Takdir Illahi 2

Takdir Illahi 2
Epesode 20


__ADS_3

Sangat sakit ketika kita menyakiti orang yang sangat kita cintai.


Sungguh bukan maksud dia menyakiti tapi apalah daya. Dengan sekuat tenaga dia hanya bisa menahan gejolak di dada yang tidak bisa ia pendam.


Dia menyandarkan punggungnya di balik tembok dengan air mata yang keluar begitu saja.


"Ma.. maaf... "


Lilir Air menyesal dengan apa yang dia lakukan tapi apalah daya Air tidak mau rasa itu semakin besar hingga tak bisa menembusnya karna ada benteng besar yang menghalang.


"Bisa pingsan juga Queen songong.. "


"Ya elah.. dia juga manusia kali... "


"Mungkin gara-gara di tolak sama Airumi.. "


"Yah secara Airumi kan sholeh masa iya dapet yang kaya gitu..."


Deg...


Air menegang di tempat mendengar orang -orang membicarakan Mona apalagi sampai pingsan.


"Ya Allah apa yang hamba lakukan"


Sesal Air langsung berlari ke arah kantin lagi dengan dada yang bergemuruh kalau terjadi sesuatu pada Mona Air tidak akan memaafkan dirinya sendiri.


Sesekali Air menabrak mahasiswa lain tapi Air tidak menghiraukannya yang ada dalam pikirannya sekarang hanya bayangan Mona yang menatapnya sayu dengan sakit yang teramat.


Duarrr.....


Air terlonjat kaget tetkala tak ada satupun orang yang membantu hanya ada kepanikan Mawar dan Melati yang meminta tolong.Yang paling Air kagetkan ketika melihat wajah Mona yang pucat, bibir membiru dengan hidung yang mengeluarkan darah.


Grep....


Air langsung menggendong Mona tanpa peduli dengan yang lain dan langsung membawa Mona pergi membuat Mawar dan Melati terkejut dengan kedatangan Air yang tiba-tiba.


"Kalian manusia atau apa hah.. kenapa tak membantunya, sungguh manusia tak berguna.. "


Bentak Air menyala menatap tajam semua orang .


Mawar dan Melati langsung mengejar langkah kaki Air yang mulai menjauh.


"Masuk mobil... "


Air memasukan Mona kedalam Mobil dan langsung mengambil kemudi dengan Melati yang menyerahkan kuncinya sedangkan Mawar duduk di belakang memeluk tubuh Mona yang semakin dingin.


Brummm....


Mobil melaju dengan cepat membelah jalan yang begitu ramai oleh kendaraan lain. Raut wajah kewatir tak bisa Air sembunyikan dengan pikiran kelutnya.


"Kalau terjadi apa-apa sama Mona kamu orang yang harus tanggung jawab AIRUMi... "

__ADS_1


Tekan Mawar menyala dengan kekewatiran yang mendalam, dia tak bisa memaafkan dirinya sendiri kalau terjadi apa-apa pada sahabatnya.


"Ha.. ha... kenapa kau mengkewatirkannya jika kau menyakitinya.. "


"Dasar berengsekkk"


Grek....


Melati menelan ludahnya kasar tetkala mendapat tatapan membunuh dari Air. Sedangkan mata Air dari tadi sesekali melihat Mona dari kaca spion depan.


Hingga mobilpun berhenti di sebuah rumah sakit Khusus keluarga Khoer.


"Dok.. dokterrr... tolong... "


Teriak Air sambil menggendong Mona membuat perawat dan Dokter langsung menghampiri Air.


"Lewat sini tuan.. "


Ucap salah satu dokter sambil memberi jalan masuk ke ruang ICU.


"Selamatkan dia dok... "


"Maaf tuan anda harus keluar... "


Dengan berat hati Air keluar menatap nanar Mona yang sedang di tangani dokter dan perawat lainnya.


Hingga pandangan Air terhalang karna pintu ruangan sudah di tutup oleh salah satu perawat.


Suasana hening yang mencengkram dengan pikirannya masing-masing. Ingin rasanya Mawar dan Melati menghakimi Air tapi mereka tidak berani apa lagi Air tadi memberinya tatapan membunuh membuat nyali Mawar dan Melati menciut.


"Ini.... "


Ucap Mawar hati-hati memberikan kembali baber bag yang sempat Air kembalikan dengan kasar. Dengan gemetar Air mengambil baber bag itu lagi yang memang tidak Air lihat sama sekali isinya apa? .


