
Mentari tersenyum malu-malu dibalik awan mengintip setiap orang yang mentari sinari, menghangatkan tubuh bagi orang-orang yang suka berolah raga dan berbagai aktifitas semua orang begitu padat dengan kesibukan masing-masing.
Dipadu keindahan alam sekitar dengan kicuan burung-burung yang begitu merdu satu sama sain saling menyahut, entah itu sapaan atau pujian pada yang maha pencipta yang sudah memberikan rizki pada seluruh makhluknya.
Hanya mereka dan hati-hati manusia yang tau urusannya masing-masing dengan sang pencipta.
Apa lagi Kota Bandung termasuk kota metro yang setiap hari begitu padat dengan kendaraan dan pejalan kaki. Setiap hari begitulah aktifitas manusia yang begitu sibuk.
Hingga hari berganti hari tak terasa bahwa keluarga Khoer satu putra mereka sudah terbang menuju impian yang Adam inginkan.
Begitupun Ais dan Aiman sudah pulang lagi kerumahnya membuat bi Sumi, pak Muh dan pak Badar senang akan kepulangan majikannya yang sudah satu bulan meninggalkan rumah.
Ais setiap hari akan disibukan mengurus sang putra yang mulai bisa berjalan dan bicara apa lagi Ais sangat bahagia pertama kali mendengar sang putra memanghilnya Ummah.
Kelincahan dan keaktifan Fatih semakin hari semakin pesat terkadang membuat Ais kewalahan tapi itu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Ais.
Sedangkan Aiman kembali di sibukan lagi dengan pekerjaannya yang semakin padat tapi sebisa mungkin Aiman meluangkan waktu untuk keluarga kecilnya.
Karna Aiman tidak mau kejadian beberapa bulan yang lalu membuat dirinya dan sang istri renggang menimbulkan rindu yang menggunung yang tak bisa diluapkan.
"Dok.. dokter Aiman.. "
Teriak seseorang memanggil Aiman membuat Aiman menoleh kebelakang.
"Ada apa.. "
Jawab datar Aiman seakan enggan bertemu orang itu.
"Ini bekel makan siang buat dokter.. "
"Terimakasih saya bawa sendiri.. "
"Ta.. ta... "
"Saya permisi.. "
Tegas Aiman berjalan keruangannya tampa melihat kebelakang lagi, akhir-akhir ini mahasiswi koas seringkali mendekati dan mencari perhatiaan Aiman membuat Aiman sangat jengkel dan marah tapi sebisa mungkin Aiman mengendalikannya.
Apalagi Aiman selalu terbayang wajah sang istri yang cemberut jika ada orang yang mengusik rumah tangganya, Aiman tidak bisa bayangkan marah dan merajuknya sang istri jika Ais mengetahuinya.
Padahal Aiman sebenarnya tidak membawa bekal itu hanya alasan Aiman saja supaya mahasiswi koas itu berhenti mengganggunya.
Rasa kesal dan jengkel terlihat diwajah ayu sang mahasiswi yang sering kali mendapat penolakan mentah-mentah dari Aiman. Bukannya kapok tapi gadis itu malah semakin merasa tertantang dengan sikap dingin dan cuek Aiman padanya selama ini.
Rumor beredar bahwa dokter Aiman sudah menikah membuat gadis itu bukannya menyerah tapi semakin menjadi karna tidak percaya dokter semuda Aiman sudah menikah. Gadis itu berpikir mungkin Aiman hanya ingin menghindarinya berpura-pura sudah menikah padahal belum, Ck. alasan tidak selepel.
"Sayang... "
"Eh By, lagi ngapain.. "
Ucap Ais yang sedikit heran mendapat panggilan dari sang suami padahal Aiman selalu tak ada waktu untuk menelepon.
"Wah jagoan Baba semakin pintar saja.. "
Celetuk Aiman bahagia melihat anak dan istrinya sendang bermain di taman belakang dengan banyak mainan yang berserakan.
"Baba.. ya.. ya.. "
__ADS_1
"Iya Nak, kangen yah sama baba.. "
"Ya.. ya.. ba.. mah.. "
Ketukan pintu membuat Aiman teralih melihat siapa yang masuk keruangannya.
"Hey bro makan siang yuk.. "
"Loe duluan aja... "
"Yasudah gue tunggu di tempat biasa..."
Ais begitu terkejut mendengar percakapan sang suami dengan seorang laki-laki di serbang telepon. Bagai mana mungkin Hubby melewatkan makan siangnya, istri macam apa kamu Ais. Dan Hubby lagi kenapa tidak makan? apa aku kesana saja nganterin makan siang sekalian bawa Fatih, batin Ais.
