
Entah sampai berapa kali Ais melihat ponselnya berharap sang suami mengabarinya, tapi tidak ada satupun pesan atau telepon dari sang suami membuat Ais kian cemas.
Bahkan ditelponpun ponsel sang suami selalu berada dalam jangkaun.
Sudah satu hari Ais menunggu membuat rasa cemas kian meruak menduga-duga apa yang terjadi pada anak dan suaminya.
Kegelisahannya tak bisa Ais sembunyikan, setiap menit Ais hanya duduk di depan rumah berharap anak dan sang suami pulang dengan keadaan baik-baik saja.
Air dan Mona yang melihat keadaan Ais hanya bisa menghela nafas pasrah, walau bagai manapun sikap Ais yang keras kepala sangat sulit untuk dijinakan.
Air tau apa yang dirasakan sang kakak, tapi Air juga merasa bersalah pada Aiman karna tak bisa menjaga kakaknya sendiri.
Ais hanya melamun dengan pikirannya sendiri kadang tidak mau makan,yang Ais inginkan hanya suami dan putranya.
Bujuk rayu sudah Mona dan Air keluarkan tapi tidak bisa menggoyahkan hati Ais, membuat Air bingung harus bagai mana lagi! .
Terpaan angis memukul-mukul wajah pucat Ais yang hanya diam di atas kursi menatap kearah gerbang berharap sang suami datang.
"Teteh mau membunuh anak teteh! "
Deg...
Ais terlonjat kaget mendengar suara dingin sang Abi yang menatapnya tajam. Ais hanya diam sambil menunduk dengan tangan mengelus perutnya yang sudah membuncit.
" Gugurkan saja anak itu! "
"Ap.. apa yang Abi ka.. katakan.. "
Ucap Ais terkejut dengan apa yang sang abi ucapkan, sungguh kata-kata sang abi membuat dada Ais nyeri.
"Minum obat ini cepat untuk menggugurkannya. "
"Hentikan Abi, apa yang abi katakan ! Teteh tidak mau meminum obat laknat itu! . "
Teriak Ais sambil berdiri dan mundur menjauh dari sang Abi yang menatapnya datar. Ais memeluk perutnya berusaha melindungi anaknya dari sang Abi.
"Kenapa Teteh tidak mau menggugurkan baby itu! "
"Dia baby Teteh, buah cinta teteh dan abang, tidak teteh tidak mau mengugurkannya . Abi jahat.. "
Teriak Ais semakin mundur sambil memeluk erat butuhnya sendiri, Ais seakan ketakutan dengan apa yang sang abi katakan.
"Terus kenapa teteh membiarkan baby itu kelaparan, sama saja teteh mau membunuhnya ! "
__ADS_1
Jderr....
Ais langsung terdiam mendengar ucapan sang abi yang begitu menusuk hatinya. Cairan bening lolos begitu saja dipelupuk mata Ais dengan tubuh gemetar.
Grep...
Abi Azam perlahan menarik sang putri kedalam pelukannya membuat Ais semakin gemetar dengan isak tangis yang begitu memilukan.
"Sedih boleh! Itu manusiawi ,tapi ingat terlarut-larut dalam kesedihan tidak baik.Jangan jadikan kesedihan teteh menjadi lupa jika ada nyawa yang harus teteh jaga. Yakinlah Aiman dan Fatih akan pulang dengan selamat, tugas teteh hanya mendoakan saja. Makanlah, ada satu nyawa yang harus teteh kewatirkan dan jaga juga. "
Ucap Abi Azam melembut sambil mengusap kepala putri manjanya dengan sayang.
"Ingat! Libatkan Allah dalam segala urusan agar Allah mempermudah jalan Teteh, jangan pernah jadikan Syethan menjadi pemenang disetiap kesulitan yang teteh hadapi. Allah maha tau apa yang akan terjadi pada keluarga teteh selanjutnya, berdoalah supaya Allah mempermudah ujian-ujian yang dia berikan pada teteh. "
"Yasudah sekarang makan ,dari siang teteh belum makan dan sekarang sudah malam kalau nanti ada apa-apa sama baby pasti Aiman akan merasa bersalah jika pulang nanti melihat teteh sakit begini.. "
"Aaaa.... "
Ais tersenyum melihat tingkah adik kembarnya yang entak dari mana sudah berjongkok sambil mengulurkan tangan yang sedang memegang sendok makan.
"Tangan adek pegel nih... "
Hap...