"Mona membeli barang itu butuh perjuangan hingga dia hik... "


Sungguh sakit jika Harus mengingat kejadiaan satu minggu yang lalu.


"Di.. dia berebutan dengan orang lain hanya ingin mendapatkan barang itu, hi.. hingga... di... dia jatuh pingsan karna dorongan orang itu membuat penyakitnya kambuh lagi . Melihat Mona pingsan orang itu menyerahkan barangnya untuk Mona karna merasa bersalah sampai Mona pingsan.. "


"Mona bilang mungkin itu barang terakhir kalinya dia akan memberikannya pada mu.. "


"Sa.. sakit apa dia? "


"Kanker otak dan lemah jantung... "


Deg...


Air memejamkan kedua matanya erat, bagai mana mungkin Air tak menyadarinya padahal Mona memang sering kesakitan tapi bodohnya Air tak peduli, Air pikir itu hanyalah bualan.


Brak....

__ADS_1


Dokter keluar dengan wajah paniknya membuat Air terlonjat kaget begitupun Mawar dan Melati.


"Pasien semakin keritis kankernya sudah menjalar tahap tiga harus segera melakukan oprasi jika tidak kankernya akan sangat berbahaya apa lagi jantungnya begitu lemah"


Mawar dan Melati saling pandang bingung apa yang harus di lakukan membuat Air merasa ada yang aneh.


"Kami hanya butuh persetujuaan dari pihak keluarga "


"Lakukan saja dok saya yang bertanggung jawab"


Duar...


Melati dan Mawar terlojat kaget dengan apa yang Air ucapkan, bagai mana mungkin Air membuat keputusan yang sangat besar.


"Ta.. tapi kami butuh keluarganya yang menandatangi surat ini.. "


"Saya suaminya maka lakukanlah... "


"Baik"


Dokter kembali lagi kedalam ruang ICU dan tak lama Mona di dorong keluar menuju ruang oprasi .Sudah banyak alat yang menempel di tubuh Mona membuat Air begitu sakit.


"Apa yang kau lakukan Air.Bi..bisa-bisanya kau... "


"Itu oprasi,bagai mana mungkin kau membuat keputusan sebesar itu. "


"Dan kau mengaku sebagai suaminya ha.. ha... sangat lucu sekaliii.... "


Mawar menatap sinis Air dan menertawakan sikap peduli Air,yang sok dia disini yang paling kewatir saja. Cih... membuat Mawar muak akan sikap Air.


"Terus apa hah... apa kalian hanya akan diam saja dengan keadaan Mona "


"Dari tadi kalian mencoba menghubungi kedua orang tuanya tapi tak ada satupun yang mengangkat telepon kalian... "


"Terus kita harus menunggu sedangkan keadaan genting begini "


Teriak Air perustasi sambil mengacak-ngacak rambutnya membuat Mawar dan Melati terdiam yang dikatakan Air memang ada benarnya.


Sendari kecil memang Mona kurang perhatiaan dari kedua orang tuanya yang sangat sibuk dengan pekerjaannya masing-masing hingga Mona menjelma menjadi sosok yang sombong dan angkuh. Tapi di balik itu semua Mona hanya manusia lemah dan pesakitan yang membutuhkan kasih sayang dan cinta dari kedua orang tuanya.


Bukan seperti Air yang dari kecil sudah mendapatkan kasih sayang dan cinta dari kedua orang tuanya.


Hanya Mawar dan Melatilah yang selalu menemani Mona, di saat-saat keadaan terpuruk.


Inikah keadaan Mona yang sesungguhnya, dia tak jauh,hanyalah gadis malang yang bersembunyi di balik topeng keangkuhan.


Terkadang apa yang kita lihat belum tentu yang sebenarnya terjadi ,hanya saja kita sering lupa bahwa manusia tak ada yang sempurna jika kita menilai orang lain dari sisi buruknya saja.


Coba lihatlah sedikit sisi baiknya pasti kita akan berpikir 'Dia lebih sempurna dari pada kita,lihatlah...dia begitu baik dan lembut'.


Hingga kita tersadar bahwa diri kitalah yang belum menjadi manusia baik dan sempurna. Karen kesempurnaan hanyalah milik Allah Subhanahu Wata'ala.

__ADS_1


__ADS_2