
"om! om! "
teriak keyra dari dalam yang membuat narto dan parji saling tatap. berbicara melalui tatapan mata.
"dia manggil nggak sih? " tanya parji.
narto ngangguk, mengeluarkan kunci dari saku celana, lalu membuka pintu. menyipit saat tak melihat keyra di atas tempat tidur. menghela nafas lega saat melihat gadis mungil itu memunculkan kepala dari pintu kamar mandi.
"kamu ngapain teriak teriak? " tanya narto dengan berkacak pinggang.
"ada pembalut nggak om? " tanya keyra, menggigit bibir bawah.
kening narto berkerut,
"aneh aneh. ya nggak ada"
"beliin dong om, sekalian sama ****** ***** nya. lalu rok nya juga. liat nih" keyra menunjukkan rok nya yang belepot saos, tapi memang seperti warna darah.
narto kembali menghela nafas kesal.
"duh alah.... cewek itu memang repot. dan ini alasan ku, males nyekap cewek" gerutunya.
keyra manyun,
"masa om tega, aku banjir darah" ia buat sememelas mungkin.
dan itu berhasil membuat narto sedikit iba.
"yaudah tungguin, biar parji belikan pembalut"
"eh, jangan lupa ****** ***** sama rok nya! " teriak keyra sebelum narto benar benar melangkah keluar dari kamar.
keyra membuang nafas penuh kelegaan melihat dua orang yang kini berbincang untuk membelikan ia pembalut. jujur saja, jantung nya berdebar tak karuan, sangat takut jika ia dikasari, atau bahkan diperlakukan lebih.
"kamu tau nar, kita belum gajian. uang ku udah ku kasih ke istri semua. ini sisa buat beli bensin dan rokok" tolak parji saat narto meminta uang nya ditanggung berdua.
narto mencebik kesal,
"yaudah, kamu beli nya pakai uang ku aja. tapi kamu yang beli" narto mengeluarkan dompet, mengulurkan selembar uang berwarna merah ke parji.
"beli pembalut sama ****** *****. jangan lupa rok nya! "
__ADS_1
parji menatap uang yang kini ada di tangan.
"perhatian bener kamu nar"
"kalo kamu nggak beli ****** *****, gimana dia pasang pembalutnya. udah sana! " mendorong tubuh temannya untuk segera keluar.
"ingat, jangan lama lama! "
parji hanya tersenyum, lalu melangkah keluar dari apartement. di dalam sana, keyra membuang magas berkali kali. sedikit lega karena satu rencananya berhasil. ia melingkarkan handuk di pinggang, berjalan keluar dari kamar mandi, lalu duduk di tepi tempat tidur.
"aduuuuh..... " rintihnya dengan kedua tangan yang menekan perut.
narto yang hampir kembali menutup pintu, kembali pintu itu ia buka lebar, lalu melangkah masuk. berdiri tepat di depan keyra yang meringis kesakitan.
"kenapa lagi kamu? pasti perutmu itu lapar! "
menatap meja, dimana disana tempat mereka selalu menaruh makanan untuk keyra. tersenyum saat piring itu sudah kosong.
"aku sakit perut om. kek nya efek haid deh. aduuuh.. hiks... sakit banget, om... " ia tambah meringis, merintih dengan akting yang meyakinkan.
"aku carikan minyak, nanti kamu olesi perut mu itu" narto melangkah keluar, tentu mencari minyak oles.
menit kemudian, lelaki berkumis itu kembali masuk dengan minyak oles di tangan. memberikan ke keyra.
keyra menggigit bibir bawah, terlihat seperti menahan rasa sakit.
"om, boleh minta tolong dibikinin teh anget nggak? atau wedang jahe, atau apa gitu, om. aku biasa minum yang anget, jadi sakitnya agak reda"
narto mencebik, menghela nafas panjang.
"kamu ini, kok ya ngerepotin banget"
"aduuuh.... aku beneran sakit loh, om. hikss... aduuh.. nanti kalo aku mati atau pinggsan karena ngga---"
"iya, iya, ini ku buatin teh anget. dasar ngerepotin! " lelaki berkumis itu melangkah dengan perasaan kesal meninggalkan kamar yang keyra tempati.
dalam hati, keyra mengucap syukur tak henti, langkah keduanya berhasil juga. dan sangat tepat, karna pintu kamarnya tak terkunci lagi, bahkan masih sedikit terbuka.
pelan, keyra berjalan mendekati pintu, membukanya dengan sangat hati hati agar tak menimbulkan suara, lalu menutup kembali pintu itu.
keyra celingukan, menatap keadaan sekitar, memastikan jika aman dan tak ada yang melihatnya. ia segera berjalan cepat menuju pintu keluar. kebingungan saat mendapati pintu yang tak ada pegangan.
__ADS_1
"ini tembok apa pintu sih? gimana cara bukanya? " lirih ia bergumam.
ceklekk!
suara pintu yang terbuka, membuatnya dengan cepat jongkok, merangkak, bersembunyi tepat dibelakang sofa ruang tamu.
devi yang rambutnya masih sedikit basah itu menjatuhkan tubuh di sofa tepat di depan keyra. menyentak nafas kasar, mengeluarkan ponsel dari dalam tas nya. ada nomor baru yang mengirimi nya chat.
{devi, kan? cantik banget, dan pertama kali liat, aku langsung tertarik}
{send picture}
{send picture}
devi tersenyum, bahkan sampai tertawa kecil menatap fotonya sendiri yang tadi pagi ia posting di ig. tangan nya mengklik profil nomor baru itu. matanya membulat saat melihat foto lelaki tampan dengan rambut pirang yang dikuncir.
"gila, cakep banget. ini foto aslinya bukan ya? " gumamnya yang tentu bisa di dengar keyra.
"kalo aku liat liat, ini mirip... mirip.. sekilas mirip banget sama... sama... " ia mencoba mengingat. menegakkan duduk, ngangguk dengan sangat yakin.
"ini mirip banget sama elvanno"
kling!
saat tengah menatap foto tristan, pesan dari m-banking nya membuat kedua sudut bibir melengkung.
"waah, seratus juta lagi. lumayan lah"
"cckk! keyra sialan. dia yang jelek gitu masa dihargai lima ratus juta. cuma karena masih perawan, ugghh! ngeselin! " ngomel sendiri. memasukkan ponsel nya ke dalam tas.
"perawan gue sama sekali nggak dikasih harga. dijebol garry, dapatnya sakit doang. tapi syukurlah, ada bapaknya yang bisa penuhin apa aja yang gue mau"
ia beranjak dari sana, menyampirkan tas selempang di bahu. membenarkan tatanan rambut, lalu berjalan menuju pintu. menekan beberapa angka, dan dengan sendirinya pintu terbuka. segera devi melangkah keluar, membiarkan pintu itu tertutup dengan sendirinya.
keyra cepat bangkit, menghalangi pintu yang akan kembali tertutup. ia tersenyum penuh kelegaan karena pintu itu kembali terbuka.
"mau coba kabur, hah?! "
rambutnya ditarik dari belakang saat kakinya hendak melangkah keluar dari apartement.
_**Happy Readingš_
__ADS_1
Jangan lupa like and voteš¤**