
"Dokter... Suster... "
Teriak Aiman menggema sambil berlari menggendong sang istri.
"Khu.. kumairo Hubby mohon jangan tutup mata... Dok.. dokter.. tolong istri saya... "
Beberapa dokter dan suster langsung berlali menghampiri karna terkejut akan teriakan Aiman.
"Lewat sini Pak.. "
Ucap salah satu Suster menuju ruang persalinan.
Aiman menggenggam tangan sang istri erat sambil mengecup puncak kepala Ais dengan lembut.
"Khu.. khumairo bertahanlah sayang, Hubby mohon.. "
"Ma'af Pak, Bapak harus keluar.. "
Dengan berat hati Aiman melepaskan tangan sang istri, sedangkan Ais dari tadi sudah tidak kuat menahan rasa sakit di tubuhnya. Kedua matanya sesekali terpejam dan terbuka lagi.
Hingga kesadaran Ais menghilang hanya ada kegelapan yang Ais rasakan.
Aiman terus mondar-mandir di depan pintu ruang persalinan sambil terus melapalkan do'a.
Dengan cepat Aiman memberi tahu ayah dan kedua mertuanya kalau Ais akan melahirkan.
Aiman membawa sang istri kerumah sakit yang terdekat karna melihat kondosi sang istri yang terus meringis kesakitan dengan darah yang semakin banyak keluar akibat benturan cukup keras.
"Ya Allah selamatkan istri dan anak hamba.. "
Gumam Aiman dengan gemetar rasanya jantungnya mau copot melihat keadaan sang istri yang tidak berdaya.
"Ternyata Aku sudah terlalu baik padamu Emely, tapi nyatanya kau malah berbuat nekad.. "
Geram Aiman mengingat bagai mana Emely mendorong sang istri hingga Ais terjatuh melewati dua anak tangga di depan rumahnya.
Tangannya terkepal erat dengan sorot mata yang sudah memerah.
Brak....
" Ah... Baban sana çok iyi davrandı. Bu yüzden özgürlüğünüzü geri kazanmanızı beklemeyin. Ne utanç... ( Ah... Daddy sudah terlalu baik padamu. Maka jangan harap kau mendapat kebebasan kembali. Sungguh memalukan... )
Teriak Murat emosi mendengar kabar dari anak buahnya, kalau putri tercintanya sudah kelewat batas.
Dan bodohnya kenapa anak buahnya selalu terkecoh akan semua tindakan Emely.
Sedangkan Alev sang istri yang mendengar teriakan sang suami di ruang kerjanya langsung berlari karna takut terjadi apa-apa.
" Sa.. tatlım sorun ne ? (Sa.. sayang ada apa ? )..."
Ucap Alev membulatkan mata melihat ruang kerja sang suami sudah berantakan.
" Bizim kızımız. Ba.. bebeğim büyük bir hata yaptı... bebeğim...( Putri kita. Ba.. babby sudah melakukan kesalahan besar... sayang...) "
Deg.....
Alev langsung menegang dengan nafas yang terasa tercekik, bagai mana mungkin putrinya berbuah hal nekad.Put..putrinya orang yang selalu menjungjung tinggi harga diri, ta.. tapi kenapa putriku sekarang menghancurkan dirinya sendiri, Batin Alev sambil memegang dadanya sesak.
"T.. mümkün değil ..hic.. hic.. (Ti.. tidak mungkin...hik.. hik.. ) "
" Ama gerçek böyle. Bah..kızımız bile Aiman'ın karısını hastanelik etti... (Tapi kenyataannya seperti itu. Bah.. bahkan putri kita sudah membuat istri Aiman masuk rumah sakit... ) "
Alev langsung menggeleng dengan nafas yang semakin sesak, ti.. tidak mungkin putriku sekejam itu , batin Alev masih syok dengan semunya.
Murat langsung tersadar akan sesuatu dan langsung meraih ponselnya mencari nomor seseorang. Tapi nomor itu dari tadi tak bisa dihubungi, hanya suara oprator saja yang terdengar.
Membuat Murat dilanda kekesalah, dia harus melakukan sesuatu.
" Kita terbang ke Indonesian.... "
Ucap Murat tegas di angguki sang istri yang masih sesegrukan, dengan lembut Murat menarik sang istri kedalam pelukannya.
Rumah Sakit......
Ada sesuatu yang menyakitkan tapi apa? dadanya sungguh begitu sesak dan nyeri ! .
Seseorang hanya bisa memegang dadanya yang terasa begitu menyesakan, perlahan dia berjalan berusaha mencari jalan keluar ditempat kegelapan itu.
Setitik cahanya kembali muncul membuat orang itu terdiam mematung melihat ada cahaya yang datang.
Lama kelamaan cahaya itu menjadi besar membentuk sebuah portal, orang itu menghalingi kedua matanya dengan tangan karna silau dari cahaya itu.
Hingga muncullah bayangan samar lama kelamaan menjadi jelas hingga terbentuk orang sedang berdiri. Bibirnya tersenyum memancarkan keindahan membuat seseorang itu terpaku.
