
Wajah panik terlihat jelas di wajah Azam tetkala tak mendapatkan sang istri. Padahal Azam hanya pergi sebentar membeli minum tapi sang istri sudah tidak ada di tempat duduknya.
Taman rumah sakit begitu luas membuat Azam kewalahan mencari sang istri, Azam hanya takut terjadi apa-apa.Apa lagi kondisi sang istri masih lemah itupun baru bangun dari pingsannya karna kaget mendengar kenyataan yang terjadi pada anaknya.
"Sa.. sayang... "
Rahma berbalik sambil tersenyum seketika senyuman itu hilang tetkala melihat wajah panik sang suami.
"Mas dari tadi nyari ade, Ade sudah dimana?? apa kepalanya masih pusing??? Atau ada yang terluka?? "
Runtutan pertanyaan Azam lontarkan sambil mengecek keadaan sang istri,membuat Rahma merasa bersalah karna tadi pergi tampa pamit.
"Ade gak papah Mas, ma.. maaf.. "
"Syukurlah kalau begitu, sekarang ade harus istirahat "
"Apa Adam sudah pulang Mas?? "
"Sudah tadi, sehabis mengelap tubuh Bang Air"
Rahma kembali diam dengan pikirannya sendiri sambil menatap lurus kedepan.
Cobaan silih berganti, apa Rahma sanggup menghadapi semua cobaan itu seorang diri??Bagai mana kalau Rahma menghadapi seorang diri tampa ada Azam di sampingnya!! sunghuh Rahma tak sanggup.
Rasa syukur selalu Rahma panjatkan atas apa yang Allah beri, memberi pendamping yang sangat lemah lembut, tanggung jawab dan melindungi.Membuat Rahma bisa melewati semuanya.
Hingga Rahma teriangat akan keluhan seorang gadis yang sangat memperihatinkan membuat Rahma iba mendengar ceritanya. Rahma menengok kesamping dimana ada Azam yang dengan sabar membantu dirinya berjalan.
"Gimana kabar teteh, Mas.. "
Tanya Rahma karna sudah rindu pada sang putri manjanya. Sudah satu bulan ini Rahma belum bertemu dengan Ais karna memang Rahma menyuruh Aiman untuk membawa Ais pergi ke-Bogor.
Rahma hanya takut dalam kondisi Ais yang masih belum pulih bener mendengar berita adiknya kena musibah membuat kondisi Ais semakin memburuk. Biarlah rasa rindu itu meruak hingga Allah mempertemukan kembali dalam kondisi baik-baik saja.
"Alhamdulillah teteh sudah semakin membaik, mungkin lusa teteh kembali ke sini.. "
"Apa Aiman sudah menceritakan kondisi Air?? "
"Katanya belum, mau mencari waktu pas, insyaallah teteh akan baik-baik saja"
"Semoga cobaan ini berlalu... "
"Amin... "
Dengan sayang Azam membantu sang istri berbaring dimana di atas brankar, Rahma menengok kesamping dimana ada sang anak, Air sedang berbaring.
Sudah satu bulan Air belum sadarkan diri. Karna benturan keras di kepalanya mengakibatkan Air koma bahkan tanda-tanda Air bangunpun belum ada.
Air masih betah berada di kegelapannya tidak tau bahwa orang-orang sedang mencemaskan, sedih, dan rindu.
Ibu yang mana yang tidak akan tega melihat anaknya sedih,semua sangatlah menyakitkan bagi Rahma tapi apalah daya itu sudah menjadi kehendak Allah Subhanahu Wata'ala.
Kota Bogor.....
Aiman baru saja pulang dari makam mamah Dinda bersama sang istri yang terus menggenggam tangannya, seperti tak mau jauh-jauh.
Sedangkan Aiman hanya tersenyum saja melihat perubahan sang istri yang jauh lebih baik lagi. Tak ada rasa takut lagi dan sekarang Ais sudah bisa berbaur kembali di lingkungan.
"Loh hubby inikan bukan jalan pulang... "Tanya Ais bingung pasalnya memang Aiman membelokan mobilnya.
"Emang bukan jalan pulang... "
"Terus kita mau kemana?? "
"Suatu tempat, mungkin khumairo akan menyukainya "
"Kemana?? "
"Rahasia!! "
Ais terdiam memaksapun pasti tidak akan di kasih tau lebih baik Ais diam saja, Ais hanya menengok keluar jendela melihat pepohonan di sepanjang jalan yang nampak sejuk dan asri. Terbukti dari udara yang menerpa wajah Ais sangatlah sejuk.
__ADS_1
Lama kelamaan membuat Ais mengantuk hingga tertidur, Aiman hanya tersenyum saja memberhentikan mobilnya. Aiman dengan sayang menyelimuti sang istri dengan jaket yang Aiman kenakan dan sedikit menurunkan kursi mobilnya hingga membuat Ais nyaman.
