
Takdir tak tau kapan itu datang, terjadi dan apa yang kita dapatkan. Karna semua hanya Allah lah yang tau, kita sebagai manusia hanya menjalankan saja karna semua apa yang kita kerjakan dan lalu itu semua tak luput dari skenarionya.
Bahkan daun yang jatuhpun atas skenario Allah meminta angin untuk memukul-mukul hingga dedaunan jatuh kebumi. Bukankah kita bisa melihat betapa hebatnya Allah dalam menjalankanya.
Kenapa Allah membiarkan daun jatuh dari ranting-rantingnya mungkin dengan cara itulah Allah menjaga mata kita supaya tak terketuk debu ketika angin meniupnya hingga debu itu menempel pada dedaunan tak langsung pada kita.
Takdir siapa yang tau! Bahkan Allah mudah sekali untuk membulak balik hati setiap hambanya seperti cepatnya melebihi kedipan mata kita.
Allah jungkir balikan keadaan sakit jingga bahahia begitupun sebaliknya karna sesuatu apapun yang terjadi pada kita Allah selipkan rahasia terbesar dibalik itu semua hanya kita yang tau dan merasakannya nanti ketika Allah sudah berkata 'Cukup aku mengujimu dengan rasa sakit maka Nikmalilah kebahagiaan atas kesabaran yang sudah kau lalui'
Tapi ingat jangan kita bangga atas kebahgiaan yang kita dafat bisa jadi sewaktu-waktu Allah mengambilnya kembali jika kita jauh dari kata 'Bersyukur' .
Tentang hidup siapa yang tau halnya Allah selalu membulak-balikan hati Ais. Kadang dititik terendah kadang di titik tertinggi bagai mana Ais yang menghadapinya Allah hanya memberi jalan yang terbaik saja.
Pilihannya ada dua 'Sabar dan Ikhlas '
Karna kata itu harus ada pada diri setiap hamba agar kita tak salah arah yang akan membuat kita menyesal dikemudian hari.
Barbagai aktifitas manusia dimuka bumi begitu beda-beda dan hanya Allah lah yang tau segala apa yang mereka butuhkan.
Halnya seorang gadis yang dari tadi sibuk berkutat dengan alat dapur membuat ini dan itu.
Kehamilannya yang kedua ini membuat gadis itu selalu semangat untuk memasak menyiapkan semua keperluan sang suami dan putra pertamanya.
Ada kebahagiaan tersendiri dalam dirinya bisa melakukan itu dan itu sangat menyenangkan.
Apa lagi hari ini hari libur dan suaminya tentu ada dirumah dan akan selalu menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya.
Itu sudah menjadi kebiasaan Aiman dan Ais akan banyak membuat cemilan untuk mereka santap ditaman belakang sambil menikmati bunga-bunga yang baru mekar.
Dret.. dret...
Dering ponsel membuat Ais sejenak memberhentikan kegiatannya dengan cepat langsung membasuh tangannya di wastafel.
"Bibi tolong lanjutkan buat Bolunya, Ais mau angkat telepon dulu.. "
"Baik, Nak. "
Dengan cepat Ais meraih ponselnya yang Ais letakan tadi diatas Kulkas. Seketika senyum Ais terpancar melihat siapa yang ada dilayar ponselnya.
"Assalamualaikum.. Umi.. kemana saja dari kemaren Ais cari? Dan sekarang Umi ada dimana? Kok tidak pulang! apa Umi bersama Abi? "
Secercak pertanyaan membuat umi Rahma terkekeh mendengar pertanyaan yang tak ada jedanya. Ais mendengus sebal karna sang umi malah menertawakannya, tapi tawa itu agak sedikit berbeda di telinga Ais tapi dengan cepat Ais menepisnya ketika sang Umi angkat bicara.
"Maafkan umi sudah buat putri manja umi kewatir, Umi kemaren niatnya mau kepanti tapi pas dijalan ada kecelakaan membuat umi harus membantu apa lagi ini tabrak lari. Dan apa putri umi tau yang ditabrak adalah gadis malang yang sebatang kara jadi Umi membantunya mengurus semuanya dan sekarang mungkin beberapa hari umi gak pulang karna menjaga gadis malang itu. Dan maaf ponsel umi kemaren drof jadi gak bisa memberi tahu putri umi.. "
"Apa abi sudah dikasih tau ? "
"Sudah, Sayang. Ini umi sedang bersama abi. Oh yasudah umi mau sarapan dulu nanti umi telepon lagi.. "
"Hiks.. ma.. maafkan umi, Nak... "
__ADS_1
Lilir umi Rahma sambil menatap layar ponsel yang sudah mati. Tangannya menggenggam erat ponsel itu lalu meletakannya di dadanya.
