
Seseorang berjalan dengan tergesa-gesa menuju Alfamart yang ada diserbang sana.Kepalanya tertutup selendang dengan kaca mata hitam yang selalu menghiasi hidung mancungnya tak lupa memakai masker hitam supaya orang lain tak mengenalinya.
Orang itu berusaha bersikap biasa walau hatinya selalu was-was disetiap langkahnya.
Semua cemilan dan beberapa minuman dia masukan keteroli dengan cepat lalu membawanya kekasir.Sudah beres dengan apa yang orang itu butuhkan dengan cepat dia buru-buru keluar karna merasa risih dengan orang-orang yang memerhatikannya.
Bruk...
Karna tak melihat jalan Orang itu oleng hampir saja jatuh jika tidak dengan cepat pinggangnya ditarik dengan selendang yang sudah entah kemana.
Mata mereka bertemu saling mengunci dibalik kaca mata hitam yang dipakai orang itu.
Ting...
Suara pesan membuyarkan lamunan orang itu dengan cepat langsung melepaskan diri dan merogoh ponselnya yang bersuara.
Seketika matanya melotot tetkala melihat isi pesan itu tak lama ponselnya berdering kembali tanda ada pesan masuk kembali.
"Jika laki-laki itu ingin selamat maka datanglah... "
"Brengsek..."
Umpat orang itu marah kenapa hidupnya selalu dihantui rasa takut dan bahaya dan sekarang orang yang dia cintai dalam bahaya bagai mana mungkin Emely membiarkan itu terjadi.
Orang yang memakai selendang itu adalah Emely yang sedang bersembunyi dari kejaran para polisi yang dua hari lalu mengejarnya hingga dia harus hidup dikontrakan kecil suapaya polisi tak bisa melacak keberadaannya.
Tapi rasa lapar menggerogoti perutnya membuat Emely terpaksa keluar harus membeli cemilan dan minuman karna setok makanannya habis.
"Tunggu..."
Teriak orang yang bertabrakan dengan Emely tapi Emely tak memperdulikannya karna urusannya jauh lebih penting.
"Sial..."
Umpat orang itu melihat Emely sudah melesat jauh dan naik taksi dengan cepat orang itu mengejarnya karna penasaran apa yang membuat Emely terburu-buru dengan wajah paniknya begitu.
Sedangkan Aiman sedang mengemudi dengan raut wajah kewatir melihat sang putra yang demam sudah tiga hari tak turun-turun membuat Aiman harus membawa sang putra kerumah sakit.
Walau Aiman seorang dokter tetap saja sang putra butuh dokter Spesialis Anak bukan dokter Bedah seperti dirinya.
"Hik...By..Sayang..Nak jangan nangis yah.."
"Putra Ummah kuat,pintar dan sholeh. Sabar yah sayang sebentar lagi kita sampai.."
Ucap Ais kewatir melihat keadaan sang putra membuat Aiman menambah kecepatan lajunya.
Bruk...
"Astagfirullah..."
Ucap Ais terkejut karna mobil sang suami ada yang menabraknya dari arah belakang.
"Sayang pegang erat Fatih.."
Perintah Aiman yang sangat geram mobilnya diikuti dua mobil Jeff yang beberapa minggu mau mencelakainya.
Aiman berusaha tenang membawa mobil karna takut terjadi apa-apa pada sang istri dan putranya.Aiman membelokan mobilnya karna takut terjadi sesuatu di jalan yang ramai membuat Aiman memutuskan mengambil jalan pintas suapaya lebih cepat menuju rumah sakit.
"Sitt..ternyata Dokter itu jago juga.."
Umpat pereman yang mengemudi Jeff terselip rasa kagum melihat bagai mana cara Aiman mengemudi suapaya tidak terjadi kemacetan.
"Tabrak lagi cepat...hari ini kita harus berhasil membawa keluarga dokter itu kalau tidak Maka nyawa kita tarohannya.."
Perintah rekannya yang duduk di bangku sebelah kemudi membuat pereman yang mengemudi langsung menambah kecepatan mobilnya diikuti satu mobil rekannya dari belakang.
Bruk...
Cittt....
Aiman dengan cepat mengerem mobilnya karna oleng akibat body belakang mobilnya ditambarak dengan satu mobil Jeff yang langsung menghadang hingga posisi mobil Aiman terkunci.
__ADS_1
"Hua...Ummah...hua...sa..sakit...Pu..pusing..."
Tangis baby Fatih langsung pecah membuat Ais mendekap erat tubuh sang putra yang gematar ketakutan.
"Hey..keluar kalian.."
Dor..dor...
"Sayang kamu tenang yah,Biar Hubby yang keluar menghadapi mereka.."
"Ta..tapi by..Mereka banyak.."
Gemetar Ais takut melihat wajah-wajah para pereman yang menyeramkan ditambah dengan bentakan dan gedoran dijendela mobil.
"Apa mau kalian,jika ingin merampok silahkan tapi saya mohon jangan sakiti keluarga saya.."
