
Dinginnya angin menerobos masuk kesela-sela jendela kamar ,seakan ingin membangunkan seseorang yang berada dibawah selimut tebalnya.
Terpaannya terasa dingin di kulit putih manusia yang masih memejamkan kedua matanya, perlahan mata bulat itu terbuka dengan kepala yang begitu berat.
Matanya melirik kearah samping dimana tak ada seseorang yang selalu menemaninya tidur, biasanya ketika bangaun maka dia akan disuguhkan oleh sosok gagah dan berkarisma tersenyum padanya.
Tapi kini hanya udara dingin saja menyelimuti kamar itu.
Kemana sosok gagah itu?
Satu pertanyaan terlintas dalam pikirannya hingga seseorang itu berusaha duduk dari pembaringannya. Tangan repleks memegang kepalanya yang berdenyut nyeri.
Jam berapa sekarang? satu pertanyaan lagi muncul hingga matanya membelalak, jam sudah menunjukan pukul 05:15 itu artinya seseorang itu kesiangan.
Dengan cepat seseorang itu menyingkap selimut tebal yang membalut tubuhnya dan berusaha berjalan kearah kamar mandi.
Deg...
Sepenggal ingatan berputar membuat seseorang itu langsung memegang gagang pintu kamar mandi erat, dadanya terasa sesak dengan cairan bening lolos begitu saja.
"Kenapa Hubby lakukan itu... "
Lilir Ais gemetar baru mengingat kejadiaan semalam, dengan langkah lunglai Ais tetap masuk guna mengambil air wudhu karna Ais sadar dirinya belum sholat subuh.
Sudah selesai Ais melaksanakan kewajibannya dengan hati gemetar tapi Ais berusaha tetap khusu dalam melaksanakan ibadahnya.
Cairan bening lolos kembali tetkala Ais selesai sholat, dia beristigfar memohon ampun dan perlindungan.
Dada Ais kian sesak membuatnya sulit untuk bernafas, kelakuaan sang suami membuat Ais sangat sakit.
"Maafkan Hubby sayang, ini jalan satu-satunya supaya sayang tidak nekad. Hubby berjanji akan membawa pulang putra kita dengan selamat.. "
"Hubby mencintai kamu.. "
Kata-kata sang suami berputar samar dikepala Ais karna tadi malam memang Ais merasakan pusing yang teramat hingga Ais tak sadar apa yang terjadi selanjutnya.
" Hiks... By.. apa Ais harus berdiam diri seperti ini menunggu kabar dari kamu ! bagai mana tentang kabar putra kita? apa hubby memang sudah menemukannya? jika iya cepatlah pulang.. "
Gumam Ais gemetar, Ais tak bisa berbuat apa-apa disaat putranya membutuhkan,tapi ridho sang suami tetap Ais utamakan.
Walau ada rasa yang tak bisa Ais gambarkan, kenapa sang suami memberikan obat tidur padanya! bisakah dia bicara baik-baik ketika akan pergi,pikir Ais melayang jauh entah kemana dengan tangisan yang begitu pilu.
sedangkan Air baru selesai mengaji dengan sang istri sesudah shalat subuh, karna itu rutinitas baru bagi Air. Setelah sholat ada sang istri yang menemaninya mengaji.
Sekelebat bayangan teringat akan keadaan sang kakak, membuat Air langsung menyudahi ngajinya lalu Air menyimpan kembali al-qur'an ditempat semula begitupun sang istri.
"Dek, Mas kekamar teteh dulu. Mau melihat apa sudah bangun atau belum. "
"Ikut Mas. "
__ADS_1
"Yasudah, Ayo. "
Air dan Mona langsung pergi menuju lantai atas dimana letak kamar Ais berada.
Sayup-sayup Air mendengar isak tangis seseorang yang begitu Air kenali suara tangisan itu.
Pantas saja terdengar suara tangisan ternyata pintu kamar Ais memang tidak tertutup rapat karna semalam memang Aiman sengaja tidak menutup rapat supaya kalau ada apa-apa Air bisa langsung mendengar.
Dengan pelan Air mendorong pintu kamar sang kakak, hingga tangisan itu terdengar jelas ditelinga Air membuat hati Air berdenyut nyeri.
"Teteh.. "
Ucap Air lembut sambil duduk di sisi sang kakak sedangkan Mona hanya berdiri saja.
Hati Air mencelos tetkala sang kakak menatapnya dengan penuh luka dengan cairan bening yang dari tadi terus keluar.
Bruk...
Ais memeluk erat sang adik dengan tubuh yang gemetar membuat Air merasakan sakit. Dengan lembut Air mengelus punggung kakaknya yang masih berbalut mukena.
