Takdir Illahi 2

Takdir Illahi 2
Epesode 65 Patah hati dan Takut


__ADS_3

Di dalam ruangan serba putih seseorang menangis dari tadi tak henti-henti membuat teman-temannya nampak bingung apa yang sebenarnya terjadi.


Teman-temannya hanya diam enggan untuk bertanya karna waktunya tidak pas. Teman-temannya hanya menunggu saja sampai berapa lama temannya berhenti menangis.


Karna teman-temannya paham bagai mana sifat Vina yang akan bicara dengan sendirinya ketika hatinya tenang, teman-temannya hanya butuh menemaninya saja hingga Vina puas meluapkan emosi atau rasa sakit dengan menangis.


"Ka.. kalian benar dokter Aiman sudah menikah...."


Lilir Vina pelan sangat sakit mengingat kejadian tadi.


Teman-teman Vina menghela nafas pelan jadi itu yang membuat seorang Vina menangis.


"Dan apa ka.. kalian tau. Is.. istri dokter Aiman itu wanita yang ke.. kemaren lusa.. "


"Ah.. kenapa nasibku sial terus... "


"Bukan sial tapi kamu jatuh cinta di waktu yang salah.. "


Celetuk salah satu teman Vina membuat Vina diam. Benar yang temannya katakan barusan bahwa dirinya salah, telah jatuh cinta diwaktu yang salah. Tidak mencari dulu latar belakang seseorang yang Vina suka apa dia sudah mempunyai pasangan atau tidak Vina hanya terbuai dengan kebaikan dokter Aiman saja.


"Sekarang lupakanlah dokter Aiman itu,awas jangan jadi pembinor. Ingat kamu itu wanita hebat,cantik,baik walau sedikit bar-bar dan pede. Buktinya usia kamu enam belas tahun tapi kamu sudah mau lulus kuliah ,So... jangan jadikan rasa itu membuat kamu menghancurkan dirimu sendiri.. "


Deg....


Vina tercekat dengan apa yang Anita katakan teman yang selalu bijaksana dalam perkataannya diantara teman Vina yang lain.


Tak lama Vina tersenyum membuat ketiga temannya menyerngit bingung dengan perubahan wajah Vina yang cepat.


"Kalain benar, So.. bantu aku untuk bangkit Kakak-kakak ku.. "


Ucap Vina ceria sambil memeluk ketiga temannya yang memang usianya empat tahun diatas dirinya.


Kecerdasan Vina membuat dirinya dengan cepat menyelesaikan dan menyusul orang-orang yang harusnya jadi seniornya ternyata akan jadi satu angkatan dengan dirinya.


"Gitu dong harus ceria, Semangattt..."


"Semangattt.... "


Ucap Vina tersenyum dengan teman-temannya yang ikut tersenyum juga.


Sedangkan di kolidor rumah sakit satu arah dengan ruangan Vina dan teman-temannya. Aiman nampak tegang dengan tatapan sang mertua yang menatapnya selidik.


Dengan ragu Aiman menyodorkan ponselnya membuat Azam langsung mengambil ponsel Aiman.


Azam hanya diam setelah membaca satu pesan yang dikirim dengan nomor tampa identitas. Diamnya Azam membuat Aiman takut dan merasa bersalah tak bisa membahagiakan Ais. Dan yang paling Aiman sesali dirinya tak bisa menjaga sang istri, jika saja dirinya tak meminta sang istri mengantarkan berkas mungkin sang istri tidak akan mengalami kecelakaan.

__ADS_1


"Jaga ketat penjagaan dirumah sakit biarkan Abi yang mengurus kejadian ini.Abi yakin orang itu tidak akan segan menyakiti putriku jika dia tau Ais selamat.. "


"Ta.. tapi.. b.."


"Turuti saja perintah Abi , Abi percaya pada kamu.Dan Abi yakin kamu sudah tau siapa yang melakukan ini."


Dengan berat Aiman mengangguk mengiyakan perintah yang sang mertua ucapkan.Membuat Azam tersenyum sambil menepuk pundak sang menantu.


Lalu mereka berdua langsung meninggalkan kolidor menuju ruang rawat Ais kembali.


Dilihatlah Ais sudah tertidur pulas dengan baby Fatih di sisi Ais.


Abi Azam dan umi Rahma pamit pulang karna sudah malam apalagi umi Rahma tidak boleh kelelahan dengan kondisi yang sering merasa lemas jika terlalu banyak pikiran.


