
Aiman begitu prustasi karna sang istri enggan untuk berbicara padanya apalagi menatap dirinya.
Sudah tiga hari ini Aiman terus uring-uringan karna sang istri terus marah padanya walau Ais tak berkata apapun tapi Aiman paham diamnya sang istri bentuk dari rasa marah dan kecewanya.
Sekuat apapun Aiman menjelaskan Ais tetap bungkam tak mau bicara, walau semua kewajiban sebagai istri Ais terus melayani tapi bibir mungil itu enggan untuk berkata.
Dan yang membuat Aiman frustasi lagi Emely terus mengejarnya sampai-sampai bekerja di rumah sakit yang sama.
Bahkan Aiman tidak tahu harus berbuat apa lagi menyakinkan sang istri bahwa dirinya tidak ada hubungan apapun dengan Emely.
'Emely hanya Aiman anggap saudara tidaklah lebih karna Emely anak dari dosen Aiman sekaligus saudara Ayah yang jauh'. Tegas Aiman tapi tetap saja Ais tak merespon apapun, bibirnya hanya rapat dengan tatapan sendu dan kecewa yang Ais berikan membuat Aiman dilanda kesesakan.
"Khumairo, Hubby berangkat kerja dulu.. "
Pamit Aiman sambil mencium puncak kepala sang istri kemudian Ais mencium punggung tangan Aiman.
"Percayalah.. dari dulu di hati Hubby hanya ada satu nama yaitu Aisyah khoer el-qolayuby.. "
Tegas Aiman sambil masuk kedalam mobil dan langsung melajukannya.
Ais menatap kepergian sang suami dengan hati yang begitu sesak dan perih.
"Semoga yang Hubby katakan benar.. "
Lilir Ais langsung masuk kembali kedalam rumah dan menutup pintu rapat-rapat.Baru mau hampir tiga bulan pernikahan Ais dan Aiman bisa dikatakan masih seumuran jagung dengan hangat-hangatnya kebahagiaan dan ungkapan cinta tapi nyatanya cinta dan kesetiaan mereka diuji.
Jujur. Ais begitu merindukan Aiman tapi rasa kesal dan kecewa lebih mendominasi membuat Ais enggan untuk berbicara walau hatinya begitu meronta-ronta ingin mendekap sang suami.
Ais sengaja bungkam hanya ingin menenangkan hatinya, Ais takut jika bicara akan kebablasan meluapkan emosi yang akan merugikan dirinya sendiri jadi Ais memilih diam.
Bukannya Ais tak percaya akan penjelasan sang suami hanya saja kehamilannya membuat suasana hatinya berubah-ubah setiap detiknya.
Sampai saat ini Ais kembali kekamar untuk tidur kembali tapi rasa rindu dekapan sang suami begitu menggebu di dada Ais. Bagai mana tidak , sudah tiga hari Ais tidak mengijinkan sang suami tidur satu ranjang dengannya walau hatinya ingin di peluk.
Terkadang Ais berkata tidak tapi nyatanya hatinya berkata 'ya'.
"Sayang... kamu kangen Baba yah.. "
"Sama. Ummah juga kangen... "
Gumam Ais sambil meringkuk di bawah selimut kedua matanya tak mau terpenjam karna wajah sang suami terus terlintas dalam pikiran Ais.
"Apa baby pergi kerumah sakit Baba bekerja... "
Gumam Ais lagi hingga langsung menyibak selimutnya.
Rasa rindu itu begitu menggebu hingga Ais mengesampingkan egonya karna rasa itu begitu menyesakan.
"Baiklah kita akan baikan sama Baba yah baby semoga apa yang Baba ucapkan adalah kebenaran.. "
Gumam Ais sambil mengusap perutnya yang masih rata dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Nak kenapa masak, biar bibi aja nanti Tuan marah.. "
__ADS_1
Cegah bi Sumi yang kaget baru masuk dari pintu belakang sehabis menyiram bunga.
" Gak papah bi, Tuan juga gak akan tau... "
"Ta... "
"Ais hanya ingin mengantarkan makan siang buat suami.. "
Potong Ais sambil terus cekatan memasak tampa menghiraukan bi Sumi yang tak enak hati.
"Ya sudah kalau mau kamu Nak, tapi boleh bibi bantu? "
Pasrah bi Sumi sambil menawarkan akan bantuaan.
