
"Maafkan paman, Nak. "
Lilir Alex menatap sendu keponakannya sendiri yang sedang berbaring diatas ranjang.
Aiman sempat pingsang karna kelelahan dan kekurangan darah akibat tembakan yang mengenai pundaknya ditambah lagi Aiman harus menyelesaikan oprasi sang bibi kurang lebih tujuh jam.
Tenaga Aiman benar-benar terkuras membuat Aiman kehilangan kesadarannya.
Sudah dua jam Aiman belum membuka matanya dengan setia Fatih menemani sang Baba dan memeluk lengannya.
Alexsander yang sendari tadi berdiri diambang pintu lalu menutup kembali pintu itu pelan, supaya tidak meninggalkan suara karna tak mau menganggu istirahat Aiman.
Rasa penyesalan begitu menggerogoti hatinya, karna sebuah ambisi membuat orang-orang terdekatnya menjadi korban.
Setelah melihat keadaan Aiman, Alex memutuskan langsung menuju ruangan khusus dimana sang istri berada.
Dengan pelan Alex melangkah mendekati sang istri yang berbaring diatas ranjang dengan selang infus yang menggantung di sampingnya.
"Maafkan Aku yang sudah menyakitimu dan membuat keponakan kita terluka. Aku tau kamu pasti marah jika melihat keponakan yang selalu kamu banggakan berbaring lemah karna ulahku. Dia sudah besar, Aiman sudah tumbuh menjadi sosok yang sempurna "
"Hikss... bangunlah sayang. Hukum Aku seberat-beratnya atas kesalahan yang aku perbuaat, aku tau ! perbuatanku tidak bisa dimaafkan. Aku janji aku tidak akan pernah mengulangi kesalahnku lagi, bangun lah hiks.. Ak.. aku merindukanmu.. "
"Tapi aku juka tidak akan pernah memaafkan keparat itu! Dia sudah membuat kamu berbaring belasan tahun dan membuat aku hampir gila. Aku akan menghancurkan hidupnya seperti keparat itu sudah membuatmu kesakitan.Jangan halangi aku dengan yang satu ini . "
Ucap sendu Alex menatap lembut sang istri yang mulai setabil keadaannya tapi sang istri masih belum membuka matanya karna mungkin epek obat. Tapi tatapan sendu itu berubah menjadi amarah mengingat siapa yang membuat sang istri jadi begini.
Sebuah racun mematikan dan bodohnya Alex tidak menyadari akan hal itu.Apa lagi obat yang selalu Alex mimum membuat Alex seakan tidak terkendali.
"Sungguh aku mencintaimu.. "
Cup...
Ucap Alex pelan sambil mengecup puncak kepala sang istri, kemudiaan Alex berdiri inginmeninggalkan ruangan sang istri. Alex hanya ingin menuntut penjelasan kenapa sanv Asisten tega melakukan hal itu padanya! apa alasannya? sungguh Alex tidak mengerti.
Orang yang begitu Alex percaya dan sudah Alex angga keluarga nyatanya malah menghianati dirinya.
"Sa.. sayang.. "
Deg...
Seketika langkah Alex berhenti tetkala Alex akan meninggalkan ruangan sang istri.Suara lemah itu mampuh merendam amarah Alex yang akan membuat perhitungan pada keparat itu.
Dengan gemetar Alex membalikan badannya hingga nyaris terjatuh melihat senyuman yang begitu Alex rindukan.
Senyuman yang membuat tenang jiwanya dan melayang entah kemana. Alex berjalan perlahan mendekati sang istri dengan mata masih tetap mengunci netra sang istri yang selalu memancarkan keteduhan sama seperti mata yang Aiman miliki.
"Be.. benarkah ini ! Apa aku sedang bermimpi? "
" Tidak.. "
"Oh Tuhan.. "
Grep...Alex langsung memeluk sang istri dan menghujani sang istri sebuah kecupan diseluruh wajahnya lalu Alex memeluk sang istri kembali.
"Apa kamu menangis.. "
"Hiks.. jangan meledek.. "
"Tidak! "
"Kau.. "
"Apa kamu akan memarahi istrimu yang baru sadar.. "
"Maaf.. "
Lilir Alex menatap sendu sang istri dengan air mata yang lolos begitu saja dari pelupuk matanya tampa Alex sadari.
Alex sungguh tak percaya bahwa dihadapannya adalah istrinya. Istri yang dulu Alex terantarkan hanya demi sebuah ambisi tapi sang istri tetap selalu setia dan sabar menghadapi keras hati Alex.
"Terimakasih sudah kembali.. "
__ADS_1
"Apa kau sangat mencintaiku.. "
"Iya . "
" Trus kenapa kau menelantarkanku! "
"Maaf.. "
"Mendekatlah.. "
Alex langsung mendekat tampa harus diperintah kembali hingga tubuhnya merapat kearah sang istri.
