Takdir Illahi 2

Takdir Illahi 2
Epesode 19


__ADS_3

Dret.... dret.....


Suara ponsel terdengar nyaring membuat seseorang terusik dari tudur indahnya. Membuat dia terpaksa membuka kelopak matanya karna dari tadi dering ponsel tak kunjung berhenti.


Perlahan bulu lentik itu mengerjap membuat kedua matanya terbuka, dengan pelan dia bangun dan mengambil ponselnya yang terus berdering.


"Assalamualaikum... "


"....................."


Deg....


Dia begitu terkejut dengan apa yang dia dengar dari seseorang di serbang telepon. Kemudia netra coklat itu melirik kesamping pada seseorang yang sedang menggeliat karna terusik dari tidurnya bergerak mencari kenyamanan.


Netra coklat itu terus menelisik setiap pahatan seseorang yang sedang memeluk pinggangnya erar.


"Tak akan ku biarkan siapapun mengusik keluarga kita, semoga malaikat kecil cepat tumbuh.... "


Gumam Aiman sambil mengelus perut polos Ais sambil tersenyum mengingat kejadian semalam.


Ungkapan cinta dan sayang dua inshan yang sudah menyatu walau harus dengan perjuangan yang hebat untuk mendapatkan mahkota yang paling berharga.


Dengan pelan Aiman memeluk Ais yang nampak tidak nyaman dengan udara dingin yang menerpa kulit putih bersih itu.


"Emmmz... "


Gumaman kecil keluar dari bibir mungil Ais karna tidak nyaman dari tidurnya, kedua mata itu terbuka perlahan dengan di suguhkan pemandangan indah.


Tangan mungil itu perlahan bergerak seperti membentuk sesuatu kemudian menusuk-nusuk telunjuknya.


Ais merasa nyaman dan aman jika berada di dekapan seseorang yang tepat untuknya siapa lagi kalau bukan sang suami.


Apa yang di lakukan Ais membuat Aiman menahan sesuatu yang bangkit dengan susah payah Aiman menahannya.


Ais menyerngit heran dengan raut wajah sang suami yang nampak menahan sesuatu hingga memerah.


"Sa.. sayang... "


Deg....


Aiman perlahan membuka kedua matanya hingga mata mereka bersitatap. Sedangkan Ais mulai kewatir dengan keadaan sang suami yang semakin memerah seperti menahan sesuatu yang akan meledak.


"Hu.. hubby... "


Panggil Ais mengelus pipi Aiman lembut, apa yang Ais lakukan justru membuat Aiman malah tersiksa.


"Kenapa...?? "


"Khu.. khumairo... "


"Iya... "


" Bo..boleh me.. mengulang yang semalam... "


Blus....


Pipi Ais langsung merona mendengar ucapan sang suami. Membuat Ais jadi mengingat apa yang terjadi semalam. Yah mereka sudah bersatu menjadi satu.


Bahkan apa yang Aiman lakukan membuat Ais bisa mengendalikan ketakutannya hingga hanya ada sang suami yang ada dalam pikirannya walau bayangan itu masih ada.


Ais sudah menyerahkan seluruh hidupnya untuk sang suami,walau itu semua butuh perjuangan yang harus Ais hadapi .Yang penting suaminya lah orang pertama yang mendapatkannya bukan orang lain.


Seketika senyuman indah mereka di bibir seksi Aiman tetkala Ais mengangguk malu sambil menenggelamkan kepalanya di belahan dada polos Aiman.


Kenikmatan hakiki yang Aiman raih semata-mata hanya ingin mendapat ridho sang Illahi walau harus butuh perjuangan untuk mengarungi lembah yang sangat curam dan licin .


Tak henti-hentinya Aiman mengucapkan syukur atas apa yang Allah beri, hingga tak ada kenikmatan selain kesembuhan sang istri.


Hingga ungkapan cinta dan sayang terus Aiman beri membuat Ais sedikit demi sedikit bisa mengendalikan ketakutannya walau masih kaku untuk membalas ungkapan cinta yang Aiman ucap.


Hingga Ais merasa lega karna dirinya berhasil mengungkapkan apa yang ia rasa . Rasa yang selama ini selalu terpendam di dalam dada.


"Terimakasih khumairo... "


"Sa.. sama-sama hu.. hubby... "


Aiman tersenyum tetkala sang istri masih malu-malu untuk mengungkap rasa sayangnya.


Sayup-sayup terdengar adzan subuh membuat Aiman bangkit dari tidurnya.


