
"Sayang apa tidak apa-apa kalau Fatih dibawa? "
"Yah gak apa-apa lah By.. "
"Hubby hanya takut Fatih di sana kepanasan dan gak nyaman..."
"Semoga saja gak apa-apa.. "
Aiman hanya menghela nafas pelan lalu pokus kembali menyetir dengan kecepatan sedang. Sesekali Aiman melirik sang istri dan sang putra yang nampak asik melihat keluar jendela mobil menikmati pepohonan di sepanjang jalan.
Ada rasa lega karna baby Fatih sepertinya menyukai setiap perjalanan melewati pepohonan dan suasana nampak asri.
Perjalanan satu jam setengah membuat Aiman sedikit lelah dengan pelan Aiman memarkirkan mobilnya di samping mobil sang mertua.
Riuh para santri dan wali murid begitu nyaring dipendengaran dengan suara hadroh yang dari tadi sudah terdengar.
Hari ini dimana hari pelulusan Adam Khoer Al-qolayuby melepas masa SMA nya menuju kejengjang lebih tinggi lagi.
Azam, Rahma dan Airumi sudah duluan masuk kearea Aula yang sudah di sediakan dimana disitu tempat sungkeman dan pelulusan bagi siswa dan siswi kelas VII.
Sedangkan Aiman membantu sang istri dulu menggendong sang putra yang nampak suka dengan suasana ramai.
"Sayang kita keendalem dulu yah bertemu sama pak Kiayi dan para Ustadz dan Ustadzah. .. "
"Iya By.. "
Aiman langsung menggandeng sang istri memasuki gedung yang berbeda dimana tempat para guru berkumpul. Bagai manapun Aiman sempat mengajar di Pesantren dan sekolah XXX jadi Aiman hanya ingin bersilatuhrahmi dan meminta do'a dan restu pak Kiayi karna waktu Aiman nikah belum sempat memberi tau orang-orang pondok.
"Assalamualaikum.. "
"Waalaikumsalam.. "
Serempak orang-orang yang ada di dalam sambil berbalik kearah pintu siapa yang mengucapkan salam. Tak lama mata mereka berbinar melihat siapa yang datang.
"Bagai mana kabar Ustadz dan Ustadzah... "
Ucap Aiman tersenyum ramah pada semuanya membuat seseorang yang duduk di pojok menunduk saja.
"Alhamdulillah..kami semua baik Ustadz, bagai mana kabar ente katanya sudah menikah? "
Ucap ustadz Farhan sobat karib Aiman waktu mengajar.
"Alhamdulillah sudah, Afwan (Ma'af) waktu itu tidak sempat mengundang karna acara dadakan.. "
"Tidak apa-apa ustadz kami mengerti,istrinya mana kok gak di kenalkan.. "
Timpal Ustadz Ali yang paling tua diantara ustadz-ustadz yang lain. Sedangkan para Ustadzah hanya ikut nimbrung saja tampa ikut berbicara karna tau bagai mana sifat Aiman akan berubah dingin jika berhadapan dengan lawan jenis.
Berbeda dengan seseorang yang dari tadi meremas baju gamisnya karna menahan sesak di dada.
"Istri saya lagi ketoilet sebentar mungkin sebentar lagi kesini.. "
"Iya.. iya... ustadz tau tidak, pernikahan ustadz itu membuat para ustadzah-ustadzah patah hati palagi para santriawati he.. he.. "
"Itulah takdir illahi kalau jodoh ustadz Aiman bukan di sini.. "
"Semoga pernikahan ustadz sakinah, mawadan dan warohmah.. "
"Aminnn. "
__ADS_1
Balas Aiman yang dari tadi hanya tersenyum saja, walau Aiman sedikit merasa tidak enak hati apa lagi sang istri tak kunjung datang membuat Aiman sedikit cemas.
Sesekali menimpali ucapan teman-temannya yang bercanda sewaktu masih ada Aiman mengajar.
"Assalamualaikum... "
Yang tadinya riuh oleh gelak tawa menjadi hening seketika mendengar suara indah mengalun mengucapkan salam.
Aiman langsung tersenyum melihat siapa yang datang lalu berdiri dari duduknya menghampiri sang istri.
"Sayang kok lama banget.. "
"Ma'af tadi Fatih habis buang air besar.. "
"Yasudah ayo masuk.. "
"Gak enak By.. "
"Gak apa-apa kan ada Hubby.. "
Para ustadz dan ustadzah memerhatikan Aiman dan seorang wanita yang sedang berbisik lalu Aiman menggandeng lembut tangan wanita tersebut membawanya kedalam.
Sedangkan Ais hanya menunduk saja karna tidak biasa bertemu orang baru.
