Takdir Illahi 2

Takdir Illahi 2
Epesode 39


__ADS_3

"Umi, Abi.. "


Teriak Ais berhambur kepelukan sang Umi dan Abinya yang sudah dua bulan rindukan.


"Gimana kabar kamu Nak? dan kandungannya? "


"Alhamdulillah Teteh dan Hubby baik Mi, Palagi Baby, kata dokter tadi dia sangat sehat dan kuat Mi, Emmz apa keadaan Adek sudah ada perubahan Mi? "


"Alhamdulillah ada Teh, kata Dokter mungkin dalam beberapa hari kedepan Ade akan sadar, Tapi... "


Rahma menjeda ucapannya ada sesuatu yang Rahma dan Azam tak tau.


"Ada Apa Mi, tidak akan ada yang seriuskan ?. "


"Umi juga tidak tau Teh, tapi dokter bilang Adek seperti terbelenggu di alam sadarnya dia sedang berusaha keluar dari kegelapan mengejar sesuatu? "


"Maksudnya Mi, Teteh gak ngerti! "


"Sepertinya Air merasa lelah dengan perasaannya tapi ada yang mendorong dia untuk kembali.. "


Ucap Aiman ikut gabung setelah melihat kondisi adik iparnya.


Semua mata tertuju pada Aiman meminta penjelasan lebih dalam lagi


"Apa khumairo tau siapa orang yang Air suka? "


Deg...


Seketika Ais tertegun sambil berjalan kearah brankar sang adik.


Dek, apa yang terjadi pada mu? Apa dia yang membuat Adek seperti ini? jika benar, Sebenarnya apa yang telah terjadi diantara kalain?


Apa Adek mencari dia? bangunlah Teteh mempunyai kabar yang harus Adek tau tentang dia.


Bisik Ais di telinga Air, apa yang Ais lakukan di respon oleh Air membuat semua orang nampak terkejut.


Azam dengan cepat langsung memanggil dokter, Tak lama dokterpun datang dan langsung memeriksa Air.


"Sepertinya pasien membutuhkan seseorang yang membuat pasien bisa merespon dari alam sadarnya. Terus ajak bicara pasen tentang orang yang bersangkutan dengannya, supaya pasien cepat sadar.. "


"Tapi dia tidak ada Dok !"


Lilir Ais membuat semua orang tertuju padanya,sedangkan Azam menatap rumit Air yang masih menutup mata.


"Cobalah berbicara sesuatu yang bersangkutan dengannya "


"Baik Dok , Saya akan berusaha.. "


"Kalau begitu saya permisi.. "


Sekarang ruangan itu nampak hening semua orang menunggu penjelasan Ais membuat Ais menghela nafas pelan lalu bersandar di dada bidang sang suami.


"Beberapa hari yang lalu Mona datang kerumah nemuin Teteh, Dia minta ma'af pada Teteh atas kesalahan waktu di kampus, dan Dia juga titip salam ma'af buat Adek.Teteh pertama bingung tapi sekarang Teteh sedikit paham, bahwa sikap dingin dan cuek Adek hanya kedok belakang. Sebenernya mereka saling mencintai.Tapi...ada benteng besar yang menghalangi... "


Rahma menutup mulutnya tak percaya, anaknya ternyata selama ini mengali kesulitan tapi dirinya sebagai ibu tak tau apa-apa.


Ternyata sikap diam dan cuek anaknya hanya ingin menyembunyikan masalah di dalam dirinya.


"Benteng besar apa Teh? "


Kini Azam yang angkat bicara, seorang ayah akan melakukan apa saja asalkan anak-anaknya bahagia.


"Sebuah keyakinan... "


Deg...


Rahma begitu terkejut sambil menutup mulutnya, bagai mana mungkim anaknya terjerat cinta yang begitu rumit.


Sedangkan Azam hanya diam begitupun Aiman.

__ADS_1


"Tapi.. sekarang Mona sudah masuk islam. Entah apa yang membuat dirinya memeluk islam.. "


"Ap.. apa karna Adek? . "


"Teteh gak tau kalau soal itu.Yang jelas Mona sudah berangkat kebandara tapi dia tidak bilang mau kemana ! "


"Sepertinya sudah jelas, Keadaan Air ada sangkut pautnya sama nama yang Khumairo sebut.. "


"Kemungkinan... "


Timpal Azam sambil berjalan kearah brankar anaknya. Azam mengelus kepala sang anak dengan penuh kasih sayang.


"Nak, bangunlah... Jangan pernah menjadi laki-laki pengecut. Abi tak pernah mengajarkan itu. "


"Kejarlah apa yang harus kamu kejar.. "


Bisik Azam sambil mencium kening sang anak dengan lembut.


Tak lama Ais dan Aiman pamit pulang...


"Hati-hati di jalan Nak "


"Siap Mi, Teteh pulang Assalamualaikum.. "


"Waalaikumsalam... "


Jawab Rahma menatap sendu kepergian sang putri. Sebentar lagi putrinya akan menjadi seorang ibu.


