
Ucapan Mona terus saja berputar di kepalanya Air membuat Air hanya bisa menghela nafas panjang. Bagai mana caranya Air mendapatkan Mona, seorang gadis yang sudah berhasil menjungkir balikan hatinya.
Apa Air akan terus berusaha meraih hati Mona kembali ? Atau Air hanya pasrah menerima kenyataan kalau gadis yang dia sukai sudah dipinang oleh orang lain.
Sungguh mendengarnya membuat hati Air sakit sekali. Inikah sakitnya cinta bertepuk sebelah tangan? Apa dulu ini yang kamu rasakan, Batin Air terus saja berkulat dengan hatinya sendiri.
"Dek.. "
Panggilan Ais sungguh membuat Air terkejut tapi dengan cepat Air menyembunyikan rasa terkejut itu.
"Maafkan Teteh, tadi sempat marah pada Adek.. "
"Tidak apa-apa Teh, Air paham ko. "
"Dari tadi teteh perhatikan Adek melamun, Ada apa hemmz?? "
"Tidak ko, Adek baik-baik saja. "
"Adek tak pandai berbohong! "
Hup..
Air menarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara kasar dengan tatapan yang menerawang kedepan.
Pikirannya berkelana jauh disaat masa-masa kuliah, dimana Mona selalu mengganggu hidupnya. Setiap hari membawakan kota makan, minum atau perhatiaan lain yang tak bisa Air hitung. Tapi Air yah Air manusia Es dengan kedinginannya dan tak pernah melirik sedikitpun atau simpati dengan apa yang Mona lakukan.
Karna mereka berbeda! .
Tapi lihatlah ketika Allah menjungkir balikan keadaan kini Air berbalik tak bisa melupakan sosok yang dulu selalu mengganggunya tapi kini bersarang dihati dengan rasa yang berbeda.
" Dia sudah milik orang lain, Teh. "
Ucap Air sakit mengingat kata terakhir yang diucapkan Mona sebelum meninggalkan rumah sakit.
"Aku sudah dijodohkan oleh ayahku... "
"Apa kamu menerimanya? "
"Ya "
"Apa sekarang tak ada rasa sedikutpun yang tersisa untukku "
"Maaf, semuanya sudah terlambat.. "
"Aku bisa memperjuangkanmu, berilah aku kesempatan.. "
"Tapi kesempatan itu sudah hilang Empat tahun yang lalu.. "
"Inikah yang kamu rasakan dulu. Ma.. ma'aff.. "
"Itu hanya masa lalu, Terimakasih sudah menyelamatkanku! Permisi. "
Air hanya bisa menatap punggung Mona yang menjauh tampa bisa mencegahnya, Gadis itu sudah milik orang lain.
Inikah takdir Air yang harus kecewa dengan keadaan! .
"Apa Adek teteh akan menyerah ? .."
"Tapi dia sudah dijodohkan oleh ayahnya. "
"Ingat itu baru di jodohkan, belum menikah ! Jadi masih ada kesempatan buat Adek mendapatkan hatinya kembali.. "
__ADS_1
"Tapi dia meminta jangan mengganggunya lagi.. "
Lilir Air menunduk membuat Ais merasakan apa yang dirasakan sang adik. Kalau begitu caranya, apa yang harus Ais lakukan supaya sang adik tidak bersedih lagi.
"Teh, Bang dipanggil Umi.. "
Ucap Adam membuat Ais seketika berbinar kalau sang umi berarti sudah sadar ketika tadi sempat pingsan kembali.
"Umi sudah sadar.. Alhamdulillah.. "
Binar Ais langsung menarik lengan sang Adik kedalam, Adam hanya menggeleng melihat tingkah kakak-kakaknya.
Dari satu jam yang lalu umi Rahma sudah sadar dan dia hanya ingin bertemu dengan anak kembarnya. Umi Rahma takut jika sang putri menyalahkan Air, walau bagai manapun Air hanya menuruti perindah seorang ibu .
Cklek...
"Umi.. Hiks.. "
Bruk...
Ucap Ais gemetar langsung memeluk sang umi yang namapak pucat. Umi Rahma hanya tersenyum saja sambil mengelus punggung sang putri manjanya.
Baru kemarin umi Rahma menggendong baby kembar dan sekarang baby kembarnya sudah menjelma menjadi orang dewasa dengan kekurangan dan kelebihannya masing-masing.
"Ma.. maafkan Keogoisan umi, Nak. Umi hanya tak ingin melihat putri umi bersedih.. "
"Teteh tak apa-apa Mi, tapi Teteh mohon jangan diulangi lagi. Ais merasa sudah menjadi anak durhaka tak bisa menjaga dan merawat Umi hikks.. "
"Maafkan Umi... Jangan marah pada saudaramu, Air begitu karna Umi dan Abi yang meminta.. "
"Teteh tidak marah Ko, teteh hanya sedikit kecewa... "
"Yasudah sekarang Umi istirahat saja, Umi gak boleh banyak bergerak dulu.. "
Air yang merasa dipanggil maju kedepan langsung duduk di sisi sang Umi.
