
Tok... tok....
Ketukan pintu membuat seseorang terlonjat kaget dari lamunannya.
Ia menghela nafas pelan dan meletakan photo yang sendari tadi ia pegang di atas naskah.
Cklek.....
Pintu itu terbuka perlahan nampaknya berdiri bi Sumi di depan pintu dengan raut wajah panik.
"Non... emm... Nak... "
"Ada apa Bi ? "
Potong Ais sedikit terkejut dengan raut wajah panik bi Sumi yang tidak seperti biasanya.
"It.. itu..Tu.. Tuan.... "
"Iya kenapa dengan Tuan ? "
"Coba Bibi tenang dulu, baru bicara "
Ucap lembut Ais sambil mengelus punggung bi Sumi yang sudah Ais anggap ibunya sendiri.Elusan yang Ais berikan membuat bi Sumi sedikit tenang.
"Tu.. tuan dari malam, pagi dan siang tadi belum sarapan Nak, sekarang masih belum keluar kamar. Bibi takut terjadi sesuatu... "
Jderrr....
Ais terlonjat kaget dengan tatapan sendunya, bagai mana bisa Ais melupakan kewajibannya mengurus sang suami.
Apapun yang terjadi diantara mereka Ais tak pernah sedikitpun melewatkan kewajibannya mengurus sang suami. Tapi lihatlah yang Ais perbuat ! dia melupakannya.
Berdosa kah Ais ?
Rasa sakit itu membuat Ais seakan lupa semuanya.
Dengan langkah cepat Ais turun kebawah dengan dada yang bergemuruh.
Walau Ais kecewa, sakit dan marah Ais tetap peduli pada Aiman, walau bagai manapun Aiman adalah suaminya.
Ais tau posisi dirinya siapa tapi Ais juga tak akan melupakan kewajibannya sebagai seorang istri walau hatinya begitu memberonta ingin mencarcih dan memaki Aiman.
Ais juga hanya manusia biasa yang punya amarah yang sekali-kali akan meledak. Itulah kenapa Ais kalau marah hanya diam ! karna Ais tak mau marahnya dia menjadikan bibirnya menghancurkan semuanya.
Tapi sekarang Ais berusaha membuang egonya sendiri,walau jauh di dalam hati Ais dia begitu kewatir.
Brak....
Ais menerobos masuk dengan dada yang bergemuruh takut terjadi apa-apa pada sang suami.
Seketika Ais terdiam melihat Aiman yang sedang meringkup di bawah selimut, wajahnya terlihat nampak gelisah dan menahan sakit.
Perlahan Ais berjalan mendekati ranjang dengan gemetar Ais memegang pipi sang suami.
"Bang..... "
Deg....
Seketika mata Ais membulat merasakan bahwa sang suami deman. Dengan cepat Ais menyingkap selimut memeriksa tubuh Aiman.
Hati Ais terenyuh melihat apa yang sang suami dekap dengan erat,apa lagi Aiman masih menggunakan baju sama terakhir kali Ais lihat kemaren.
__ADS_1
Ais mengambil sebuah photo yang di dekap sang suami dengan gemetar, cairan bening dari tadi sudah membasahi pipinya tampa permisi.
Dengan pelan dan penuh kasih sayang Ais membuka baju sang suami yang basa karna keringat. Tangan lentik Ais begitu cekatan mengganti pakayan Aiman dan mengelap tubuh Aiman dengan linangan air mata.
Dadanya sangat sakit sekali melihat keadaan sang suami apa lagi dari tadi bibir Aiman tak henti - hentinya memanggil nama nya.
Membuat hati Ais jadi bingbang, apa benar suaminya menghianatinya ? atau memang itu hanya kesalah pahaman ? .
Hati Ais begitu sakit atas penghianatan tapi Ais juga sakit melihat keadaan dang suami yang begitu pucat dengan bibir yang terus mengigau.
"Khumairo... khu.. khumairo... "
Aiman terus saja memanggil nama sang istri membuat Ais terenyuh, dengan lembut Ais menghapus air mata yang keluar di mata Aiman walau mata itu masih terpejam.
"Hu.. hubyy... "
"Khumairo.... "
"By... "
Lilir Ais gemetar tak kuat melihat keadaan sang suami yang seperti tak tau arah terus mengigau.
Ais terus mengompres kening sang suami perlahan naik keatas ranjang. Dengan hati-hati Ais menarik sang suami kedalam pelukannya.
