Takdir Cinta Keyra

Takdir Cinta Keyra
Part 103


__ADS_3

satu bulan berlalu.


hari ini adalah hari pengambilan raport. selama enam bulan ini, elvanno tak pernah ngeluyur, pergi kesekolah, dan pulang sesuai dengan jamnya. akan keluar rumah jika ada buku yang perlu dibeli. selain itu, dia akan menghabiskan waktu di dalam kamar saja. dan kalian tau, pipi cowok imut ini jadi lebih tembem dengan berat badan yang naik lima kilo gram.


dengan perasaan yang tak tenang, elvanno mondar mandir diruang tamu. berkali kali menatap ke arah pintu yang sengaja dibuka. memainkan angin di dalam mulut, berjalan kearah pintu, menatap gerbang yang masih tertutup rapat. membuang nafas panjang, kembali melangkah masuk saat yang ia tunggu tak juga datang.


merebahkan tubuh ke sofa dengan kasar, lalu menyugar rambut. merogoh saku celana, mengambil ponsel. menyalakannya, tersenyum mengelus walpaper ponsel yang selalu menjadi semangatnya.


"nggak sabar, aku pengen banget ketemu kamu" ngobrolnya sama gambar keyra yang bobok di layar ponsel.


menit berlalu, elvanno segera bangun, berlari menuju pintu begitu mendengar suara mobil yang datang. pintu taksi terbuka, menampilkan rika yang keluar dengan tangan menenteng tas dan map warna hijau.


melangkah mendekati mama, tak sabar, ia merebut map raport hasil perjuangannya beberapa bulan ini. mama geleng kepala, menarik lengan anaknya, membawanya masuk ke dalam.


mulut manis itu sedikit terbuka dengan tangan yang bergetar. kedua mata mulai mengabur tertutup embun. tubuhnya jatuh ke lantai, bertumpu di kedua lutut. bulir bening menetes begitu saja, membiarkan raport itu jatuh ke lantai. lalu menjambak rambut sedikit kencang.


mama terlihat sangat khawatir, melemparkan tas ke sofa. jongkok di samping elvanno, mengelus bahu anaknya yang kini terisak kecil.


"van, kamu ini kenapa? "


"hiks.. aku udah berusaha ma" jawabnya tertahan karena isakan.


tristan yang baru saja keluar dari dalam, mengerutkan kening. berjalan mendekat, meraih raport yang ada di depan adiknya. membukanya, lalu membaca lembar per lembarnya.


"iya, mama juga liat usaha dan perjuangan kamu, van. lalu... kamu kenapa kok nangis kek gini? " masih aja mama nggak paham.


"gimana aku nggak nangis kalo hasil akhirnya aku tetap nggak bisa pindah sekolah sama keyra" elvanno berdiri, mengusap pipinya, lalu mendudukkan pantat di sofa tanpa semangat.


tristan menatap adiknya bingung.


"lo nggak jadi pindah ke bogor? "


elvanno membuang nafas kasar melalui mulut.


"nilai gue nggak memenuhi syarat kak" lirihnya menjelaskan.


tristan melempar raport yang ada di tangan, tepat mengenai dadaa elvanno.


"mata lo katarak! "

__ADS_1


gelagapan elvanno menangkap map itu agar tak jatuh. menatap kakaknya yang sewot dengan kening berkerut. sangat nggak paham.


"buka, begoo! " seru tristan, menyilakan satu kaki ke kaki yang satu.


mama melipat kedua tangan di depan dadaa, menggeleng melihat elvanno yang mulai membuka raportnya lagi.


kedua mata elvanno membulat, menatap tak percaya dengan yang sekarang dilihat.


"ini kenapa jadi delapan dan sembilan? kok bisa berubah? " tanyanya dengan sangat tak percaya.


"dari tadi angkanya juga itu. lo bacanya angka berapa? " kesal tristan.


elvanno menatap tristan dengan bingung, lalu menatap raportnya lagi.


"tadi angka empat semua, paling tinggi lima"


tristan menyunggingkan senyum.


"itu jumlah telor puyuh atau kaki gajah? "


elvanno memutar bola mata, males.


"hahahah... selama tahunan lo dapat nilai kek kursi gitu? hahah... tampang doang sembilan puluh lima persen, otaknya otak kadal! hahah... " tak henti tristan menertawakan kebodohan adiknya.


dia sendiri, selama sekolah dasar sampai sampai ada dibangku kuliah, belum pernah sekalipun mendapat nilai mirip kursi itu.


"puas puasin aja ngeledek. nyatanya gue bisa delapan, nih" menunjukkan nilai tertinggi yang seumur hidup baru pertama kali ia dapat.


rika tertawa geli melihat perdebatan kedua anaknya. terlebih elvanno yang tadi mewek dengan wajah pengen mati.


tristan masih tertawa, hingga menit berlalu, ia mulai menghentikan tawa.


"aduuh, perut gue jadi kram" mengelus perut yang jadi perih karena kebanyakan ketawa.


elvanno mencibir,


"sukurin! dosa lo gede, ngetawain perjuangan gue"


tristan kembali tertawa kecil, menatap mamanya yang juga tertawa.

__ADS_1


"ma, tau dia bisa pinter gini, mama nggak nyuruh keyra pergi dari dulu. "


elvanno melotot mendengar ucapan yang sebenarnya gurauan, tapi di otaknya terdengar serius dan menyebalkan.


"atau nih ya, mama larang dia ketemu keyra sebelum dia jadi sarjana dengan ipk 3.8 . aku jamin ma. anak mama yang ganteng nya kek patung soedirman ini, pasti jadi kutu buku dan penunggu kamar. "


"mulut lo toxic, babii! "


cepat elvanno beranjak dari duduk, berjalan mendekati tristan. mentonyor kepala, meninju lengan, menggelut kakaknya sampai mereka berdua berguling ke lantai.


##


jauh hari papa sudah mengurus perpindahan sekolah elvanno. sehingga tepat di hari penerimaan rapoet, elvanno bisa langsung pergi ke bogor. sesuai permintaannya.


mama dan tristan mengantar, mengawal elvanno sampai ke rumah sewaan yang udah papa sediakan sebulan yang lalu. ada seorang pembantu yang ditugaskan membersihkan rumah, hanya datang setiap pagi, dan akan pulang jika pekerjaannya sudah selesai.


"van, inget ya, jangan deketin keyra dulu. kek yang gue bilang, semua harus pelan pelan" petuah tristan untuk yang kesekian kalinya ia katakan lagi.


"iya, iya, bawel banget! " mentonyor kepala kakaknya.


tristan mencebik, balas mentonyor elvanno.


"ini demi kebaikan, begoo! lo jual mahal gitu. biar si keyra yang sadar, kalo dia sebenarnya butuh elo. jangan ngejar dia terus. cuekin aja dulu. "


manyun, keningnya berkerut, lalu membuang nafas panjang memalui mulut.


"gue kangen, kak"


tristan kembali mencebik, membuang muka.


"ampet dulu, kan bisa"


"enggak bisa. rasanya tuh udah pengen peluk, pengen kekepin dia, biar nggak pergi lagi"


memutar bola mata, kembali nonyor kepala adiknya.


"serah! males ngomong sama otak kadal! "


-Happy Reading😘-

__ADS_1


Jangan lupa like and votešŸ–¤


__ADS_2