalian bisa nyimpulin kalo semua ini emang rekayasa? " tanya elvanno pada ketiga temannya.


bryan menyesap rokok dalam, lalu mengeluarkan nya dengan cepat melalui mulut. sedangkan dava meminum minuman kaleng jatahnya.


"yang jelas, itu paku gede nancepnya di ban, bisa di pinggir, bukan dibawah yang kemungkinan keinjek sama ban motor" tutur viko.


"he'em, jadi kek ditembak dari jauh" sahut bryan.


"masa lo gitu aja nanya sih, dasar seperempat! " timpal dava.


"ppck! kamvret! " elvanno nonyor kepala dava.


mereka terdiam beberapa menit, sibuk dengan pikiran masing masing. elvanno memilih membuka minuman kaleng, lalu mengupas kacang kulit yang ada di atas meja.


"gue rasa... itu orang emang ngincer si keyra deh" celetuk viko memecah keheningan.


elvanno dan bryan langsung natap bocah itu serius. membuat viko menatap keduanya bergantian, lalu nyengir, memperlihatkan gigi putihnya.


"iya, iya, gue tau. keyra penting buat kalian. ini gue lagi ngomongin yang tiba tiba terlintas di otak aja"


dava ngangguk,


"gue mikirnya juga gitu. kek nya ada yang pengen nyelakai keyra deh"


elvanno merebahkan kepala di sofa, menyugar rambut kebelakang. mencoba mengira ngira orang yang mungkin akan berbuat senekat ini.


"cckk, pasti pacar lo" ucapan bryan membuat ketiga temannya menatap fokus ke dirinya.


elvanno mengerutkan kening,


"maksud lo.... devi? "

__ADS_1


bryan mengedikkan kedua bahu dengan kedua tangan yang terlentang.


"kejadian pembullyan di toilet sekolah itu. itu pelakunya juga devi dan kedua teman nya kan? jadi... siapa lagi pelaku nya jika bukan mereka? "


"jangan asal nuduh kalo belum ada bukti" kesal elvanno, karena pasti dia akan dipojokkan.


memilih tiduran di sofa, matanya menerawang menatap lampu gantung yang cukup mewah. ia mengingat kejadian saat dirumah devi hari itu. besar kemungkinan jika memang devi membenci keyra. tapi... apa iya, seorang devi sampai nekat melakukan semua itu?


sulit banget untuk elvanno percaya. karena selama setengah tahun lebih mengenal sosok devi, dia gadis yang baik. tapi... ingat kelakuannya di villa kala itu, udah cukup buktiin kalo setiap ucapan devi nggak pantes dipercaya.


huuffttt.... elvanno mulai uring uringan sama otaknya. beranjak dari sofa, kembali meneguk minumannya.


bryan menatap nya tajam,


"gue akan cari bukti kalo yang ngelakuin ini emang pacar lo"


elvanno balas menatap,


mendengar pernyataan elvanno, viko dan dava sedikit terkejut.


berbeda dengan bryan yang mencibir dan membuang muka. udah bisa ia tebak, pasti elvanno cemburu melihat kedekatannya sama keyra, makanya si elvanno buru buru mutusin devi. gitulah pemikiran bryan.


"serah, itu bukan urusan gue. urusan gue cuma yang nyangkut sama keyra aja" sedikit melirik elvanno dengan tak suka.


kembali bryan menyesap rokok yang sisa sedikit, lalu mematikan putungnya ke dalam asbak.


elvanno tak terlalu menanggapi itu, berdiri, menatap dava dan viko.


"gue cabut"


pukul 12.30 am.

__ADS_1


elvanno masuk ke kamarnya. menggeleng melihat sang kakak yang udah ngebo dengan posisi tengkurep memenuhi ranjang. melepas jaket, melepas sepatu, lalu nyopot celana jeans panjangnya. menyisakan celana kolor saja. masuk ke kamar mandi untuk cuci muka, setelah nya, ia ngeloyor keluar melalui pintu balkon. masuk ke kamar sebelah.


"cckk, kebiasaan. selalu nggak pernah ngunci pintu" gerutunya saat dengan mudah membuka pintu balkon kamar istrinya.


elvanno menutup pintu, menguncinya, bahkan menutup gorden yang menjulang tinggi itu. berjalan mendekati ranjang, dimana keyra merem dengan masih bersandar pada papan.


mengambil buku yang ada dipangkuan, lalu menidurkan keyra dengan nyaman di bantal. jongkok, tersenyum sendiri menatap wajah polos keyra. menyentil hidung yang nggak semancung miliknya.


"aku pasti akan lindungi kamu. dari siapa pun yang akan nyakitin" bisiknya, yang tentu tak di dengar oleh keyra.


cinta itu memang datang belakangan, tapi rasa nyaman akan hadir saat orang itu selalu ada disampingnya, memperlakukannya begitu spesial.


tersenyum miring,


"pantesan bryan suka sama kamu. kamu cantik, sayang" mengecup lembut pipi yang mulai cubby.


"aku nggak akan sia siain kamu. kan ku jaga hingga akhir hidupku. kamu akan jadi wanita terakhir ku, keyra" gumamnya dalam hati.


menit berlalu, elvanno naik ke atas tempat tidur, menarik tubuh keyra agar lebih dekat dengannya. lalu menutup tubuh dengan selimut tebal milik keyra.


"eegghh.... ayah... " keyra mengigau, dan setiap dikelonin sama elvanno, yang masuk dalam ingatan keyra adalah ayahnya.


elvanno tersenyum, mengecup puncak kepala keyra cukup lama. dadanya terasa berdebar tak menentu saat tubuhnya benar benar mepet seperti ini. setetes buliran bening menetes membasahi pipi putih elvanno. ingatan nya kembali dimana saat ia menjabat tangan pak denis dahulu. saat ia mengucapkan janji dengan lantang dan penuh yakin pada bapak mertuanya.


"maafin aku ya key. maaf udah bikin hidup kamu semenderita ini" ucapnya tertahan, ia menahan untuk tak menangis, walau kenyataannya air mata menetes begitu saja.


memeluk tubuh mungil itu erat, mengelus punggung keyra, kembali mengecup puncak kepala. menit kemudian, elvanno ikut terlelap.


_**Happy Reading😘_


Jangan lupa like and votešŸ–¤**

__ADS_1


__ADS_2