Takdir Illahi 2

Takdir Illahi 2
Epesode 66


__ADS_3

Dari upuk timur nampak mentari muncul memancarkan sinarnya.Menerobos masuk kesetiap jendela menghangatkan penghuni di dalamnya.


Berbagai manusia sibuk dengan pekerjaannya masing-masing yang setiap hari para manusia lakukan walau berbeda jenis pekerjaannya.


Hingga detik berganti menit sampai jam , sudah menunjukan waktunya pekerjaan memanggil Aiman.


Sedangkan Aiman merasa berat jika harus meninggalkan sang istri walau Aiman tau ada bi Sumi dan umi Rahma yang menjaga istrinya tapi tetap saja Aiman merasa berat.


Tingkah sang suami yang terus menempel membuat Ais tersenyum geli melihat raut wajah kewatir sang suami .


Ais merasa lebih baik walau dirinya harus melakukan perawatan extra supaya cepat pulih tapi Ais mensyukurinya setidaknya Allah masih berbaik hati menyelamatkannya hingga tidak berada dalam ruang jenazah.


Karna apapun yang terjadi itu semua semata-mata hanya takdir yang tak tau kapan datang, dimana dan bagaimana datangnya !.


"Pergilah By, itu sudah menjadi tanggung jawab hubby. Jangan jadikan Ais alasan buat hubby melalaikan kewajiban hubby sebagai seorang dokter.. "


Ucap Ais lembut tak mau egois dengan semuanya, walau Ais membutuhkan sang suami di posisi seperti itu. Tapi orang lain jauh membutuhkan suaminya dibanding dirinya yang masih ada keluarga yang menjaganya.


"Yasudah Hubby pergi, ingat jangan lupa minum obatnya dan jangan banyak bergerak dulu..."


Cup....


Ucap Aiman pasrah sambil mengecup puncak kepala sang istri lalu belarih pada putranya yang sedang memakai baju bersama bi Sumi.


"Baba berangkat dulu, jaga Ummah ya ketika baba gak ada, Ok jagoan baba.. "


"Siap Ba.. dadah... "


Balas Fatih tersenyum sambil melambaikan tangannya lalu berjalan kearah sang Ummah. "


"Ummah Mimi... "


Celetuh Fatih membuat Ais tersenyum saja, bi Sumi langsung menggendong baby Fatih naik keatas brankar.


Dengan cepat Ais memberi mimi baby Fatih hati-hati karna takut baby Fatih menyenggol luka Ais apa lagi sebentar lagi waktu Ais di periksa.


Dan benar saja dokter Hendra masuk diikuti Vina dari belakang dengan tangan yang menjingjing kotak putih .


"Pagi...Kita periksa dulu.. "


Sapa dokter Hendra tersenyum ramah, Ais membalas dengan senyuman juga.


"Apa ada keluhan .."


"Alhamdulillah tidak dok..."


"Alhamdulillah kalau begitu, ternyata anda sangat ceria..."


Ais hanya tersenyum saja menanggapi candaan dokter Hendra sambil memeriksa keadaannya dengan sangat hati-hati dan teliti .


"Vina ganti perbannya dan jangan lupa juga infusnya di ganti. Bekerjalah dengan baik.. "


"Siap dok.. "

__ADS_1


"Ok, kalau begitu saya tinggal .Selanjutnya anda akan di rawat dan dikontrol oleh Vina,semoga anda suka dengan penanganannya dan lekas sembuh.. "


"Baik dok, terimakasih.. "


Setelah kepergian dokter Hendra dengan sedikit canggung Vina mengganti perban yang ada dikepala dan kaki sebelah kanan Ais dengan teliti dan sangat hati-hati.


Sedangkan Ais hanya mengulum senyum geli ternyata syetan kecilnya yang merawat dirinya.


Kinerja Vina memang baik membuat Ais sedikit nyaman apalagi ternyata Vina bisa seprofesional itu tampa memperlihatkan wajah bete, kecewa atau marah.


"Obatnya jangan lupa di minum, nanti siang saya akan kesini lagi untuk mengecek.. "


Ucap Vina berusaha profesional sambil membereskan alat-alat bekas mengganti perban dan infus. Padahal jauh dilubuk hatinya Vina merasa takut jika istri dari dokter yang dia suka marah besar.


"Terimakasih... "


"Sama-sama, itu sudah menjadi tugas saya.. "


"Jangan sepormal itu.. Aisyah panggil saja Ais "


Deg...


