Takdir Illahi 2

Takdir Illahi 2
Epesode 76 Mema'afkan


__ADS_3

Rasa bahagia tak bisa dijabarkan oleh kata bahkan Syair indahpun tak bisa mengungkapnya.


Sebahagia apa yang dirasakan Ais mendapatkan kasih sayang dan cinta dari sang suami. Bahkan ada baby Fatih yang menghiasi kebahagiaan keluarga kecil mereka.


Tapi diantara bahagia terselip rasa bingung yang berputar dikepala Ais, Mendengar permintaan sang suami.


Haruskan Ais menyetujui ajakan sang suami atau menolaknya tapi Ais tak punya keberanian sebesar itu.


Bagai mana mungkin Ais harus pergi jauh dari sang Umi,itu tidak mungkin.Walau Ais tau masih ada Airumi dan Adam yang nanti akan menjaga sang Umi tapi Ais belum siap jika harus berbeda Negara dengan sang Umi.


Perintah suami adalah hal yang harus seorang istri patuhi jika perintah itu demi kebaikan bersama,Ais paham itu tapi hatinya sungguh berat.


Walau Ais tau sang suami tidak memintanya sekarang,sang suami hanya mengungkapkan keinginannya apalagi ada tanggung jawab yang lebih besar yang harus Aiman hadapi.


Puk...


"Hey.. ada apa? "


Tanya Ani sambil menepuk pundak Ais lembut lalu duduk disisi sahabatnya. Membuat Ais tersenyum lalu menatap lurus kedepan lagi.


Dari kemaren memang Ais sudah pulang dari Puncak dan sekarang Ais sedang menikmati suasana sore hari ditaman belakang rumahnya. Sedangkan baby Fatih sedang tidur karna tadi terlalu asik bermain hingga melewatkan tidur siangnya.


"Apa kamu masih marah.."


Ucap Ani kembali takut sang sahabat masih marah pada dirinya karna dari tiga hari yang lalu ketika Ani menjelaskan semuanya Ais belum bertegur sapa dengan Ani walau mereka satu atap.


Ani merasa lega ketika sang sahabat menggeleng tapi masih ada rasa takut dihati Ani kalau Ais masih marah pada dirinya karna Ais masih diam tak kunjung bicara.


"Apa Ak..aku harus pergi.."


"Hah.."


Pekik Ani terkejut, Apa yang sang sahabatnya katakan.Per..pergi..pergi kemana,Pikir Ani takut.


"Aiman memintaku Tinggal di Turki,Tapi aku bingung.."


Lilir Ais membuat Ani sekarang paham apa yang membuat sahabatnya itu gundah.


"Aku percaya kamu bisa menyelesaikan masalah itu, Aku paham siapa kamu. Apapun keputusanmu aku akan selalu mendukung."


"Tapi Aku tak mau semakin jauh dengan Umi,Kamu tau itu.."


"Dan aku yakin Umi pasti akan mendukung suami-Mu.."


"Ck.."


Kesal Ais karna Ani selalu saja bercanda didalam situasi serius itu,tapi Ais tau kalau yang dikatakan Ani memang benar.


"Emang kenapa Aiman memintamu tinggal di Turki? "


"Suamiku diberi tugas yang sangat besar oleh Ayah Ilham,menggantikannya Memegang Rs disana.."

__ADS_1


"Wow..itu sangat keren...Ternyata seorang Aisyah Khoer El-qolayuby istrinya seorang Kepala Rs.Bahkan Dosen dan Pembisnis,sungguh prestasi yang sangat luar biasa.."


"Hey Aku serius..."


"Ha..ha..memang aku bercanda.."


"Dasar..."


Ha..ha...


Mereka berdua tertawa lepas dengan kekonyolan dan candaan Ani membuat Ais tampak bisa melupakan sedikit kegundahannya.


Ani merasa behagia bisa melihat tawa sang sahabat kembali,sudah berapa lama tawa itu menghilang bak ditelan bumi dan tawa itu akhirnya bisa kembali Ani dengar.


Tampa Ani sadari cairan bening keluar begitu saja dipelupuk matanya membuat Ais memberhentikan tawanya dan menatap rumit wajah Ani.


"Kenapa Menangis.."


"Eh..Emmz gak ko.."


Gugup Ani sambil meraba pipinya dan benar saja kedua pipinya sudah basah oleh air mata.Ah..kenapa kau cengeng Ani,batin Ani.


