Takdir Illahi 2

Takdir Illahi 2
Epesode 108 Sensitifnya ibu Hamil .


__ADS_3

Segala persiapan sudah Vina lakukan untuk keberangkatannya ke-Turki, itu semua tak lepas dari bantuaan Aiman karna Aiman bertanggung jawab akan keselamatan Vina sendiri.


Begitupun Andi dan Bagas membantu sang adik mempersiapkan semuanya, keposesifan Andi pada adik bungsunya membuat Andi kekeh menyuruh Bagas untuk ikut ke-Turki beberapa hari.


Andi hanya ingin tenang. Bagai mana suasana disana, tempatnya dan lingkungannya. Andi tidak mau ada resiko sekecil apapun.


Semenjak kepergiaan kedua orang tua mereka maka Andi adalah orang tua bagi kedua adiknya, apalagi Vina adalah permata dikeluarganya.


Bagas hanya mengiyahkan saja, Toh lumayan kan jalan-jalan geratis. Sedangkan Vina hanya memberenggut saja, padahal Vina kan sudah gede masa harus di kawal sih, kesal Vina.


Tapi Andi tak memperdulikan kekesalan sang adik karna baginya keselamatan Vina nomor satu.


Aiman dan Ais hanya tersenyum saja melihat interaksi ketiga adik kakak itu.


"Nanti ada orang-orang saya yang akan menjemput kalian dibandara dan mengantarkan kalain keapertemen yang nanti akan Vina tempati. Pakailah jam tangan ini, kalau kamu sudah sampai lalu tekan tombol merah disamping sini maka orang-orangku akan langsung mengetahui keberadaan kalain.. "


"Terimakasih.. "


"Dek, jaga diri baik-baik ya disana, ingat jaga kesehatan Abang dengan cuaca disana sedang musim salju.. "


"Ok, Bang. Tenang saja Vina pasti menjaga diri Vina sendiri. "


"Kak Ais boleh Vina peluk... "


Ais hanya tersenyum lalu mengangguk membuat Vina sumringah karna Ais mengijinkannya.


Grep...


"Terimakasih kakak sudah mau nganterin Vina.. "


"Itu sudah tanggung jawab Kakak sebagai istri Dokter Aiman, dan kamu juga sudah kakak anggap adik sendiri seperti Adam dan Air. Semoga betah, nanti kita ketemu disana. "


"Iya, Terimakasih kakak.. "


Haru Vina, sungguh bagai mana Bagas tidak menyukai wanita sebaik dan selembut Ais.Kini Vina mengerti kenapa abangnya menyukai kakak Ais.


Tak lama terdengar suara panggilan, kalau pesawat Ke-Turki akan segera berangkat dan para penumpang harus segera masuk.


Vina memeluk bang Andi erat, begitupun Amira yang sendari tadi menangis karna tidak mau ditinggal tantenya.


Sedangkan Ani tidak ikut karna kehamilannya yang sering mual membuat Andi tak mengijinkan karna takut dijalan kecapeaan.


"Amira jangan nangis, kan nanti bisa Vidio Call sama tante.. "


"Hiks... pengen ikut.. hiks.. tente.. "


"Kalau Amira ikut, terus mamah dan adek siapa yang jagainn"


"Hiks.. "


Amirq terdiam hanya tangisan saja yang terus terdengar.


"Sudah ayo buruan ,Dek. Pesawatnya sudah mau berangkat dari tadi kita dibanggil. Banga berangkat dulu.. "


Ucap Bagas langsung menggandeng Vina dengan satu tangan menarik koper. Amira menangis histeris di pelukan sang ayah membuat Ais tersenyum haru.


Amira memang sangat dekat dengan Vina sebelum kedatangan Ani, mungkin jiwa anak kecil seperti itu. Tidak mau ditinggal oleh orang yangbdari dulu selalu mengisi kesepiaannya.


Semuanya langsung pulang, begitupun Andi langsung menggendong anaknya yang masih memberonta ingin mengejar tantenya.

__ADS_1


"Ma. mamah... hiks... "


Teriak Amira berlari kearah Ani membuat Ani menyerngit kenapa anaknya menangis seperti itu.


"Putri cantik Mamah kenapa? hemmz.. "


"Hua... tante jahat.. Amira gak diajak... hua.. hua.. "


"Tante gak jahat sayang, kan Amira masih kecil.Nanti kalau Amira sudah besar boleh ikut sama tante.. "


"Hiks... tapi Amira pengen ikut.. "


"Mamah janji kalau Amira sudah besar kita susul tante, Ok. Jadi jangan nangis lagi ! ."


Amira hanya mengangguk saja dipelukan Ani dengan kepala yang terus Ani elus-elus membuat Amira lama-kelamaan lelah dan tertidur.


Andi yang melihat putrinya sudah tertidur langsung menghampiri sang istri, dengan pelan memindahkan Amira supaya terlentang di ranjang.


