Takdir Illahi 2

Takdir Illahi 2
Epesode 50 Koma


__ADS_3

Umi Rahma merasa ,semenjak Air bangun dari komanya. Air lebih banyak diam, tak ada Airumi yang dulu yang selalu ceria di depan keluarganya tapi sikap Air membuat umi Rahma bak orang asing yang mengurusnya.


Padahal kata dokter Air tak kehilangan ingatannya, apa sikap Air hanya sok karna dirinya lumpuh tapi itukan hanya sementara tidak lumpuh permanen kata dokter masih bisa sembuh asalkan Air terus Terapi.


Entah lah umi Rahma juga tidak tau, tapi sikap diam dan acuh Air membuat umi Rahma sedih melihat keadaan putranya.


Azam hanya menghela nafas kasar melihat sang istri yang bersedih, perlahan Azam mendekati sang istri yang sedang duduk menjaga Air yang sudah tidur.


"Assalamualaikum Dek. "


"Waalaikumsalam Mas, udah pulang.. "


Jawab umi Rahma sambil mencium punggung tangan sang suami, lalu Azam mencium puncak kepala sang istri.


"Udah makan belum.. "


"Ade nunggu Mas.. "


"Lain kali jangan menunggu, Ade makan duluan takutnya Mas pulang telat. Ade juga harus jaga kesehatan Mas lihat akhir-akhir ini Ade tidak menjaga kesehatan tambah kurus lagi.. "


"Mas tadi di jalan beli nasi goreng kita makan yah.. "


"Ade siapkan dulu piring dan air minum.. "


"Ade duduk saja biar Mas... "


"Ta... "


"Dek.. "


Tekan Azam tidak mau di bantah membuat Rahma pasrah saja .


Azam memindahkan nasi gorengnya keatas piring dengan hati-hati lalu menungkan air kedalam gelas.


"Aaaa.. "


"Mas biar sama Ade aja.. "


"Aaaa.. "


Rahma pasrah menerima suapan demi suapan yang suaminya berikan sesekali Azam juga menyuapi dirinya sendiri hingga nasi goreng itu habis.


"Makannya masih kaya anak kecil aja.. "


Ucap Azam sambil mengusap bibir sang istri yang menempel nasi. Membuat Rahma hanya tersenyum saja dari dulu suaminya memang dingin tapi begitu romantis di setiap tingkah kecilnya.


"Mendekat lah.. "


Pinta Azam, Rahma langsung mendekat duduk merapat dengan badan sang suami. Azam menarik kepala istrinya supaya bersandar di dada bidangnya.


"Ma'af kan Mas, pasti Ade cape yah ngurus Abang sendiri.. "


"Gak ada kata cape bagi Adek, Mas.Justru Adek bahagia bisa ngurus keluarga adek sendiri tampa campur tangan orang lain, biar tambah-tambah pahala.. "


"Terimakasih sayang.. "


"Terimakasih juga Mas udah ada di tengah-tengah kita..Udah bertahan dari kekanakannya sifat ade.. terimakasih buat semuanya.. "


"Mas sayang dan cinta sama ade.. "


"Ade juga sama, cinta dan sayang sama Mas.. "


"Kita tidur yah udah malem.. "


Rahma hanya mengangguk sambil mempererat pelukannya pada pinggang sang suami, behitupun Azam memeluk erat dan menyandarkan kepala sang istri supaya tidur di aras dadanya.


"Ma'af kan Abang Mi, Bi. Abang banyak menyusahkan kalian.. "


Lilir Air menatap kedua orang tuanya yang sudah terlelap, air matanya keluar tak bisa di hentikan. Rasanya hatinya begitu nyeri sekali,ada yang hilang tapi entah apa Air juga tak mengerti pada dirinya.


Hingga mentari muncul malu-malu di balik awan memancarkan senyumnya pada penjuru dunia.


Dokter memeriksa keadaan Air yang jauh lebih baik lagi membuat umi Rahma dan Azam senang karna Air bisa di rawat di rumah dengan syarat harus rajin trapi satu minggu dua kali supaya kaki Air bisa berjalan dengan normal.

__ADS_1


Air hanya tersenyum mendengar penjeladan dokter tak lama dokter dan beberapa perawat keluar.


"Mi, kenapa Teteh belum jenguk Abang ? "


Tanya Air karna sudah begitu rindu pada kakak manja dan cerewetnya.


"Tetehkan masih di rawat Bang, mungkin hari ini dia pulang.. "


"Ah.. Abang udah gak sabar pengen lihat ponakan abang.. "


" Kalau gitu Abang harus rajin terapi supaya cepat sembuh.. "


"Baiklah.. "


Umi Rahma tersenyum karna bahagia putranya akhirnya kembali seperti biasanya tidak diam dan cuek seperti biasa.


Azam ikut bahagia melihat sang istri bahagia.


"Sayang Mas berangkat dulu ke kantor.."


Ucap Azam sambil mencium puncak kepala sang istri.