"Berbaringlah.. "
Dengan ragu Alex berbaring di sisi kanan sang istri dengan mata yang terus menatap lekat netra sang istri. Entah apa yang Cenlie inginkan.
Tak lama Cenlie ikut berbaring dengan selang infus yang sendari tadi dia cabut tampa Alex sadari.
Grep...
"Dulu aku selalu menunggumu setiap malam hanya ingin tidur seperti ini. Ingin merasakan dekapan hangat tubuhmu yang membuat aku tenang dan nyaman, tapi itu hanyalah angan. Terimakasih sudah kembali menjadi Alex yang aku kenal pertama kali kita bertemu dan saling mengungkap perasaan. "
Ucap pelan Cenlie sambil memeluk tubuh Alex yang terlentang.
Ucapan Cenlie bak belati yang menusuk hatinya, sakit! itu yang Alex rasakan. Hingga cairan bening kembali keluar di pelupuk mata keangkuhan itu.
Apa sesakit itu yang dulu kamu radakan, maafkan aku yang sudah membuat kamu menderita .Aku janji tidak akan mengulangi kesalahan untuk yang kedua kalinya jerit batin Alex perih.
"Maafkan aku.. "
Lilir Alex membalas dekapan sang istri tak kalah erat. Tangisan Cenlie langsung pecah dengan tangan yang terus mengeratkan pelukannya.
Tangisan sang istri justru membuat Alex panik takut dekapannya malah menyakiti sang istri.
" Jangan bergerak.. "
Ucap serak Cenlie ketika merasakan Alex akan bangun.
Jder...
Lagi-lagi Alex dibuat sesak mendengar setiap kata yang sang istri keluarkan, rasa penyesalan memang tak bisa dikembalikan tapi bolehkah Alex memperbaiki semuanya dari Nol.
Menjadi diri Alex yang begitu penyayang penuh kelembutan dan Cinta.
Jika Alex dan Cenlie saling memaafkan dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan lagi. Hingga pada akhirnya mereka memberikan kehangatan satu sama lain lewat pelukan yang sempat hilang.
Tapi tidak dengan Ais yang masih saja terus melamun menunggu kedatangan sang suami dan sang putra.
Perasaan gelisah dan takut kian mengerogoti hati Ais.Ais selalu bertanya-tanya pada dirinya sendiri kemana para penculik itu membawa sang putra.
Tapi tidak ada satu harapan yang Ais dapatkan bahkan sang Abi dan sang Adik juga terus berusaha mencari tapi hasilnya sama.
Tidak ada jejak kemana sang suami pergi mencari sang putra.Langkah apa yang harus Ais ambil! apa Ais harus tetap diam menunggu atau mencari? Ais jadi bingung sendiri .
Membuat hati Ais tak tenang apalagi Ais dadanya merasa sesak seperti merasakan kesakitan yang tak tau sebabnya.
__ADS_1
"Ya Allah dimana suami dan putra hamba, apa mereka baik-baik saja! Kemana hamba harus mencari? "Gumam Ais pelan sambil menatap bintang.
Rindu kian membuca tapi apa obatnya! untuk sekedar merendam rindu itu.
Hingga Ais teringat satu ruangan yang selalu membuat Ais penasaran tapi Ais tidak pernah masuk kedalamnya.
Dengan langkah cepat Ais kembali masuk kekamarnya menuju deretan tombol yang ada di dinding. Ais menekan salah satu tombol, seketika lemari pakain Ais berputar .Nampaklah ruang kerja sang suami, Ais langsung masuk dan mencari apakah ada petunjuk atau tidak.
Sudah satu jam Ais menelusuri ruang kerja sang suami tapi tidak menemukan hasil sama sekali,karna lelah Ais duduk dikursi yang selalu Aiman pakai.
"Suamiku adalah orang hebat tapi aku selalu tak tau sehebat apa dirinya,karna aku tak mau bertanya? Dia begitu tertutup dengan segudang prestasi."
Gumam Ais sambil berpikir,hingga Ais teringat sang suami setiap malam selalu sibuk tapi Ais tidak tau apa yang sang suami kerjakan, Ais hanya menemaninya saja itupun selalu ketiduran.
Hingga terbesit dalam pikiran Ais ingin membuka leptop yang sering sang suami gunakan.
Leptop Aiman langsung menyala, nampaklah poto pernikahan mereka yang menghiasi walfaper leptop sang suami.
Tapi Ais sedikit heran ada File yang masih ada belum dikembalikan, apa Aiman memang tak sempat mengembalikannya karna ketiduran atau terburu-buru.
Perlahan Ais mengklik File tersebut tak lama kedua mata Ais melotot tak percaya melihat isi File itu. Jantung Ais rasanya mau copot dari tempatnya.
" Pulau Enggano! "
.
.
.
Berambung....
Jangan lupa Hadiah, Like, Komen, dan Vote ya..
Terimakasih....
__ADS_1
Dukungan kalian adalah semangat Author he.. he..