
Mentari nampak malu-malu tersenyum dibalik awan,sinarnya memancarkan kehangatan menerpa manusia-manusia yang sedang asik berolah raga.
Hingga keringat dingin membasahi pelipis dan badan mereka tapi tidak sedikitpun mengurangi semangat apa yang mereka lakukan.
Suara tembakan begitu nyaring disebuah lapangan yang sangat luas, ada juga yang sedang memanah, dan bergulat.
Keberisikan manusia-manusia itu sungguh menggangu seseorang yang sedang tidur. Perlahan mata lentiknya terbuka menyesuaikan cahaya yang masuk lewat jendela.
Orang itu berusaha bangun tapi rasa nyeri dipundaknya membuat orang itu meringis apa lagi kepalanya seakan berputar.
Sesekali meringis tapi tak lama bibir seksinya tersenyum melihat siapa yang ada disampingnya yang sedang tertidur dengan posisi terlentang tak tentu arah.
Orang itu melebarkan matanya menatap kesekeliling kamar yang cukup luas.
"Jam berapa sekarang ! sepertinya aku melewatkan kewajibanku. Maafkan hamba ya Allah.. "
Lilir orang itu tetap berusaha memaksa tubuhnya untuk bangun, tapi rasa nyeri disekujur tubuhnya membuat orang itu lagi-lagi meringis ditambah dengan kepalanya yang berdenyut.
"Sudah berapa lama aku tertidur... kemana ponselku.Aku harus segera memberitahu keberadaanku. Aku takut terjadi sesuatu.. "
Lilir orang itu berusaha mencari keberadaan ponselnya tapi tidak menemukannya, kakinya perlahan berjalan dengan pelan sambil sesekali memegang kepalanya yang sangat sakit.
"Sitt... ada apa denganku, apa penyakitku kambuh lagi.. Oh tidak. Aku harus kuat, ada orang yang sedang menungguku.."
"Kenapa mereka berisik.. Astagfirullah.. "
Jerit orang itu tertahan sambil menyender kedaun pintu kamar mandi karna ada sesuatu yang harus dibuang.
Langkah kaki seseorang terdengar nyaring mendekat kearah pintu.
" Dok, bagai mana keadaan Aiman? "
"Dia baik-baik saja, Hanya saja ada sedikit masalah.. "
"Maksudnya? "
"Sebuah penyakit yang selalu Aiman sembunyikam, maaf saya tidak bisa memberitahu Tuan walau saya tau Tuan adalah pamannya.. "
"Tidak apa-apa saya mengerti, saya harap Dokter bisa melakukan yang terbaik untuknya.. "
"Insyaallah saya akan berusaha, walau saya rasa kemampuan saya masih jauh dari kehebatan Tuan! "
"Jangan begitu, Dokter orang hebat . Kalau begitu silahkan dokter.. "
Ucap Alex tetkala sudah ada didepan pintu kamar Aiman, sang Dokter yang tak lain adalah Dokter Hendra masuk duluaan di suaul oleh Alex sendiri.
Alex menautkan alisnya tetkala tak mendapati Aiman di kasurnya hanya ada Fatih yang masih tertidur pulas mungkin kelelahan semalaman bocah itu tak bisa tidur untuk tetap melek untuk menjaga sang Baba.
Suara air terdengar membuat Alex merasa lega berarti Aiman ada didalam kamar mandi.
Lama paman Alex dan Dokter Hendra menunggu tak lama Aiman keluar dengan wajah segarnya walau masih terlihat pucat apalagi Aiman sempat kekurangan darah kemarin.
__ADS_1
"Alhamdulillah kamu sudah bangun,biar paman bantu.. "
Ucap Alex lembut memapah Aiman menuju tempat tidur, Aiman hanya diam saja tetkala pamannya bersikap hangat.
"Jangan banyak bergerak,biar Dokter Hendar memeriksa keadaan kamu.Apalagi luka tembak itu harus diganti perbannya. "
Lagi-lagi Aiman hanya diam dan membiarkan dokter Hendra memeriksa dirinya dan mengganti perban luka tembak yang sudah basah akibat Aiman tadi mandi.
"Usia sudah tua, saya ijin ke kamar mandi.. "
Ucap dokter Hendar tiba-tiba kebelet hajat membuat pekerjaannya tertunda untuk menggantikan perban.
"Silahkan Dok, biar saya yang meneruskan mengganti perbannya "
"Terimakasih.. "
Dengan cepat dokter Hendra melesat masuk kekamar mandi. Dan Alex langsung melanjutkan mengganti perbannya dengan hati-hati.
