
Ruang serba putih dengan bau obat yang menyengat membuat seseorang terbangun.
Perlahan mata idah itu terbuka dengan kepala yang begitu pusing dan berat.
"Emmz.. dimana aku.. "
Lilir Ais lemah dengan rasa nyeri di sekeujur badannya.
"Sayang kamu sudah bangun... "
Ucap pelan Aiman bahagia yang baru keluar dari kamar mandi.
"Apa yang sayang rasakan sekarang.. "
"Pusing dan sakit By, emm..awww.."
Pekik Ais tertahan dengan pusing yang menyengat kembali. Dengan cepat Aiman mencegah sang istri yang akan bangun.
"Jangan dulu bangun sayang, wajar jika pusing sebab benturan yang cukup keras di kepala kamu... "
"Apa yang sebenarnya terjadi.. "
Gumam Ais pelan karna rasa pusing yang belum hilang membuat Ais sakit jika dipaksa mengingat.
"Sayang mengalami tabrak lari,Eh..jangan banyak gerak ada Fatih di sebelah sayang sedang tidur.. "
Tahan Aiman mencegah istrinya bergerak dengan satu tangan memegang baby Fatih supaya tidak jatuh.
"Sudah enam jam sayang pingsang, maaf tadi hubby membantu Fatih mimi karna menangis terus.. "
Ais langsung melihat kearah dadanya yang memang terbuka dua kanjing baju rumah sakit, Dengan pikiran yang melayang entah kemana.
Lama Ais terdiam membuat Aiman kewatir jika ada sesuatu yang terjadi pada sang istri.Tak lama cairan bening keluar begitu saja dengan tangan yang meremas dadanya kuat.
Bayangan dimana Ais melihat Ani bercanda tawa dengan laki-laki yang sangat Ais benci dan bocah kecil diantara mereka.
Ap.. apa di.. dia anaknya An..anna,jika benar berarti Ani sering mengunjungi keponakannya sendiri. Ja.. jadi anak itu anaknya Anna,jerit batin Ais tertahan.
"Sayang kamu kenapa? jangan bikin hubby panik.. "
Ucap Aiman gusar setelah memindahkan baby Fatih tidur di bok baby karna takut terganggu sama ummahnya.
"Sa.. sakit By.. "
Lilir Ais sambil terus memukul dadanya membuat Aiman sungguh kewatir memegang kedua tangan sang istri supaya tidak memukul dadanya lagi.
"Apa yang sakit sayang? kepala atau kakinya? "
Ais hanya diam dengan air mata yang terus keluar membuat Aiman semakin kewatir terjadi hal buruk akibat cidra di kepalanya. Padahal Aiman seorang dokter tapi melihat keadaan sang istri membuat Aiman lupa siapa dirinya.
"Di.. dia berhianat by.. "
Deg...
Aiman terpaku akan liliran sang istri yang masih terdengar oleh telinganya, jadi sang istri bukan sakit akibat benturan tapi ada hal lain yang membuat Aiman mengerutkan kening.
__ADS_1
Ada apa sebenarnya yang terjadi pada kamu sayang, kenapa kamu seperti ini. Apa rasa sakit itu sangat dalam membuat kamu seterpuruk ini ! Ma'afkan hubby yang belum bisa menghapus rasa sakit itu? ,batin Aiman memeluk sang istri supaya tenang.
Sekarang Aiman paham kemana arah pembicaraan sang istri pasti bersangkut paut sama Ani dan seorang laki-laki yang bersama bocah kecil yang sendari tadi menunggu diluar.
Lama Ais dalam dekapan sang suami membuat Ais sedikit tenang dalam pelukan hangat yang sang suami berikan.
Tak lama seorang dokter masuk karna tadi Aiman menekan tombol yang ada disamping kiri sang istri yang mengisyaratkan bahwa sang istri sudah bangun dari pingsannya.
"Periksa dulu sayang.. "
Bisik Aiman membuat Ais perlahan mengendorkan pelukannya pada sang suami, membuat dokter yang menangani Ais tersenyum yang tak lain adalah dokter Hendra dokter paling senior.
"Vina kamu sebelah sini, nanti catat apa yang harus kamu catat.. "
"Si.. siap Dok.. "
Gugup Vina yang dari tadi terpaku melihat dokter yang dia suka ternyata benar sudah mempunyai istri.Da..dan istrinya ternyata wanita yang kemarin lusa berbicara padaku dengan baby yang di gendongan wanita itu ternyata anak mereka pantas saja teman-teman pada ngotot kalau baby yang degendong wanita itu mirip sekali dengan dokter Aiman, kenapa Aku bodoh sekali tak menyadarinya, Jerit batin Vina patah hati.
