
Hembusan angin menerpa baju gamis gadis yang baru saja turun dari pesawat.
Kedua matanya menatap binar sekeliling dengan pemandangan langit yang begitu cerah. Sudah hampir Empat tahun dia meninggalkan Indonesia dan sekarang dia merasakan kembali udara Indonesia tempat dimana dia dilahirkan.
Mata sipitnya melihat jam dipergelangan tangannya, dengan mata yang kembali pokus mencari seseorang yang belum kelihatan.
"Ka Li.. "
Gadis itu berbalik tetkala namanya dipanggil membuat sudut bibirnya tertarik kesamping.
"Nunggu jemputan yah? "
"Iya, Kamu juga sama? "
"Iya kak, Abangku itu sok sibuk padahal Adam sudah mengabarinya dari tadi.. "
Kesal Adam membuat gadis yang dipanggil kak Li hanya tersenyum saja.
"Abang.. "
Teriak Adam sambil melambaikan tangan melihat siapa yang sedang berlari dengan setelan jas yang begitu gagah ditubuhnya.
Air sedikit merasa bersalah pada adiknya karna harus menunggu sedangkan dirinya barus saja selesai Mitting dan langsung pergi ke-Bandara menjemput sang adik karna Aiman tak jadi menjemput karna ada oprasi mendadak sedangkan Abi Azam ada urusan diluar kota yang akan pulang nanti malam bersama umi Rahma karna umi Rahma ikut serta.
Air dari tadi mencari keberadaan sang adik yang tak kunjung ketemu. Hingga mendengar suara yang memanggilnya, Air menyerngit melihat sang adik yang sedang bersama seorang perempuan tapi sayang Air tak bisa melihat wajahnya karna posisi wanita itu memunggungi Air. Dengan cepet Air menghampiri sang adik.
"Ma'af Abang baru selesai Mitting, Dede gak lama menunggu kan.. "
Deg...
Suara yang begitu pamiliar membuat kak Li mematung dengan tangan meremas ujung kerudungnya.
Suara itu! apa dia orang yang sama? Astagfirullah, Istigfar kamu gak boleh memikirkannya lagi.Ini sudah Empat tahun mungkin dia sudah bersama orang lain, pikir kak Li.
"Astagfirullah, oh iya Bang kenalin ini Kak Li yang sering Adam ceritaiin.Kak Li kenalkan ini Abang Adam.. "
Dengan ragu Kak Li berbalik dengan hati yang bergemuruh karna memang posisinya memunggungi Air .
"Kenapa detak ini masih sama seperti Empat tahun yang lalu"
" Li.. "
"Airummm... "
Jderrr...
Air membulatkan kedua matanya tetkala melihat wajah cantik wanita Itu dengan kedua kaki yang sedikit mundur.
Wajah yang sudah empat tahun menghilang begitu saja tampa jejak dan sekarang wanita itu ada dihadapannya. Wajah datar seakan menunjukan bahwa mereka tak saling kenal.
Wanita yang sama seperti empat tahun yang lalu dan getaran itu masih sama dengan apa yang Air rasakan.
Wajah cantik dibalut hijab yang senada dengan gamis yang ia kenakan membuat dirinya terkesan anggun dan dewasa.
"Apa wajah ini sama seperti wajah empar tahun yang lalu "
Batin Air yang hanya diam dengan keterkejutannya. Tapi sebisa mungkin Air mengendalikannya.
Adam yang melihat reaksi abangnya menyerngit bingung. Sedangkan Kak Li langsung menunduk dengan tangan yang terus meremas ujung jilbabnya hingga tampa kak Li sadari ujung bajunya sudah kusut.
"Baby.. "
"Ma'af, kakak duluan .Assalamualaikum.. "
__ADS_1
Ucap Kak Li tergesa-gesa langsung berlari kecil menuju kedua sahabatnya dengan tatapan kesal.
Adam bingung melihat raut wajah abangnya yang berubah .Sepanjang jalan Air hanya diam dengan pikirannya sendiri sampai mobil yang Air bawa masuk kepekarang rumah megah dengan tanaman yang sangat indah berjejer seakan menyambut mereka.
Ais yang mendengar suara mobil berhenti langsung berbinar sambil menggendong Fatih menuju ruang utama.
Cklek...
"Assalamualaikum.. "
"Waalaikumsalam, Dede.. "
Teriak Ais girang melihat adik bungsunya yang sudah satu tahun lebih meninggalkan Indonesia.
Tubuh tinggi gagah, dengan stelan kemeja hitam dan jelana jens tak lupa kaca mata hitam menenteng dihidung mancungnya. Tapi tak kalah gagah dengan laki-laki di sebelahnya yang memakai setelan jas yang pas di tubuh atlentisnya.
