
Semakin hari perut Ais semakin membuncit dan tak terasa sekarang kehamilannya sudah menginjak delapan bulan sebentar lagi mau melahirkan.
Ada rasa takut dan cemas dalam hati Ais apa dia akan melahirkan secara Normal atau Sesar dua-duanya membuat Ais cemas.
Dengan perut buncit itu Ais sering kesulitan untuk berjalan apa lagi duduk, harus dengan hati-hati dan pelan. Terkadang dengan siaga Aiman selalu membantu sang istri. Ada rasa iba melihat sang istri yang sering kesusahan berjalan atau beraktifitas lainnya.
Tapi itulah kodrat seorang wanita, Nikmatnya hamil dan mengidam tak pernah bisa di jabarkan oleh kata. Apa lagi melahirkan seorang ibu mempertaruhkan nyawanya hanya demi kehidupan baru. Tapi ketika Malaikat kecilnya sudah keluar di situ kebahagiaan seorang ibu tak bisa dijabarkan oleh kata.
Membuat Ais ingin melahirkan secara normal, Ais ingin merasakan bagai mana perjuangan seorang ibu melahirkan. Apa Uminya juga sama merasakan kesakitan dan kebahagiaan yang bersamaan. Ais tak bisa membayangkannya.
"Emmz... ma'af Nak, ada nona Emely yang memaksa ingin bertemu.. "
Deg...
Ais terlonjat kaget dari lamunannya membuat bi Sumi merasa bersalah karna sudah mengganggu nona Mudanya.
"Pak Muh dan Badar sudah melarang tapi Nona Emely mengancam akan berteriak... "
Ais hanya menghela nafas berat, kenapa wanita satu itu selalu mengganggu ketenangan hidupnya, kalau Aku tidak dalam hamil besar sudah Aku lempar dia ketong sampah, pikir Ais jengah.
"Tidak apa-apa Bi, biar Ais menemuinya. Ais ingin tau apa yang akan dia lakukan.. "
"Ta.. "
Belum sempat bi Sumi menyelesaikan ucapannya Ais sudah melangkah pergi dengan hati-hati karna sedikit sulit untuk berjalan.
"Cepetan panggil majikan kalian.. "
"Hey.. jangan pegang-pegang.... "
"Ma'af Nona tapi anda tak diijinkan masuk... "
"Sialan kalian,Lepasss..."
Bentak Emely memberota membuat Pak Muh teros waspada.
"Pak Muh lepaskan.. "
Suara lembun seorang wanita mengalun indah di telinga pak Muh membuat pak Muh dan Badar berbalik.
"Ta.. tapi Tuan tak mengijinkan wanita ini masuk Nak.. "
"Biarkan.. "
Pak Muh dan Badar dengan ragu melepaskan cengkramannya dan memberi jalan pada wanita ular itu.
"Cih dasar brengsek.. "
Umpat Emely mendorong pak Muh dan Badar lalu berjalan menuju Ais yang masih berdiri di teras rumah di belakang ada bi Sumi yang setia berdiri karna takut terjadi apa-apa.
"Apa kabar Mrs. Mahmued.. "
Sapa Emely membuat Ais tersenyum saja.
"Silahkan duduk... "
"What... "
Pekik Emely membulatkan mata, bagai mana mungkin Ais menyuruh Emely duduk di kursi depan rumah dan tidak sama sekali menyuruhnya masuk.
__ADS_1
"Beginikah cara memperlakukan tamu, Ck. sangat tak sopan "
Kesal Emely mendudukan bokongnya dengan kasar di kursi depan Ais karna sendari tadi Ais sudah duduk duluan. Ais terus saja tersenyum akan umpatan kekesalan wanita di depannya.
"Tak sopan mana seseorang memaksa masuk kerumah orang lain. "
Glek...
Emely terdiam karna tak bisa menjawab ucapan Ais, ternyata dia bisa melawan,batin Emely kesal.
"Aku kesini ingin bernegosiasi, Ijinkan Aiman menikah lagi. "
Lancang Emely tak tau malu membuat Ais mengepalkan tangannya erat di bawah meja, sekuat tenaga Ais berusaha tenang tak terpancing dengan omongan wanita tak waras di depannya.
"Silahkan saja.. "
Jawab santai Ais membuat bi Sumi nampak heran dengan jawaban Nona Mudanya.