Umi Rahma mengelus pipi sang putra yang sudah besar, baru kemaren rasanya umi Rahma menggendong Air dan sekarang putranya sudah menjadi laki-laki gagah.
"Terimakasih selama ini sudah menjaga Umi.. "
"Itu sudah menjadi kewajiban Air, Mi... "
" Dek.. "
"Jika Takdir Allah hanya sampai disini, maka jadilah putri dan putra umi yang tangguh penuh dengan kesabaran dan keikhlasan.Karna kehidupan ini hanya Fana.
Ucap lembut umi Rahma dengan senyum yang mengembang meminta anak bungsunya mendekat.
" Jagalah Abi dan saudara-saudara kamu, Air. Dan jadilah laki-laki yang penuh tanggung jawab, penyayang dan tangguh seperti abi kalian.. "
"Maaf jika umi tak bisa menemani abang dan dede ketika kalian meni.. "
"Hiks... apa yang um.. umi katakan.. "
Potong Ais memeluk erat sang umi membuat umi Rahma hanya tersenyum saja, seolah-olah tak terjadi apa-apa.
Air dan Adam hanya diam dengan guratannya sendiri. Sedangkan abi Azam hanya diam dengan tatapan yang tak bisa di jelaskan memandang sang Istri yang tersenyum kepadanya. Seakan jangan lah bersedih ini hanya lah Takdir, kita akan bertemu kembali di alam yang berbeda.
Umi Rahma seakan tenang jika istirahat sekarang karna putrinya sudah ada yang menjaga dan umi Rahma percaya bahwa sang suami akan kuat menerima Takdirnya dengan jadi penguat kedua jagoannya.Aiman hanya diam saja di dekat abi Azam dengan baby Fatih yang ada digendongannya dengan mulut yang penuh dengan makanan.
" Teh, bolehkah umi istirahat.Tapi umi ingin kalian bertiga menemani Umi.. "
__ADS_1
Ucap lembut umi Rahma membuat Ais mendongkak menatap manik sang umi yang memancarkan kebahagiaan. Entah kenapa hati Ais gelisah yang tak bisa dijabarkan oleh kata.
Ucapan sang umi seakan dia ingin pergi jauh tapi Ais juga sedikit ragu melihat tidak ada yang aneh dari wajah sang umi.
" Umi kangen pelukan Teteh..."
"Bang jangan bersedih,dan Dede teruslah di jalan Allah menegakan keadilan.. "
Lilir umi Rahma memeluk sang putri tak lama terdengar nafas teratur bahwa umi Rahma sudah kealam mimpi.
Ais membalas pelukan sang Umi tak kalah erat dengan air mata yang keluar,sungguh kata-kata sang umi membuat Ais tersayat. Ais hanya bisa mendengarkan karna tak mau jika dirinya terlalu cengeng dihadapan sang umi.
"Mi.. hiks.. mi... "
Ucap gemetar Ais tetkala tangan sang umi tak lagi memeluknya dengan badan yang mulai dingin Ais rasakan.
"Mi.. umi hanya tidurkan? bangun Mi dan jawab Tet.. teh.. "
Tittttt....
Guncang Ais menangis pilu dengan suara detak jantung yang terdengar nyaring di dalam ruangan.
Abi Azam langsung berlari mendekati sang istri yang berada diantara putri dan putranya.
"Sayang ,Dek... Innalillahiwainnaillahiroziun.. "
Lilir abi Azam menunduk dengan rasa sakit yang teramat, sang belahan jiwa ternyata memilih untuk pergi duluaan tampa mau menunggu.
Adam menangis dipelukan bang Air, sang umi yang begitu dia cintai memilih pergi ketempat asalnya. Dimana Allah sudah merindukan umi Rahma dan memintanya kembali.
Sudah cukup umi Rahma berkelana dengan berbagai ujian, rintangan, dan pengorbanan.Saatnya dia berhenti dengan hembusan terakhir berada diantara putra putrinya.
"Ti.. tidak Mi, semua ini bohong... Umi gak mungkin ninggalin Teteh.. "
"Hiks... Ummah.. Nenek.. Ummah.. "
Jerit baby Fatih yang melihat sang Ummah menangis membuat dirinya ikut menangis. Sedangkan Aiman memeluk sang istri erat agar tak menyakiti dirinya sendiri.
"Istigfar Sayang. Umi akan sangat sedih jika melihat Sayang begini. "
Ucap lembut Aiman dengan tangan yang semakin memeluk sang istri erat dengan baby Fatih ada diantara mereka.
"Inikah Le.. lah yang Adek ucapkan ! "
Lilir abi Azam melihat seksama wajah sang istri, abi Azam tak ingin melewatkan setiap inchi wajah teduh, penyayang, dan bijaksana sang Istri. Dan mungkin wajah ini akan menghilang di atas bumi ini.
Tapi wajah itu akan selalu terbayang di hati, jiwa,dan pikiran abi Azam.
"Tunggu Mas disana! "
.
.
.
.
**Gimana seru gak !
Jangan lupa tinggalkan jejak Like, Komen, dan Vote...
__ADS_1
Gak bayar ko he.. he...
Terimakasih**...