"Hubby tunggu Ais akan kesitu sama Fatih.. "
"Sayang.. hey.. sayang mau... "
Tut.. tut...
Sambungan telepon terputus membuat Aiman kaget akan ucapan sang istri yang akan kesini bersama sang putra.
Dan sang istri kenapa pergi tampa bertanya dulu apa Aiman mengijinkan atau tidak. Aiman hanya menggeleng kepala melihat tingkah sang istri yang keras kepala.
Pasrah saja, padahal Aiman sudah merasa perut keroncongan tapi kalau pergi bagai mana kalau sang istri benar datang pas dirinya tidak ada.
Pada akhirnya Aiman memilih menunggu kedatangan sang istri saja dan memberi tahu pada dokter Hakim yang tadi mengajaknya makan siang kalau dirinya tidak jadi.
Senyum manis terpancar di bibir Ais dengan kedua tangan yang sangat lihai memasak nasi goreng dengan toping sosis, basok dan beberbagai sayuran. Ais takut waktu makan siang sang suami malah kelewat jadi Ais memutuskan memasak nasi goreng saja yang simpel.
"Pak Muh tolong antar Ais ke rumah sakit tempat tuan bekerja.. "
Baby Fatih begitu antusias di gendongan sang Ummah mendengar bahwa akan beryemu sang baba.
"Fatih tak sabar yah bertemu sama Baba.. "
"Baba.. ba..Um. ummah.. mah.. "
"Iya sayang sebentar lagi kita sampai.. "
Celetuk Ais sambil tersenyum melihat tingkah sang putra yang menggemaskan melihat keluar jendela.
Tak lama mobil yang membawa Ais sudah sampai di parkiran rumah sakit.
"Alhamdulillah sudah sampai Nak.. "
Ucap pak Muh membuat Ais langsung keluar menggendong baby Fatih dengan tangan yang menjingjing tas kecil.
"Pak pulang aja duluan mungkin Ais akan pulang sama tuan.. "
"Baik Nak.. "
Senyum lebar terpancar di bibir Ais dan baby Fatih sambil menelusuri kolidor rumah sakit menuju ruang sang suami.
Sesekali Ais tersenyum ramah pada pasien atau suster yang berpapasan, tak ada yang tau kalau Ais adalah istri dari dokter Aiman.
"Hey geas kalian percaya tidak kalau dokter Aiman sudah menikah.. "
__ADS_1
"Kalau dilihat dari tampang mana mungkin dokter Aiman sudah menikah.. "
"Iya.. aku juga tidak percaya.. "
"Tapi rumor itu ramai kalau memang dokter Aiman sudah menikah.. "
"Ah.. pokok nya aku tidak percaya sebelum membuktikannya... "
"Yang kalian bicarakan memang benar... "
Deg...
Para mahasiswi koas langsung terlonjat kaget mendengar penuturan seorang wanita yang tersenyum manis dengan wajah imut bak berbie dengan pakaian anggunnya dan seorang baby yang begitu tampan seperti bukan orang asli Indonesia.
"Wah kak jangan ngada-ngada, bagai mana kakak tau ?"
Ucap Vina karna terkejut bagai mana mungkin dokter yang dia suka sudah menikah.Dilihat dari penampilan dan usianya itu tidak memungkinkan, pikir Vina tak percaya.
"Saya tau karna dokter Aiman dokter yang nanganin saya.. "
Ucap Ais berusaha tersenyum ramah padahal jauh di dalam hatinya sangat kesal mendengar obrolan para mahasiswi koas yang menyukai sang suami.
"Vina tuh kan berarti benar dokter Aiman sudah menikah. Mening kamu lupakan saja dokter Aiman masih ada banyak ko dokter yang ganteng selain dokter Aiman... "
" Benar Vin.. "
"Ah... gak mungkin gue belum yakin, pasti kakak ini bohong.. "
Perotes Vina tak terima kalau dokter Aiman sudah menikah.
"Kalau kamu gak percaya yah silahkan itu hak kamu.. "
"Dia suamiku syetan kecil.. "
Tegas Ais ada rasa kesal di setiap nada kalimatnya.
"Jangan bohong dong kakak.. "
"Emang saya terlihat tampang bohong.. "
Ketus Ais sudah jengkel karna mahasiswi koas itu begitu keras kepala.
"Ingat jangan pernah jadi pembinor,kalau begitu saya permisi.. "
"Ah... tidak mungkin pokoknya geu tidak percaya.. "
Kesal Vina tak terima dengan kenyataan yang ada, hatinya sangat panas bercampur penasaran. Aku akan membuktikannya sendiri, batin Vina.
.
.
Bersambung....
.
Jangan lupa like, komen dan vote ok
__ADS_1
terimakasih...