Takdir Illahi 2

Takdir Illahi 2
Epesode 98 Maafkan Ais, By.


__ADS_3

Kelelahan membuat Aiman tak sadar bahwa dirinya ketiduran hingga melewatkan waktu isya.


Aiman bangun karna waktu sudah menunjukan jam satu dini hari. Aiman melirik sang istri yang masih tertidur entah kapan sang istri bangun.


Perlahan Aiman berjalan kearah kamar mandi untuk mengambil air wudhu, sudah selesai Aiman menunaikan sholat isyanya.


Sudah selesai Aiman tak langsung bangun dia berzikir memohon ampun pada Allah dan berdoa untuk kesembuhan sang istri tak lupa Aiman juga melantunkan ayat suci al-quraan yang dia hapal.


Suaranya yang merdu mengalun indah memecah keheningan malam yang sunyi karna semua orang mungkin sudah tidur walau masih ada beberapa dokter dan perawat yang berjaga bergantiaan .


Mata nya mengerjap-ngerjap dengan pelan mendengar seseorang sedang mengaji matanya menyesuaikan cahaya yang menyilaukan.


Perlahan tangannya berusaha bergerak untuk meraih kepalanya yang sangat pusing .


"By.. Hu.. hubby.. "


Deg...


Aiman langsung memberhentikan ngajinya tetkala samar-samar mendengar orang memanggil namanya. Dengan cepat Aiman berbalik kebelakang dimana ada brankar sang istri.


"Alhamdulillah, Allahuakbar... Sa.. sayang.. kamu sudah sadar.. "


Lilir Aiman gemetar melihat sang istri sudah membuka kedua matanya.


"Jangan banyak bergerak dulu sayang, tunggu sebentar Hubby panggil dulu Dokter.. "


Ucap Aiman cepat dan langsung berlari keluar ruangan.


Crekk..


"Astagfirullah.. "


Jderr...


Aiman begitu terkejut melihat mertua dan adik ifarnya dan yang membuat Aiman terkejut melihat sang putra yang sedang tertidur pulas di gendongan Tantenya.


Abi Azam dan Air langsung terbangun kaget mendengar suara orang membuka pintu terburu-buru.


"Ada apa, Nak. "


"A..ais sudah sadar Bi, Aiman mau cari dokter dulu.. "


Ucap Aiman cepat dan langsung berlari menuju ruang dokter. Abi Azam dan Air yang mendengar itu langsung bahagia dan menerobos masuk kedalam.


"Nak, Sa.. sayang.. "


Ucap gemetar abi Azam mengelus lembut pipi sang putri.Ais hanya tersenyum melihat sang abi dan adik kembarnya ada di sisinya.


"Apa ada yang sakit, bilang sama abi, Teh..."


"Iya Teteh bilang apa yang teteh rasakan, atau Teteh mau apa "


Ucap Air bahagia melihat sang kakak sudah sadar.


"Teteh gak mau apa-apa. Teteh hanya ingin suami teteh dan Fatih dimana ? "


Ucap lemah Ais membuat abi Azam sedikit tenang karna sang putri seperti tidak menunjukan hal yang serius.


"Bang Aiman lagi panggil dokter, Fatih ada diluar sedang tidur sama Dedek. "


"Maaf boleh saya memeriksa pasien dulu.. "


Ucap Dokter cepat entah sejak kapan dokter itu sudah datang dengan Aiman yang ada dibelakanganya tersenyum pada sang istri.


"Apa yang anda rasakan ? Apa masih pusing atau ada hal lain yang dirasa. "


Ucap dokter beruntut sambil memeriksa Ais dengan teliti karna tak mau ada kesalahan sedikitpun yang ada dia akan dimarahi oleh Dokter Aiman.

__ADS_1


"Alhamdulillah baik, Dok. hanya tinggal pusing sedikit.. emmz apa kandungan saya baik-baik saja Dok? "


Tanya Ais sedikit cemas baru mengingat akan kandungannya yang sempat nyeri.


"Sukur kalau begitu. Alhamdulillah kandungan anda baik-baik saja , cuma anda tidak boleh banyak pikiran dulu takut mempengaruhi kandungan anda.."


"Alhamdulillah terimakasih dok.. "


"Sama-sama, Dokter Aiman ini resep obatnya jangan lupa istri anda harus banyak istirahat dulu dan minum obat teratur.. "


"Baik.. "


"Yasudah kalau begitu saya pamit dulu.. "


Ucap sang dokter langsung keluar, Aiman langsung mendekati sang istri yang tersenyum entah kenapa senyuman itu membuat Aiman takut.


"Terimakasih sudah bangun sayang.. "


"Maafkan Ais yang selalu membuat Hubby kewatir. Ais gak apa-apa ko "


Ucap Ais lembut sambil mengelus lembut wajah sang suami memberi tenang lewat usapan itu.


"Hubby apa boleh Ais memeluk abi.. "


Ucap Ais hati-hati takut sang suami tersinggung pasalnya Ais baru sadar dan dia malah ingin bersama abinya.


"Silahkan sayang, kalau begitu Hubby keluar dulu lihat Fatih.. "


Cup...


Ucap lembut Aiman penuh pengertiaan dengan kecupan melayang di kening sang istri penuh Cinta lalu Aiman pun keluar.


"Apa ada sesuatu yang membuat suamimu keluar, Teh. "


"Iya Teh, kenapa? "


Bingung Air juga tak biasanya sang kakak bersikap seperti itu, padahal hal terkecil apapun sang kakak selalu memberitahu Aiman.


"Iya sayang.. "


Ucap abi Azam lembut sambil duduk di sisi brankar sang putri.


