
Kaki itu terus melangkah tak tau arah kemana dia pergi, pikirannya melayang membayang wajah yang selalu mengganggunya hingga wajah itu hanya terlihat tak berdaya.
Mampuhkah dia menahan gejolak yang ada di dadanya walau benteng besar harus dia tembus dulu. Tapi semuanya emang tak semudah di bayangkan pasalnya tembok itu terlalu tinggi untuk di lewati.
Cinta yang terhalang kepercayaan memang menyakitkan harus bisa saling melera atau menyakiti.
Jalan begitu ramai oleh kendaraan yang selalu hampir bertabrakan hingga suara klakson nyaring di semuah arah.Hingga wajah-wajah panik terlihat begitu mencengkaram.
Tapi nyatanya sang pemilik jiwa tak menghiraukan teriakan-teriakan orang di sekitarnya yang sudah jantungan.
Dia hanya terus berjalan menatap lurus dengan tatapan kosongnya, mungkinkah dia melihat wajah seseorang yang selalu membayang untuk terakhir kalinya.
Atau....
Tit... tit....
"Awasss nak.... "
"Ah..... "
Brak.....
Tubuh Air melayang jauh dengan tatapan kosongnya walau bibirnya melengkung sebuah senyuman. Mungkin ini terakhir kalinya dia melihat dunia yang kejam, hingga Air harus menghilang dengan rasa sakit itu dan meninggalkan luka yang belum sembuh.
Jeritan dan teriakan begitu menggema di jalan kota Bandung dengan tetesan hujan yang mulai berjatuhan, mengalirkan darah yang begitu pekat.
Alampun seperti merasakan apa yang seorang Airumi rasakan, hingga kedua mata itu terpenjam dengan bayangan wajah sang belahan hati terlintas dalam pikiran, dan hanya kegelapan yang menyerang.
Suara sirine ambulan begitu nyaring membelah jalan kota Bandung menyingkirkan kendaraan yang menghalang hingga mobil itu bisa leluasa melaju membawa jiwa yang tak berdaya.
Sedangkan darah dari tadi masih mengalir tak henti-henti membuat para dokter kewalahan dan harus cepat sampai di rumah sakit.
Dokter dan suster berlarian kesana kemari sibuk dengan pekerjaan masing-masing hingga tertutup rapat ruang ICU.
Perasaan kewatir meruak di hati seoarang ibu yang dari tadi menunggu kepulangan sang anak, tak biasanya belum pulang sampai larut malam begutu.
Bahkan sang suamipun masih sibuk dengan pekerjaannya, sedangkan Adam ketidur dari tadi di atas shopa menemani sang umi menunggu kepulangan sang abang.
Prank....
Adam terbangun kaget mendengar suara pecahan gelas hingga dia berlari kearah dapur, langkah kakinya berhenti tetkala melihat sang umi gemetar dalam tangisannya sambil memungut pecahan gelas yang sudah tak berbentuk.
"Astagfirullah umii... "
Ucap Adam memeluk sang umi yang menangis sambil menjauhkan tangan umi Rahma dari pecahan gelas.
"Umi kenapa?? "
"Ab.. abang... Dek... ab.. abang... "
Gumam umi Rahma gemetar entah kenapa perasaannya tak enak hingga rasanya umi Rahma ingin meraung menangis.
Hatinya tiba-tiba begitu sakit yang menyesakan dada, tapi entah apa??.
"Istigfar mi, insyaallah abang baik-baik saja.. "
__ADS_1
"As.. astagfirullah haladzimmmm... "
Dret... dret.... dret....
Suara ponsel mengagetkan umi Rahma dan langsung berlari keasal suara, Adam langsung mengikuti langkah sang umi yang nampak gelisah.
Dengan cepat umi Rahma mengangkat telepon dari sang anak yang dari tadi membuat hatinya cemas.
"Assal.... hmmz.. "
".......................! "
Deg....
Prang....
Seketika dada umi Rahma begitu sesak dengan butiran bening sudah mengalir deras, tangannya gemetar hingga ponsel yang ia genggam terjatuh.
Rasanya ada batu besar yang menghantam dada umi Rahma dengan pikiran yang sudah melayang entah kemana.
Rasanya sangat menyakitkan seperti rasa sakit yang umi Rahma rasakan Sepuluh tahun yang lalu dimana kapar kepergian sang Bunda .
"Ab.. abb.. abang.. dek.. abang.. hik... "
"Astagfirullah umi, ada apa?? "
Adam begitu bingung apa yang terjadi pada uminya hingga tubuhnya bergetar hebat, Adam hanya takut penyakit uminya kambuh.