Aiman menjalankan mobilnya kembali hingga sampai di sebuah bangunan sederhana di kelilingi kebun teh dan pepohonan membuat udara begitu dingin.
Ais terusik dari tidurnya tetkala udara dingin menerpa kulit wajahnya, perlahan kelopak mata itu terbuka. Pertama yang di lihatnya dagu dan hidung sang suami yang begitu mancung.
Hingga Ais sadar bahwa dirinya ada di gendongan sang suami, membuat Ais tersenyum dan mengelus rahang Aiman membuat Aiman menunduk agar bisa melihat wajah sang istri.
"Sudah bangun hemmz... "
"Kita dimana By?? "
Bukannya menjawab pertanyaan Ais malah bertanya sambil melihat sekeliling bangunan yang nampak berbeda.
Aiman merebahkan sang istri di atas kasur dengan pelan, Aiman duduk di sisi ranjang lalu menarik selimut guna menutupi kaki jenjang sang istri.
"Coba khumairo tebak!! "
Ais menelisik seluruh suasana kamar hingga matanya berhenti di jendela yang terbuka membuat angin berkelebatan masuk membuat kordeng putih melambai-lambai.
"Ah... ini sudah malam by, Ais gak bisa menebaknya.. "
Keluh Ais membuat Aiman gemas dengan mimik wajah sang istri.
"Mau kemana?? "
Grep....
Aiman menyelimuti tubuh sang istri dan dirinya, tangan kekar Aiman melingkar indah di perut sang istri dengan wajah berada di pundak Ais.
"Udaranya dingin by, tapi Ais suka"
Gumam Ais tapi masih terdengar di telinga Aiman.
Mata Ais menengadah keatas langit melihat taburan bintang yang sangat indah, membuat Ais nyaman apalagi dengan dekapan sang suami yang mempererat pelukannya.
"Barakallah fi umrik ya zaojati(selamat ulang tahun wahai istriku).. "
Deg....
Tubuh Ais menegang tetkala bisikan dari sang suami membuat bulu kuduk Ais meremang, Ais hanya diam berpikir, memang hari ini tanggal berapa?? kenapa sang suami mengucapkan selamat ulang tahun, pikir Ais.
Karna memang beberapa minggu kebelakang pikiran Ais selalu kelut membuat Ais lupa bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya dan berarti ulang tahun adik kembarnya juga.
"B.. by... "
Ucap Ais gemetar membalikan badannya hingga menghadap sang suami, Ais sedikit menengadah karna tinggi tubuhnya hanya sebatas dada Aiman.
__ADS_1
"Semoga panjang umur, sehat selalu dan jadi istri sholehah"
Cup...
"Terr... terimakasih by... "
"Kita berada di puncak"
Duarrr...
Seketika mata Ais melotot tak percaya bahwa sang suami membawanya kepuncak. Tempat yang sejak kecil Ais impikan.
"Ki.. kita di pun.. puncak... "
Ucap Ais gemetar membuat Aiman mengangguk saja. Entah apa yang akan Ais katanya yang penting saat ini hatinya sangatlah bahagia karna impiaan nya terwujud dan yang mewujudkannya adalah orang yang Ais cinta.
"Apa khumairo bahagia?? "
Ais hanya menganghuk saja dengan air mata yang mengalir karna haru.
"In.. ini hadiah yang paling istimewa by.. "
Ucap Ais tersenyum bahagia sambil memeluk leher sang suami erat, begitupun Aiman membalas pelukan sang istri tak kalah erat.
Kebahagiaan hanya sederhana ! bukan di tilai dari seberapa mahal dan istimewahnya barang atau tempatnya. Tapi bagai mana cara kita memujudkan apa yang orang kita cintai mau.
Ais begitu bahagia menikmati suasana malam di puncak apa lagi bersama sang kekasih halalnya, dengan makan malam romantis, canda tawa dan saling berbagi. Walau Aiman tak memberikan kado apa-apa tapi bagi Ais tempat ini kado paling indah yang Ais rasakan.
Deg...
Ais terdiam dengan kunyahannya dan meletakan sendok dan garpuh keatas piring,apa yang Aiman lakukan membuat Ais melupakan semuanya, bahwa ada orang lain yang sama berada di posisi Ais.
Ini adalah hari ulang tahun dirinya pasti Air juga merayakan tapi Ais baru ingat kenapa tak ada satupun keluarganya yang menelepon dirinya hanya sekedar mengucapkan saja.
"Air berada di rumah sakit, kec..kecelakaan.... "
Duar....
.
.
.
.
Bantu like, komen dan vote yah.....
__ADS_1