
Gelak tawa terdengar di ruang utama keluarga khoer mereka semua bercanda tawa apalagi dengan celotehan baby Fatih yang tak jelas membuat suasana nampak berwarna.
Apalagi muka Ais yang sendari tadi merajuk malu dengan apa yang sang suami lakukan. Terus menggodanya yang tak mau jauh-jauh darinya.
"Teteh kaya umi tuh, selalu saja nempel pada Abi semenjak melahirkan.. "
Pletak..
Azam mendapat pukulan dari sang istri membuat semuanya langsung tertawa kembali. Sedangkan Air hanya pokus bersama baby Fatih yang sangat senang duduk di pangkuan pamannya.
"Ba.. ba.. ba... "
"Apa Nak.. "
"Ba.. baba.. "
" Ya Allah kamu memanggil Baba.. "
Ucap Ais antusias mendengar baby Fatih memanggil Aiman dengan lancar.
"By.. Fatih bisa bicara, dia manggil hubby Baba.. "
Pekik Ais bahagia putranya pertama kali memanggil nama Aiman, Ais langsung mengambil baby Fatih dipangkuan sang adik.
"Nak, coba kamu ulangi lagi Ummah pengen dengar.. "
"Baba.. Ma.. "
"Pengen sama Baba.. "
Baby Fatih tersenyum menunjukan gigi merahnya, bagai mana mungkin baru lima bulan baby Fatih sudah dapat bicara! sungguh membuat orang kagum sekaligus tercengang.
Ais langsung memberikan baby Fatih pada sang suami dengan senang Aiman langsung menggendong sang putra.
"Kecerdasan Babanya kayanya turun pada Fatih Teh.. "
Timpal Azam yang sendari tadi memerhatikan sang cucu yang memang sangat berbeda dengan baby-baby yang lain yang seusianya.
"Sepertinya begitu Bi.. "
Ucap Ais tersenyum melihat sang suami yang sedang bermain dengan sang putra di atas karpet dengan banyak mainan.
"Maka bersyukurlah Teh... "
"Terimakasih Mi "
Ucap tulus Ais sambil menyelinap duduk di tengah Azam dan Rahma membuat Air berdecah kesal dan jengah. Kakak kembarnya ternyata masih saja seperti dulu selalu menguasai kedua orang tuanya.
"Hey... Abi dan Umi milik Adik sekarang.. "
Ketus Air menatap tajam saudara kembarnya yang memeluk umi Rahma posesif. Ais hanya menjulurkan lidahnya tak peduli malah mempererat pelukannya dan menarik Azam kepelukannya.
"Ck. masih saja manja.."
"Gak apa-apa kan Bi, Mi. Teteh kan tetap putri abi dan umi kan.. "
"Iya.. iya.. teteh memang putri umi dan abi.. "
"Tuh dengar Dik umi juga bilang gitu.. "
"Dasar bocah.. "
Ha.. ha...
__ADS_1
Ais malah tertawa bersembunyi di pelukan sang umi ketika Air melempar cangkang kacang pada dirinya. Aiman hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kekanakan sang istri yang akan berubah derastis jika sudah kumpul dengan keluarganya.
"Ah.. Adik mau kekamar aja.. "
Jengah Air bisa pening jika terus melihat tingkah sang kakak kembarnya.
"Teteh bantu Dik.. "
Teriak Ais berlari kecil mengejar Air yang sudah bisa jalan pelan walau harus dibantu sama dua tongkat. Baby Fatih tertawa melihat ummahnya berlari.
Dengan pelan Ais membantu Air menaiki anak tangga dengan tangan yang membelit pinggang sang adik, sedangkan Air memeluk bahu sang kakak dengan senyum simpulnya.
Walau sering berdebat dan berbeda pendafat sungguh sejujurnya mereka adik kakak yang saling menyayangi dan melindungi satu sama lain.
"Terimakasih Teh.. "
"Iya sama-sama dik.. "
Ucap Ais membantu Air duduk dan meletakan tongkat sang adik di sisi ranjang supaya sang adik gampang mengambilnya kalau mau kekamar mandi.
"Emmz boleh teteh tanya sesuatu? "
Ucap Ais hati-hati karna sudah lama Ais memendam pertanyaan pada sang adik yang membuat hati dan pikiran Ais gelisah.
"Tanyakan saja Teh.. "
Jawab santai Air walau sejujurnya Air takut kakaknya bertanya yang aneh-aneh terlihat dari sorot matanya yang memandang dirinya serius tidak ada candaan sama sekali di dalamnya.