Tapi seketika senyuman itu menghilang membuat seseorang itu begitu sakit.
"Aku sudah lelah menunggumu...Ken.. kenapa kau tak kunjung kembali... "
__ADS_1
"Kem.. kembalilah sebelum Aku benar-benar lelah... "
"Tidak. Aku mohon, tunggu Aku... "
Teriak seseorang itu berlali mengejar bayangan yang ada di depan matanya yang seakan menjauh.
"Ti.. tidak hik... tunggu Aku. Aku ingin bersamamu... "
"Mau kemana? jangan pergi... "
Teriak seseorang itu terus berlari mengejar tapi yang seseorang itu kejar tak kunjung dia dapat membuatnya begitu perustasi.
"Hik... Aku mohon... tunggu Aku... "
Teriak nya perustasi dengan nafas yang semakin tak beratur, dadanya begitu sesak tapi apa? dia belum menyadari sesuatu.
Ada yang hilang tapi apa?
"Buktikan jika kau akan kembali... "
Bisiknya membuat seseorang itu tercekat, dia berbalik melihat sekeliling tapi tidak ada siapa-siapa. Rasanya bisikan itu begitu dekat dengan dirinya tapi seseorang itu tak menemukan apa-apa.
Hingga butiran bening terus saja keluar dari tadi tak henti-henti sambil menelusuri jalan yang begitu lurus dengan keindahan pepohonan di sepanjang pinggir jalan.
Seseorang itu tidak menyadari Bahwa dirinya sudah tidak ada di ruanga kegelapan lagi.
Umi Rahma yang sedang membersihkan tubuh putranya langsung terkejut melihat air mata yang keluar dari mata putranya yang masih terpejam.
" Na.. nak... "
Sudah Enam bulan sang putra mengalami koma dan sekarang putranya sudah melewati masa komanya, umi Rahma menangis bahagia melihat putranya membuka kedua matanya.
"Sa.. sayang Nak. Ka.. kamu sudah bangaun... "
"Mas.. mas Azam... "
Teriak umi Rahma membuat Azam terlonjat kaget, langsung bangun dari tidurnya.
"Apa Dek, ini masih pagi.Mas hari ini gak ngantor... "
Ucap Azam pelan sambil mengumpulkan kesadarannya. Seketika matanya membulat ketika melihat sang istri menangis.
"Astagfirullah Dek, kenapa? "
Tanya Ajam terkejut langsung menghampiri sang istri.
"De... "
Azam tidak bisa meneruskan ucapannya lagi tetkala matanya tertuju pada sang putra yang sudah membuka kedua matanya.
"Nak.. Dok.. dokter.... "
Teriak Azam berlari keluar mencari sang dokter. Dokter yang kebetulan berjalan kearah ruangan Air langsung terkejut mendengan teriakan Azam.
__ADS_1
"Dok.. cepet masuk, periksa putra saya .Di.. dia sudah membuka mata.."
Sang dokter langsung bergegas masuk tetkala mendengar penuturan Azam. Umi Rahma langsung bergeser tetkala melihat dokter menghampiri dan langsung memeriksa keadan putranya dengan teliti.
"Alhamdulillah.. keadana putra Bapak dan Ibu baik,selamat anda sudah melawati masa koma... "
Ucap sang dokter tersenyum pada Air, sedangkan Air hanya diam dengan kebingungannya.
"Sekarang apa yang anda rasakan... "
"Ka.. ka...ki sa...ya ke.. napa...."
"Itu hal wajar kaki anda belum bisa digerakan, karna anda sudah terlalu lama koma. Membuat semua persendian jadi kaku, Insyaallah.. dengan mengikuti Teotrafi kaki anda akan seperti sedia kala.
Yang terpenting anda harus cukup istirahat, gak boleh banyak gerak dan selalu mengikuti arahan dokter.. "
"Kalau begitu saya permisi dulu, nanti siang saya kesini periksa lagi... "
"Terimakasih dok... "
Lilir umi Rahma dengan mata berkaca-kaca di pelukan sang suami membuat dokter hanya tersenyum saja dan langsung keluar.
"Na.. nak... "
"Mi, Bi... "
Dret... dret.....
Suara ponsel membuat Azam langsung terarilhakan perhatiaannya, sedangkan umi Rahma tersenyum bahagia melihat putranya benar-benar sudah bangaun.
Seluruh wajah Air habis sudah di cium oleh umi Rahma membuat Azam sedikit geli dan kaku karna tidak terlalu bisa bergerak bebas.
"Astagfirullahhaladzim... Inalilahiwainailaihiraziun...... "
Ucap Azam mematung membuat umi Rahma langsung melihat kearah sang suami begitupun Air.
"Ada apa Mas ? "
" Te.. teteh.. masuk rumah sakit... "
Deg....
.
.
.
.
Aduh.. aduh... maaf yah kemaren gak bikin baper... he.. he....
Jangan lupa yah dukung terus athor dengan like, komen dan vote
__ADS_1
**Terimakasih**....