Cairan bening terus saja keluar membuat dada umi Rahma terasa sesak mengingat dirinya telah berbohong pada sang putri.
Tapi itu pilihan yang terbaik karna umi Rahma tak mau membuat sang putri bersedih apa lagi lagi hamil muda. Umi Rahma tak mau membebani pikiran sang putri dengan kondisinya.
Cukup dulu sang putri terus terpuruk ketika masa-masa hamil Fatih,umi Rahma tak mau dikehamilan sang putri kali ini kembali merasakan kesedihan.
"Apa itu keputusan yang baik, Dek. "
Ucap abi Azam yang sendari tadi duduk di shofa kini dia berjalan kearah sang istri dan menarik kepala sang istri kedalam pelukan hangatnya.
"Adek ti.. tidak tau, Mas. "
Gumam umi Rahma sesak dengan pelukan yang semakin erat abi Azam berikan.
"Sudah sekarang jangan menangis lagi, waktunya Adek makan dan minum obat supaya cepet pulih dan bisa pulang.. "
Ucap abi Azam lembut sambil mengurai pelukannya, umi Rahma langsung mengangguk dengan tangan yang membersihkan sisa air mata yang keluar.
"Semoga yang umi katakan Benar.. "
Gumam Ais ketika sang umi mematikan panggilannya. Kemudian Ais kembali lagi kedapur membantu bi Sumi.
Sedangkan Aiman dan Adam sedang berada ditaman belakang bermain bola dengan baby Fatih.
"Ma'af, Nak ada tamu yang mencari Nak Ais.. "
Ucap Ais tampa menoleh karna sedang mengangkat kue yang sudah jadi didalam open.
"Saya kurang tau, Nak.. "
"Yasudah suruh saja tunggu diruang tamu.. "
"Baik, Nak. "
Pak Muh langsung kembali menemui tamu yang ingin bertemu dengan nyonyanya.
"Silahkan duduk, Tunggu saja mungkin Nona akan segera datang.. "
"Terimakasih Pak.. "
Ucap tamu itu lalu dia duduk dengan map Hijau ditangannya.
Ais langsung mencuci tangan tak lupa menuangkan air kedalam gelas dan membawa beberapa cemilan.
"Bi tolong bawa ini ke belakang yah, Ais mau temui tamu dulu.. "
Ucap Ais yang di 'Iya' kan oleh bi Sumi, Ais langsung melangkah keruang tamu dengan perasaan bingung. Memang siapa yang mencari ku, kalau Ani dia pasti langsung masuk saja, pikir Ais.
"Ma'af apa anda yang mencari Saya.. "
__ADS_1
Deg...
Kedua mata Ais membulat tetkala melihat siapa tamunya, Gadis yang dulu datang meminta maaf dan langsung pergi begitu saja kini gadis itu ada dihadapannya dengan senyum manis yang tersungging di bibirnya.
"Apa kabar ? "
Tanya gadis itu yang tak lain adalah Mona dengan senyum yang masih mengembang.
"Al.. Alhamdulillah ba.. baik.. Gimana kabar kamu juga ?"
Ucap Ais sedikit kaku karna mereka tak terlalu dekat, mereka hanya dua manusia yang saling bermusuhan di masa lalu.
"Alhamdulilallah aku juga baik, maaf aku mengganggumu.. "
"Eh.. tidak ko, cuma aku heran kamu selalu pergi dan datang sesukamu.."
Canda Ais mencairkan kecanggungan yang ada sambil meletakan nampan yang diatasnya ada air putih dan sesikit cemilan.
"Maaf mungkin kita bukan teman baik, tapi aku kesini hanya mau menanyakan sesuatu.. "
"Tanyakan saja, Jika pertanyaannya bisa Ais jawab maka akan Ais jawab jika tidak, Maaf ! "
Ada sedikit ragu didiri Mona tapi Mona hanya ingin tau apa yang sebenarnya terjadi Empat tahun yang lalu itu yang tidak bisa dia ketahui.
Karna itu semua menyangkut keputusan kedepannya apa yang harus Mona ambil dan jalani walau di hati Mona ada rasa keraguaan .
"Apa yang di dalam Map ini sebuah Kebenaran.. "
Ucap Mona sambil memberikan map Hijau kepada Ais dengan tatapan bingung. Apa lagi di mapnya ada logo rumah sakit yang Ais tau itu rumah sakit mana.
Perlahan Ais membuka map itu dengan perasaan bingung apa sebenarnya isi map itu dan kenapa ada logo rumah sakit dimana sang suami bekerja disitu.
Srettt...
"Kak Li.. "
Deg...
.
.
.
Gimana makin penasaran tidak dengan kelanjutannya??
Yuk ikutin terus prat selanjutnya dan jangan lupa Like, Komen, dan Vote
Terimakasih...
TINGGALKAN JEJAK YA...
__ADS_1