
"Saya terima nikahnya Mona Lin binti Cheng Lin dengan maskawin sepeangkat alat sholat dan Uang sebesar Seratus dua puluh lima juta dibayar tunai."
"Sah.. Sah... "
Ucapan sakral Air ucapakan dengan sekali nafas membuat Ais meneteskan air matanya ternyata adik kembarnya sekarang sudah tidak sendiri lagi. Ada seseorang yang harus dia jaga dan sayangi sepenuh hatinya.
Dulu Mona adalah orang yang selalu membuat Ais naik darah dengan segala tingkahnya, tapi siapa sangka Allah mengikat Ais dengan Mona dalam sebuah pernikahan .
Musuh jadi adik ifar lucu bukan, tapi itu kenyataannya dan tak bisa kita prediksikan bukan !.
Ingat! itu semua sudah digaris takdirkan,setiap manusia mempunyai takdirnya sendiri begitupun para pembaca bukan.
Kebahagiaan dan kesedihan selalu melekat dalam diri manusia untuk menjadi ujian tersendiri.
Bahagia bukan sekedar kesenangan belakang tapi itu juga ujian agar kita banyak bersyukur pada Allah begitupun kesedihan bukan sebagai ketidak adilan Allah melainkan sama-sama ujian yang harus kita lewati.
"Ternyata dunia ini begitu sempit yah, aku tak menyangka kalau kita akan menjadi ifar.. "
Ucap Ais tersenyum pada Mona yang nampak cantik dengan gaun pengantin berwarna putih dipadukan dengan kerudung yang senada, ada polesan mutiara dan mahkuta menghiasi kepala Mona membuat Mona sungguh kesulitan untuk bergerak.
"Semoga menjadi istri yang sholehah yah, dan ingat berikan aku banyak keponakan he.. he.. "
Canda Ais membuat Mona hanya tersenyum karna malu membuat Air dibuat gemas saja oleh tingkah sang istri.
Istri! yah Mona sudah sah menjadi istri seorang Airumi Khoer Al-qolayuby dua jam yang lalu dan sekarang mereka sedang berada diatas plaminan,Karna acara repsesinya sampai malam.
"Sayang sudah jangan godain adik ifar,lihat tuh masih banyak yang ngantri cepet turun.. "
Tegor Aiman karna sang istri masih saja menggoda adik ifarnya membuat teman-teman Mona dan Air mengantri dibelakang.
"He.. he.. yasudah. Jadi suami yang bertanggung jawab yah Dek, ingat Adek mempunyai tanggung jawab yang lebih besar setelah Abi dan Dedek yaitu istri Adek.. "
"Doakan Adek, Teh. Semoga bisa menjadi suami seperti Abi dan bang Aiman.. "
"No, jadilah diri Adek sendiri,Ok.Titip Air.. "
Ucap Ais berusaha tak menangis dari tadi sambil memeluk sang adik bergantiaan dengan Mona.
"Selamat yah, Dek. Semoga pernikahan kalian selalu dalam lindungan Allah.. "
"Amin, Bang.Terimakasih atas semuanya.. "
"Titip Air ya..Cintailah dia semampuh kamu, dan ingat cinta hakiki.. "
Ucap Aiman tersenyum pada Mona membuat Mona mengangguk karna merasa canggung pada Aiman.
"Oh Baby... Selamat yah, semoga pernihakan kalian langgeng.. "
Teriak Mawar sambil memeluk sang sahabat yang sudah banyak berubah itu.
"Terimakasih sudah datang. Padahal aku tau kamu pasti sibuk.. "
"No, pernikahan kamu jauh lebih penting dari pada berkas sialan itu.. "
Ucap Mawar sedikit berbisik diakhir kalimatnya membuat Mona tersenyum haru.
__ADS_1
"Hay.. jaga Baby Ku yah, awas kalau kamu menyakitinya akan ku coret kau dari daftar suaminya.. "
Ucap Mawar dengan candaan didalamnya, membuat Air hanya diam saja dengan tampak cueknya.
"Selamat yah, Tolong jaga sahabatku ini. Jagalah dia seperti kau menjaga dirimu sendiri... "
Ucap Melati membuat Air mengangguk saja kemudiaan Melati berhadapan dengan Mona, sahabat yang selalu ada suka maupun duka dan ternyata sahabatnya itu sudah mendahuluinya menikah.
"Selamat yah, Say. Semoga pilihanmu adalah yang terbaik. Doaku selalu menyertaimu.. "
"Terimakasih kalian adalah sahabat terbaikku.."
Ucap Mona memeluk erat Melati. Pelukan Mona membuat Melati menetesakan air mata, diantara mereka bertiga Melatilah yang paling cengeng tapi dia selalu menyembunyikannya dengan sikap dinginnya seperti tadi ucapannya hanya datar tapi sungguh dibalik katanya mengandung makna.