"No, Bi. Ais ingin menyelesaikannya sendiri.. "
Tegas Ais membuat bi Sumi hanya menghela nafas pelan pasrah saja apalagi Ais memang keras kepala di tambah dengan hormon kehamilan yang membuat Ais berubah-ubah.Kadang diam, merajuk,dan manja. ph
Dengan hati yang berdebar Ais sudah tekadkan bahwa akan menerima penjelasan sang suami, apa lagi kehamilannya membuat Ais sesak jika harus terus bersikap acuh terhadap sang suami.
"Pak Muh tolong anter Ais ke rumah sakit tempat Tuan bekerja.. "
Pak Muh hanya diam akan ucapan nona mudanya, apa nona sudah baikan, pikir pak Muh lalu tersenyum membuat Ais menyerngit heran.
"Baik, Non.. "
"Nak,Pak. "
Tekan Ais membuat pak Muh tersenyum saja.
Ais tersenyum menikmati pemandangan di luar jendela mobil, pikirannya terbayang bagai mana reaksi sang suami jika dirinya tiba-tiba datang dan memberikan kejutan. Pasti sang suami akan kaget, membayangkan wajah kaget sang suami membuat Ais tersenyum sendiri membuat pak Muh hanya menggelengkan kepala melihat tingkah nona mudanya.
" Ingat waktu muda.. "
Batin pak Muh sesekali melihat nona muda yang terus saja memancarkan kebahagiaan.
Pak Muh memarkirkan mobilnya membuat Ais langsung buru-buru turun dengan cepat.
"Terimakasih pak, Bapak boleh pulang lagi. Entar Ais pulang sama tuan.. "
"Siap Nak, semoga berhasil... "
Ais hanya tersenyum saja dan mengangguk lalu masuk kedalam berjalan menuju repsesionis.
"Ma'af Bak, ruangan dokter Aiman dimana yah? "
Tanya Ais pada sang repsesionis dengan ramah.
"Sebelah kanan Bak, terus lurus pintu kedua.. "
"Oh iya, terimakasih Bak. "
"Sama-sama... "
__ADS_1
Ais langsung melangkahkan kedua kakinya menelusuri kolidor dengan arahan sang repsesionis.
"Keluar Emely... "
Tekan Aiman geram karna Emely dari tadi terus mengganggu istirahatnya. Tapi sayang Emely terus saja merapatkan diri pada Aiman walau dari tadi Aiman terus menghindar.
"Seni seviyorum neden beni reddediyorsun ( Aku mencintaimu.Kenapa kamu terus menolak Aku). "
" Ne dediğinizin farkında değilsiniz. Ben zaten I-S-T-R-I'im var. (Kamu sadar gak sih dengan apa yang kamu katakan. Aku udah punya I-S-T-R-I). "
" Umurumda değil(Aku gak peduli )"
" Deli Olma (Jangan gila) "
Teriak Aiman prustasi, tangannya mengepal erat karna emosi dengan tatapan tajamnya. Rasanya Aiman ingin menyeret paksa Emely dari ruangannya tapi Aiman berusaha berpikir yang ada malah ada kegaduhan.
"Sudah lama Aku menginginkanmu, Jadikan Aku istri keduamu "
"Ka.... "
Prang....
Lelehan bening begitu saja keluar tampa diminta , dadanya begitu sakit dan sesak mendengar apa yang barusan Ais dengar.
Baru Ais ingin menerima semua penjelasan sang suami tapi nyatanya rasa kecewa itu semakin bertambah membuat Ais semakin sesak.
Ternyata yang selama ini Aiman katakan hanya kebohongan, supaya membuat Ais tenang.
Tapi hari ini Ais melihat dengan mata kepala sendiri sang suami memegang pundak wanita itu. Sesak, itulah yang Ais rasakan bahkan itu lebih sakit.
Hubungan yang masih panas sedikit dingin tapi sayang kembali meledak membuat bara Api itu semakin panas dan menyesakan.
Aiman yang mendengar suara nyaring membuatnya langsung berbalik.
Deg...
Kedua matanya langsung membulat tetkala melihat siapa yang sedang berdiri di depan pintu ruangannya .
Hatinya begitu mencelos melihat tatapan sang istri yang menatapnya penuh kekecewaan dan amarah di tambah cairan bening sudah membanjiri kedua pipi Ais.
"Khu... khumairo... "
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Gimana suka gak???
jangan lupa like, komen, vote yah....