Setetes air mata keluar dipelupuk mata Ais yang sendari tadi Ais tahan dihadapan sang suami. Ais tak mau kalau sang suami melihat kelemahan dirinya. Sudah cukup Ais selalu membuat sang suami bersedih karna dirinya Ais tak mau terus menyusahkan sang suami.


"Kamu kenapa sayang.. Kenapa menangis cerita sama Abi.. "


"Hiks Bi.. hiks.. "


Grep...


"Tenang sayang tenang... Istigfar agar hati Teteh tenang.. "


Ucap Abi Azam menarik sang putri kedalam pelukannya memberikan rasa tenang dan nyaman.


"Teteh takut Bi.. ta.. takut gak bisa jadi istri yang baik buat suami teteh. Teteh hanya bisa menyusahkannya saja, Lihatlah Bi, bang Aiman begitu mencintai teteh hingga teteh tak sanggup jika harus memberikan beban pada dirinya ! "


"Astagfirullah.. apa yang Teteh katakan Istigfar, Nak. "


"Ingat Aiman suami Teteh, bagai manapun keadaan teteh Abi yakin Aiman menerima teteh apa adanya. Jangan berpikir seperti itu jika Aiman mendengar dia pasti akan sakit hati.Sudah jangan menangis putri Abi selalu kuat tak boleh lemah. "


"Ta.. tapi teteh hanya beban bagi bang Aiman Bi hiks.. Teteh hiks.. hanya beban ! "


"Beban! "


Duarr...


Ais terlonjat kaget mendengar suara tegas penuh penekanan tapi ada kesakitan didalamnya .Jantung Ais berdekup kencang melihat sang suami yang menatapnya dingin dengan Fatih berada dalam gendongannya.

__ADS_1


Abi Azam juga sama tak kalah terkejut melihat menantunya berdiri di abang pintu.


Perlahan Abi Azam melepaskan pelukan sang putri dan melirik Air mengisyaratkan untuk keluar. Abi Azam paham apa yang sekarang Aiman rasakan karna abi Azam pernah berada di posisi seperti itu.


Air langsung keluar mengikuti sang abi dengan Fatih Air bawa kembali keluar karna pasti antara suami istri itu butuh waktu berdua.


"By.. Hubby.. "


Gemetar Ais takut kalau sang suami marah dengan apa yang dia katakan, Aiman hanya diam sambil duduk membelakangi sang istri.


Aiman diam sungguh hanya ingin menentramkan hatinya, jujur ucapan sang istri membuatnya sakit.


Beban! beban apa yang sang istri maksud, padahal Aiman ikhlas melakukannya karna itu sudah menjadi tanggung jawab Aiman sebagai suami tapi ucapan sang istri seakan menganggap dirinya orang lain yang selalu di susahkan.


Bukankah mereka suami istri yang harus saling membantu, mendukung dan melindungi satu sama lain tapi kenapa Ais berkata kalau dia tak mau menjadi beban buat Aiman.


Terus selama ini Aiman dianggap apa oleh sang istri ? .


"Ma.. maafkan Ais By.. Ais tak ber.. "


"Apa Hubby bukan bagian dari hidup sayang lagi.. "


"Bu.. bukan seperti it.. itu By.. Ais.. ais.. "


"Apa hubby ini orang lain! Beban! ha.. ha.. apa yang hubby lakukan selama ini hanya sebatas seorang perawat bukan suami! "


Ucap Aiman tertawa menertawakan dirinya sendiri yang seolah dianggap perawat oleh istrinya sendiri . Hati Ais berdenyut nyeri mendengar ucapan sang suami yang menyayat hatinya apalagi yang membuat Ais sakit cairan bening keluar di pelupuk mata sang suami dengan tawa yang begitu kesakitan.


"Maafkan Ais By.. sungguh Ais tak bermaksud.. Ai.. ais hanya.. lelah dengan semua ini By.. hiks...Ais benci pada diri Ais sendiri kenapa seperti ini. hiks.. apa Ais tak boleh bahagia.. hiks.. "


Ucap Ais gemetar kenapa Allah selalu mengujinya terus menerus dengan keadaan seperti itu. Ais hanya lelah dengan hidup ini, kenapa Allah ambil sang umi disaat Ais belum sanggup.


" Ai..ais belum bisa jadi istri yang ba.. baik buat Hubby, yang Ais bisa hanya menyusahkan Hubby.. Ais penyakitan, tak sempurna dan menyusahkan hiks.. hiks.. A.. ais takut Ais hanya jadi beban bu.. buat hub... "


Grep...


Aiman langsung menarik sang istri kedalam pelukannya. Hati Aiman tercubit mendengar jeritan sang istri yang seakan tertekan oleh keadaan.


"Sayang istri Hubby.. dalam rumah tangga tak ada kata beban didalamnya. Itu semua tanggung jawab Hubby, Cukup jangan menyalahkan diri sayang sendiri.. Ingat segala sesuatu sudah digaris takdirkan. Istigfar Sayang... "


"Hiks.. Tap.. "


"Cukup ! kepergiaan Umi sudah Takdir Allah. Jangan buat hati sayang dikuasai oleh hawa nafsu.. "


Deg...


Ais langsung terdiam dengan ucapan sang suami, seakan Ais teringat oleh sesuatu.


"Jika Takdir Allah hanya sampai disini, maka jadilah putri dan putra umi yang tangguh penuh dengan kesabaran dan keikhlasan.Karna kehidupan ini hanya Fana."


"Apa Teteh bisa sabar dan Ikhlas ,Mi. "


Jerit batin Ais seakan dirinya kehilangan arah, Ais memeluk erat sang suami seakan tak mau kehilangan.


"Maafkan Ais,By. "


.


.


.


.Bersambung...


.


.**Bagai mana seru gak??

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan Like, Komen, dan Vote ok


Terimakasih**...


__ADS_2