
Taman yang begitu ramai dengan riuk tawa yang menggema , memancarkan keceriaan di wajah-wajah bocah dan orang-orang dewasa yang sedang bermain dengan anak-anaknya.
Tapi tidak dengan seorang wanita yang sedang duduk disalah satu bangku taman dengan tatapan lurusnya.
Pikirannya entah kemana membuat wanita itu hanya diam dan tak menjawab panggilan dari bocah kecil yang mengajaknya main.
Sudah tiga hari wanita itu tak bersemangat, tak mau mengerjakan apapun. Dia hanya diam dengan pikirannya sendiri.
Puk...
Tepukan lembut di pundaknya membuat wanita itu terlojat kaget memaksakan senyum pada laki-laki yang duduk di sebelahnya.
Laki-laki itu hanya menghela nafas halus sambil menatap wanita itu yang kembali melamun lagi.
" Ani.. "
"Ehh... apa ? "
" Mau sampai kapan kamu begini ! "
"Aku tidak apa-apa, Ndi.. "
" Ini makanlah dari kemaren kamu tidak makan.. "
"Aku tak lapar.. "
Tolak halus Ani sambil menggeleng, sungguh bagai mana Ani bisa makan sedangkan sahabatnya masih marah tak mau bertemu dengannya. Membuat Andi lagi-lagi menghela nafas untuk kesekian kalinya.
"Tapi kamu juga harus memikirkan dirimu sendiri.. Ayo makanlah.. "
"Bagai mana aku bisa memikirkan diriku sendiri jika sahabatku masih marah.. hik... "
Lilir Ani meloloskan tetesan cairan bening yang sendari tadi dia tahan.
Andi menarik tubuh Ani masuk kedalam dekapannya, mencoba menenangkan sambil mengusap-usap lengan Ani.
"Ap.. apa yang harus aku lakukan, Ndi. "
Gemetar Ani sungguh tak kuat jika menghadapi masalah itu sendirian, tak ada keluarga, saudara dan hanya keluarga Koer adalah satu-satunya keluarga Ani bagi Ani.
"Maka ayo kita jelaskan semuanya.. "
"Itu tak mudah Ndi, bahkan Ais sering memaki dirimu bagai mana mungkin aku malah bersama orang yang sangat sahabatku tak suka. Apa kamu tau sifatmu membuat Ais dulu sangat membenci orang-orang sepertimu. Bahkan dulu Ais sempat teroma jika ada orang mendekatinya hingga kemanapun harus dengan Airumi kembarannya. "
Andi hanya diam mendengar ungkapan perasaan dan cerita yang dulu Ais alami, wajar jika Ais membencinya karna memang dirinya salah .
Tapi Ais juga tidak tau apa yang sebenarnya terjadi antara Andi, Ani dan Anna. Hanya satu orang yang tau kisah mereka karna Ani sempat menceritakannya sebelum kabur dulu.
Mengingat itu Andi langsung mengurai pelukannya sambil menatap lekat wajah orang yang begitu dia cintai,Karna Ani sempat bercerita pada dirinya kalau Kaburnya Ani dulu karna bantuan seseorang juga.
"Kita minta bantuan sama om Azam, dia pasti membantu kita.. "
Ani menggeleng tanda tak setuju, sudah berapa banyak Ani menyusahkan Om-nya dari dulu, dia sudah terlalu malu. Karna dirinya Ais mengalami troma,walau dari dulu om Azam sudah memperingatinya tapi Ani tetap ngotot hanya demi kebahagian kakak kembarnya.Tapi nyatanya keputusannya salah besar, Ani menghancurkan semuanya.
Bagai mana mungkin Ani punya nyali untuk meminta bantuan pada Om-nya lagi.Sudah untung om Azam tidak menyalahkan dirinya atas keterpurukan Ais selama satu tahun.
"Terus mau kamu apa? Aku juga tidak mau melihat kamu seperti ini. "
Lilir Andi begitu prustasi kenapa semuanya jadi rumit, apa lagi Mamah nya selalu menanyakan kabar sang adik hingga Mamahnya sakit-sakitan.
Membuat kepala Andi semakin pusing saja, kenapa Takdir tak henti-henti mempermainkan dirinya.
Andi juga tidak mau kehilangan Ani untuk kedua kalinya, bagai manapun caranya Andi akan memperjuangkan cintanya walau Andi harus menghadapi Ais dulu yang terlanjur membencinya. Karna Ani tak mau menerimanya kalau Ais tak merestui hubungan mereka, Andi tau karna Ais seseorang yang begitu berarti dihidup Ani.
Sedangkan Andi bingung untuk bicara pada om Azam masalah Bagas, karna Andi membutuhkan Bagas untuk kesembuhan Mamahnya.
Dret... dret....
Ponsel Andi bergetar membuat tatapan Andi dan Ani terputus, dengan cepat Andi mengangkat panggilan adik perempuannya.
"Assalamualaikum.. iy... "
Deg...
Seketika Andi melotot dengan jantung yang terpacu hebat membuat Ani sedikit tersentak akan perubahan wajah Andi.
"Kamu bawa dulu Mamah kerumah sakit, Abang akan menyusul.."