Bagai mana mungkin Vina mau bersaing dengan Ais yang terlihat sempurna dari segi apapun. Sedangkan dirinya hanya gadis labil yang sangat terobsesi pada dokter yang sangat ramah dan baik pada siapapun.
Bodohnya Vina menyalah artikan kebaikan dokter Aiman yang memang Vina tau dokter Aiman selalu baik pada siapapun apalagi sama pasien.
"Kamu sudah catat semuanya.. "
"Vina.. "
Tekan dokter Hendra membuat Vina salah tingkah karna dari tadi memerhatikan Aiman yang begitu sangat mencintai sang istri dan putra gantengnya.
"Su.. sudah dok. Sudah saya catat.. "
"Biar saya saja yang urus istri saya dok.. "
"Gak apa-apa ,biarkan Vina mengerjakan tugasnya By.. "
Ucap lembut Ais mengelus tangan sang suami yang duduk di sebelahnya. Ais faham bahwa sang suami tidak menyukai mahasiswi koas ini yang berani terang-terangan mendekatinya.
Aiman hanya fasrah saja mendengar ucapan sang istri .
Sedangkan Vina begitu sakit akan penolakan dokter Aiman untuk mengurus istrinya, Vina sadar bahwa dirinya tak ada apa-apa nya dibandingkan istri dokter Aiman tapi Vina tidak suka jika ada orang yang meremehkan kemampuannya.
"Yasudah kalau begitu saya pamit keluar ,keluarga anda bisa masuk tapi jangan lama-lama karna istri anda harus istirahat.. "
"Terimakasih dok.. "
Dokter Hendra hanya tersenyum lalu keluar diikuti Vina dengan buku catatan di tangannya berusaha tersenyum ramah walau sejujurnya hatinya sangat sakit.
Sesudah Dokter Hendra dan Vina keluar pintu ruangan kembali terbuka. Nampaklah umi Rahma,Azam dan Air masuk kedalam dengan raut wajah panik bercampur kewatir yang tak bisa umi Rahma sembunyikan.
"Bagai mana keadaan kamu , Nak ."
"Kenapa bisa begini apa yang sebenarnya terjadi.. "
Ucap umi Rahma sedih melihat keadaan putrinya yang tak berdaya dengan perban dikepala dan kaki kanannya.
"Alhamdulillah Teteh baik ,Mi . Teteh hanya tidak hati-hati pas mau nyebrang.. "
__ADS_1
Jawab Ais pelan mengusap air mata yang keluar dari pelupuk mata Uminya. Menyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja, tidak mungkin Ais menceritakan semuanya sedangkan sang suami juga belum tau apa yang sebenarnya terjadi.
Sedangkan Azam menatap sang putri lekat,membuat Ais salah tingkah dengan tatapan abinya.
Cklek...
Pintu ruangan Ais terbuka kembali membuat suasana seketika hening membuat Ais membuang muka membuat umi Rahma merasa heran dengan perubahan wajah sang putri seakan enggan untuk menatap.
Sedangkan Ani dadanya berdenyut nyeri melihat reaksi sahabat nya yang tak menginginkan kehadirannya.
Ani berjalan pelan dengan raut wajah sedih mendekat kearah brankar Ais membuat umi Rahma tersenyum.
"Sini Nak.. "
"Ai.. ais... "
"Ma.. "
"Pergilah... "
Duarrrr...
Ani tercekat dengan apa yang Ais katakan, air matanya seketika keluar sangat sakit atas penolakan Ais. Umi Rahma melotot dengan apa yang putrinya katakan.
Apa yang sebenarnya terjadi antara kalian, batin umi Rahma menghela nafas pelan tetkala Azam menepuk pundaknya mengisyaratkan untuk diam.
"Ma'afkan Ak.. aku. "
Ucap Ani gemetar lalu langsung melangkah keluar dengan berat karna isyarat dari Azam.
Ting...
Pesan masuk keponsel Aiman membuat Aiman langsung membuka ponselnya, seketika wajah nya berubah dengan raut wajah menahan marah membuat Azam menyerngit melihat wajah menantunya.
"Aiman ikut Abi.. "
Deg...
.
.
.
Bersambung....
.
.
Ok gimana seru gak???
Jangan lupa like, komen dan votenya
Terimakasih...
__ADS_1
"Dukunganmu adalah semangatku he.. he.. "