"Perkenalkan ini istri saya namanya Aisyah Khoer El-qolayuby saudaranya Adam.. "
Ucap Aiman memperkenalkan sang istri membuat Ais hanya tersenyum saja lalu duduk di sisi Aiman. Semua orang bisa melihat betapa Aiman sangat mencintai sang istri terlihat dari sorot mata dan sikaf Aiman yang ditunjukan pada sang istri.
Sedangkan para ustadz nampak antusias menggendong anak dari karibnya yang menurut mereka begitu istimewa.
Ais sedikit risih dengan tatapan salah satu dari ustadzah yang dari tadi mencuri-curi pandang kepada sang suami dan menatap remeh pada dirinya.
Celetuk salah satu ustadzah sambil tersenyum pada Ais.
"Ustadz Aiman ini dulu ustadz yang di kagumi para kaum hawa.. "
"Sudah ganteng, cerdas dan tanggung jawab lagi... "
Timpal Ustadz Ali yang memang dulu ingin sekali menjodohkan Aiman pada salah satu putrinya.
Ais hanya diam saja sesekali tersenyum mendengar sang suami di puji-puji, sedangkan Aiman malah merasa tak enak pada sang istri.
" Bahkan dulu pak Kiyai mengajukan lamaran pada ustadz Aiman untuk ustadzah Hana.. "
"Iya tapi mereka gak jodoh... "
"Buktinya Bak ini yang beruntung... "
"Bukan istri saya yang beruntung tapi saya yang beruntung mendapatkan bidadari seperti dirinya.. "
Potong Aiman menggenggam tangan sang istri lembut membuat Ais terharu akan ucapan sang suami padahal dari tadi Ais menahan kekesalannya.
"Wah ustadz Aiman kelihatan begitu mencintai istrinya..."
"Kalian begitu cocok sekali.. "
"Ngomong-ngomong Bak-nya keluaran dari pondok mana ?"
Aiman dan sang istri langsung diam mereka saling pandang.
__ADS_1
"Ma'af saya tidak pernah mondok. "
Ucap Ais lembut membuat semuanya diam tapi tidak dengan seseorang yang menatap remeh Ais.
"Harusnya ustadz Aiman menikah dengan yang mondok itu akan jauh lebih cocok lagi,kiraiin Baknya keluaran pondok.. "
Deg...
Ais seketika diam dengan penuturan salah satu ustadzah yang dari tadi membuatnya risi,sekuat tenaga Ais menahan amarahnya. Harga dirinya seperti diinjak-injak.
Begitupun Aiman terperangah mendengar penuturan tadi,Aiman tak terima jika sang istri di sudutkan.
Ais melihat sang suami yang tersulut emosi mengisyaratkan akan diam. Suasana ruangan yang tadinya hangat nampak dingin dan janggung.
"Emang kenapa kalau saya bukan dari pondok? "
"Ustadz Aiman kan pintar ilmu agam akan jauh lebih mangfaat ilmunya jika menikah dengan yang mondok kembali jadi bisa mengamalkannya pada para santri.. "
"Seperti Ustadzah.. "
Jderr...
Semua orang terperanjat kaget dengan ucapan santai Ais, bahkan suasana semakin tak terkendali saja.
"Iya memang kenapa ? harusnya ustadz Aiman menikah dengan saya bukan Bak.. "
"Saya jauh lebih baik dari pada bak yang mengenal dunia bebas.. "
"Bukannya orang yang baik itu dia orang yang selalu menerima takdir dari sang maha pencipta ! "
"Maksud Bak saya tidak tau ketetapan Allah,Bak tau apa tentang hukum agama ngaji saja tidak "
Uncap ustadzah Hana remeh dengan perasaan yang tersulut emosi, dadanya terbakar api kecemburuan karna orang yang selama ini dia sukai malah menikah dengan orang lain.
"Saya memang orang awam dari agama tapi saya tau takdir. Jika ustadzah tau hukum Allah kenapa tidak bisa menerima takdir bahwa seorang Aiman Mahmued bukan jodoh ustadzah.. "
"Maaf ustadazah yang terhormat. Ingat bahwa manusia yang menganggap dirinya lebih baik dari orang lain maka sesungguhnya dialah orang yang lebih buruk... "
"Jangan berbicara tentang pantas dan tidak pantasnya seseorang bersanding.Jika agama masih di dalil tapi dirinya sendiri tak pernah tau apa itu agama. Jika ustadzah orang yang mondok harusnya tau bahwa takdir adalah sebuah ketetapan Allah yang harus kita terima dengan sabar dan ikhlas,kenapa harus marah dan tidak terima...."
Duarrrr.....
"Sungguh istriku yang manis... "
.
.
Bersambung....
.
.
Tegang gak??
Jangan lupa like, komen dan vote nya kalau suka sama ceritanya....
Terimakasih...
__ADS_1