Ais langsung melahap makanan yang sang adik berikan, walau rasa makanan itu terasa asing di lidah Ais tapi Ais berusaha menelannya karna tidak mau melihat sang adik dan sang abi kecewa.
"Sekarang minum susunya.. "
Glek...
Ais mmelotot melihat adik ifarnya menyodorkan segelas susu ibu hamil, dengan ragu Ais mengambilnya dan meminumnya.
Prang...
"Astagfirullah haladzim...."
Ais langsung memegang dadanya entah kenapa perasaannya tidak enak, sehingga tangan Ais terasa gemetar dan gelas yang Ais pegang terjatuh. Apa yang terjadi pada suami dan putranya ?.
" Abi apa yang terjadi sama Abang dan Fatih! kenapa perasaan teteh tidak enak? "
Ucap Ais gemetar dengan dada yang begitu sesak, perasaan macam apa itu! apa benar sang suami dan sang putra dalam bahaya? .
Abi Azam dengan cepat langsung menarik sang putri kedalam pelukannya memberikan ketenangan pada sang putri yang mulai terisak.
__ADS_1
"Ya Allah berikanlah kekuatan, kesabaran pada putri hamba untuk melewati semua ujian yang kau berikan. Jangan jadikan ujian ini membuat putri hamba jauh darimu, sungguh hamba tidak sanggup jika harus melihatnya terpuruk kembali apa lagi sampai lupa kepada-Mu. Bingbinglah putri hamba supaya terus dijalan-mu "
Amin...
Jerit batin abi Azam menatap sendu sang putri yang yang baru saja tertidur karna kelelahan dari tadi menangis.
Tapi isakan kecil masih terdengar di bibir Ais walau mata Ais sudah terpejam,dengan bibir yang terus memanggil-manggil nama sang suami dan putranya.
Hati ayah yang mana yang akan tega melihat putrinya seperti itu, abi Azam langsung menyeka air matanya yang sempat jatuh.Tak henti-hentinya Allah menguji sang putri dengan berbeda bentuk ujian. Abi Azam hanya bisa mengingatkan dan menasehati sang putri karna takut jiwa sang putri terguncang seperti dulu.
Mona yang melihat itu merasa berdenyut, wanita yang dulu selalu Mona benci dengan kesempurnaannya tapi bibalik itu semua ternyata Ais menyimpan sebuah kepedihan.
Senyuman itu hanya topeng untuk menutupi luka yang terus mengores hati Ais, dan yang paling Mona tak percaya ternyata Ais hampir saja terganggu mentalnya.
Sungguh ternyata beban yang Mona pikul selama ini tak sebanding dengan apa yang Ais rasakan.
Tak terasa cairan bening begitu saja lolos dari pelupuk matanya.
" Allah ternyata lebih sayang pada Teteh hingga tak henti-hentinya Allah menguji kesabaran teteh. Wanita yang selalu menebarkan senyum padahal itu hanya kebohongan. Dia wanita kedua yang membuat Mas jatuh cinta, bukan parasnya saja yang cantik tapi hatinya begitu lembut sama seperti Umi yang selalu mengajarkan Mas apa itu cinta. Jangan cemburu jika Mas lebih mencintai Teteh dibanding Adek, karna teteh adalah jalan pertama yang menyadarkan Mas cinta yang lain. "
"Maksudnya! "
Tanya Mona bingung sambil menghapus cairan bening yang tadi sempat keluar. Mona menatap sang suami yang berdiri disampingnya dengan tangan melingkar indah dipinggang ramping Mona. Air hanya tersenyum melihat kebingungan sang istri.
"Teteh adalah orang pertama yang menyadarkan Mas kalau Mas sudah jatuh cinta pada adek ,waktu pertama kali Mas melihat Adek membantu tuna netra menyebrang jalan. Waktu itu Mas pulang dari butik tak sengaja melihat adek, disitu ada perasaan aneh yang entah apa ! Sampai debaran itu semakin kuat ketika adek terus mendekat tapi Mas berusaha menjauh karna Mas tau kita berbeda! "
"Keyakinan! "
"Iya. Tapi Mas besyukur karna Allah mengembalikan lagi orang yang sudah mengusik hati Mas. "
"Siapa ? "
Air tersenyum melihat kepolosan sang istri yang tidak mengerti arah pembicaraannya.Padahal dari tadi dirinyalah yang dibahas.
"Istri Mas.. "
Bluss.... .
.
.
**Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa Like, Komen, Hadiah, dan Vote ya he.. he..
Terimakasih**....