Takdir Illahi 2

Takdir Illahi 2
Epesode 93 Ayah menjodohkan Aku !


__ADS_3

Air yang baru datang terdiam melihat kedua orang tuanya yang saling berpelukan dengan aura kesedihan membuat hati Air berdenyut nyeri.


Apa yang harus Air lakukan supaya tak ada kesedihan lagi di diri sang Umi. Tapi mau sampai kapan Air juga menutupi keadaan sang umi pada kakak kembarnya pasti lambat laun kakaknya tau.


Semua beban umi Rahma tanggung sendiri tak pernah sekalipun umi Rahma mengeluh, hanya Air yang tau apa yang selama ini terjadi pada sang Umi karna Air yang setiap hari berada di kediaman khoer.


Sudah hampir dua tahun umi Rahma menderita kanker Otak dan kini sudah mencapai Stadium tiga tapi Allah berkata lain dengan mentakdirkan umi Rahma dibawa kerumah sakit hingga bertemu dengan gadis yang dulu umi Rahma nasehati hingga berakhir diruang oprasi.


Jika tidak segera di oprasi sang Dokter kanker itu semakin menyebar dan mengakibatkan kepatalan.


Sungguh rencana Allah luar biasa menjalankan skenario indahnya. Tak ada yang tau bukan waktu berjalan secepat itu, hingga kejadian itu pula membuat Air memutuskan untuk mengajak seorang Mona Lin berta'aruf .Tapi sayang ajakan Air belum dijawab oleh Mona Lin membuat Air hanya bisa pasrah dengan jalan takdirnya.


Tak satupun chat Air yang Mona balas membuat Air hanya bisa bernafas sesak saja jika memang Mona bukan takdirnya yang Air bisa hanya ikhlas mungkin Allah sudah menyiapkan jodoh yang terbaik untuk Air.


Walau Air ujungnya harus menghapus rasa itu dengan jalan takdirnya,Apa boleh buat ! .


Air berjalan mendekati kedua orang tuanya dengan senyum yang mengembang.


" Udah tua Bi, jangan ngotorin mata Air.. "


Canda Air langsung duduk di sisi kiri Brankar dan memeluk sang umi dari samping seolah umi Rahma milik Air seorang.


Abi Azam hanya mendengus sebal melihat tingkah putranya.


"Bagai mana pertemuan kemaren ! Apa kerjasamanya berjalan dengan lancar? "


Tanya abi Azam penuh selidik membuat Air tersenyum kecut.


"Kemaren ada kendala Bi, jadi Air belum menyelesaikannya.. "


"Bersikaplah Propesional.. "


Glek..


Air menelan ludahnya kasar sambil menatap lekat sang Abi, apa abinya tau apa yang kemaren terjadi ? ,pikir Air.


"Cepat selesaikan jangan sampai gagal,Abi gak mau ada kabar mengecewakan.. "


"Ba.. baik Bi.. "


Umi Rahma hanya tersenyum saja melihat sang putra yang nampak salah tingkah. Begitulah abi Azam orang yang selalu Konsisten dalam hal apapun yang tentunya selalu bisa memisahkan antara masalah peribadi dan pekerjaan nyatanya sang putra belum mencapai ketitik itu.


"Jangan terlalu serius Mas, Air kan masih dalam tahap belajar.. "


" Air itu laki-laki dia harus bisa tanggung jawab, bagai mana nanti kalau dia berumah tangga !. "


Lagi-lagi Air menelan ludahnya kasar mendengar penuturan sang Abi, Air akui kemaren dia melakukan kesalahan karna tak bisa Propesional dan itu baru pertama kali Air melakukan kesalahan.


Mengingat itu Air menjadi sedih karna orang yang dulu mengejarnya dia kembali hanya dengan kedinginan tak tersentuh .


"Aduh bicara Abi jadi jauh ,Sudah-sudah masalah kantor nanti aja bahasnya Umi jadi pusing.. "


Ucap umi Rahma pusing melihat suami dan putranya yang berdebat membuat umi Rahma berdenyut kembali di kepalanya dengan mata yang terpejam menahan sakit.


Melihat itu membuat abi Azam dan Air panik langsung memegangi tangan sang umi yang mau mencengkram kepalanya.

__ADS_1


"Air cepat panggil Dokter.. "


Ucap panik abi Azam membuat Air langsung berlari keluar dengan cepat.


Cklek...


"Umiiii.... "


Deg...


Seketika Air mematung dengan tubuh yang berjalan mundur, seakan waktu berhenti seketika.


Buk..


Ais menerobos sambil mendorong tubuh sang adik yang hanya mematung dengan tatapan kosong.


"U.. umi Hiks.. hiks.. "


Ucap Ais gemetar melihat keadaan sang Umi yang sedang menahan sakit dipelukan sang abi.


"Na.. nak.. "


"Umi kenapa! Ke.. kenapa kalain tega membohongi Ais hiks... "


"Maaf kalain semua keluar dulu.."


