Takdir Illahi 2

Takdir Illahi 2
Epesode 22


__ADS_3

"Ha..ha... sudah Khumairo... "


"Tidak. "


Cup...


Deg...


Ais seketika menegang tetkala Aiman mencium bibirnya, membuat Ais melemah hingga tangan mungil itu berhenti memukul dada bidangnya.


Aiman berjalan ke sisi ranjang dengan mata yang masih saling mengunci satu sama lain, di dudukannya Ais di pangkuan Aiman dengan satu tangan membelit perut Ais.


"Kenapa dulu khumairo menolak perjodohan itu? "


Pertanyaan yang selama ini Aiman ingin tau jawabannya,dan baru kali ini Aiman berani bertanya.


"Ka.. karna aku benci kata perjodohan... "


Lilir Ais mengingat kata itu selalu membuat Ais mengingat kejadiaan dimana sahabat yang sudah Ais anggap saudara sendiri meninggal tepat di hadapannya.


"Terus... "


"Maaf jika aku sempat menolak, tapi aku hanya mencoba mempertahankan rasa ini. "


Ucap Ais sambil membawa tangan Aiman dan di letakan di atas dadanya membuat Aiman bisa merasakan debaran hebat seperti yang Aiman rasakan.


"Itu salah hu.. hubby , kenapa tidak menampakan diri dari dulu.."


Cicit Ais malu langsung membenamkan kepalanya di belahan dada Aiman.


"Ja.. jadi... khumairo sudah menyukai hubby dari lama.. "


Ais hanya mengangguk saja karna malu.


"Kalau khumairo tau jika hubby adalah orang yang akan di jodohkan sama khumairo, Apa khumairo masih membenci kata perjodohan"


Kali ini Ais menggeleng membuat Aiman menyerngit heran, penasaran apa yang akan di ucapkan oleh sang istri yang sudah menatapnya penuh cinta.


"Sekarang aku percaya, perjodohan tidak seburuk yang ada di pikiranku. Jika orangnya adalah Hubby.. "


"Jadi... "


"Ais suka Aiman mahmued"


"Si cupu pakai kecamata?? "


Goda Aiman sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Sekarang se.. semuanya.."


Grep.....


Aiman langsung menjatuhkan Ais hinga terlentang di atas kasur dengan Aiman yang mengungkung tubuh Ais.


Dibelainya lembut pipi Ais dengan mata yang saling mengunci satu sama lain,saling mendamba penuh cinta.


"Maka aku jauh menyukaimu sebelum khumairo mengenalku satu tahun yang lalu.. "


Ais hanya menautkan kedua alis nya tanda bingung dengan ucapan sang suami.Membuat Ais berpikir keras mencerna ucapan Aiman.


"Lihat... "


Deg...


Ais melotot melihat siapa yang ada di layar ponsel Aiman, poto gadis kecil yang sedang cemberut dengan mata yang berkaca-kaca.


"It.. itu... "


"Gadis yang sudah berani mencuri hati dan pikiran ku"


"Ma...ma'af.. "


Lilir Ais dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca membuat Aiman panik langsung bangun.


"Khumairo.... sayang kamu kenapa?? "


Panik Aiman membuat Ais malah semakin terisak sambil memeluk tubuh sang suami.


"Ya Allah maaf jika aku sempat meragukanmu, tapi sekarang aku yakin engkau yang maha baik atas segalanya".


Jerit batin Ais sambil terus mempererat pelukannya.


"Te.. terimakasih sudah men.. mencintaiku selama it.. itu... "

__ADS_1


Ucap Ais berbata membuat Aiman sedikit lega karna paham apa yang membuat sang istri menangis.


"Terimakasih kembali sudah membalas cintaku"


"By... "


"Apa hemmz...?? "


"It.. itu... "


"Ke... "


Kruk.....


Aiman hanya tersenyum mendengar bunyi lapar perut sang Istri sedangkan Ais menyembunyikan wajah malunya di dada Aiman.


"Laparnya... "


Goda Aiman membuat Ais semakin memanas padahal Aiman juga sama dari tadi dia menahan lapar karna semalam memang Aiman makan sedikit.


Kruk... kruk....


"Ha... ha.... "


Mereka jadi tertawa menertawakan tingkah masing-masing apa lagi Ais sedikit terhapus rasa malunya mendengar perut sang suami juga sama.Sama-sama mengeluarkan bunyi lapar.