"Semoga kamu jadi istri sholehah dan ibu yang baik Teh. "


Gumam Rahma kemudian masuk kekamar mandi guna mengambil air untuk membersihkan tubuh putranya.


"Langsung pulang atau mau kemana dulu.. "


Tanya Aiman sambil pokus mengemudi karna jalan kota Bandung hari ini begitu ramai.


"Terserah Hubby saja.. "


"Hemmmz.. "


Jawab Ais singkat, dari tadi pikirannya terus melayang memikirkan apa yang sebenarnya terjadi antara adiknya dan Mona.


Aku harus cari tau,tapi pada siapa Aku bertanya! bingung Ais.


"Khumairo udah nyampe.. "


Ais terlonjat kaget tetkala sang suami membukakan pintu mobil, ternyata benar mereka sudah sampai di salah satu Restoran terkenal di Bandung.


Aiman langsung menggandeng lengan sang istri lalu berjalan masuk.


"Selamat datang Pak, Buk..."


Ucap pelayang ramah sambil memberikan menu makan pada Aiman.


"Khumairo mau pesan apa? "


"Samain aja sama Hubby, Ais tidak terlalu tau menu makanan di sini.. "


"Yasudah, Bak saya pesen Steak dua dan jus melonnya dua.."


"Baik Pak, tunggu sebentar.. "


Sambil menunggu pesanan datang Ais dan Aiman mengobrol seputar kehamilan Ais dan nama-nama yang cocok untuk anaknya.


Ais tersenyum tetkala baru sadar bahwa sang suami memakai jam tangan pemberiaannya, walaupun sederhana tapi bagi Ais jam tangan itu berharga. Karna akan mengingatkan sang suami waktu terpenting dalam hidupnya.


"Boleh bergabung... "


Seketika tawa Aiman berhenti mendengar suara yang begitu Aiman kenal, sedangkan Ais kedua matanya sudah memerah menahan amarah menatap tajam orang yang ada di depan matanya.

__ADS_1


Sorot mata kebencian itu kembali lagi hadir di diri Ais sudah sekian lama menghilang tapi kini tatapan itu kembali.


Membuat Aiman tertegun melihat perubahan wajah sang istri dengan sorot mata yang sulit.


"Khum... "


"Kita pulang By... "


Tampa menunggu jawaban Aiman,Ais langsung pergi meninggalkan restoran dengan dada yang bergemuruh.


"Khumairo tunggu.. "


Teriak Aiman tapi tangan Aiman dicekal erat oleh Emely.


"Lepass.. "


Bentak Aiman sambil melepas paksa tangan Emely yang memegang tangannya membuat Emely sedikit meringis.


Grep...


Aiman berhasil mengejar langkah sang istri yang sudah menangis dengan tatapan yang Aiman tak mengerti.


"Mau kemana? "


"Pulang.. "


"Jangan marah, Hubby tidak mengajak dia. Ini murni kebetulan, please percaya Hubby.. "


Mohon Aiman sambil memeluk sang istri yang sudah terisak.


"Sa.. sakit By... "


"Ma'afkan Hubby, Hubby juga tidak tau kalau ada dia.. Ma'af.. "


Sedang kan di dalam lestoran Emely menatap kesal pada laki-laki yang menahannya untuk tidak mengejar Aiman.


Berbeda dengan laki-laki itu dia menatap Emely penuh penjelasan membuat Emely masa bodo.


"Jangan bilang kalau laki-laki itu orang yang kau kejar.. "


"Kalau iya memang kenapa "


"Jangan macam-macam.. "


"Hey kenapa sekarang malah melarangku, bukannya kamu selalu tak peduli.. "


Emosi Emely tak terima di larang-larang.


"Aku peringatkan jangan mengusiknya ."


Tegas laki-laki itu kalau terjadi apa-apa pada Ais maka dirinyalah yang bersalah.


"Memangnya kenapa ? Kita sudah sepakat kalau kamu tak akan ikut campur.. "


"Karna kamu berhadapan dengan orang yang salah "


"Ha.. ha... orang salah bagai mana, istri Aiman itu kaya anak kecil ,berpakaian kuno gak cocok sama Aiman ."


"Terserah.. Aku hanya memperingatimu. Jangan Mengusiknya, jika kamu tak ingin menyesal.. "


"Dan satu lagi jika terjadi apa-apa sama istri Aiman maka orang pertama yang akan ku bunuh adalah kau. "


Tekan Andi sambil menggeprak meja meninggalkan Emely yang masih bingung dengan ucapan Andi.


Laki-laki itu adalah Andi Hermansya orang yang Ais benci sekaligus orang yang membuat Ais membenci kata perjodohan.


"Kenapa Allah mempertemukan dia kembali.. "


Jerit batin Ais sesak, bayangan dimana sang sahabat meninggal di depan matanya berputar kembali di memori otaknya.

__ADS_1


Kejadian buruk yang berusaha Ais kubur kini terbuka kembali membuat luka itu semakin basah.


__ADS_2