Ais hanya tersenyum melihat kegugupan sahabatnya,Ais paham betul apa yang membuat air mata sahabatnya keluar.Perlahan Ais merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum menatap sayang pada Ani.


"Kemarilah.."


Grep..


"Ma'afkan sikapku selama ini,Aku sudah melukaimu.Sungguh aku menyayangimu lebih dari sahabat,kau saudara perempuan satu-satunya bagiku.Jangan mengulangi hal bodoh itu lagi,maka Aku akan lebih sangat sakit."


"Ma..ma'afkan Aku yang bodoh ini.Ma'af..Ak..aku janji tak akan mengulanginya lagi hik..hik.."


"Maka berjanjilah, apapun yang terjadi jadikan Aku orang yang pertama yang tau itu.Maka aku akan merasa bahagia jika aku bisa melindungi dan membantu..."


Ucap lembut Ais sambil menghapus air mata yang terus keluar dari mata Ani.Ani hanya mengangguk saja dan kembali memeluk tubuh Ais.Pelukan hangat sang sahabat yang begitu Ani rindukan kini Ani rasakan kembali.


"Ta..tapi Aku tetap tak mengijinkanmu bersama dengan Andi."


Deg...


Seketika tubuh Ani menegang sambil memejamkan kedua matanya menahan gejolak rindu yang meruak.


"Aku ak..akan melakukannya.."


Ucap Ani mantap walau ada sedikit keraguaan disetiap kalimatnya,Ais hanya tersenyum saja mendengar jawaban Ani.


"Selamat atas apa yang kamu capai,Semoga butik kamu menjadi butik yang disukai semua yang membelinya he..he.."


Canda Ais membuat Ani seketika melepas pelukannya dan menatap heran sahabatnya yang tersenyum simpul.Bagai mana Ais bisa tau kalau dirinya membuka butik,Perasaan Ani sendiri belum memberitahu Ais? Kenapa Ais bisa tau? Siapa yang memberitahukannya.Padahal Om Azam dan tante Rahma juga tidak tau tentang itu,pikir Ani bingung.


"Kenapa bengong Hemmz..Ma'af aku gak bisa menemani kamu keacara peresmian butik A&A.Tadinya aku akan memberi kejutan tapi ternyata suamiku dulu yang mengajakku pergi.."

__ADS_1


Sesal Ais merasa bersalah, Ais memang sudah merencanakan kejutan itu dari lama tapi sang suami selalu dadakan jika mengajaknya keluar.


Sebenarnya Ais tau apa yang selalu Ani lakukan,bekerja keras membantu sang Abi diperusahaan dan disamping itu Ani juga berusaha ingin mewujudkan keinginan orang tuanya untuk membangun kembali Butik A&A yang sempat bangkrut ditambah lagi Skrifsi yang harus Ani kerjakan.


Tapi Ais bangga Ani bisa mewujudkannya satu persatu dari mulai selesai Skrifsi dan dia sudah dinyatakan lulus sekarang dia pokus membangun impiannya sendiri menjadi Perancang yang hebat.


"Ba..bagai mana kamu bi..bisa tau!! "


"Kamu lupa siapa Abi.."


Glek...


Ani menelan ludahnya kasar,bagai mana bisa Ani melupakan itu.Kalau memang Om Azam selalu menyuruh seseorang membantu apa yang Ani butuhkan tampa Ani ketahui.


Karna Om Azam tau Ani seorang wanita pekerja keras tampa mau meminta bantuan pada siapapun yang bisa Azam lakukan hanya memantau saja.


"Ter..terimakasih..."


Lilir Ani gemetar kembali memeluk Ais membuat Ais tersenyum haru sahabatnya itu sudah sukses tinggal dirinya yang banyak ketinggalan.


Dari kejauhan seseorang menangis haru melihat kebersamaan Ani dan Ais yang kembali akur seperti biasa.


Tak ada rasa sedih seorang ibu kecuali melihat anak-anaknya berjauhan,walau bagai manapun disini tak tau siapa yang harus disalahkan.Semuanya hanya Takdir Illahi yang sudah ditetapkan ketika kita berusia Empat Bulan masih didalam Alam Rahim.


"Bolehkah Umi ikut bergabung.."


Deg...


"Umiii...."


"Tante..."


.


.


.


Bersambung....


.


.


.


Jangan lupa Like,Komen,dan Vote


Terimakasih...


Semoga kalain suka dengan karya Athor ya he..he.. yang masih berantakan...

__ADS_1


__ADS_2