"Apa yang terjadi.. "
Panik Ani ketika Andi sudah mematikan sambungan teleponnya.
"Ma..Jantung Mamah kambuh lagi,Aku harus kerumah sakit. Kamu nanti nyusul sama Amira.. "
Ucap Andi terburu-buru takut tarjadi apa-apa pada sang Mamah. Karna Mamahnya satu-satunya yang masih Andi punya.Sedangkan sang Ayah sudah meninggal beberapa tahun lalu.
Ani mematung melihat kepergian Andi yang sudah tak terlihat lagi sedangkan Amira masih tiga puluh menit lagi keluar kelas, membuat Ani gelisah takut terjadi apa-apa pada Mamahnya Andi.
Sedangkan dirumah sakit Ais nampak bingung tak melihat keberadaan Vina, biasanya anak itu selalu tepat waktu untuk mengontrol keadaan dirinya.
Sampai siangpun Vina tak datang hanya dokter Hendra dan mahasiswi koas lain yang nerupakan salah satu teman Vina mengecek keadaannya.
Padahal Ais sudah sangat senang bisa berteman dengan Vina, gadis yang sedikit bar-bar dan penuh keceriaan.
__ADS_1
"Emmz Ma'af Dok, kenapa Vina gak masuk ? "
Tanya Ais karna begitu sangat penasaran, Aiman yang mendengar sang istri menanyakan keberadaan mahasiswi koas itu langsung berbalik menatap sang istri heran.
Seakrab itukah mereka, Kemaren-Kemaren padahal masih cemburu,pikir Aiman.
"Oh ,Vina lagi menunggu Mamahnya yang sedang sakit di ruang ICU... "
"Innalillahiwainnailaihirojiun... Sakit apa Dok, kenapa sampai di bawa keruang ICU? "
Potong Ais kaget, pantas saja Vina tidak ada. Padahal Ais sudah nyaman dengan pelayanan yang Vina berikan.
"Saya belum tau, mungkin dokter Hakim lebih tau karna dia yang menanganinya.."
Ais merasa kecewa dengan jawaban dokter Hendra.
"Kalau begitu saya pamit keluar..."
"Terimakasih Dok, atas informasinya.. "
"Sama-sama.. "
Ada rasa iba direlung hati Ais mendengar Orang tua Vina masuk rumah sakit, karna Vina sempat cerita kalau dia tinggal berdua dengan Mamahnya saja.
"Jangan terlalu dipikirkan sayang.. Ingat kamu gak boleh banyak pikiran.Insyaallah semua baik-baik saja.. "
Ucap Aiman menghampiri sang istri yang diam.
Ucap Fatih merentangkan kedua tangannya ingin di gendong sama sang Ummah,Dengan senang hati Ais menggendong sang putra.
"Fatih sudah makan sama Baba.. "
"Iya.. Mah.. "
"Pintar jagoan Ummah,bilang apa sama Baba... "
"Ter.. terimakasih Baba.. he.. "
"Sama-sama jagon Baba.. "
Balas Aiman sambil mencubit pipi sang putra lembut karna gemas .
"Hubby boleh Ais menengok orang tua Vina? "
Tanya Ais hati-hati memohon dengan muka memelas.
"Sayang har.... "
"Pleassse... By... "
"Baiklah, tapi sebentar. "
__ADS_1
Pasrah Aiman tak tega jika sang istri sudah menunjukan wajah memelasnya.
"Bibi Ais titip Fatih dulu yah... "
" Biar sama Umi aja, pergilah.. "
"Ne.. nenek... yehhh.. "
Potong umi Rahma yang baru masuk secara tiba-tiba membuat Ais nampak kaget, tapi dengan cepat Ais menormalkan expresi wajahnya kembali karna melihat sang putra begitu antusias melihat Nenek-Nya.
Dengan pelan Aiman membantu sang istri duduk diatas kursi roda lalu mendorongnya pelan menyusuri kolidor.
"Om, Andi tau Andi banyak salah. Tapi Andi mohon to.. tolonglah Mamah Andi hik.. Ap.. apapun akan Andi lakukan asalkan Om Azam menyelamatkan Mamah Andi... "
"Mamah hanya satu-satunya orang tua Andi hik.. se.. selamatkan Mamah Om hik.. "
"Apa yang bisa saya lakukan untuk menyelamatkan orang tua-Mu. "
"Bang keadaan Mamah semakin kritis, dari tadi Mamah memanggil-manggil Bang Bagas... "
Ucap Vina berlari Panik dengan wajah sembabnya kearah Andi.
"Hik.. Om.. Andi mohon.. Keluarkan Bagas. Andi tidak mau kehilangan Mamah hik.. bantu Andi Om.Keluarkan Bagas.. Hik.. hik.. "
Lilir Andi lemah bersujud dihadapan Azam, membuat Azam tersentak langsung menarik Andi supaya berdiri.
"Baiklah Om ak... "
"Tidakkk.... "
Duarrr.....
.
.
.
.
Bersambung....
.
.
.
Gimana tegang gak???
Jangan lupa untuk Like, Komen dan Votenya yah...
__ADS_1
Terimakasih...