
Hari berganti dengan minggu tak terasa kepergiaan umi Rahma sudah hampir dua bulan lebih meninggalkan orang-orang tercintanya.
Abi Azam sudah mengikhlaskan sang istri pergi walau bagai manapun setiap manusia akan menghadapi yang namanya 'Kematiaan' yang tak bisa kita hindari atau tawar menawar.
Begitupun Air dan Adam sudah mengikhlaskanya sang umi pergi, walau Air dan Adam terasa berat di tinggal oleh orang yang begitu berjasa dalam hidupnya.
Wanita yang pertama kali mengajarkan bagai nama cara makan, minum, berjalan dan seterusnya kini dia pergi meninggalkan Cinta yang begitu melekat dihati Air dan Adam.
Semuanya terasa berbeda semenjak kepergiaan sang umi Wanita tangguh penuh jasa yang tak bisa Ais, Air dan Adam balas sampai kapanpun.
Hingga Abi Azam memutusakan untuk menyerahkan perusahaan kepada sang putra sulungnya. Abi Azam hanya ingin menghabiskan sisa hidupnya didalam rumah dengan mengenang kenangan pahit, manis, senang dan sedih bersama sang istri di rumah ini.
Rumah yang penuh kenangan dan ketenangan dimana abi Azam membangunnya dengan penuh pengorbanan dan cinta mempersembahkannya pada sang istri.
Dimana dulu mereka adalah sepasang sahabat menjadi suami istri dengan cara yang begitu unik Allah satukan.
Dimana pertama kali sang istri datang dengan kesedihan lama kelamaan kesedihan itu menjadi kebahagiaan yang tak bisa Abi Azam jabarkan oleh kata.
Hingga rumah itu tampak ada kesunyiaan didalamnya dimana dulu ada kecerewetan, tangisan dan kebahagiaan yang umi Rahma ciptakan.
Kesunyiaan itu membuat abi Azam merasakan bahwa setiap hari sang istri seakan ada didekatnya mendekap erat dirinya seperti pertama kali umi Rahma tak mau kehilangan abi Azam.
Tapi abi Azam tak pernah mengeluh sedikitpun walau dirinya berada didalam kesunyiaan seorang diri dimana putra bungsunya Adam sudah dua minggu yang lalu berangkat lagi ke China dan Air di sibukan oleh pekerjaan yang menumpuk.
Apalagi Air dua minggu lagi melangsungkan pernikahan dengan Mona wanita yang dulu Air hindari tapi sekarang dia akan Air ikat dalam janji suci pernikahan.
Dan keadaan Ais pun mulai membaik seiring berjalannya waktu dimana ucapan Ais dua bulan yang lalu membuat Ais sadar.
Bahwa tak ada yang abadi diatas bumi ini, semuanya akan Fana.
Benar apa yang dikatakan sang umi kita hanya harus bisa bersabar dan ikhlas menjalani kehidupan itu insyaallah kita akan mendapatkan hasil yang manis.
Tak ada yang bisa Ais salahkan dengan apa yang terjadi karna semua itu Takdir yang sudah Allah tentukan.
Ais sadar itu dimana sang suami selalu mengingatkannya, Entap apa jadinya Ais jika Allah tak menjodohkannya dengan Aiman laki-laki punya sejuta kesabaran, ikhlas, pengorbanan, perjuangan dan cinta.
Semuanya Aiman berikan pada sang istri, istri yang Aiman harus jaga sepenuh hati mendidik dan menasehatinya dikala sang istri salah arah.
Itu sudah menjadi kewajiban bagi Aiman bukan sebuah 'BEBAN' Yang pernah sang istri katakan.
__ADS_1
Karna kelak diakhirat nanti Aiman akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah, bagai mana Aiman menjaga, mendidik dan menasehati sang istri dan anak-anaknya.
Begitupun sang istri akan dipertanggung jawabkan di akhirat, apakah dia sudah menjalankan tugasnya atau belum.
Maka dari itu Aiman tak mau sang istri salah arah dimana keadaan sang istri yang selalu terguncang membuat Aiman takut sang istri berbuat hal nekat.
Tapi sungguh Allah maha baik, hingga Allah memberi kekuatan pada Aiman supaya sabar menghadapi sang istri, begitupun Ais yang selalu berusaha meyakinkan dirinya bahwa tak ada gunanya jika kita sering mengeluh yang Allah inginkan bukan keluhan tapi kita mendekatkan diri pada -Nya supaya kita tak salah arah.