"Bagus, kamu harus nyadar diri Aiman itu gak cocok sama kamu. Wanita manja dan menyusahka, lihat tubuhmu tak sebagus dulu pasti Aiman akan membutuhkan tubuh yang Seksi dan masih segel gak kaya kamu yang sudah tak berbentuk lagi. Ck.. san.... "
"Tapi Jika S-U-A-M-I S-A-Y-A mau, Ck...Ck... tapi kayanya gak mungkin.. "
Potong Ais tersenyum penuh arti membuat Emely terdiam. Ternyata apa yang di bilang Andi benar Emely salah orang untuk bisa menjatuhkan lawan. Ternyata Ais tak sebodoh dan semanja yang di lihat ada sisi lain dibalik sikaf manjanya, Emely bisa merasakan aura itu.
"Silahkan pergi jika tidak ada keperluan lain.. "
Tegas Ais sambil berdiri menyeringai membuat Emely menatap tajam Ais dengan mata yang sudah memerah. Emely tak terima jika harus di permalukan.Seorang Emely menjungjung tinggi harga dirinya dia harus menang bukan kalah.
"Hey... Saya belum selesai bicara, berikan Aiman padaku kalau tidak.. "
"Apa? apa yang akan kau lakukan.. "
Sedangkan Aiman nampak kewatir dan panik mendengar kabar dari pak Muh kalau Emely memaksa bertemu dengan sang istri.
Aiman takut terjadi apa-apa pada sang istri karna Aiman tau bagai mana sikap Emely jika sudah terobsesi dengan sesuatu.
Dengan tergesa -gesa Aiman langsung pulang tadinya Aiman ingin memberikan kejutan pada sang istri tapi nyatanya Aiman sendiri yang terkejut.
"Ah.. sial... "
Bentak Aiman memukul setir mobil karna jalan begitu mecet tak biasanya.
"Astagfirullah.. sabar Aiman.. sabar... "
Ucap Aiman mengelus dadanya, hatinya semakin tak tenang takut Emely nekad melakukan sesuatu pada sang istri apa lagi Ais lagi hamil besar.
"Saya bilang omongan kita belum selesai.. "
Teriak Emely menghalangi langkah Ais membuat Ais kesal setengah mati menghadapi wanita gila di depannya.
Sedangkan pak Muh dan Badar mendekat karna takut terjadi apa-apa sama nona Mudanya begitupun bi Sumi.
Tapi dengan cepat Ais melambaikan tangan mengisyaratkan supaya pak Muh dan Badar diam di tempat.
"Saya sudah katakan tadi, silahkan jika Anda ingin suami saya,jika memang dia menginginkan anda.. "
"Hey.. gue mau loe yang lepasin Aiman.. "
Kesal Emely karna Ais tak terlihat takut padanya. Emely berjalan mendekati Ais sambil menyeringai membuat Ais waspada.Apalagi perutnya dari tadi sudah keram.
__ADS_1
"Jika loe gak mau lepasin, maka siapapun gak boleh ada yang memiliki Aiman... "
Bentak Emely mencengkal erat lengan Ais membuat Ais kesakitan.
"Lepas dasar wanita gila.. "
"Yah Aku gila karna mencintai Aiman ha.. ha... "
"Dan kau sudah menghancurkan harapanku maka Aku juga akan menghancurkan harapan mu... "
Bruk....
"Awww..."
"Nona... "
Jerit bi Sumi ,pak Muh dan Badar terkejut melihat nona Mudanya di dorong.
Plak.....
"Apa yang kau lakukan Emelyyyy.... "
Bentak Aiman menatap tajam Emely dada Aiman bergemuruh dengan nafas yang naik turun.
Sangat terkejut melihat Emely mendorong kuat sang istri membuat Aiman dengan cepat turun dari mobil.
"Jika terjadi apa-apa pada istriku maka jangan harap kau bisa bernafas.. "
Tekan Aiman mendorong kuat Emely lalu langsung berlari menuju sang istri.
"Khu.. khumairo... sayang.... "
"Ah... By sa.. sakit perut Ais hik... By.. sakit... "
Deg...
Aiman langsung melotot tetkala melihat darah yang keluar, dengan cepat Aiman menggendong sang istri membawanya kerumah sakit.
"Sa.. sakit By.. sakit.. hik.. hik... "
"Sabar.. ya... Hubby yakin Khumairo kuat... "
Emely masih mematung tak percaya dengan apa yang Aiman lakukan, Aiman berani menamparnya di depan orang lain, Ha.. ha... sakit tapi gak apa-apa yang penting istrinya itu mati, batin Emely penuh kebencian.
Hati Emely sudah tertutupi dengan rasa cemburu membuat dia tak bisa berpikir dengan jernih.
Sedangkan pak Muh, Badar dan bi Sumi masih diam seakan mereka tersihir oleh keadaan masih diam mematung.
Bahkan Aiman dan Ais sudah tidak ada lagi di depan mata mereka.
.
.
.
Ha.. ha.. maaf yah sedikit berbelit...
tapi semoga kalian suka...
__ADS_1
jangan lupa like, komen dan votenya ok