Hati Alex berdenyut melihat luka memar di lengan, leher dan pundak Aiman yang Alex ciptakan .
"Ma.. maafkan Paman.."
"Sudahlah paman, Aiman tidak apa-apa ini hanya luka kecil.. "
Ucap Aiman lemah memberi senyuman pada pamannya, rasanya Aiman tidak percaya bahwa yang ada dihadapannya adalah pamannya yang super ambisius dan lera melakukan apa saja demi menggapai misinya walau itu harus mengorbankan keluarganya sendiri.
"Paman tidak bermaksud menyakitimu, paman..ha... "
"Paman akan menebus kesalahan paman."
"Bagai mana kabar bibi ?"
" Alhamdulillah sudah siuman, tapi paman melarang dulu dia bertemu denganmu. Karna kondisinya yang belum setabil.. "
"Tidak apa-apa,paman apa paman melihat ponselku aku harus memberitahu pada istriku kalau Fatih baik-baik saja. "
Ucap Aiman mengalihkan pembicaraan, Aiman ingin marah tapi apalah daya ini semua sudah terjadi dan Aiman tau pasti pamannya sendiri juga menderita dengan situasi seperti itu.
"Paman tidak tau, mungkin salah satu anggotamu yang memegangnya.. "
Seketika Aiman ingat memang benar ponselnya Aiman titipkan pada anak buahnya ketika akan menyerang.
"Biar paman bantu! "
Ucap Alex langsung berdiri melihat Aiman yang berusaha berdiri.
"Tidak apa-apa paman.. "
Sikap dingin Aiman membuat Alex hanya menghela nafas pelan, Alex tau semua terasa asing dan canggung karna ulah dirinya mengingat itu Alex langsung ingat pada penghianat itu membuat Alex ingin melenyapkannya tapi Alex menahannya karna tidak mau gegabah kalau sampai sang istri tau semuanya akan runyam.
Alex seketika tersadar melihat Aiman yang berusaha berjalan sambil memegang kepalanya yang terasa berputar. Tapi sekuat tenaga Aiman menahannya, Aiman harus sembuh. Aiman tidak boleh lemah ada istri yang pasti sedang mengkewatirkannya. Apa lagi ini sudah dua hari Aiman tidak memberikan kabar, Aiman takut sang istri berbuat nekad.
__ADS_1
Dengan cepat Alex memegang lengan Aiman yang akan terjatuh.
Langkah kaki tergesa-gesa begitu nyaring mencari sebuah ruangan dengan air mata yang terus keluar. Dia tidak memerhatikan langkah kakinya yang sekekali tersandung membuat orang yang melihatnya merasa kewatir.
Antara marah, sedih, panik dan kesal bercampur menjadi satu. Dia terus berlari walau orang orang sudah mencegahnya karna bisa membahayakan dirinya sendiri jika terjatuh.
Tapi dia tidak memperdulikan orang yang ada dibelakangnya yang begitu merasa kewatir.
Para bodyguard dan anak buah Aiman hanya diam tidak bisa berbuat apa-apa mendapat amukan dari seseorang yang menerobos masuk dan menatap murka semua orang yang ada dilapangan.
"Aiman kamu harus istirahat dulu, biar paman yang akan mengambilkan ponsel kamu.. "
"Biar Aiman saja.. "
"Jangan keras kepala, lihat kondisimu jika istrimu tau pasti dia akan sangat marah dan sedih.Dan paman merasa bersalah karna hal itu.. "
Ucap dingin Alex tersulut emosi karna Aiman masih kekeh memaksakan diri untuk berjalan padahal kondisinya masih lemah apalagi Aiman belum makan.
Akhirnya Aiman hanya pasrah saja, dibenaknya hanya ada wajah sang istri yang sedang bersedih. Membayangkan itu semua Aiman langsung menggeleng,Aiman tidak akan sedikitpun membuat sang istri bersedih. Tapi bagai mana Aiman memberitahu sang istri jika kondisinya seperti ini.
Apa Aiman harus merahasiakannya dan tidak memberi kabar pada sang istri kalau sang putra sudah ada bersamanya.
Tapi jika diberi tahu sang istri Aiman harus secepatnya pulang tapi dengan kondisi baik-baik saja, jika seperti ini membuat Aiman bingung sendiri.
Alex dengan pelan membantu Aiman berbaring kembali Hingga.
Brak...
" Jangan menyakitinya.. "
Sret....
Bruk....
.
.
.
Bersambung....
Apa yang terjadi???
Ikutin aja yang kelanjutannya he.. he...
Jangan lupa tinggalkan jejaknya
Like, Komen, Hadiah, dan Vote ya
Terimakasih....
__ADS_1