Grep....
Aiman memeluk erat tubuh sang istri dengan mata masih terpejam dengan bibir yang dari tadi terus mengigau.
"Khumairo... "
"Jangan tinggalkan Hubby... ma'afkan Hubby...."
"Ma'af... "
"Semoga apa yang Hu.. hubby ucapkan kebenaran bukan kebohongan, jika itu terjadi maka Ais akan sangat hancur By... "
Lilir Ais gemetar hatinya menjadi campur aduk. Rasa sakit, kecewa, sedih dan marah menjadi satu mengoyak hati Ais hingga Ais bingung siapa yang salah di sini.
Sudah dua jam Ais berada di posisi seperti itu mendekap erat sang suami hingga keadaan sang suami lebih baik dari pada tadi.
Perlahan Ais bangun karna sebentar lagi adzan magrib berkumandang.
Grep...
Aiman kembali memeluk sang istri, karna merasa sang istri akan menjauh dari dirinya.
"Jangan pergi... "
Gumam pelan Aiman tapi masih terdengar jelas di telinga Ais.
Perlahan bulu mata lentik itu mengerjap membuka kedua matanya.Aiman sedikit mendongkak keatas melihat wajah sang istri karna posisi kepala Aiman berada di dada sang istri.
Mata mereka saling bertemu mengunci satu sama lain, pancaran cinta begitu jelas dari tatapan keduanya, tak lama kedua mata Ais berkaca-kaca sungguh Ais tak sanggup jika harus membayang tatapan penuh cinta sang suami buat wanita lain.
"Jangan menangis.. ma'afkan Hubby.... "
Lilir Aiman menghapus air mata sang istri lembut.
"Wallahi (Demi Allah ) Hubby tak pernah menghianati pernikahan dan cinta kita,Tak pernah Khu.. khumairo... "
"Percayalah... "
__ADS_1
Ucap Aiman lembut sambil menarik sang istri kedalam pelukannya, lalu mencium puncak kepala sang istri dengan kasih sayang.
Aia hanya diam dengan air mata yang terus mengalir tak henti-henti membuat tubuh Ais gemetar.
Tok... tok...
Suara ketukan pintu mengganggu lamunan dua manusia yang sedang berpelukan dari tadi.
Tok.. Tok...
Ketukan itu terus terdengar membuat Ais bangun.
"By... "
"Jangan pergi... "
"Itu dari tadi pintu di ketuk, mungkin bi Sumi sudah beres membuat bubur. Ais mau ambil dulu.. Hubby harus makan... "
Dengan tak lera Aiman melepaskan sang istri, Ais hanya mengengus kesal saja dengan tingkah sang suami.
Perlahan Ais membuka pintu, benar saja bi Sumi sedang berdiri di depan pintu.
"Ma'af Nak,mengganggu .Tapi ada tamu nyariin "
Ais menyerngit heran siapa yang bertamu petang-petang begini apa lagi adzan magrib sudah terdengar.
Seketika mata Ais membulat dengan dada yang sesak. Apa wanita itu, ? batin Ais menggeleng.
"Nak... "
Ais langsung tersentak kaget membuat Ais menormalkan detak jantungnya yang bergemuruh. Apa Aiman memberitau wanita itu kalau dirinya sakit, pikur Ais sesak.
"Ap.. apa orangnya kelihatan bule.. "
Lagi-lagi dada Ais sesak tetkala bi Sumi hanya mengangguk saja, membuat dugaan Ais semakin besar bahwa tamunya mungkin wanita itu.
Dengan perasaan tak tenang Ais berjalan keruang tamu ,tangannya mengepal erat dengan dada yang terus bergemuruh.
Rasanya Ais tak ingin bertemu tapi Ais juga tau bahwa tamu wajib di hormati kalau tidak maka Ais berdosalah, Ais tak mau tambah dosa.
"Ma'af Non menunggu lama, ini Nona Muda sudah datang.. "
Ucap bi Sumi pada tamu, membuat tamu itu deg-degan rasanya hatinya tak karuan.Dengan keberaniaan tamu itu berdiri lalu berbalik.
Duarrr....
Bruk....
"Nonn... "
.
.
.
.
.
Gimana seru gak bacanya??
__ADS_1
jangan lupa like, komen dan votenya yah...
'Dukunganmu adalah semangatku' he.. he..