"Jangan lupakan kami yah.. "
"Mana mungkin aku melupakan kalain.. "
Ucap Mona sambil berpelukan tiga sahabat itu. Tingkah mereka tak lepas dari tatapan Ais di ujung sana.
"Selamat Saudara Esku, semoga pernikahan kalian Sakinah, Mawadah, dan Warohmah.. "
"Hemmz.. "
Begitulah Air kalau sudah berhadapan dengan Ani selalu saja dingin membuat Ani selalu dibuat jengkel saja.
"Titip Es balok yah, kamu terbaik sudah berhasil meluluhkan kebekuaan hatinya he.. he.. "
Canda Ani membuat Mona tersenyum ternyata Ani mempunyai rumor juga yang baru Mona tau. Sungguh bahagianya Ais dikelilingi orang-orang yang menyayanginya begitupun Air yang begitu sangat Menyayangi dan Menjaga kakaknya, ada rasa iri dihati Mona tapi Mona menepisnya karna sekarang Air adalah suaminya, Miliknya.
Ucap Air lembut membuat Mona langsung melirik sang suami penuh Cinta. Yah Cinta itu masih utuh tak pernah sedikitpun berkurang seperti Empat tahun yang lalu.
"Kalau begitu kita istirahat saja, toh acaranya mau hampir selesai."
Ucap lembut Air melihat istrinya mengangguk karna lelah, dan pegal. Rasanya Mona ingin rebahan saja, sungguh acaranya membuat Mona kelelahan.
Bagai mana tidak lelah dari habis isya sampai sudah jam sepeluh malam tamu undangan masih berdatangan dari teman-teman mahasiswa, kantor ditambah teman-teman Air dan rekan-rekan kerjanya.
"Tapi kan gak enak.. "
"Gak apa-apa tamunya juga kan tuh sudah berangsur pulang.. "
"Jangan ngeyel.. "
Mona pasrah tangannya ditarik sang suami lembut membuat Mona mengikuti langkah sang suami yang melangkah pelan-pelan.
"Kenapa Hemmz.. "
Tanya Aiman yang melihat sang istri dari tadi hanya melamun saja duduk luar kamar.
Mereka sudah ada didalam kamar yang sudah dipersiapkan karna acara pernikahan sang Adik digelar di hotel milik perusahaan CLG yaitu perusahaan milik Ayah Mona.
"Ais tak pernah melihat tatapan Cinta dimata Adek selama ini. Tapi tadi Teteh melihatnya. "
"Apa sayang, Cemburu! "
__ADS_1
Ais langsung melihat sang suami sambil tersenyum manis dengan tangan menarik pelan pergelangan tangan sang suami supaya duduk disisinya .
Sedangkan Fatih dari tadi sudah tidur pulas karna kekenyangan.
Ais menatap langit yang bertaburan bintang dengan suasana sunyi cocok dengan perasaan hati Ais saat ini.
"Ais tidak cemburu Adek mencintai wanita lain selain kakak dan Umi. Ais bahagia melihat Adek sebahagia itu yang belum pernah Ais lihat sebelumnya. Hanya saja entah kenapa Ais sedikit ada sesuatu yang mengganjal di hati ini. Tapi Ais tak tau By.. "
Ucap Ais sambil memegang dadanya dengan tatapan yang masih sama melihat bintang dilangit.
"Apa karna Mona Mualaf.. "
"Bukan "
"Terus.. "
"Ais takut pernikahan Adek akan seperti pernikahan kita pada waktu awal-awal.. "
"Istigfar sayang. Setiap pernikahan menpunyai cobaan masing-masing jangan samakan pernikahan kita dengan Adek.. "
"Tapi Ais seakan melihat sesuatu yang mengganjal, By.. Ais hanya takut saja.. "
Lilir Ais membuat Aiman langsung menarik sang istri kedalam pelukannya, Sulit bagi Aiman untuk memahami isi pikiran dan hati sang istri. Nyatanya gelar Dokter spikolog tak mempan bagi sang istri.
"Sudah jangan mikir yang tidak-tidak, kasian Baby jika Ummahnya sedih babynya juga ikut sedih.. "
"Maafkan Ummah, Nak.."
Lilir Ais gemetar sambil mengelus perut buncitnya.
"Semoga apa yang Teteh rasakan, itu hanya ketakutan belaka ,Dek. "
Batin Ais berusaha tak memikirkan apapun seperti apa kata sang suami.
"Apa yang coba kamu sembunyikan, Sayang. "
Gumam Aiman menatap sang istri yang sudah tertidur pulas di pelukannya.
.
.
.
Bersambung....
.
.
Bagaimana seru gak??
Jangan lupa Like, Komen, dan Vote ok
Terimakasih..
__ADS_1