
Ais nampak merasa marah,kesal dan geram melihat wajah sang suami yang babak belur akibat pukulan dari Andi.
Sungguh Ais marah, bagaimana tidak marah jika Andi menyalahkan sang suami atas kematian ibunya.
Di selimuti rasa kesal karna Ais tak bisa membantu apa lagi sang Abi menjegah dirinya untuk masuk kedalam.
Ais tidak habis pikir dengan yang sang Abi lakukan hanya diam tak mau membantu dan malah mencegah dirinya masuk.
Ingin rasanya Ais perotes tapi Ais tidak berani karna sang Abi yang sudah angkat bicara. Bahkan ketika Ais ingin meminta bantuan kembarannya sang Abi menatap tajam Air untuk diam.
Hingga Ais hanya pasrah saja walau dalam hatinya menggerutu, Aiman adalah suaminya bagai mana mungkin Ais membiarkan sang suami di Fitnah.
Tapi Apalah daya Ais tidak bisa berbuat banyak hanya duduk di atas kursi roda dengan hati yang begitu sakit.
"Aw.. sayang pelan-pelan "
Ucap Aiman meringis karna sang istri menekan luka di sudut bibirnya. Ais hanya diam saja dengan amarah dan rasa kesal kenapa sang suami tidak melawan.
"Sayang, Andi hanya sedang emosi.. "
"Tapi kenapa harus wajah Hubby hik.. "
Ucap Ais gemetar menahan tangis sendari tadi dan akhirnya keluar juga. Aiman merasa bersalah pada sang istri sudah membuat dirinya bersedih.
"Ais.. ber.. berusaha mengendalikan se.. sesuatu yang sakit By... ta.. tapi kenapa tak bisa ! Bahkan di.. dia melukai hubby.. "
Deg...
Aiman terhenyak lupa akan troma sang istri yang masih ada, Bodoh.. bodoh.. kenapa Aiman malah lupa kan hal sebesar itu. Aiman menarik kepala sang istri masuk medalam pelukannya dengan cengkraman Ais yang menguat. Keringat dingin bermunculan membuat Aiman sungguh merasa bersalah.
"Ma.. ma'afkan Hubby, Sayang. Ma'af.. "
Ucap Aiman sambil mengecup kepala sang istri, Aiman paham tak mudah bagi sang istri mengendalikan rasa takutnya hingga kesehatannya kembali terguncang .
Apalagi dengan kedatangan Bagas kerumah sakit membuat Troma Ais kembali hadir.Sungguh Aiman dibuat kagum dengan apa yang sang istri lakukan beberapa jam yang lalu.
Dimana Ais mendengar apa yang Andi katakan pada sang Abi, membuat hati Ais terenyuh bercampur marah dan takut menjadi satu membuat Aiman berusaha menenangkan sang istri.
Hingga suasana menjadi hening dengan tatapan lulus Ais kedepan, Andi hanya pasrah mendengar penolakan Ais untuk mengeluarkan Bagas di penjara.
Sampai-sampai Andi bersujud dihadapan Ais merendahkan dirinya sendiri membuat semua orang tercengang termasuk Vina yang masih bingung melihat keadaan didepan matanya.
Andi rela melakukan apa saja asalkan sang Mamah selamat.
Tapi tatapan benci masih terkobar di bola mata Ais yang di selimuti rasa kasihan melihat Vina yang sedang berdiri didekat sang Abi dengan cairan bening yang terus keluar di pelupuk matanya.
"Sa.. sayang.. "
__ADS_1
Panggil Aiman sambil berjongkok di samping sang istri memegang erat lengan Ais yang gemetar . Ais masih diam membatu dengan tatapan yang masih mengunci bola mata Vina yang memancarkan kesedihan.
Pergolakan batin dan ego terus menghantui Ais membuat Ais berusaha mengendalikan perasaannya dengan genggaman sang suami yang menguat.
"Ais mengijinkan.. "
"Ter.. terimakasih.. Ai.. ais. Ter.. terimakasih.. hik.. "
Lilir Andi menghapus air matanya yang keluar sambil menatap bahagia pada Ais karna sudah mengijinkan Bagas keluar, semoga dengan itu Mamahnya bisa sembuh.
"Ta.. tapi dengan satu syarat. "
Deg...
Senyum Andi seketika menghilang,menatap lulus Ais yang nampak serius membuat Andi mengangguk cepat apapun akan Andi lakukan asalakan sang Mamah bisa sembuh dan kembali ceria lagi.
"Ap.. apapun akan Aku lakukan..."
"Jauhi ANNI. "
Jderrrr...