Sedangkan Air meminta izin pergi kesuatu tempat memastikan sesuatu yang selama ini mengganjal di hatinya.


Air membelah jalan kota Bandung dengan motor sport nya yang sudah hampir satu tahun Air tidak menggunakannya kerna kelumpuhan.


Tapi dengan semangat Air menjalani terapi akhirnya kedua kakinya bisa berjalan kembali walau Air harus hati-hati bisa saja kakinya cidra kembali.


Air melihat kearah bangunan besar yang ada di depan matanya berharap orang yang sedang Air rindukan sudah pulang. Tapi Air hanya melihat kehampaan bahwa rumah besar itu hanya ada kesunyian dengan remangan sinar bulan yang menerangi bangunan besar itu.


Apa yang Air lakukan setiap hari selalu berdiri di depan bangunan besar itu selama sepuluh menit kemudian Air akan pergi kembali.


Ckrek.. ckrek...


Orang itu mengambil poto Air tampa Air sadari dan langsung mengirimkannya pada majikannya.


"Kena kau anak muda,siapa suruh selalu memantau rumah ini kaya penjahat saja dengan pakaian begitu..."


Gumam orang dibalik pagar tinggi itu, Air tidak akan sadar karna tatapan Air hanya pokus pada satu jendela paling atas yang selalu lampunya mati dan jendela tertutup kordengnya jika waktu siang menandakan bahwa tidak ada penghuninya.


Sudah merasa puas Air dengan berat hati meninggalkan tempat itu walau setidaknya rasa rindunya terobati dengan melihat bangunan besar itu.


Dibelahan dunia lain dengan udara yang sangat dingin berbeda dengan Indonesia yang terkenal kota dengan kepanasan dibawah rata-rata.


Mata sipit dengan tatapan tajam melihat layar yang ada didepannya dengan tulisan yang dia ketik sendari tadi karna dia harus menyelesaikan sekripsi terakhirnya. Padahal waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam tapi mata kecil itu tak mau terpejam.


"Semangat... "


Gumamnya pelan menyemangati dirinya sendiri dengan tangan lentiknya yang masih sibuk mengetik keyboard.


Ting...


Suara pesan masuk membuat seseorang itu tidak teralihkan pokusnya yang masih terus mengetik.

__ADS_1


Ting...


Suara pesan kedua kalinya terdengar kembali membuat seseorang itu menghela nafas pelan karna merasa terganggu padahal tugasnya sedikit lagi. Seseorang itu memutuskan melanjutkan saja dan membiarkan ponselnya .


Hingga waktu sudah masuk jam dua belas malam dengan tugas yang selesai membuat seseorang itu tersenyum puas dengan hasil kinerjanya.


Dan langsung mematikan leptopnya, tak lupa juga membereskan buku-buku yang sedikit berantakan.


"Oh iya tadi pesan dari siapa? "


Gumam seseorang itu langsung mengambil ponsel dan dengan cepat membuka polanya.


"Ternyata mang Diman.. "


Deg...


Seketika mata sipit itu membulat dengan wajah terkejutnya melihat pesan yang mang Diman kirim. Dua buah poto seorang pemuda yang sedang duduk diatas motor memandang kedepan. Satunya lagi poto orang yang sama dengan posisi berdiri sambil memasukan kedua tangannya kedalam saku celana jens yang dia kenakan.


Dadanya kembali bergetar dengan tangan yang mengelus poto itu pelan.


Apa yang kamu inginkan, aku sudah berusaha melupakan tapi kenapa kamu selalu tak terduga.Apa sebenarnya mau mu? bukankah ini yang kamu inginkan, Aku pergi dari kehidupanmu. Tapi kenapa kamu seakan peduli sekarang! Tolong biarkan hatiku tenang, jerit batin seseorang itu sesak yang tak lain adalah Mona sendiri.


Dirinya sudah lelah dan ingin tenang tampa bayang-banyang yang menyakitkan oleh penolakan. Mona hanya ingin berdamai dengan keadaan yang sekarang yang jauh lebih baik dari sebelumnya.


"Jangan buat aku sia-sia untuk melupakanmu, Jika yang kamu lakukan membuatku takut.. "


Lilir Mona dengan tetesan Air mata.


.


.


.


Bersambung.....


.


.


Tunggu terus yah kelanjutan pratnya..


Semoga senantiasa kalian suka???


Jangan lupa like,komen,dan vote ok...

__ADS_1


__ADS_2