
"Emmmz... "
Erangan kecil keluar dari bibir mungil gadis yang sendari tadi terlelap sangat nyaman di pelukan seseorang.
Perlahan kedua mata itu terbuka dengan berat, kepalanya sungguh pusing. Apa lagi tenggorokannya begitu kering yang di inginkan gadis cantik itu hanya air.
Tangannya meraba sesuatu yang sangat aneh, keras tapi kennyal yang pasti itu bukan bantal . Membuat Ais mengerutkan keningnya ,mata sayunya berusaha menyusuaikan Cahaya.
Deg...
Seketika Ais membulatkan kedua matanya menarik kesadaran Ais yang pusing. Tiba-tiba bayangan tadi siang terlintas kembali di kepala Ais tetkala melihat wajah sang suami membuat Ais memanas kembali.
Cairan bening itu mengalir deras dengan sendirinya, melihat wajah sang suami yang terpenjam sambil memeluk tubuhnya erat .
"Khumairo... "
"Jangan bergerak.."
Pinta Aiman memohon dengan suara sendu dengan kedua mata yang masih terpejam berat.
"Le.. lepasss... "
"Ais ben.. benci.. hik.. hik... LEPASSS...."
Teriak Ais terus memberonta di dekapan sang suami, membuat Aiman terus mempererat pelukannya. Aiman tidak akan melepaskan pelukannya jika sang istri masih marah.
"Hik... Jahattt.. hik... Ais benciii... "
"Lepass... hik... "
Ucap Ais mulai melemah karna suaranya seakan habis mungkin karna terlalu lama menangis dan juga kelelahan.
"Ma.. ma'af... "
"Harus bagai mana lagi hubby menjelaskan nya Sa..sayang..hik.. bahwa Hubby tak pernah menghianati pernikahan kita. "
"Ma'afkan Hubby..."
Lilir Aiman begitu pusing dengan semuanya, Ais hanya bungkam saja mendengarkan apa yang sang suami ucapkan.
Rasanya Ais begitu lelah memberonta membuat Ais diam saja, perlahan Aiman mengendorkan pelukannya karna takut menyakiti sang istri dan calon anaknya.
"Ais tidak tau harus percaya atau tidak ! yang jelas saat ini Ais kecewa dan butuh sendiri.. "
Tekan Ais membuat Aiman hanya diam saja tak mencegah sang istri beranjak dari ranjang meninggalkannya.
Aiman menatap nanar punggung sang istri dengan air mata yang membasahi kedua pipinya.
Cih, ternyata Aiman begitu lemah jika menghadapi situasi seperti itu. Jika saja masih ada sang Mamah pasti Aiman bisa melewati semuanya dengan mudah.
Kepalanya begitu berat membuat Aiman kesulitan bangun hingga Aiman hanya memejamkan kedua matanya saja yang begitu berat.
"Maafkan hamba ya Allah telah menyakiti istri hamba.. Walau engkau yang maha tahu sebenarnya yang terjadi.. "
Gumam Aiman sambil memijit pelipisnya yang semakin berat, tapi hatinya jauh lebih sakit akan penolakan sang istri.
Ais memegang dadanya sesak jika mengingat itu semua, perilaku manis, posesif, dan memanjakan. Baru saja Ais rasakan tapi sekarang semuanya terasa lenyap begitu saja.
Sakit jika dikhianati, di bohongi sungguh itu sangat menyakitkan bagi Ais . Membayangkan kebersamaan Aiman bersama wanita lain saja sudah menyakitkan apa lagi ini dengan pengkhianatan.
Tubuh Ais melorot di balik pintu kamar Utama dengan kepala di tenggelamkan di antara kedua lututnya, tubuhnya gemetar hebat dengan isak tangis yang begitu nyaring menggema di dalam kamar.
"Baby.. Ma.. ma'afkan Ummah... "
"Jangan meminta yang tak bisa Ummah berikan saat ini... "
Lilir Ais sambil mengusap perutnya, rasa rindu begitu menyiksa. Ais membutuhkan pelukan sang suami tapi rasa kecewa lebih mendominasi membuat Ais enggan untuk memaafkan sang suami.
Jahatkah jika Ais kecewa , marah, benci ? .
Sungguh itu semua tak mau Ais rasakan tapi keadaanlah yang memaksa Ais begitu .
"Ya Allah hamba hanya berserah diri pada-mu, Engkau yang maha tau atas segalanya.Hati ini begitu sakit... Sakit dengan apa yang suami hamba lakukan. Maaf jika yang hamba lakukan membuat-mu membenci hamba.. tapi sungguh hati ini sangat sakit ya Allah... Tuntunlah hamba selalu di jalan-mu agar hamba tak salah melangkah...
