
Pilihat yang begitu sulit membuat Emely bingung.Disatu sisi Emely tidak mau menjadi seorang pembunuh yang akan membuat Aiman membencinya nanti dan disisi lain Emely juga tidak mau Aiman dan Om Ilham dalam bahaya.
Apa yang harus Emely lakukan pikirannya begitu kacau apalagi melihat salah satu pereman sudah menarik pelatuk pistol yang siap menembus kepala Aiman.
Dengan gemetar Emely mengangkat tangannya dan mengarahkan pistol yang dia pegang kearah Ais yang masih terpejam akibat pengaruh obat bius.Emely memejamkan matanya tetkala om Ilham memelas supaya Emely tidak melakukan hal bodoh yang akan merugikan dirinya sendiri.
Tapi semuanya membuat Emely buta hingga Emely memilih keselamatan Aiman dab Om Ilham . Dan kemungkinan nanti pasti Emely akan mendapat kebencian dari Aiman.
"Ma..ma'afkan Ak..aku.."
Jerit batin Emely sambil menarik pelatuk pistol itu membuat laki-laki paru baya yang ada disamping Emely tersenyum Puas.
Dor...
Dor...
"Ka..kau..."
Ucap Tersendat laki-laki paru baya karna kaki kanan dan lengannya ditembak oleh orang suruhannya sendiri.Membuat laki-laki paru baya itu menatap tajam langsung anak buahnya itu.
"Brengsekk..Awwuhhh.."
Umpatnya sambil menjerit karna kaki yang ditembak nya ditendang oleh Anak buahnya sendiri.
"Sa..sakit Hemmz.."
Ucap Preman kurus itu tersenyum kecut dengan mata yang sudah memerah menatap tajam laki-laki tua bangka itu.
"Kaget yah..Ha..ha..Itu balasan karna kau sudah Membunuh Abang ku.."
Krek...
Tekan Preman kurus itu sambil meringkus laki-laki paruh baya itu hingga tangan kanan yang ditembak tersa koyak ingin lepas dari tempatnya membuat laki-laki paruh baya itu menggeram sakit.
"Ta..tapi sayang itu belum seberapaa.."
Bugg...
" Tunggu.."
Deg...
Laki-laki paruh baya itu melotot tak percaya melihat apa yang terjadi sebenarnya hingga dia menahan amarah,benci dan dendam semakin menggila padahal dirinya sudah tak berdaya lagi.
"Apa kabar Kakek.Sudah lama Aiman mencari kakek ternyata kakek bersembunyi disini.."
"Pa..paman.."
Ucap Ilham sendu melihat laki-laki paru baya yang sudah sepuluh tahun menghilang pasca keluarnya dari penjara. Keluarga satu-satunya yang dimiliki Almarhumah sang istri,walau bagaimanapun Paman Bayu adalah adik dari mertua Ilham yang dulu paman Bayu bunuh demi harta warisan hingga membuat sang istri Dinda menjadi depresi.
__ADS_1
Kenapa Paman lakukan itu? Pertanyaan yang dilakukan lewat sorot kekecewaan yang mendalam menatap Paman Bayu yang hanya tersenyum sinis ternyata mereka semua telah menjebaknya.
"Cih...kalian semua telah menghancurkan hidupku..Semuanya miliku tapi kau.."
Tunjuk paman Bayu pada Ilham yang menatapnya sendu. Apa yang akan paman Bayu lakukan jika tau apa yang terjadi pada keponakannya yang dulu dia ingin bunuh juga.
"Kau menggagalkan semuanya harusnya dari dulu Semuanya miliku..ha..ha..tapi istrimu yang bodoh itu berhasil kau lindungi .."
"Dari dulu memang perusahaan itu milik Paman.."
Jderrr....
Bagai disambar petir disiang bolong paman Bayu langsung melotot dengan tatapan tajamnya.
"Ha..ha..kau jangan membual Ilham..Semuanya hancur...karna istrimu merebut semuanya.Kalian menghancurkan hidupku..Ha..ha..Sudah bertahun-tahun aku membantu diperusahaan dan membangunnya jadi Jaya tapi nyatanya kalian merampas semuanya.."