Vina terkejut dengan rasa canggung yang menggunung melihat Ais mengulurkan tangannya. Dengan sedikit ragu Vina menjabat uluran tangan Ais.


"Vi..vina.. "


"Lireks saja jangan takut, saya gak gigit ko.. "


Canda Ais tersenyum membuat Vina merasa sedikit nyaman, tadinya Vina pikir Ais akan marah dan memakinya karna sudah lancang menyukai suaminya.Nyatanya ketakutan Vina jauh dari prediksinya.


"Ma.. ma'af sa..s.. "


"Berapa usiamu ?. "


"Enam belas tahun.. "


"Wah masih remaja, Saya dua puluh satu. Panggil saja kakak biar enak.. "


"Baik emmz.. Kak.. "


"Perjalananmu masih panjang, raihlah cita-citamu dulu jangan memikirkan masalah cinta, terlalu kecil bagi kamu.Kakak jadi ingat adik kakak yang memutuskan pergi jauh demi meraih impiannya.. "


Ucap Ais bijak sambil menerawang mengingat keputusan sang adik yang selalu teguh akan keputusannya.


"Terimakasih ka.. kak sudah mengingatkan dan ma'af jika sebelum nya Vina lancang menyukai dokter Aiman. Ta.. tapi sekarang Vina tidak mencintainya lagi.. "


Ha.. ha...


Ais tertawa mendengar penuturan syetan kecilnya membuat Vina mengerutkan kening, Takut. Apa ada yang salah aku ucapkan, pikir Vina bergidik ngeri mendengar tawa Ais.


"Kamu benar-benar masih polos...he.. he.. "


"Eh.. anu... "

__ADS_1


Vina malah dibuat salah tingkah sendiri tetkala Ais memegang tangannya dan menariknya pelan supaya mendekat.


"Kamu wanita cerdas jadikan kecerdasanmu jadi pondasi kokoh untuk menjaga ini.. "


Ucap lembut Ais sambil mengarahkan tangan Vina kedadanya sendiri.


"Karna hati itu sifatnya sensitif.. "


"Terimakasih kak sudah mengingatkan, Vina janji akan selalu ingat kata-kata kakak. Andai kakak Vina selembut dan sebijak kakak pasti Vina ada teman curhat dan mengadu... "


Ucap Vina ada sedikit kesal mengingat kakaknya yang super pendiam apalagi sudah lama tak pulang sedangkan kakak satunya lagi sudah pindah rumah.


"Eh maaf kak, Vina lupa Vina harus pergi untuk melapor semua catatan rekap medis kakak pada dokter Hendra.. "


Ucap Vina terburu-buru karna takut dokter Hendra memarahinya, Vina merutuki kebodohanya karna hampir saja lupa jika tidak maka siap-siaplah Telinganya akan panas.


Ais menggeleng melihat tingkah Vina yang benar-benar polos dan ternyata sesikit ceria juga orangnya.


Sekarang aku tidak takut kalau suamiku berpaling, karna aku percaya suamiku adalah orang yang setia dan memegang teguh janji yang sudah dia ucapkan dihadapan Allah,batin Ais.


Lalu pandangan Ais beralih pada baby Fatih yang sedang bermain dengan bi Sumi.


"Kamu benar-benar cerdas, Nak. Seperti baba-mu.. "


Gumam Ais tersenyum melihat tingkah Anaknya.


"Ummah... main.. "


"Tidak tuan kecil ummah kan lagi sakit, nanti yah kalau ummah sudah sembuh Fatih bisa main lagi sama ummah.. "


"Baik Nek.. Ummah istirahat yah.. Fatih lanjut main lagi sama Nenek.. "


Ucap Fatih pasif dalam berbicara sambil tersenyum pada sang Ummah yang mengangguk saja karna gemas dengan anaknya yang sudah lancar berbicara.


Sungguh anugrah yang sangat istimewa dari Allah memiliki seorang putra yang begitu cerdas. Terkadang Ais sendiri merasa kaget jika putranya sudah bisa melakukan hal-hal kecil sendiri seperti kencing, berak, atau memakai baju sendiri walau tidak terlalu rapih seperti orang dewasa tapi di usia Tafih yang baru satu tahun tiga bulan itu hal yang tak terduga.


Fabiayiallairabikumatukadziban "Nikamat tuhanmu yang mana yang telah kau dustakan"


.


.


.


Bersambung....


.


.


.


Jangan lupa like, komen dan vote ya ok

__ADS_1


Terimakasih...


__ADS_2