Seketika Andi tercekat dengan langkah mundur menggeleng, kalau syarat yang Ais berikan begitu berat baginya. Bagai mana mungkin Andi melepaskan cintanya. Tapi Andi juga tak mau kehilangan sang Mamah.
Ani hanya diam dengan tatapan sendu melihat kearah sahabatnya yang tak sedikitpun menatap dirinya. Jika ini bisa membuat kamu mema'afkan ku. Aku ikhlas melepasnya Ais, jangan marah lagi Aku tak sanggup, jerit batin Ani tertahan semakin mempererat pelukannya pada Amera karna mungkin selanjutnya dirinya tak akan bertemu Amera lagi.
Sedangkan Azam dan Aiman hanya diam dengan tatapannya sendiri mendengar apa yang Ais katakan. Azam faham apa maksud dibalik ucapan putrinya yang penuh makna dibalik kata-kata itu sambil menatap Anni yang hanya diam tak bergeming. Jangan takut, itu yang terbaik untuk mu saat ini, batin Azam melihat Ani begitupun Ani melirik Om-nya yang sudah Ani anggap Abinya sendiri.
"Sa.. sayang ja.. "
"Ak.. aku... Ak.. "
"Itu keputusan-Mu jangan harap Ais akan merubahnya. "
Ucap Ais tegas membuat Aiman melemah tak bisa berbuat apa-apa jika sang istri mulai menjadi macan betina.
Rasanya tenggorokan Andi tercekat sangat sulit untuk menjawab, jawaban yang dua-duanya sangatlah menyakitkan.
"Ba.. baiklah.. "
Lilir Andi gemetar sambil menatap Ani penuh luka dan Ma'af ,Tak ada pilihan lagi.Ma'afkan Aku ,aku janji akan memperjuangkanmu dikemudian hari tapi bukan sekarang. Ja.. jangan marah dan membenciku aku mohon,Itulah kata-kata yang Andi ucapkan lewat tatapan lukanya membuat Ani hanya menunduk saja sambil meremas ujung jilbabnya mendengar jawaban Andi .
Sedangkan Ais menyunggingkan senyum penuh arti, siapapun tidak ada yang melihatnya bahwa Ais tersenyum sambil memundurkan kursi rodanya membuat Aiman dengan cepat mendorong sang Istri menjauh.
Aiman tau sang istri tidak sedang baik-baik saja, terlihat dari keringat dingin yang dari tadi bercucuran dengan tangan yang menggenggam tangannya erat.
Aiman memberhentikan dorongannya di sebelah lorong ruang ICU, perlahan berjalan kehadapan sang istri yang mulai terguncang tubuhnya oleh getaran tangis.
__ADS_1
"Menangislah... Jangan takut... Hubby ada disini.. "
Ucap Aiman lembut berjongkok sambil membenamkan wajah sang istri di dada bidangnya.
Seketika tangisan Ais semakin pecah mencengkram erat jas sang suami, Hati Aiman begitu pilu mendengar tangisan sang istri yang begitu menahan sesak.
"Ai.. ais ja.. jahat By.. Ais... ja.. jahat... "
Ucap Ais sesegrukan membuat Aiman semakin mempererat pelukannya dengan lembut karna takut menekan luka di kaki kanan sang istri.
"Semua akan baik-baik saja, percaya sama Hubby.... "
Lilir Aiman sungguh sakit mendengar tangisan pilu sang istri, Aiman tau sang istri tidak bermaksud memisahkan cinta sahabatnya sendiri. Aiman faham ada sesuatu dibalik kata-kata yang sang istri ucapkan.
"Ternyata putri manja Abi sedang berada di pase kedewasaan.. Abi bangga padamu, Nak.Terus jadilah putri Abi yang kuat.. "
Gumam Azam tersenyum melihat putrinya yang sedang meluapkan sebuah emosi dan rasa sakit di pelukan hangat menantunya.
Puk...
Azam menepuk pundak seseorang yang berdiri di sebelahnya yang sama sedang menatap Ais dan Aiman yang sedang memberikan rasa tenang.
Perlahan menghapus air matanya yang keluar ada perasaan lega, bersalah dan kagum menyelimuti hati orang itu yang terus menatap kebersamaan Ais dan Aiman.
"Semoga kamu paham apa yang Om katakan tadi, Ais hanya berusaha menjaga sudaranya.. "
.
.
.
.
Bersambung...
.
.
Jangan lupa like, komen dan vote ya..
Terimakasih...
"Faham Om, Dan terimakasih.. "
Ucap seseorang itu tersenyum melihat kepergian Azam.
__ADS_1
Flas Back Off....