Ucap Dokter serius dengan sang suster yang memohon supaya cepat keluar karna Dokter akan memeriksa pasien.


Ais memberontak histeris tak mau keluar ,tapi dengan susah payah Aiman dan Air memeluk Ais dan membawanya keluar.


Mata Ais menatap tajam sang adik membuat Air hanya menunduk saja, tak berani menatap sang kakak yang sedang marah.


"Kenapa Adek menyembunyikan hal sebesar ini? "


Lilir Ais sambil mengguncang tubuh sang adik yang bingung harus menjawab apa.


"Katakan kenapa Teteh tidak boleh tau? Jawab Dek ! "


Tekan Ais sakit, jika saja Mona tak menceritakan kejadian yang menimpa Uminya pasti Ais tak akan tau. Kenapa harus disembunyikan, apa Ais tak boleh tau! Tapi kenapa? bukankah Ais adalah putri umi tapi kenapa Ais tak boleh tau apa yang terjadi pada uminya sendiri.


"Abi yang meminta."


Jderr...


Seketika Ais terlonjat kaget mendengar ucapan sang abi yang membuatnya bertambah sakit. Kenapa Ais tak boleh tahu ! apa Ais bukan anaknya? .


"Ta.. tapi ke.. kenapa Bi.. "


Ucap Ais pelan dengan rasa sakit yang teramat.


" Abi dan Umi hanya tak mau menyusahkan Teteh, Teteh begitu banyak melewati cobaan Umi hanya tak mau menambah beban teteh. Mengertilah..Seorang ibu hanya ingin anak-anaknya yang terbaik. Seorang ibu tak sedikitpun menunjukan rasa sedihnya pada anaknya. Karna dia tak mau membuat kalian bersedih. Jangan anggap kalau umi tak memberi tahu Teteh kalau umi tak sayang, umi hanya ingin teteh pokus pada keluarga teteh apalagi sekarang teteh sedang hamil umi hanya tak ingin membuat kehamilan teteh terganggu jika teteh tau apa yang sedang umi rasakan .Abi tau Teteh kecewa tapi cobalah mengerti Teteh sudah menjadi seorang ibu pasti Teteh tau jawabannya tampa harus abi jelaskan lebih. "


Ucap abi Azam panjang lebar, semoga putrinya bisa mengerti.


Grep...

__ADS_1


Ais memeluk sang abi erat begitupun abi Azam membalas pelukan sang putri tak kalah erat sambil mencium puncak kepala sang putri.


"Maafkan Teteh Bi, Teteh belum bisa menjadi putri abi dan umi yang baik. Teteh malah sering menyusahkan kalian.. hiks.. Apa umi akan baik-baik saja Bi.. "


"Teteh adalah putri abi dan umi yang begitu istimewa, Do'akan saja semoga umi baik-baik saja. Jangan marah pada Air, dia juga tak tau apa-apa. Air mengetahuinya sendiri enam bulan yang lalu ketika dia tak sengaja melihat kotak obat yang diminum Umi hingga Air mencari tahu sendiri.. "


"Sudah jangan menangis, Putri abi sangat jelek jika menangis.. "


Canda Abi Azam membuat Ais terkekeh dalam tangisnya. Aiman tersenyum melihat perubahan sang istri yang tadinya penuh emosi tapi sekarang dia bersikap seperti biasa.


"Kenapa kamu malah memberi tahu-Nya? "


Tanya Air dingin, Mona hanya diam saja karna memang tak tau apa-apa.


Mona pikir Ais memang sudah tau masalahnya, membuat Mona bertanya bagaimana kabar umi Rahma membuat Ais bingung dan bertanya apa yang terjadi sebenarnya. Hingg Mona menceritakan semuanya tampa pikir panjang karna Ais berhak tau, pikir Mona.


Jika tau bakal kejadian begitu aku tak akan memberitahunya, batin Mona.


Tadi Air mengisyaratkan pada Mona supaya mengikutinya, Mona mengangguk saja. Dan kini mereka sedang ada di taman dengan posisi Air membelakangi Mona.


"Maafkan Aku. Aku tak tau jika penyakit Tante kalian sembunyikan dari Ais.. "


Air menghela nafas pelan, walau bagai manapun memang Mona tak tau apa-apa.


"Maafkan Aku juga jika membuat kamu takut.Tapi sudahlah.. Aku pamit kedalam.. "


"Bisakah kamu membuang sikap dinginmu.. "


Ucap Mona yang berhasil membuat Air memberhentikan langkahnya.


"Mungkin jika kamu mau menjawab ajakan tulusku.. "


"Sudah terlambat ! . "


"Apa! "


"Ayah menjodohkan aku.. "


Deg...


.


.


.


.


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak....


Like, Komen, dan Vote.


Terimakasih...

__ADS_1


__ADS_2