
Aiman dan para anggotanya sudah berangkat dengan perlengkapan yang sudah di susun rapih tak ada sedikitpun yang ketinggalan.
Jubah hitam melambai-lambai oleh pukulan keras angin yang memeluk tubuh jangkung yang sedang berdiri diatas kapal.
Matanya menyapu kesekeliling penjuru lautan dengan tatapan tajam, tak lupa masker dan topi hitam yang melekat tepat ditempatnya.
Singa yang sudah lama tidur terbangun karna usikan kecil yang membuat singa itu marah. Apapun ressikonya dia harus menunjukan siapa singa tidur itu sebenarnya. Padahal singa tidur yang terusik akan jauh menyeramkan dari pada harimau sedang mengintip mangsanya.
Tangannya dari tadi mengepal memegang sesuatu yang sudah lama dia ciptakan, orang itu yakin kalau benda itu akan menyelamatkan sang putra dari kekejaman manusaia yang tak punya hati itu.
"Tuan, sebentar lagi kita sampai dermaga.. "
"Berhentikan kapal jarak 200 Meter, kita akan menyelam. "
Ucap salah satu anggota yang bertanya, dia mundur kembali menyampaikan titah Tuannya. Seluruh anggota mengangguk paham akan sencana sang tuan yang selalu hati hati.
"Ya Allah bantulah hamba membawa putra hamba kembali tampa harus bertumpahan darah, Ridhoilah hamba.Hamba hanya seorang ayah yang ingin menyelamatkan putranya sendiri, maafkan dosa-dosa hamba jika cara ini yang harus hamba tempuh.. "
Lilir Aiman menatap luas kedepan, dengan benda yang sendari tadi dia pegang Aiman masukan kedalam kantong saku jubahnya.
"Sayang doakan Hubby, semoga hubby bisa membawa Fatih dengan selamat.Andai kau tau siapa yang hubby hadapi, rasanya ini berat sekali. "
"Maafkan hubby harus melakukan sesuatu dengan cara seperti ini,mungkin sesudah ini kamu akan tau siapa hubby sebenarnya. Jika kamu sudah tau semoga kamu tidak akan pernah menyesal sudah menikah dengan manusia seperti aku. "
Gumam Aiman sambil membayangkan wajah sang istri yang tersenyum dengan sejuta cinta yang sang istri taburkan didalam hatinya.
"Jika tidak dalam keadaan mendesak jangan bunuh lawan ! Cukup kalian lumpuhkan . Bersiaplah kita akan menyelam.. "
"Siap.. "
Ucap para anggota Aiman mengerti akan titah tuannya yang memang selalu bermain bersih hingga tidak sampai ada pertempuran darah kecuali jika itu memang mendesak dan kita perlu bela diri.
Apalagi lawan yang akan mereka hadapi sangat membuat mereka benar-benar harus hati-hati.
Sedangkan disebuah ruangan luas para peria bertubuh besar dibuat kewalahan oleh bocah kecil yang sungguh membuat mereka naik darah.
"Cepat makan ! Jika tidak akan ku masukan kau kekandang macan. "
"Silahkan yang ada pasti Taun kalian marah.. "
"Kau... "
" Ingat paman, kalian sudah tua. Tubuh kalian besar tapi beraninya sama anak kecil.. "
"Hey... "
Grep...
Salah satu para bodyguard itu mencengkal tangan bos mereka yang akan memukuk bocah tengil itu.
__ADS_1
"Jangan, Bos. Kalau sampai tuan melihat kita menyentuh bocah tengil itu yang ada kita malah jadi kambing guling.. "
Huppp...
Bos bodyguard itu langsung membuang nafas kasar dengan tangan mengepal erat menatap tajam wajah polos bocah yang sedang duduk bersandar dikursi. Bocah itu malah menatap balik bos bodyguard itu tak kalah tajam seakan bocah itu tidak takut.
Glek...
Para bodyguard menelan slavinanya kasar melihat aura yang dikeluarkan bocal tengil itu, aura itu seakan menyerap energi mereka semua yang ada didalam ruangan itu.
Bahkan aura tuan besarnya terasa kalah oleh aura yang dikeluarkan bocal yang ada dihadapan mereka.
"Berikan makanan itu! "
Salah saru bodyguard dengan repleks memberikan piring yang berisi makanan penuh diatasnya pada bocah itu.