Tawa paman Bayu pecah seakan semuanya adalah lelucon. Dendam yang dari dulu bersarang hingga menjadi daging membuat paman Bayu buta akan semuanya.Tak pernah sedikitpun melihat sisi baik dari orang-orang terdekatnya yang ada Paman Bayu hanya berpikir bahwa semuanya menghianatinya menjadikan dia hanya orang asing dikeluaganya hingga dia tak berhak mendapatkan apapun.
Dan adiknya dulu malah menghianatinya membocorkan semua kelakuannya pada sang Ayah hingga dia didepak dari ahli waris yang semuanya berpegang pada Ayah Dinda dulu.
"Aku benci kalian.. kalian harus hancur seperti hancurnya aku mendekap dipenjara selama dua puluh tahun...tapi kau Sialan telah menghianatiku.."
Cih...
Paman Bayu meludah menatap tajam anak buahnya yang berani berkhianat tapi dia tak bisa bergerak bebas apalagi tangannya seakan patah dan kaki nya dari tadi mengeluarkan darah membuat paman Bayu lemas.
"Semuanya benar Pa..paman..Perusahaan Itu Atas Nama Paman Bayu Mahardika... "
"Li..lihatlah..."
Lilir Ilham karna tak kuat menceritakan apa yang terjadi semuanya yang akan mengingatkan Ilham atas perjuangan,kesakitan dan hancurnya sang istri .
Paman Bayu hanya diam dengan mata melotot tak percaya dengan apa yang dia lihat dan baca diberkas itu.
Benarkah itu,Ta..tapi kenapa Ayah dulu seakan tak mau kalau aku yang memegang. ta..tapi ini..,Pikir Bayu menggeleng.
"Ba..bagai mana mu..mungkin.."
"Itu kebenarannya Kek..Apa kakek gak sadar selama ini teman-teman Kakek yang berkhianat..Jika kakek tidak percaya trus kemana teman-teman Kakek ketika kakek dipenjara. Tak ada satupun kan yang menbantu! .."
Paman Bayu hanya diam mendengar semuanya dengan tangan gemetar rasa sesal tiba-tiba meruak membuat dadanya sesak.
Ap..apa yang sudah aku lakukan Aku su..sudah membunuh orang yang mem..membesarkanku dan Ka.kakakku sendiri dengan Tangan in..ini,Batin Paman Bayu penuh sesal tampa paman bayu sadari sendari tadi dia mengeluarkan air mata.
Sedangkan Emely yang melihat apa yang terjadi didepan matanya hanya diam tak bergeming seakan ini semua hanya drama dan dirinya dijadikan apa! ,pikir Emely tak mengerti.
Melihat kalau Aiman dan om Ilham tidak apa-apa dan para pereman itu ternyata memihak pada Aiman, jadi ini adalah jebakan.batin Emely tak percaya.
"Teteh Bangun, Nak."
__ADS_1
Lagi-lagi Emely terperanga melihat siapa yang datang kedua orang tua Ais dan Air dan yang membuat Emely terkejut lagi melihat siapa yang datang setelah mereka.
"Dad..daddy...Mom.."
Lilir Emely gemetar sambil menjatuhkan pistol yang ada ditangannya dengan tatapan bingung dan sejuta pertanyaan dibenaknya.
Membuat semua orang langsung berbalik menatap Emely dengan tatapan berbeda-beda.
"Ma..ma'afkan Pa.paman.."
"Ma'afkan juga Aiman paman kalau paman harus masuk lagi kedalam sel jeruji dengan apa yang selama ini paman perbuat.."
"Tidak, dia harus mati.."
Cegah preman kurus menatap tajam dan benci pada paman Bayu yang sudah membunuh abangnya tepat didepan matanya sendiri.
"Kita serahkan pada yang berwajib.."
"Tapi tua bangka ini sudah membunuh Abangku.."
Krekk..
"Bagai mana dengan kamu juga yang sudah banyak menyakiti orang lain dengan harta yang kamu rampas dari mereka.."
Ucap Aiman menjadi dingin membuat preman kurus itu langsung diam menurunkan kembali pistol yang sempat preman itu tarik platuknya.
Tak lama beberapa polisi datang yang dari tadi menunggu printah karna memang sendari tadi sudah ada.
"Tunggu..."
Deg...
.
.
.
Bersambung...
Gimana seru gak???
Jangan lupa terus
Like
Komenn
Vote
__ADS_1
Terimakasih...