"Hiks... abang jahat...dia tak mengijikan teteh mencari Fatih... Bagai mana keadaan Fatih sekarang! apa dia sudah makan, minum susu dan tidur? Apa tidur semalam dia nyenyak. Apa yang harus teteh lakukan Dek, teteh ibu yang tak berguna! teteh hanya diam saja ketika Fatih dalam bahaya hiks... hiks... "
"Sudah Teh, adek yakin abang Aiman pasti menemukan Fatih dan membawa kembali pulang, yang terpenting teteh doakan saja."
Ucap Air lembut sambi terus mengelus punggung sang kakak supaya tenang.
Mona yang melihat interaksi adik-kakak itu dibuat meneteskan air mata karna haru.
Mona mengingat bagai mana dulu Air dan Ais bagai perangko yang tak bisa dipisahkan dan sekarang Mona paham kenapa mereka tak bisa dipisahkan karna kasih sayang yang mengikat mereka.
"Tapi kenapa dia malah membuat Teteh tidak sadar! "
"Apapun yang abang lakukan adek yakin bang Aiman mempunyai alasan tersendiri, Teteh harus yakin itu. Percayalah bahwa abang akan membawa Fatih pulang. Mungkin ini demi kebaikan Teteh, ingat bang Aiman pasti teteh bertindak ceroboh yang akan merugikan teteh sendiri dan ingat ada baby yang harus teteh jaga.. "
Deg...
Seketika Ais menegang mendengar penuturan sang adik, apa benar yang dikatakan sang adik ? kalau sang suami tidak mau terjadi apa-apa pada dirinya! Ais sadar kalau posisi dirinya memang tidak bisa berbuat apa-apa,apa lagi dikehamilannya yang masih renta.
Harusnya Ais mendoakan sang suami dan putranya! bukan malah marah-marah !
Huek... huek....
Seketika kepala Ais berputar dan mual membuat Ais langsung berlari kearah kamar mandi dan mengeluarkan isi perutnya.
Mona yang melihat kakak ifarnya berlari langsung ikut mengejar karna takut terjadi apa-apa begitupun Air.
Huek... huek...
Dengan cepat Mona memijat dan menepuk-nepuk tengkuk Ais pelan memudahkan Ais mengeluarkan isi perutnya.
__ADS_1
"Emmz.. teteh tidak apa-apa.. "
Ucap Mona pelan dengan tangan yang masih memijat .
"Tidak apa-apa, terimakasih.. "
Lilir Ais, rasanya perutnya terasa diaduk-aduk hingga ingin mengeluarkan sesuatu.
Dengan pelan Mona memapah kakak ifarnya keluar kamar mandi menuju ranjang. Badan Ais benar-benar lemas dengan rasa mual dan pusing menjadi satu.
"Makan dulu, Teh. "
Ucap Air dengan nampan ditangannya, karna tadi melihat sang istri membantu kakaknya Air langsung turun kebawah mengambil makan buat kakaknya.
Air tau sang kakak pasti belum makan dari malam, karna Aiman sempat memberitahunya kalau Ais belum makan jadi Aiman memberikan vitamin penguat kandungan dengan dosis obat tidur yang rendah supaya janin yang ada didalam kandungan baik-baik saja.
"Makan dulu, Setidaknya jangan menyiksa baby teteh yang butuh nutrisi.. "
"Biar Adek aja Mas.. "
Tawar Mona membuat Air langsung memberikan nampan pada sang istri.
"Aku tau apa yang teteh rasakan karna aku juga perempuaan, Jika teteh tidak mau makan silahkan tapi bagai mana dengan kandungan teteh, Aku yakin jika bang Aiman pulang melihat keadaan teteh seperti ini dia tidak akan suka,Makan ya. "
Akhirnya Ais mengangguk juga walau itu hanya pelan, membuat Air menyunggingkan senyum. Dengan penuh sayang Mona menyuapi sang kakak ifar, Mona tak menyangka akan menjadi adik ifar dari orang yang sering dia olok-olok.
Dan baru Mona sadar dibalik bar-barnya sifat Ais dia mempunyai hati yang sangat lembut dan penyayang sebagai seorang kakak. Mona bisa merasakannya karna Mona memang anak tunggal dari keluarganya,jadi tidak tau rasanya bagai mana mempunyai seorang kakak atau bagai mana dia mempunyai adik.
Menjadi bagian dari keluarga Khoer membuat Mona bisa merasakan keduanya.
"Terimakasih... "
.
.
.
**Bersambung....
.
.
.
Bagai mana seru gak???
Jangan lupa Hadiah, Like, Komen, Dan Vote ya Ok.
__ADS_1
Terimakasih**....