"Om Adam... om Air.. "
Girang Fatih sambil merentangkan kedua tangannya dengan cepat Adam menggendong keponakannya.
"Om Adam dah pulang yehh... nanti marn yah sama Fatih.. "
"Ok siap.. "
"Gimana kabar teteh.. "
Ucap Adam sambil mencium punggung tangan kakaknya begitupun Air.
"Alhamdulillah Teteh baik, gimana Dede! Apa kuliahnya lancar?? "
"Alhamdulillah disana Dede baik-baik saja apa lagi dibantu sama Kak Li, dan kuliah Dede juga alhamdulillah lancar.. "
"Emmz kak Li yang sering Dedek ceritainnya. Teteh jadi penasaran seperti apa orangnya.. "
Ucap Adam sambil berpikir dengan baby Fatih yang terus memainkan kancing kemeja om-nya.Sedangkan Air hanya diam dengan pikirannya entah kemana.
"No, teteh tak kalah cantik, pintar dan baik dari kak Li itu kan.. "
Adam hanya tersenyum geli mendengar ucapan tetehnya yang terkesan tidak mau tersaingi.
"Iya Teteh Ais yang paling the best deh.. he.. he.. "
Canda Adam membuat Ais memberenggut.
"Om.. "
"Apa Jagoan.. "
"Fatih kata Ummah mau punya Adek loh.. "
"Benar begitu..."
Baby Fatih hanya mengangguk dengan mata binarnya seakan dia tak sabar menunggu kedatangan adiknya.
"Wah selamatnya Fatih mau jadi Abang,benar behitu Teh.. "
"Alhamdulillah doakan saja dek.. "
"Udah berapa bulan.. "
"Baru Tiga minggu Dek.. "
"Bang Aiman belum pulang teh?? "
__ADS_1
"Belum mungkin malam katanya mau ada oprasi besar, Kalau Dedek mau istirahat dikamar aja sudah teteh siapkan. Sambil tunggu umi sama abi datang saja biar Fatih sama Teteh.. "
"No, Ummah Fatih mau sama Om Adam.. "
"Sayang omnya kan cape biar om istirahat yah, nanti main lagi sama om boleh.. "
"Hik.. Fatih mau sama Om.. "
"Sama om Air saja yah.. "
Ucap Air angkat bicara karna sendari tadi dia hanya diam saja lalu melangkah bergi begitu saja membuat Ais langsung melongo dengan Adam menatap abangnya dengan tatapan bingung.
"Kenapa dengan bang Air ,Dek ? . "
Tanya Ais yang merasa ada kejanggalan dengan sikap tak biasa Air lakukan.
"Dedek gak tau Teh, ta.. tapi.. "
Jeda Adam mengingat pertemuan abangnya dengan kak Li, dan Adam yakin kalau perubahan Abangnya karna pertemuan itu. Tapi Adam juga sedikit tak yakin karna reaksi kak Li biasa saja.
"Tapi kenapa Dek! "
"A..anu Teh,tapi Dedek gak yakin! "
"Apa? "
"Apa mungkin perubahan abang karna bertemu dengan kak Li tadi dibandara "
"Apa! jadi kak Li itu ada di Indonesia.. "
Pekik Ais berbinar membuat Adam menutup telinganya karna teriakan sang kakak yang memekik gendang telinganya.
"Kenapa Dedek gak bilang dari tadi kalau kak Li itu ada di Indonesia. Teteh jadi penasaran ingin bertemu dengannya.. "
Binar Ais sungguh penasaran siapa kak Li itu? orang yang selalu Adam ceritakan dengan budi luhur dan kebaikannya.
"Kak Li memang pulang bareng sama Dede, He.. he.. maaf Dede soal itu gak sempat cerita karna memang taunya pas dibandara saja. Tapi Dede kalau gak salah punya pothonya "
"Mana.. mana Teteh mau lihat.."
Antusias Ais berpindah duduk di dekat sang adik, perlahan Adam membuka ponselnya dan mencari potho kak Li yang dia ambil diam-diam saat kak Li sedang mengajar anak kecil.
Entah kenapa Ais merasa penasaran dengan kak Li yang sering sang adik ceritakan, padahal Ais bukan tipe seperti itu. Tapi Entahlah seperti Ais mengenal atau apalah Ais juga tak tau.
"Ini Teh.. "
"Assalamualaikum.. "
Deg...
.
.
.
Masih lanjut yah...
Maaf yah baru Up lagi,semoga teman-teman tak bosan untuk menunggu yah he.. he..
Jangan lupa Like, Komen, dan Vote
Terimakasih...
__ADS_1