Hingga mereka saling menggandeng tangan dengan wajah yang berseri menuju meja makan.




Jika Ais dan Aiman sedang menikmati rasa jatuh cinta setelah pernikahan walau ada sedikit ujian yang menghadang, tapi itulah takdir illahi.



Berbeda dengan Air yang nampak lesu dengan guratan kesedihan, menyandarkan punggungnya di tihang mesjid dengan air mata yang menetes.



Apa yang harus Air lakukan bisakah waktu di putar kembali, jika bisa ingin rasanya Air memutar waktu dimana sikafnya yang acuh dan tak peduli selalu Air tunjukan. Berubah menjadi hangat hingga tak menggoreskan luka sedikitpun.



Dengan pelan Air menghapus cairan bening yang keluar dari pelupuk matanya, sesekali menarik nafas pelan lalu membuangnya perlahan.




Sudah dua jam yang lalu memang Mona sudah selesai oprasi dan langsung di pindahkan ke ruang rawat inap.



Perlahan Air memutar kenop pintu lalu menutupnya kembali.Sedangkan Mawar dan Melati sudah pulang dari satu jam yang lalu karna hari sudah malam, apa lagi besok Mawar dan Melati harus membawa perlengkapan Mona.



Pikiran Air hanya tertuju pada wanita yang berbaring lemah diatas brankar dengan wajah pucatnya.



Wajah yang selalu garang dan tak akur selalu Mona pancarkan jika bertemu dengan kakak kembar Air.



Tapi kinih wajah itu tidak ada pancaran garang, sombong dan keangkuhan sama sekali. Yang ada hanya wajah yang memperihatinkan dengan guratan kesedihan.



Baru Air sadari bahwa wajah itu hanya menyimpan kesedihan yang di sembunyikan oleh penampilan dan sikap keangkuhan.



"Ma.. maaf... "



Lilir Air menggenggam lembut tangan Mona yang lemas.



"Bukalah mata mu,jangan pernah lelah mengejar sesuatu yang kamu inginkan... "

__ADS_1



"As.. asal jangan aku.Karna itu tak mungkin,kita berbeda ! ."



"Ja.. jangan buat aku terus menyakitimu... hik... sungguh itu sangatlah sakit... "



Lilir Air dadanya sangat sesak jika mengingat perlakuan kasar Air pada Mona,walau wanita itu tak pantang menyerah selalu terus mengejar walau tersakiti.



Jika boleh jujur Air jauh lebih sakit jika berada di posisi itu, perbedaanlah yang membuat mereka tak bisa bersama.



Tampa Air sadari dari tadi Mona mendengar apa yang Air katakan, hingga rasanya Mona ingin menjerit tapi sayang Mona tak bisa membuka mulutnya, rassnya tenggorokannya kering. Apa lagi kedua matanya sangat berat untuk di buka dan sulit untuk menggerakan seluruh tubuhnya.



Hanya ada air mata yang keluar dari pelupuk mata Mona dengan deras.



Deg....



Air menegang tetkala melihat air mata yang keluar dari sudup mata Mona yang masih terpejam.



"Ap.. apa kelakuanku sangat menyakiti-mu... "



"Hingga di... disaat tertidurpun kamu menangis... "



Gumam Air bergetar menghapus cairan bening itu dengan lembut.Membuat hati Mona tersayat, sangat menyakitkan.



"Aku mohon bangunlah, ak.. aku janji akan per.. pergi jauh,supaya aku tak menyakitimu lagi... "



"*Ja.. jang.. an*... "



"Aku ingin kau bahagia tapi tidak dengan perbedaan, se.. semoga kamu mendapatkan kebahagia dengan orang yang kau cintai, "



"*Tapi aku hanya menginginkanmu brengsekkkkk... ku mohon jangan pergi*... "



"Selamat tinggal dan ma'af,A..aku... mencintaimu... "



Cup...



Kecupan lembut Air berikan di atas puncak kepala Mona gemetar dengan air mata yang menetes tepat di kelopak mata Mona yang terpejam.



"*Aku membencimu... jangan pergi.. brengsek kau*... "



"*Ku mohon jangan pergiiii... aku bersumpah menbencumi Airumi khoer al-qolayuby*... "



"*Aku mencintai-mu*... "

__ADS_1



Jerit Mona memberonta dalam kegelapan, dengan sekuat tenaga Mona berusaha membuka kedua matanya tapi tak bisa bahkan tubuhnyapun sulit untuk di gerakan.


__ADS_2