
Perjalanan terasa sangat lambat bagi Ais, dari tadi Ais tidak sabar bertemu dengan keluarganya.
Bahkan Ais selalu nyerocos menyuruh Aiman mempercepat laju mobilnya terkadang Ais memaksa ingin mengemudi karna bagi Ais, Aiman membawa mobil sangat lambah bak siput.
Aiman hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah sang istri yang tak sabaran, padahal Aiman membawa mobil dengan kecepatan maksimal.
Sesekali Aiman hanya tersenyum melihat istrinya terus merajuk membuat Aiman gemas saja. Hingga Ais merasa kesal dan memalingkan wajahnya keluar jendela karna Aiman tak mau menuruti permintaan Ais yang ingin di percepat.
Cairan bening tak terasa sudah membasahi kedua pipi Ais entah kenapa hatinya selalu berubah-ubah, kadang ingin marah, kesal dan merajuk membuat Ais sakit . Kenpa dirinya tak bisa mengendalikan itu semua.
Apa lagi rasa rindu itu sudah meruak membendung ingin segera meluapkannya agar hati Ais tenang.
Aiman terdiam melihat sang istri sepertinya menangis karna terbukti dari getaran tubuhnya yang bergetar.Aiman menghela nafas pelan paham akan perasaan sang istri, yang biasanya selalu di manja,di belai dan di sayang oleh keluarga bak berlian yang begitu berharga.
Kini Ais jauh, dengan keadaan yang berbeda, yang Ais inginkan hanya bertemu keluarganya bukan yang lain?? kenapa Aiman tak memahaminya ?.
Aiman memarkirkan mobilnya kemudian membuka sabuk pengamannya, tangannya terulur guna membangunkan sang istri yang ketiduran mungkin karna lelah terus menangis sendari tadi.
"Khumairo... "
Ais menggeliat tetkala ada tangan yang mengusap lembut pipinya, perlahan mata sipit karna menangis itu terbuka perlahan.
"Emmmmz... "
Gumam Ais memegang kepala, entah kenapa kepalanya terasa pusing sekali membuat Aiman dengan pelan membantu sang istri.
"Apa khumairo pusing?? "
Ais mengangguk lemah dengan tangan memegang pundak Aiman erat, Aiman merubah posisi kursi yang di duduki sang istri menjadi normal kembali tetkala tadi Aiman merentangkannya.
"Minum dulu... "
Dengan pelan Ais meneguk air mineral yang diberikan sang suami.
"Te.. terimakasih by.. "
Lilir Ais mengusap lembut pipi Aiman rasanya Ais selalu merasa bersalah karna selalu melawan ucapan Aiman.
"Kita sudah sampai... "
Seketika senyum Ais mereka walau wajahnya terlihat pucat dengan mata binarnya langsung ingin keluar dengan sigap Aiman menahan bahu sang istri yang ingin keluar.
Dengan cepat Aiman keluar dan membukakan pintu untuk sang istri, Ais tersenyum akan keromantisan yang Aiman berikan.
Perhatiaan terkecil apapun yang Aiman lakukan dimata Ais, Aiman begitu menjelma menjadi laki-laki romantis ,Ais suka .
"Biar hubby gendong yah... "
Tawar Aiman karna tak tega melihat sang istri berjalan lemas walau Ais memaksakan diri.Ais menggeleng saja tanda tak setuju akan tawaran sang suami. Aiman membelit pinggang sang istri agar berdempet dengan tubuhnya, tangan kanan Aiman gunakan untuk memegang tangan sang istri agar tidak terjatuh sewaktu-waktu Ais sudah tak kuat.
Dengan pelan Aiman membuka ruang rawat Air karna memang Azam sudah memberi tau Aiman dimana letak ruang inap Air.
"Assalamualaikum...."
"Waalaikumsalam... "
Jawab Rahma dan Azam serempak mereka langsung menengok keasal suara yang mengucapkan salam.
__ADS_1
Ais menatap sang Umi dengan mata yang berkaca-kaca begitupun Rahma, rasa rindu seorang ibu pada anak nya. Apa lagi Rahma bahagia melihat anakanya sudah sembuh walau Rahma merasa sedikit aneh dengan mimik wajah sang putri yang nampak pucat.
Grep....
Ais berlari berhambur kepelukan sang Umi yang sudah satu bulan lebih Ais merindukan pelukan hangat sang Umi.
"Hik... Umi dan Abi jahat sama teteh.. hik.. Umi kenapa?? apa umi sakit? kenapa memakai baju pasien?? hik.. ap.. apa.. hik... "
Runtutan pertanyaan Ais lontarkan membuat umi Rahma tersenyum sambil menarik kembai sang putri kedalam pelukan hangatnya.
"Umi gak papah sayang, sudah jangan menangis... apa teteh sudah sehat ?"
Ucap umi Rahma lembut sambil menghapus cairan bening di pipi sang putri lalu mencium puncak kepala, pipi dan kedua mata Ais.