"Bagai mana Adik bisa kecelakaan ,jujur sama teteh.. "
Deg...
Air langsung menegang diam,apa Air harus menceritakannya tapi itu tidak mungkin,batin Air memandang sang kakak sambil tersenyum.
Ais diam menelisik apa ada kebohongan atau tidak disetiap kata yang di keluarkan sang adik dan benar Ais menemukan kebohongan itu. Ais tau sang adik tidak akan bisa berbohong didepan dirinya.
"Apa yang coba adik sembunyikan dari Teteh.. "
"Gak ada sesuatu yang disembunyikan teh.Teteh ada-ada aja.. "
"Katakanlah.. "
Desak Ais karna tau sang adik menyembunyikan sesuatu terlihat dari tangannya yang sedang Air sembunyikan dengan kepalan yang kuat. Air akan seperti itu jika dia menahan sesuatu yang menyakitkan atau kesedihan karna Ais pun sama seperti itu.
"Katakanlah Adik tau siapa teteh ! "
"Teteh makin ngaco deh, tuh Fatih menangis sana kasian Fatih.. "
"Beneran.. "
"Iya, Teteh adik yang paling manja.. "
"Emang ada teteh adik yang lain ? , Ck. menyebalkan... "
"Sana itu Fatih makin kenceng nangisnya.. "
Ais menghela nafas pelan, emang benar Fatih menangis tapi Ais tetap yakin sang adik hanya menghindar menjadikan tangisan Fatih sebagai alasan.
"Jika adik sudah siap katakanlah, jangan disimpan sendiri setidaknya teteh menjadi kakak yang berguna.. "
Ucap Ais berdiri baru beberapa langkah Ais memberhentikan langkahnya kembali teringat akan ucapan seseorang.
"Ada titipan salam ma'af , dia bilang tak akan mengganggu adik lagi karna dia sudah pergi.. "
__ADS_1
Deg....
Seketika Air terkejut dadanya terasa sesak kembali seolah yang kakaknya katakan adalah seseorang yang sudah menjungkir balikan hatinya. Pergi, kata itu berputar di kepala Air, Apa maksud pergi itu? apa jangan -jangan.
Air langsung menggeleng -gelengkan kepala dengan dada yang mencengkram erat dadanya, apa penyakit itu yang membuatnya pergi, batin Air sakit.
Terus apa mimpi-mimpi itu, di.. dia bilang akan menunghuku. Ta.. tapi dia pergi, apa dia sudah lelah dengan apa yang dia katakan di mimpi itu,batin Air terus bergelut dengan kenyataan yang menyakitkan.
Ais yang melihat gelagat sang adik langsung terkejut langsung menghampiri sang adik dan memeluknya erat menenangkan.
"Ap.. apa penyakit itu membuatnya pergi. Di.. dia ma'afkan adik teh, kita berbeda.. "
Ais mempererat pelukannya pada sang adik, walau Ais sedikit bingung mencerna semuanya. Jadi benar dugaannya bahwa ada sesuatu yang adiknya sembunyikan.
Ais tak pernah melihat sang adik selemah ini dan merasakan sakit teramat dalam, yah Ais bisa merasakan semua itu.
"Penyakit apa ? "
"Di.. dia sakit kanker.. apa dia benar pergi ?.. "
Ais sekarang faham apa yang terjadi semuanya ternyata selama ini sang adik pintar sekali menyembunyikan perasaannya pada kakak kelasnya yang dulu Ais selalu di buat jengkel olehnya.
Seketika senyum Ais mereka menebak sesuatu yang harus Ais benar-benar pastikan kebenarannya.
"Apa Adik mencintai Mona.. "
Jder...
Air langsung diam mendengar pertanyaan kakak nya menekan kata di setiap kalimatnya.
"Kita berbeda Teh.. "
Lilir Air pasrah walau bagai manapun Air harus berusaha membuang perasaan yang ada.Karna tidak mungkin bagi mereka bersatu dengan benteng yang sangat besar yang menghadang.
" Mona bukan pergi meninggalkan dunia ini Dik, ta.. tapi meninggalkan negara kita. "
"Maksudnya? "
"Mona masih hidup, dia sembuh dari kankernya.. "
"Ja.. jadi dia.."
"Saudara kita , M-U-A-L-A-F... "
Duarrrrr......
.
.
Bersambung....
.
.
.
Gimana seru gak???
Jangan lupa like, komen dan vote ok
Terimakasih....
__ADS_1