Andi takut sang istri merasa sakit jika berada di posisi seperti itu.


"Pegal ! "


"Tidak, Mas. Cuma sedikit gak enak aja, rasanya Amira semakin berat saja.. "


"Sini Mas pijitin.. "


Ucap Andi langsung meraih kaki sang istri supaya selonjoran, awalnya Ani menolak karna tak enak tapi Andi memaksanya.


Pijitan Andi memang membuat kaki Ani sedikit lebih ringan tidak seperti tadi, apalagi mungkin bawaan hamil membuat Ani gampang kelelahan.


"Terimakasih sayang.. "


"Sudah mau menyayangi Amira dengan tulus.. "


"Mas, Amira anak aku juga. Wajar aku menyayangi anakku sendiri karna didalam dirinya mengalir darahku juga. Aku tidak mau ya, Mas berbicara yang tidak-tidak. "


Ucap Ani sedikit ketus membuat Andi menghela nafas pelan, Andi merutuki kebodohannya sudah salah bicara.Ani memang selalu tak mau membahas apapun tentang Amira,karna bagi Ani Amira adalah anaknya sendiri, darah dagingnya sendiri.


Walau memang bukan Ani yang melahirkannya tapi ditubuh Amira mengalir darah kakak kembarnya yang juga sama seperti darah dirinya.


"Maafkan Mas. Mas tidak bermaksud.. "


"Cukup Mas, aku tak mau Mas masih menganggap kalau Amira bukan anak Aku. Aku tau aku bukan orang yang melahirkannya tapi didalam tubuh Amira mengalir darah yang sama hiks.. hiks... "


"Sungguh Mas minta maaf, Mas tidak berpikir seperti itu."


"Hiks.. hati ini sakit Mas, ketika apa yang aku lakukan Mas selalu bilang terimakasih seolah Mas menganggap kalau Amira memang bukan anak aku. "


"Tidak... tidak.. sayang.. Mas tidak bermaksud seperti itu. Jangan menangis.. maafkan Mas.. "


Ucap Andi merasa bersalah karna sudah membuat sang istri menangis. Andi menarik sang istri kedalam pelukannya, dan berusaha menenangkan sang istri karna takut Amira terbangun.


Sungguh Andi tidak bermaksud seperti itu, Andi hanya berterimakasih sang istri sudah memberikan begitu besar cinta dang sayang pada Amira.


Padahal Andi tau kalau Amira bukan anak Ani tapi sungguh kasih sayang Ani pada Amira seperti kasih sayang seorang ibu pada anak kandungnya.


Tapi ternyata sang istri begitu salah mengartikan ucapannya, tapi Andi paham mungkin itu semua tak lepas dari hormon kehamilannya yang mudah sensitif.


"Sudah ya.. Kasihan baby jika Mamahnya bersedih,nanti Baby juga ikut sedih.. "

__ADS_1


"Maafkan Mamah sayang.. "


Ucap Ani yang masih terisak sambil mengelus perutnya yang masih rata.


Entah kenapa ucapan sang suami membuat Ani sakit padahal Ani juga tau sang suami pasti tidak bermaksud begitu.


Semenjak hamil Ani memang sensitif, kadang marah, kadang ceria kadang juga manja. Entahlah Ani juga sendiri bingung apa yang terjadi dengannya.


"Maafkan aku juga Mas.. Entah kenapa perasaanku mudah sensitif, apa sikapku menyakitimu Mas? "


Ucap Ani merasa bersalah karna sudah bicara ketus pada sang suami.


"Tidak sayang, Mas mengerti ko apa yang kamu rasakan. Maafkan Mas juga sudah buat kamu menangis.. "


Ucap lembut Andi sambil mengecup puncak kepala sang istri menyalurkan kasih sayang, cinta dan ketenangan.


"Sudah, sekarang sayang istirahat..."


"Iya, Tapi peluk. "


"Kan ada Amira sayang ! "


"Emmmz... peluk.. "


"Yasudah, sini.. "


Andi pasrah saja mengikuti apa kata sang istri yang penting sang istri bahagia tidak sedih lagi. Dengan pelan Andi membaringkan tubuhnya karna takut membangunkan Amira.


Ani tersenyum karna sang suami mengabulkan permintaannya, Ani berbaring langsung sambil memeluk sang suami.


"Selamat bobo siang sayang.. "


"Hemmz.. "


Jawab Ani berdehem karna memang matanya sudah ngantuk. Andi melirik jam tangan sambil membuang nafas pelan.


"Alhamdulillah masih ada waktu.. "


Gumam Andi pelan karna takut membangunkan sang istri yang sudah terlelap.


.


.


.


**Bersambung....


.


.


.


Bagai mana seru gak???


Jangan lupa tinggalkan jejak ya..


Like, Komen,dan Vote ok..

__ADS_1


Terimakasih**....


__ADS_2