Mudahkanlah hamba berdamai dengan semuanya... Agar hamba tak menyimpan sifat yang engkau larang ya Allah...
Dan berikanlah haba kekuatan untuk menghadapi semuanya... "
Lantunan do'a Ais panjatkan dengan isak tangis yang terdengar pilu bagi siapa saja yang mendengarnya.
__ADS_1
Ais hanya bisa berserah diri pada sang maha Bijaksana (Allah) di sepertiga malamnya. Dengan deraian air mata, segelintir angin dan cahaya rembulan menjadi saksi kepiluan gadis yang bergetar di atas sejadah.
"Semoga ini hanya sebuah bunga tidur... "
Gumam Ais sambil mengecup poto pernikahannya ,terlihat didalam poto itu mereka begitu bahagia sekali. Tapi nyatanya itu hanya sesaat.
Dan pada kenyataannya,kehidupan rumah tangga memang begitu. Selalu ada badai yang datang, tapi percayalah bahwa semua itu akan berlalu.
Kuncinya hanya satu yaitu 'Sabar ' dengan itu semuanya akan kembali terasa manis dibalik kepahitan yang kita lalui.
Ais mendekam erat photo pernikahannya hingga kedua matanya terpejam kembali sehabis sholat subuh, karna rasanya kepalanya begitu pusing. Mungkin terlalu lama menangis membuat kedua mata Ais menjadi sembab.
Ruangan yang begitu gelap membelenggu seseorang di dalamnya, dadanya begitu sesak hingga sulit untuk bernapas.
Bukan sesak di kegelapan tapi sesak yang lain seperti merasakan sakit yang berbeda ! tapi apa ? orang itupun tak mengerti.
Dengan susah payah kedua tangannya meraba-raba mencari dimanakah pintu keluar ruangan gelap itu. Tapi sayang, tetap saja seseorang itu tak bisa menemukannya.
Ingin berteriak meminta tolong, lagi-lagi tak bisa. Rasanya tenggorokannya tercekik membuat seseorang itu meraung dalam tangisan yang pilu.
"*Tolonggg..... "
"Dimana Aku ?? tolong*... "
Jerit batin seseorang itu begitu ferustasi. Berteriak tak bisa, seakan tercekik, dan yang paling membuat seseorang itu semakin meraung kenapa ia tak bisa melihat apapun, hanya ada kegelapan.
Kenapa ? hikkk....
Secercah pertanyaan berputar di kepalanya membuat dadanya merasakan sakit kembali, tapi seseorang itu hanya bisa menangis dan menangis tampa bisa berteriak dan berjalan.
Seluruh tubuhnya begitu kaku, hingga setitik cahanya terlihat membuat seseorang itu memicingkan kedua matanya.
Lama kelamaan cahaya itu seperti membentuk portal yang sangat besar hingga cahaya itu membuat seseorang itu kesulitan untuk melihat.
Tak lama cahaya itu mengecil kembali hingga nampaklah gadis yang begitu cantik dengan balutan gamis yang begitu indah dipadu kerudung yang berhias mahkota.
Senyuman indah terpancar di bibir seksinya dengan pancaran sorot mata teduh.
Deg....
Seseorang itu terpaku di tempat membuat seluruh tubuhnya kembali kaku, tangannya ingin menggapai tapi sulit.
Bahkan menyapapun tak bisa, bibirnya begitu berat dengan tenggorokan kering membuat seseorang itu merasakan sakit ketika memaksa ingin berbicara.
__ADS_1
"*Itukah ka.. kamu*... "
Batin seseorang itu menatap bahagia bercampur sedih memandang gadis di depannya.
Gadis itu hanya mengangguk seperti mengerti dengan apa yang di katakan seseorang itu walau tak bicara sama sekali.
"*Pergilah... dari kegelapan ini*.... "
"*Semua orang menunggumu, jangan buat mereka bertambah sedih,apa lagi ada gadis yang benar-benar membutuhkanmu*... "
Ucapan lembut gadis itu mengalun indah di telinga seseorang itu membuatnya semakin perih.
"*Apa kamu juga Akan menungguku*... "
Lagi-lagi gadis itu mengangguk sambil tersenyum seakan mengerti akan isi hati seseorang itu.
"Kembalilah.... "
"*Jangan pergiii..... Tolong, Aku mohonnn.. tidak.....jangan*... "
Jerit batin seseorang itu sangat sakit ketika gadis itu pergi dengan senyuman yang masih sama.
"Kembali... "
Deg....
.
.
.
.
.
Gimana seru gak??
Jangan lupa yah sudah bacanya tinggalkan
__ADS_1
like, komen, votenya ok....