Ucap Aiman dingin menatap tajam para pereman yang hanya terkekeh dengan ucapan Aiman.
"Ha..ha...kami bukan ingin merampok ta..tapi.Kami ingin nyawa kalain..ha..ha.."
Ucap salah satu pereman membuat Ais langsung melotot mendengarnya dengan baby Fatih yang terus menangis.
Ti..tidak Hubby.."
Pekik Ais terkejut melihat sang suami yang dikeroyok oleh delapan pereman.Ais ingin membantu tapi sang putra membutuhkan perlindungannya.
Buk..buk...
Satu tinjuan dan satu tendangan mendarat cantik di perut Aiman membuat Aiman langsung terpelanting jauh membuat tangannya tergores aspal.
"Cepat bawa wanita dan anaknya itu.."
Perintah pereman yang berbadan kurus kepada rekannya yang langsung diangguki oleh pereman yang lain.
Pereman kurus itu berjalan dengan senyum penuh arti mendekati Aiman yang sudah tak berdaya.
Aiman ditarik paksa menuju mobil dengan Ais yang dari tadi tak sadarkan diri karna dibius sedangkan baby Fatih dibiarkan menangis saja. Tak ada rasa kasian melihat baby Fatih yang sudah pucat dengan tangisannya memanggil Ummah dan Babanya yang tergeletak tak berdaya.
"Bos kami sudah berhasil melumpuhkan mangsa.."
"Siap Bos.."
Tut..tut...
Panggilan terputus.
"Bawa mangsa ke Villa.."
Ucap pereman kurus membuat rekannya yang mengemudi mengangguk cepat.
"Aiman...Aiman....kamu dimana..."
"Aku mohon jangan sakiti Aimannn...Keluar kalian brengsek..."
Teriak Emely menyala menatap tajam seluruh sudut bangunan yang nampak kosong seperti tak ada penghuni membuat suara Emely menggema di ruangan.
Emely begitu cemas melihat tubuh Aiman yang diikat dengan wajah lembabnya.
Prok..prok....
Suara tepukan tangan membuat Emely langsung mengadah keatas dimana ada seorang laki-laki paruh baya dengan setelan jas hitam pas ditubuh gagahnya.
"Siapa Kau...dimana Aiman..hah.."
Bentak Emely membuat orang tersebut tersenyum seringai.
"Jika kau ingin laki-laki itu selamat maka kau harus membantuku.."
"Cepat katakan dimana Aiman.."
"Wow..wow...ternyata gadis muda jaman sekarang tidak pernah bersabar...ha..ha..saya suka. "
__ADS_1
Ucap laki-laki paru baya itu sambil terbahak karna apa yang dia inginkan sebentar lagi akan segera tercapai.
"Lihatlah.. "
Grekkk....
Tiba-tiba lemari buku berputar nampaklah sebuah ruangan besar dengan luas persegi panjang membuat Emely melotot tak percaya melihat siapa yang ada didalam sana.
"Aimmmm....."
Teriak Emely tertahan melihat siapa yang ada disebelah kiri Aiman. Dimana Ais sama diikat seperti Aiman dengan mata tertutup.
"Bunuh wanita itu jika kamu ingin laki-laki itu selamat..."
Deg...
Emely langsung terdiam dengan pikiran kosongnya menatap nanar Aiman yang terlukai lemas dengan tangan yang memegang pistol yang diberikan laki-laki paru baya itu.
"Apa yang kau lakukan lepeskan Anakku.."
Jeder...
Emely terkejut mendengar suara orang yang begitu Emely kenal.Membuat Emely langsung berbalik.
"Emely..."
"Paman..."
Ucap Emely dan Ilham berbarengan.
Grek....
Tangan Emely dicengkal erat yang akan berlari kearah Ilham sedangkan Om Ilham dihadang oleh empat pereman.
"Tanda tangan berkas itu jika kau ingin anakmu selamat..."
"Dan Kau.."
Ucap laki-laki paru baya itu menatap Emely seringai membuat Emely gemetar hampir menjatuhkan pistolnya tapi dengan cepat laki-laki paru baya itu menahannya agar tetap berada ditangan Emely.
"Bunuh wanita dan anak itu cepat jika kau ingin Orang yang kamu cintai itu selamat dan pamanmu itu juga.."
Tekan laki-laki paru baya itu membuat Emely langsung melihat Aiman dan Om Ilham bergantian yang sedang ditodong oleh pistol membuat Emely bingung.
"Ja..jangan Emely Paman mohon.."
Pinta Om Ilham memelas dengan tubuh yang ditekuk dan satu tangan yang dipaksa untuk menanda tangani berkas yang ada diatas meja.
Om Ilham menggeleng tetkala Emely mengangkat tangannya dan mengarahkan pistolnya kearah Ais yang seluruh tubuhnya diikat.
Dor...
Dor...
"Ka..kau..."
.
.
.
Bersambung...
.
Bagaimana Seru gak???
Jangan lupaLike
Komen
__ADS_1
Vote
Terimakasih.....