"Te.. teteh sehat mi.."
Ucap Ais kembali memeluk sang umi, rasanya rindu itu sedikit terobati dengan pelukan hangat sang umi. Membuat seseorang mengerucutkan bibirnya tanda kesal.
"Sama Abi gak kangen "
Deg....
Kedua wanita itu langsung melepaskan pelukannya dan saling pandang satu sama lain lalu tersenyum.
"Teteh rindu Abi juga... "
Ucap Ais sambil berhambur kepelukan hangat Azam yang sudah merentangkan kedua tangannya menyambut kedatangan sang putri kepelukannya.
Cup...
Azam mencium puncak kepala sang putri lama menyalurkan rasa rindu yang menggunung.
" Alhamdulillah teteh sehat selalu bi, apa lagi Abang selalu menjaga teteh "
Ucap Ais semangat sambil melirik pada sang suami yang tersenyum melihat kehangatan keluarga sang istri.
"Syukurlah kalau begitu Abi dan Umi senang mendengarnya... "
"Teteh sayang Umi, Abi da... Ad..adik dimana Bi? "
Ucap Ais gemetar baru ingat akan sang adik kembarnya karna saking senangnya melepas rindu pada umi dan abinya.
Sretttttt.....
Azam membuka tirai di sebelah brankar sang istri nampaklah seseorang yang sedang berbaring lemah dengan kepala,tangan dan kaki yang di perban.
"Kecelakaan itu membuat Air koma, karna benturan keras di kepalanya membuat pembuluh darah nya pecah , Air baik-baik saja hanya kata dokter Air masih berada di dalam alam sadarnya membuat Air harus berjuang bangun ..."
Jelas Azam karna melihat tatapan putrinya yang seolah bertanya. Dengan tangan gemetar Ais mengelus pelan pipi adik kembarnya .
"D.. dek... "
"Ap.. apa adek tak kangen te.. teteh.. ?"
"Bangun sa.. sayang.... "
Cup....
__ADS_1
Ais mencium puncak kepala sang adik dengan gemetar, hingga cairan bening Ais terjatuh tepat di kedua mata Air .
"Maaf teteh baru menjenguk... "
"Bangun dek... in.. ini sudah lama, kasian umi...terus bersedih,bangun...sayang bangun... "
Mata Umi Rahma berkaca-kaca mendengar ucapan putri manjanya yang sangat penyayang,terlihat jelas kasih sayang antara adik-kakak itu ,bahkan Aiman sendiri bisa merasakannya.
Sedangkan Azam mengelus-elus punggung sang putri yang terus berbicara pada adiknya yang berbaring lemah.
Aiman menyipitkan matanya tetkala melihat garis radiator ada perubahan membuat Aiman tersenyum. Ikatan batin kembar itu sangatlah kuat hingga kedua nya bisa merasakan sakit satu sama lain.
"Mi, Aiman keluar dulu... "
Pamit Aiman pada umi Rahma dan membiarkan sang istri melepas rindu pada sang adik.
"Assalamualaikum... "
"Waalaikumsalam... "
Jawab mereka semua yang ada di dalam ruangan.
"Teteh.... "
Teriak Adam berbinar melihat kakak nya sudah datang, langsung berlari kearah Ais yang tersenyum melihat Adik bungsunya yang gembul.
Greppp.....
Adam memeluk sang kakak yang sudah satu bulan ia rindukan, Ais mengelus rambut Adam dengan sayang lalu mengecup kening sang adik.
"Teteh rindu sama Dede... "
"Dede jauh lebih rindu teteh... "
Ucap Adam sambil mempererat pelukannya.
Cklek....
Pintu ruangan kembali Terbuka nampaklah Aiman masuk di ikuti Dokter yang menangani Air. Membuat umi Rahma dan abi Azam bingung kenapa Aiman membawa dokter padahal jadwal periksa nanti sore.
Dokter langsung memeriksa keadaan Air tak lama bibirnya tersenyum ternyata benar apa yang dikatakan oleh dokter Aiman tadi, batin sang dokter.
"Ada apa dok? "
Tanya umi Rahma penasaran.
"Alhamdulillah.. pasein sudah melewati masa komanya, teruslah ajak bicara supaya pasien bisa keluar dari alam sadarnya."
Bruk....
Umi Rahma sujud syukur dengan apa yang telah dokter katakan, bahwa keadaan anaknya ada perubahan.
Puji syukur terus Azam panjatkan, semua orang menangis bahagia dengan apa yang mereka dengar.
"Teruslah memberi semangat pada pasien supaya cepat bangun dari komanya,untuk itu saya permisi... "
"Terimakasih dok.. "
__ADS_1
Sang dokter hanya tersenyum dan langsung pamit meninggalkan ruangan itu.
Fabiayiallairabikumatukadziban (Nikamat tuhanmu yang mana yang telah kau dustakan).