
Raut wajah bahagia terpancar indah dengan bibir yang terus mengucap syukur atas kenikmatan yang Allah beri.
Berita yang baru saja Rahma dengar kalau anaknya mulai membaik.Membuat kebahagiaan tersendiri bagi seorang ibu yang tak bisa di jabarkan dengan kata.
Tidak ada kebahagiaan bagi seorang ibu kecuali hanya ingin anak-anaknya bahagia menjalin rumah tangga yang sakinah, mawadah dan warohmah.
Rahma sengaja memasak banyak untuk di bagikan kepanti asuhan dengan bentuk rasa syukurnya karna Allah telah menyembuhkan anaknya.
"Umi banyak benget masak hari ini... "
Ucap Adam duduk di salah satu kursi meja makan yang sudah penuh dengan berbagai macam makanan.
"Umi lagi senang De, karna teteh Ais sudah sembuh.Jadi umi hanya sidekah karna Allah sudah memberikan kebahagiaan pada kita. "
"Alhamdulillah ..."
Ucap Adam turut bahagia mendengar tetehnya sudah sembuh.Ingin rasanya Adam memeluk sang teteh,karna rindu yang meruak.
"Adam bantuin apa mi.. "
"Dede tolong telepon bang Air suruh cepat pulang... "
"Siap mi "
Adam terus menghubungi sang kakak yang tidak aktif nomer nya. Membuat Adam sedikit kewatir biasanya abangnya tidak pernah mematikan ponsel apalagi sampai telat pulang.
"Kenapa De?? "
" Nomor Abang gak aktif mi.. "
"Masa dek,inikan udah sore harusnya kan abang sudah pulang.. "
"Mungkin ada mata kuliah tambahan mi, apalagi kan abang bentar lagi lulus.. "
"Ya sudah entar Dede aja yah yang anterin makanan ini ke panti... "
"Umi gak ikut ?"
"Kan gak muat kalau umi ikut dede kan bawa motor.. "
"Tunggu abi pulang gimana? "
"Abi tadi telepon katanya pulang telat, ada sedikit masalah di perusahaan.. "
"Yasudah dede aja yang berangkat"
"Bentar umi tata dulu... "
Dengan sigap Adam membantu sang umi menata makanannya yang begitu banyak. Rahma tidak merasakan lelah sama sekali walau dia membuatnya sendiri.
"Hati-hati di jalan de, titip salam buat bude Asih"
"Siap mi, Assalamualaikum.. "
"Waalaikumsalam... "
Rahma langsung membereskan sisa makanannya lalu pergi mencuci piring. Rasanya Rahma tidak sabar bertemu dengan sang putri yang katanya sudah berangsur membaik.
Sudah dua minggu Rahma memikirkan sang putri hingga makan dan minumpun tak enak bahkan tidurpun Rahma selalu gelisah terkadang membuat Azam kewatir akan kondisi sang istri.
Tapi kekewatiran itu lenyap begitu saja tetkala sang menantu memberi kabar bahwa anaknya berangsur sembuh.
Raut yang bersemu merah menahan rasa malu yang tiada tara. Bahkan kalau boleh ingin rasanya Ais bersembunyi di lubang semut untuk menyembunyikan pipinya yang memanas.
Bagai mana tidak.Aiman memperlakukan Ais bak berlian yang takut tergores sedikitpun hingga apapun harus Aiman yang melakukan.
Membuat Ais merasa bahagia bercampur malu apalagi ada bi Sumi yang terus memerhatikan dari jauh.
Perlakuaan Aiman membuat Ais merasa nyaman dan terlindungi, hingga rasa takut itu berangsur menghilang berganti dengan bayangan wajah seri Aiman yang selalu memancarkan senyum manisnya.
Apa lagi tatapan teduh dengan bulu mata lentik itu membuat Ais merasa tenang di dekat Aiman, hingga dunia terasa milik mereka berdua dengan mata yang saling tatap memancarkan cahaya kasih dan cinta.
__ADS_1
Tiada kata yang Aiman ucapkan selain rasa syukur dengan apa yang telah Allah beri. Memberikan pendamping yang sempurna bak bidadari, dengan tutur kata lembut walau masih malu-malu.
Wanita yang katanya bar-bar ternyata penuh pendiam, yang katanya manja ternyata punya segudang rahasia yang tersembunyi di balik sifatnya.