"Abi berangkat dulu yah.. jangan terlalu nyusahin umi.. "


"Siap Bi.. "


Jawab Air mantap sambil tersenyum melihat tingkah kedua orang tuanya, walaupun sudah menginjak umur hampir lima puluhan tetap saja mereka seperti anak muda yang di mabuk cinta.


"Mi.. "


"Iya bang.. "


"Ma'afin abang yah yang sudah nyusahin umi.. "


Lilir Air merasa bersalah, umi Rahma hanya tersenyum saja dan mengusap rambut sang putra.


"Umi gak merasa di susahin ko, sekarang kita jalan-jalan ketaman yah supaya abang cepat sembuh.. "


"Iya Mi.. "


Di taman begitu banyak pasien yang sedang berjemur, ada yang bercanda dan ada juga yang hanya diam menikmati pemandangan bunga.


"Sayang Umi beli air dan makanan dulu, tunggu di sini jangan kemana-mana "


"Siap Mi, jangan lama yah.. "


Ucap Air, Rahma hanya tersenyum dan pergi meninggalkan Air di dekat taman yang banyak hamparan bunga sedang bermekaran.


Air sesekali hanya tersenyum melihat pasien lain yang tertawa lepas, ada juga yang bercanda, ada yang marah-marah dan yang lainnya.


Dari kejauhan ada seseorang yang dari tadi memerhatikan Air yang sedang tersenyum sambil membelai bunga yang baru mekar.


"Beb lihat siapa sih.. "


"Bukannya itu Airumi kan.. "


"Yang mana sih.. "


"Itu yang di kursi roda paling pojok... "


"Hah.. iya itu kaya Airumi,tapi kenapa duduk di kursi roda ? "


"Apa jangan-jangan Airumi sudah hampir setahun menghilang karna sakit... "


"Bisa jadi sih... "


"Kita samperin yuk... "


Ajak Melati sambil menarik tangan Mawar, walau agak ragu Mawar mengikuti langkah kaki Melati saja. Karna dia juga penasaran kenapa Airumi ada di sini dengan memakai kursi roda.


"Airumi.. "


Air yang merasa ada yang memanggil langsung mengangkat kepalanya dan menengok kesamping. Air hanya mengerutkan kening melihat dua wanita yang sekarang ada di hadapannya.

__ADS_1


Seperti kenal tapi Air agak lupa siapa namanya dan sepertinya muka-muka wanita itu tak asing bagi Air.


Mawar dan Melati hanya saling pandang melihat ekfresi Air yang seperti mengingat-ngingat.


"Aku Melati dan Ini Mawar sahabat Mona.. "


Deg...


Seketika jantung Air berdetak hebat mendengar nama yang terakhir di sebut, hingga Air tau siapa dua wanita yang ada di hadapannya itu.


"Apa kabar ?, lama tak bertemu.. "


Air hanya diam saja sambil menatap lurus kedepan enggan menjawab pertanyaan Melati, membuat Mawar dan Melati saling pandang merasa kesal di abaikan.


" Kita pergi saja yuk, dari pada bertanya sama robot.. "


Kesal Mawar karna Air masih tak bergeming dengan wajah dinginnya.


"Abang... "


Air langsung berbalik mendengar suara sang Umi sambil tersenyum membuat Mawar dan Melati melongo dengan apa yang Air lakukan bahkan pada mereka berdua Air hanya diam saja, Ck. Sangat menyebalkan pikir Mawar dan Melati.


"Mereka siapa Bang? apa teman Abang! "


" Saya Umi-Nya Airumi, kalau boleh tau kalian siapa? "


Tanya umi Rahma ramah pada Mawar dan Melati karna tak enak melihat sikap putranya yang diam.


"Te.. teman sekampus Tan.. "


Jawab Melati gugup membuat umi Rahma hanya tersenyum saja.


" Ma'afkan putra dingin tante, Abang baru sadar dari koma jadi sikapnya agak dingin.."


"Hah Koma.. "


Pekik Mawar dan Melati sangat terkejut mengetahui apa yang terjadi pada laki-laki Es yang sahabatnya sukai.


"Mi, ayo kita kedalam.. "


"Sebentar Nak.. "


"Mi.. "


Umi Rahma hanya pasrah saja menuruti permintaan putranya yang seperti tak suka pada dua wanita yang ada di hadapannya.


"Ma'af yah Nak, tante harus kedalam, Abang harus istirahat.. "


"Iy.. iya Tan.. "


Setelah kepergian Airumi dan umi Rahma, Mawar dan Melati masih saling tatap karna terkejut mendengar apa yang terjadi pada Airumi.


"Koma.. "


Lilir Mawar dan Melati seakan tak percaya.


"Tunggu jangan-jangan kecelakaan waktu itu... "


Deg....


.


.


.


.


He.. he... udah dulu yah apdetnya, ikutin trus yah prat selanjutnya...


Like


Komen

__ADS_1


Vite


jangan di lewat yah terimakasih....


__ADS_2