"Ah... "


Ais menjerit tetkala area selangkanya terasa sakit dan perih hingga kedua matanya berkaca-kaca. Membuat Aiman dengan sigap membantu sang istri.

__ADS_1


Grep....


Aiman menggendong sang istri tetkala tubuhnya sudah di bungkus oleh selimut tebal, sedangkan Ais dengan sigap langsung mengalungkan kedua tangannya ke leher Aiman karna terkejut dengan apa yang Aiman lakukan.




Jauh di langit sana.....



Kekesalan dan amarah meruap membuat ruangan menjadi dingin dan hening.



Matanya memerah dengan tangan yang mengepal erat hingga urat-uratnya menonjol.



Sikap yang selalu tenang dan tak peduli kini hilang entah kemana semenjak kembarannya tak masuk kuliah karna sakit.



Brak....



Semua orang terlonjat kaget dengan apa yang Air lakukan hingga meja menjadi rusak karna tonjokan tangannya.



Tak ada yang berani bersua atau melirik ke arah Air karna mereka tau jika mereka berani menatap.



Grekkk....



Air mengambil baber bag kasar yang ada di atas mejanya. Lalu melangkah keluar dengan cepat. Sungguh Air sangat pusing di ganggu terus oleh wanita-wanita yang kecentilan.




Brak...



Air menggeprak meja kasar membuat orang yang sedang menikmati jusnya langsung tersedak mengenai temannya.



Deg....



Mona tertegun melihat aura yang di keluarkan Air dengan mata yang memerah.Membuat Mona sedikit menahan rasa sakit, tapi dengan sekuat tenaga dia menahannya.



"Saya sudah katakan saya tak menyukaimu... "



"Jadi stoppp mengganggu saya...! "



"A.. air... aku sangat mencintaimu... "



"Bi.. bisakah kamu gak sekasar it..itu... "



"A.. aku.. "



"Ingat... dan catat baik-baik. SAYA GAk SUKA SAMA KAMU."

__ADS_1



Tekan Air mengembalikan baber bag ke tangan Mona dengan kasar membuat Mona terhuyung kebelakang dengan sigap kedua temannya menahan Mona agar tidak terjatuh.



"Jangan ganggu saya lagi dan jangan rendahkan dirimu di hadapan laki-laki... "



Jder....



Mona memegang dadanya yang terasa nyeri dan berdenyut.Apa aku sehina itu?, batin Mona meremas dadanya kuat. Tak ada air mata yang keluar mungkin Mona sudah terlalu lelah mengejar Airumi Khoer Al-qolayuby nama yang selalu terukir indah di hati dan pikirannya.



Mona hanya menatap nanar punggung Air yang langsung meninggalkan kantin. Suasana kantin yang tadi hening kembali berisik lagi mencemooh tingkah Mona dan menatap jijik akan kelakuan Mona yang setiap hari mengejar cinta Air.



"Kamu gak papah kan.. "



Ucap Mawar yang kewatir akan kondisi sahabatnya.



Mona hanya menepis tangan Mawar yang akan membantunya, kemudian Mona berjalan dengan sempoyongan, penglihatannya kunang-kunang membuat Mona merasakan sakit di kepalanya.



Tapi sakit itu tidak ada apa-apanya di banding hatinya yang hancur berkeping-keping akan penolakan Air selama ini. Dan apa benar Mona adalah wanita yang rendah di hadapan laki-laki seperti yang Airumi katakan.



"Ha.. ha... "



Mona hanya tertawa menertawakan dirinya sendiri, dia sudah lelah dan sangat lelah hingga rasanya Mona ingin istirahat saja. Mungkin ini terakhir kalinya Mona mengejar Air.



Tatapan Mona mulai kabur dengan dada yang semakin sesak.



Bruk.....



"Mona.... "



Pekik Mawar dan Melati terkejut, langsung berhambur memeluk tubuh Mona yang tergeletak, mukanya begitu pucat dengan bibir yang mulai biru.



Suhu tubuhnya begitu dingin membuat Mawar takut terjadi apa-apa pada sahabatnya.



"Cepat bantuiin keparat... "



Teriak Melati pada mahasiswa yang berlalu lalang ada juga yang melihat saja enggan untuk membantu karna gak suka pada Mona apalagi tingkah Mona selama ini yang sombong dan angkuh.



Hingga Mawar dan Melati sangat perustasi karna tak ada yang mau membantu dan Sialnya telepon kedua orang tua Mona tak ada yang menjawab.



Grep....



Deg....

__ADS_1


__ADS_2