Sifat manja jauh dari kata memegang alat dapur atau alat pembersih lain tapi nyatanya, semua nya Ais menguasainya. Sungguh rahasia yang mengejutkan.
"Sifat apa lagi yang tersembunyi di balik dirimu "
Gumam Aiman sambil tersenyum melihat sang istri yang sedang bergelut dengan alat dapur, walau Aiman sudah melarang tapi Ais kekeh memaksa ingin memasak untuk dirinya.
"Bi, tolong sajikan di meja makan.Ais mau bangunin Abang dulu"
" Siap,Non.."
"Ehh Ma.. maaf.. Nak.. "
Ucap bi Sumi yang melihat raut wajah Ais cemberut,tapi tetap menggemaskan.
Ais hanya menghela nafas pelan karna memang tidak suka di panghil 'Non'dengan kata menghormati tuan rumah, tapi bagi Ais setatus Ais dan bi Sumi sama. Sama-sama seorang hamba Allah yang menumpang singgah di dunia.
Melihat Ais yang akan beranjak dari dapur membuat Aiman gelagapan melasat pergi ke kamar dan tertidur lagi.
"Gak panas kaya semalam... "
Gumam Ais sambil meletakan punggung tangannya di dahi Aiman. Dari kemaren memang Aiman sedikit demam karna terlalu pokus mejaga Ais dan menyelesaikan pekerjaannya hingga Aiman sendiri kurang memerhatikan kesehatannya.
Walau tadi subuh sedikit perdebatan karna Ais memaksa ingin masak karna Aiman sakit harus istirahat, membuat Aiman pasrah pasalnya memang kepalanya masih pusing hingga Aiman tertidur kembali habis sholat subuh.
Tapi tampa Ais sadari kalau Aiman dari tadi sudah bangun dan memerhatikan dirinya sedang masak.
"Bang... bangun... "
Ucap Ais menepuk pelan pipi Aiman membuat Aiman menggeliat dalam kepura-puraan.
Perlahan bulu mata lentik itu mengerjap tak lama tersenyum melihat sang bidadari sedang menatapnya.
"Ayo.. bangun terus mandi udah siang kan abang juga harus sarapan.."
"Mandikan yah... "
Glek....
__ADS_1
Ais menelan ludahnya kasar mendengar sang suami ingin dimandikan, membayangkan nya saja sudah membuat Ais memanas. Sedangkan Aiman hanya terkekeh dalam hati melihat raut wajah sang istri yang berhasil dia kerjain.
"Ta.. tapi... "
"Mandikan. "
Tekan Aiman membuat Ais semakin salah tingkah. Apa harus Ais yang memandikan sang suami,kan malu. Walau memang waktu Ais sakit Aimanlah yang membantu Ais mandi itupun Ais berusaha sekuat tenaga menahan rasa malu yang luar biasa.
"Ba.. baiklah... "
Pasrah Ais membuat Aiman menyunggingkan senyum kecil bahkan Ais sendiri tak melihatnya. Dengan hati-hati Ais memapah Aiman untuk bangun karna takut rasa pusingnya masih ada.
Deg....
Ais hanya mematung mencium aroma maskulin yang meruak keindra penciumannya.Bukankah baru bangun tidur, kenapa badannya sudah wangi, pikir Ais bingung.
Tapi Ais menggelengkan kepala mungkin Ais sudah salah mencium mana khas bangun tidur dan sudah mandi. Membuat Ais berjalan memapah lagi Aiman menuju kamar mandi.
Grep....
"Ahhh.... "
Jerit Ais melotot kaget tetkala Aiman dengan ringannya mengangkat tubuh Ais ,membuat Ais langsung repleks mengalungkan kedua tangannya keleher Aiman.
Senyum indah terpancar di bibir Aiman, melihat gemas raut wajah terkejut sang istri.
"Panggil H-U-B-B-Y Khumairo jika kita berdua, hemmmz... "
Tekan Aiman menatap gemas sang istri yang masih mengerjap-ngerjapkan matanya.
Buk.....
"Ngeselinnnnn"
Cemberut Ais sambil memukul dada bidang Aiman yang sudah berhasil mengerjai dirinya, tingkah Ais malah membuat Aiman semakin terkekeh saja, bukan merasa sakit tetkala tangan mungil itu memukul-mukul dadanya.
"Ha.. ha... sudah khumairo.."
"Tidak. "
Cup....
Deg.....
__ADS_1