
Mentari tampak terus berjalan pada arahnya hingga suasana nampak panas.
Keheningan tercipta ditengah manusia yang sedang menikmati dinginnya Es Krim, Jus dan berbagai macam makanan.
Tak ada satupun dari mereka yang angkat bicara, mereka hanya diam dengan pikirannya masing-masing membuat asisten Ken dan asisten Sindi pergi meninggalakan dua manusia yang saling diam dengan tatapan yang sulit dibaca.
Tatapan yang dari tadi menunduk sambil meremas ponsel yang dia pegang.
Kenapa harus dia! Semuanya sudah masa lalu,Empat tahun cukup untuk merubah segalanya.Ayolah bersikap biasa seolah tak pernah bertemu sebelumnya,batin seseorang itu tak menyadari kalau dari tadi mereka hanya berdua saja.
Deg...
Seseorang itu tercekat tetkala menengok kesamping asisten dirinya sudah tak ada di tempat. Dengan cepat dia melirik kesemua penjuru mencari sang asisten.
"Ba.. bagai mana kabarmu?? "
Tiga kata yang dari tadi Air tahan kini keluar begitu saja dengan keberanian yang dia punya sambil menatap wanita yang ada didepannya.
"Alhamdulilalah ba.. baik! "
"Empat tahun ternyata banyak mengubahmu.. "
" Mungkin karna seseorang yang pergi begitu saja tampa mau menunggu ! "
"Ma.. ma'af.. "
Satu kata yang sendari dulu Air ingin katakan didepan orangnya langsung dan kini kata itu keluar juga.
"Semuanya sudah berlalu, apa kita bisa melanjutkan pembahasan Inti kita bukan yang lain.. "
Tekan Mona Lin dengan nada datarnya, tak ada sikap bar-bar lagi didirinya yang ada hanya ketegasan dan kedewasaan.
Iya dialah Mona Lin gadis yang dulu bar-bar mengemis cinta seorang Airumi Khoer Al-qolayuby cowo dingin tak tersentuh.
Empat tahun jarak dan keadaan memisahkan mereka dan kini Allah mempertemukan mereka kembali dengan skenarionya.
"Jika tak ingin membahasnya, Ma'af saya tak punya waktu.. "
"Tunggu.. "
Cegah Air membuat Mona berhenti melangkah dengan dada yang bergemuruh.
"Terimakasih Kado terakhirnya.. "
"Ke.. kenapa.. hik.. "
Lilir Mona memegang dadanya kuat menatap nanar punggung Airumi yang sudah berjalan meninggalkannya.
"Ke.. kenapa rasa ini masih sama ya Allah, ma.. ma'afkan hamba ya Allah.. "
Gumam mona dengan badan yang melorot hingga duduk kembali di kursi semula.Aisten Sindi yang melihat klaeinnya sudah pergi langsung kembali masuk mendekat bosnya yang sedang menangis dalam diam.
"Emmz ma'af Non.."
"Kamu pulang dulaan saja,Saya masih ada urusan.. "
"Baik.. "
Ketika sudah tenang Mona langsung berdiri mengingat sesuatu yang harus dia tau.
"Astagfirullah.. "
Ringis umi Rahma memegang kepalanya yang terasa pusing luar biasa. Penglihatannya seakan berputar membuat kedutan itu semakin menjadi.
"Ja.. jangan sekarang ya Allah.. "
Lilir lemah umi Rahma sambil bersandar di dinding toilet dengan mata terpejam.
Umi Rahma tak mau merepotkan siapapun apa lagi baru saja dia mendapat kabar gembira kalau sang putri sedang hamil kembali. Umi Rahma tak mau dengan keadaannya membuat putrinya panik dan mengganggu kehamilannya.
Dengan susah payah umi Rahma keluar dari kamar mandi dengan tangan memegang kepalanya dan satu tangan lagi meraba dinding supaya dia tidak jatuh.
Suasana nampak hening membuat umi Rahma leluasa keluar rumah apa lagi abi Azam memang tidak ada karna ada panggilan mendadak.
Dengan susah payah umi Rahma berhasil keluar dengan memberi pesan singkat supaya sang putri tidak kewatir pada dirinya.
Sebuah taxi melintas membuat umi Rahma langsung melambaikan tangan hingga taxi berhenti.
"Kerumah Sakit Pak.. "
__ADS_1
Taxi itu langsung membawa umi Rahma kerumahsakit terbesar dikota Bandung.Supir taxi yang melihat umi Rahma kengeluarkan darah dihidungnya langsung menambah kecepatan nya karna takut terjadi sesuatu yang membuat dirinya dalam masalah.