"Abb.. ab.. bang.. "
" Bilang mi, ada apa dengan abang?? "
Ucap Adam semakin panik melihat kondisi sang Umi yang tak terkendali, Adam bingung harus bagai mana ! dan siapa yang menelepon?? bahkan ponselnya pun sudah mati karna terjatuh.
"Umi mau kemana.. "
Kaget Adam karna umi Rahma berlari keluar hingga beberapa kali terjatuh dengan sigap Adam memeluk sang umi.
" Umi mau kemana?? Istigfar mi... "
Tak lama mobil memasuki pekarang rumah membuat seseorang yang ada di dalam mobil melotot rasanya jantungnya mau copot saja melihat keadaan belahan hatinya yang sangat kacau.
" Astagfirullah... sayang.. "
Teriak Azam langsung berlari memeluk sang istri dengan Rahma yang langsung mencengkram erat jas Azam.
" Apa yang terjadi sama umi Dek?? "
"Dede juga gak tau Bi, cuma umi dari tadi manggil-manggil nama Abang Air mulu dan tadi sempat ada yang telpon dan akhirnya membuat keadaan umi begini, sayang nya dede tak tau siapa yang telpon ponselnya sudah mati karna terjatuh"
" Sayang lihat Mas.. lihat... "
"Istigfar.. tenangkan diri Ade... lihat Mas.... "
Ucap Azam sambil menangkup pipi Rahma lembut membuat Rahma menatap netra sang suami yang begitu mirip dengan sang anak.
__ADS_1
"Abb.. ke.. ke... "
"Istigfar sayang... tenang yah.... "
"Ke.. kec.. celakaaan... "
"Ab.. abang Air kec.. kecelakaan.... "
Deg....
Azam langsung menegang mendengar penuturan sang istri dengan sigap Azam langsung membawa sang istri masuk kedalam mobil dengan Adam yang mengikuti.
Azam menyuruh sang asisten melacak keberadaan anaknya dan dimana letak kecelakaan yang terjadi.
Umi Rahma dari tadi tak henti-henti menangis dalam diam dengan dada yang semakin sesak membuat Azam takut dengan keadaan sang istri yang mulai melemah.
Pasalnya Rahma memang sangatlah rapuh dari kejadian masa lalu membuat kondisi Rahma selalu drop, yang membuat Azam takutkan Penyakit Jantungnya kambuh lagi .
Azam membelokan mobilnya ke arah Rumah sakit terbesar di Bandung karna memang Air di bawa kesitu.
Ingin rasanya Rahma cepat-cepat sampai dan melihat kondisi sang anak.
Inikah jawaban kegelisahan hati seoarang ibu pada anaknya, bahkan rasa sakit itu sampai pada Ais yang entah kenapa tiba-tiba dadanya sakit.
Membuat Ais rasanya ingin menangis dengan hati yang gelisah tak menentu. Pikirannya tertuju pada adik kembarnya.
Ais dan Air memang kembar identik dimana yang satu sakit pasti yang satunya lagi pun sama merasakan sakit.
Hingga Ais tidak bisa tidur dan sesekali badannya bergulang-guling menghadap kiri dan kanan bahkan Ais berjalan mondar-mandir demi menghilangkan rasa gelisah itu.
Ais mencoba menghubungi sang Umi tapi teleponnya selalu ada dalam jangkauan apalagi ponsel Air yang tidak aktif sama sekali membuat kegelisahan Ais semakin menjadi.
Aiman terbangun di saat tak mendapati sang istri di sebelahnya, kedua matanya menyipit dengan wajah bantalnya menghampiri sang istri yang terlihat gelisah memegang ponsel.
"Khumairo... kenapa belum tidur hemmz"
Deg....
Ais merasa bersalah karna sudah membuat sang suami terbangun, apa lagi melihat wajah kantuk Aiman yang berusaha tertahan.
"Ma.. maaf.. "
"Kenapa?? "
" Ais hanya kangen orang rumah.. "
Jelas Ais rasanya Ais ingin mengatakan kegelisahannya tapi Ais tak enak melihat Aiman yang terus menguap.
" Sudah larut besok lagi teleponya, kita tidur lagi... "
"Iy.. iya... "
Pasrah Ais mengikuti sang suami berbaring lagi. Aiman menarik sang istri kepelukannya dan mengusap-usap rambutnya membuat Ais sedikit tenang walau raut gelisah masih terasa jelas.
"Ya allah lindungilah keluarga hamba.. "
__ADS_1
Batin Ais tak lama matanya ikut terpejam menyusul sang suami kealam mimpi.