"Paman jika memerintah pada seseorang harus dengan lemah lembut, tidak boleh berkata kasar atau membentak. Aku bukan orang dewasa seperti paman, aku hanya anak kecil yang mudah rapuh ketika kalian bentak. "
"Terimakasih makanannya. Bismillahirohmannirohim.... Allahumabariklana fimarozaktana wakina adzabannar.. "
Dengan pelan dan santai bocah itu langsung makan tak memperdulikan lagi para paman-paman yang ada dihadapannya.
Semua bodyguard yang ada didalam ruangan itu di buat melongo dengan tingkah bocah kecil yang kemaren mereka culik. Sungguh bocah tengil itu seperti menyihir mereka sehingga mereka hanya bisa diam.
Dret.. dret...
Ponsel bos bodyguar berdering membuat manusia besar itu tersadar dan langsung merogoh ponsel yang ada di saku celananya.
"Baik Tuan. "
Sambungan telepon langsung dimatikan secara sepihak.
"Sudah selesai kan makannya, Ayo pergi.. "
"Ingat paman, aku tidak akan menurut jika paman membentak.."
"Kau.... "
" Tuan besar menyuruh saya membawa kamu keruangannya.. "
Ucap lembut bos bodyguard itu yang tertahan karna anak buahnya menepuk pundaknya seakan isyarat jangan kepancing emosi.
"Ayo.. "
Deg...
Bos bodyguard itu terkesiap merasakan tangannya di genggam lembut oleh tangan mungil bocah tengil itu, ada sesuatu dalam hatinya yang terasa aneh apa lagi melihat tatapan polos bocah yang sedang menatapnya itu.
"Ayo paman, katanya aku harus bertemu dengan Tuan kalian! "
__ADS_1
Ucap lembut bocah itu langsung menarik lembut tangan besar orang yang disebutnya Paman.
Bocah itu melangkah tenang seakan tidak takut apapun, walau jalan yang dia lewati banyak kandang hewan buas dan beberapa tabung yang isinya manusia dan juga hewan. Bocah itu tersenyum melihat apa saja yang dia lihat seakan bocah itu tau tempat apa itu.
"Tuan ini Bocah itu! "
" Assalamualaikum.. Paman ganteng tapi tidak seganteng Babaku.. "
Ucap Bocah tengil itu menyalami laki-laki yang duduk dikursi kebesarannya itu, sesaat laki-laki itu terkesiap dengan sikap bocah itu.
"Berani sekali kau memegang tanganku.. "
Bocah itu hanya tersenyum seakan tidak takut dengan bentakan orang yang ada dihadapannya itu. Berbeda dengan para bodyguard, mereka semua sudah dibuat berkeringat dingin dengan bentakan yang keluar dari Tuannya.
Bocah itu melihat sesuatu dengan mata yang menyipit seakan ada kejanggalan pada alat -alat yang menyambung pada sebuah tabung yang berbeda dengan tabung yang dia lihat di lorong tadi.
"Cepat pegang tangan bocah itu, aku mau mengambil stempel darahnya.. "
"Kenapa kalian diam Hah.. "
Bentak laki-laki yang disebut Tuan itu, sang asisten langsung terlonjat kaget mendengar bentakan tuannya yang tak bisa menahan emosi bisa-bisa kesehatannya turun kembali.
Dengan cepat sang asisten masuk keruangan khusus itu sesudah menyelaskan beberapa poin pada para Dokter yang menangani Nyonya.
Para bodyguard serba salah, disisi lain aura tuannya begitu mengerikan tapi entah kenapa aura bocah tengil itu lebih kuat.
Dengan pelan dua bodyguard mendekati bocah tengil itu yang secepat kilat melompat membuat kedua bodyguard itu terkejut, dan yang lebih terkejut lagi bocah itu sudah berada didekat tabung yang tak boleh orang lain mendekat.
"Apa yang kau lakukan Hah.. menjauh dari sana.. "
Bentak Tuan mereka menatap tajam bocah tengil itu yang hanya santai saja.
"Hey apa yang akan kau lakukannn.... "
"Jangann.... "
Duarr......
.
.
.
**Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan jejak ya..
Like, Komen, Vote, Hadiah nya ya....
__ADS_1
Terimakasih**....