Sang supir sekarang bingung bagai mana membawa penumpangnya yang mulai tak sadarkan diri.
"Bak.. bak.. tungguu... "
"Iya ada apa pak?? "
"Tolong bantu saya membawa penumpang saya kedalam, dia sedang sekarat.. "
Panik supir taxi membuat orang itu langsung membantu memapah umi Rahma kedalam.
"Pak tolong telepon keluarganya supaya kesini, mungkin ponselnya ada di tas ibu ini.. "
Dengan cepet umi Rahma dibawa kedalam dengan sisa kesadarannya yang hampir menghilang.
"Sus.. Dok tolong.. "
Beberapa perawat langsung berlari menghampiri umi Rahma dengan membawa kursi roda hingga umi Rahma langsung dibawa keruang UGD.
Seseorang yang membantu umi Rahma tadi menghela nafas pelan, ada sedikit kewatir dalam dirinya melihat gejala dan mendengar ringisan ibu itu apa lagi hidung umi Rahma dari tadi mengeluarkan darah.
Orang itu duduk dikursi tunggu sambil menunggu keluarga ibu itu.
"Bak saya sudah menelepon anaknya,dan ini tas ibu itu.. "
"Seratus ribu.. "
"Ini pak, terimakasih sudah membantunya.. "
"Terimakasih, Bak. Yasudah saya permisi.. "
Sang supir langsung pergi meninggalkan rumah sakit karna takut kalau dirinya disalahkan. Untung saja ada orang yang mau menunggu ibu itu kalau tidak sang supir pasti bingung harus apa.
Cklek...
Seorang dokter keluar dengan raut wajah paniknya membuat seseorang yang membantu tadi langsung berdiri dari duduknya.
"Maaf apa anda keluarganya.. "
"Bukan Dok. Saya hanya membantu ibu tadi.Emang ada apa Dok? "
"Begini tolong anda hubungi keluarganya kalau pasien sedang keritis, Tumor yang ada dikepalanya semakin menyebar hingga menyumbat pembuluh darah dan ini harus segera di ambil tindakan.. "
"Astagfirullah.. bagai mana ini Dok, keluarga pasien belum datang..."
"Maaf waktunya tidak banyak lagi. Kami harus segera membawa pasien ke ICU. "
__ADS_1
"Ya Allah.. Dok saya akan bertanggung jawab jika terjadi apa-apa, Cepat ambil tindakan.. "
"Baik lah kalau begitu maka anda harus tanda tangan berkas ini supaya kalau ada kejadiaan yang tak diinginkan pihak rumah sakit tidak disalahkan.. "
Dengan cepat orang itu menandatangani surat yang suster berikan.Dia hanya takut terjadi apa-apa seperti dulu yang pernah dia alami membuatnya teroma.
"Sitt... dimana Umi dirawat... bodoh... kenapa tadi tak menanyakan dimana Umi dibawa kerumah sakit.. "
Umpat Air kesal pada dirinya sendiri karna tadi saking kewatir dia malah langsung pergi dengan sambungan yang masih ada hingga orang yang menelepon dirinya langsung mematikan begitu saja karna bingung.
Sudah dua rumah sakit Air datangi tapi tak menemukan sang umi membuat Air tampak kewatir. Air belum memberi tahu siapapun karna takut membuat semuanya kewatir.
Sekarang hari mulai sore tinggal rumah sakit terbesar yang belum Air datangi dan sialnya ponsel uminya tak ada yang mengangkat hingga suara oprator yang Air dengar.
Sedangkan para dokter bekerja sama didalam ruang oprasi hingga sudah hampir dua jam para dokter di didalam.
Ting...
Suara tanda Bahwa oprasi sudah selesai membuat seseorang yang menunggu dari tadi langsung menghela nafas.
"Bagai mana ,Dok. "
"Alhamdulillah semuanya lancar, sebentar lagi pasien akan dipindahkan. Apa dari pihak keluarga sudah ada yang datang?? . "
"Belum ,Dok.Biar nama penanggung jawab dulu saja yang tercantum. Kalau sudah ada pihak keluarganya saya akan segera memberitahu, dan masalah administrasi sudah saya urus"
"Kalau begitu, baiklah.. "
Dengan pelan seseorang itu masuk kedalam ruang VIP karna umi rahma sudah dipindahkan.
" Kenapa aku merasa dekat dan kenal dengan ibu ini. Tapi dimana? "
Gumam seseorang itu sambil duduk dan memegang lembut tangan yang mulai keriput itu.
"Siapa sebenarnya ibu itu.. "
.
.
.
Bersambung....
.
.
Jangan lupa Like, Komen, dan Vote
__ADS_1
Terimakasih...