"Didalam rumah tangga tak ada yang namanya kata 'Beban'Yang ada adalah tanggung jawab, jadi apapun yang Hubby lakukan itu semua adalah bentuk tanggung jawab Hubby sebagai kepala rumah tangga untuk selalu melindungi, menjaga, dan mencintai sayang. Jadi stop berpikir kalau sayang adalah beban bagi Hubby.Bagi hubby sayang adalah anugrah yang Allah berikan pada hubby supaya hubby jaga dengan segenap jiwa raga ini. "
"Apapun yang terjadi jangan pernah merasa kalau sayang adalah beban bagi hubby karna itu akan sangat menyakiti hati hubby. Hubby suami sayang bukan pelayan atau perawat. Berdamailah dengan keadaan ini Insyaallah suatu saat nanti sayang akan mendafatkan balasan yang setimpal dengan kesabaran yang sayang lakukan. Ingat Syethan selalu halus menjerumuskan kita kedalam jurang Neraka Jahanam. Beristigfarlah.. "
Ucapan sang suami terus saya terngiang ditelinga Ais membuat Ais merasa bersalah sudah menyakiti hati sang suami yang begitu berusaha menjaga dan melindunginya segenap jiwa raganya. Tapi apa yang Ais katakan hanya menambah luka sang suami.
"Maafkan Ummah, Nak. Sudah menyakiti hati Baba, jika kamu sudah keluar jadilah manusia tangguh dengan keteguhan Iman dan Takwa kepada Allah. "
Gumam pelan Ais sambil mengelus perutnya yang mulai membuncit.
"Ummah, apa ummah sedang bersedih.. "
Ucap Fatih tiba-tiba datang dan duduk di sisi sang Ummah dengan tangan mungilnya meraih pipi Ais lalu Fatih menghapus cairan bening yang keluar di pelupuk mata Ais tampa Ais sadari.
"Tapi kenapa air mata Ummah keluar, apa Fatih menyakiti hati Ummah! "
"Tidak! Fatih anak yang baik, tak menyakiti hati Ummah.. "
"Kata Baba Fatih harus jaga Ummah jangan sampai ummah bersedih. Jika Ummah menangis maka Fatih harus menghapusnya dengan tangan ini.. "
Ucap polos Fatih sambil mengangkat kedua tangannya. Ucapan sang putra membuat Ais mencelos, ternyata sang suami sungguh tak henti-henti mengkewatirkannya.
"Ummah tidak apa-apa. Sekarang Fatih tidur yah sudah malam. "
"No. Ummah kata Baba Fatih harus jaga Umm hua.. "
Ais tersenyum melihat tingkah sang putra yang memaksakan diri padahal sudah jelas dia mengantuk bahkan menguap di depan Ais.
"Yasudah, jagainnya sini sambil tiduran.. "
Fatih langsung mengangguk tiduran di paha sang Ummah, Ais mengusap-ngusap rambut sang putra sambil menatap wajah sang putra lekat.
__ADS_1
Sungguh wajah sang putra begitu mirip dengan sang suami bahkan tak ada sedikitpun yang mirip dengannya kecuali tatap matanya saja tapi ketika terpejam maka semuanya wajah sang putra duflikat dari sang suami.
Usapan Ais dirambut sang putra membuat Fatih malah tertidur pulas membuat Ais tersenyim saja. Dengan pelan Ais mengangkat sang putra untuk di tidurkan diatas ranjang karna takut sang putra akan sakit badannya jika tidur dalam posisi tak nyaman.
Grep...
"By.. "
Pekik Ais sedikit terkejut karna tiba-tiba sang suami memeluknya entah sejak kapan sang suami sudah pulang.
"Sutt... Nanti Fatih bangun.. "
Ais hanya diam saja dengan apa yang sang suami lakukan pada lehernya walau ada sedikit geli yang Ais rasakan.
"Ayo pindah kekamar kita.. "
Ucap Aiman sambil menarik tangan sang istri keluar dari kamar sang putra karna Ais tadi menidurkan sang putra dikamarnya sendiri.
"Bagaimana hari ini ,By.Apa semuanya lancar? "
"Alhamdulillah berkat Do'a sayang semuanya lancar. Kenapa belum tidur ini sudah malam lo.. "
"Nunggu Hubby ! "
Aiman menarik ujung bibirnya mendengar ungkapan jujur sang istri lalu menariknya kedalam pelukannya memberi rasa nyaman dan tentram.
.
.
.
.
Bersambung....
Jangan lupa Like, Komen, dan Vote
Tetimakasih...
__ADS_1
Janagn lupa tinggalkan jejaknya yah he.. he...